> INSIDEN DI LAMPU MERAH <

2068 Kata
Waktu berlalu begitu cepat, Bar sudah mulai sepi karena para pengunjung pada pulang karena sudah masuk dini hari dan kebetulan Bar ditempat Bunga bekerja hanya buka sampai menjelang pagi dan setelah itu mereka tutup. Seperti biasa, Bunga pulang sendiri karena Cika selalu saja tidur dengan tamu demi mendapat uang tip lebih besar, sedangkan dirinya ogah sekali berhubungan seperti itu. Ya, meskipun Bunga juga sering kali di raba – raba oleh para tamu, namun Bunga tidak mau melakukan sejauh Cika sampai menerima ajakan Check-in dengan para p****************g. Tuntutan hidup memang sangat kejam sehingga membuat mereka berdua yang tidak berbekalan pendidikan tinggi dan tak memliki siapapun lagi harus bekerja ditempat seperti ini dan harus menerima resiko yang juga cukup berat. Sebenarnya, Cika lebih dulu kerja di Bar dan setelah kedua orang tua Bunga meninggal, Cika pun mengajaknya ke kota untuk tinggal bersamanya karena Bunga sudah tidak punya siapapun lagi di kampung. Meskipun pekerjaan yang Cika berikan tidak layak, tapi setidaknya mampu memenuhi kebutuhan sehari – hari. Namun, Cika tidak pernah memaksa Bunga untuk mengikuti jejaknya yang sudah terlalu jauh dalam melayaani tamu. Baiklah, fajar sudah tiba, setelah bersiap – siap dan mengumpulkan energi, Bunga pun segera pergi dari Bar untuk menuju kos – kosannya. Dia berjalan dengan agak sempoyongan menggunakan sepatu heels yang tidak pernah lepas dari kakinya saat dia berangkat kerja. Penampilan Bunga saat ini agak kacau dengan Eyliner pada garis bulu matanya yang mulai luntur, rambutnya dia konde asal sehingga nampak berantakan serta wajahnya yang nampak kusut karena semalaman penuh tidak tidur dan terlalu banyak minum. Kesehatan Bunga memang tidak terkontrol. Biasanya, Bunga pulang jalan kaki karena jarak dari Bar ke kos – kosannya cuma sekitar 15 menit, tapi karena tadi malam mendapat banyak uang, jadi dia memutuskan untuk naik ojek saja, apalagi kepalanya sudah berat. Nanti yang ada kalau dia jalan kaki bisa pingsan, Bunga pun sudah mendapatkan ojek, ia langsung di antar ke tempat tujuan. Pagi ini jalanan masih terlihat sepi, hanya ada beberapa kendaraan berlalu lalang. Sepanjang perjalanan, Bunga diam saja tidak ngobrol sama sekali dengan tukang ojek. Ketika sampai diperempatan, ternyata lampu menunjukkan warna merah, alhasil motor yang dia tumpangi pun berhenti. Tak lama, ada mobil juga berhenti tepat samping Bunga. Entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir, ternyata mobil yang bersebelahan dengan Bunga saat ini adalah milik Darren. Darren yang tadinya memandang ke depan tak sengaja beralih melirik ke arah sampingnya, ia pun kaget ternyata melihat ada Bunga di sebelahnya. Darren lihat gadis itu duduk dengan posisi menyamping sambil melongo saja, matanya nampak sayup dan keadaanya agak kucel. Kepala Darren geleng – geleng melihat saat ini Bunga memakai rok mini dan atasan yang selalu saja terbuka menampilkan belahannya. Darren terus saja memperhatikan Bunga, sedangkan gadis itu sama sekali tidak menyadari kalau saat ini sedang dipandangi oleh Darren yang kini menahan tawa sebab wajah Bunga terlihat lucu kalau lagi planga – plongo seperti saat ini. Bunga mengecap – ngecap lidahnya sambil garuk – garuk pipinya, kemudian dia mulai menguap sangat lebar dengan kepala mendongak sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke belakang. BUK. Beberapa orang yang ada di sekitar lampu merah terkaget – kaget melihat seorang gadis jatuh tersungkur ke aspal dalam keadaan terlentang. Bahkan, si abang ojek pun spontan menoleh ke belakang saat mendnegar bunyi seperti karung beras jatuh. Darren yang menyaksikannya langsung saat Bunga terjatuh pun secara spontan malah tertawa karena kejadian itu cukup menggelitik perutnya, tapi sedetik kemudian dia berhenti mentertawai Bunga dan memilih keluar dari mobil untuk melihat keadaan gadis malang itu. “ Aduh… kepalaku lepas. “ Ucap Bunga yang sudah mulai agak – agak nyeleneh, sepertinya dia benar – benar teler dan kelelahan. “ Hah? lepas? “ abang ojek dan beberapa orang yang mengerubunginya terheran – heran, padahal kepala gadis itu masih terpasang sempurna. Darren menghampiri kerumunan itu. “ Permisi. “ Ucap Darren agar diberi jalan untuk mendekati Bunga. “ Mas siapanya ya? “ tanya salah satu warga yang melihat Darren langsung nyerobot ke depan. “ Maaf pak, dia teman saya yang lagi mabuk. Biarkan dia pulang sama saya saja. “ Ucap Darren, ia kasihan jika Bunga yang saat ini menggunakan baju terbuka dibiarkan begitu saja dikerumunin dan jadi tontonan orang – orang. Bahkan, Darren pun berniat mengantarkan gadis itu pulang karena kalau membiarkan Bunga naik motor, pasti ujung – ujungnya dia bisa jatuh lagi. Tunggu…tunggu… kenapa Darren sangat perduli? Ya, dia merasa sebagai seorang laki – laki harus melindungi atau menolong perempuan yang kesusahan seperti Bunga saat ini. Darren tidak bisa diam saja, apa lagi lepas tangan, hatinya begitu baik kalau urusan soal tolong – menolong. “ Kamu gak bohong, kan? “ tanya si tukang ojek memastikan agar Bunga tidak jatuh ketangan orang yang salah. “ Ngapain saya bohong. “ Darren jongkok dihadapan Bunga. “ Aku antar kamu pulang ya, Bunga. “ Bunga yang tidak begitu sadar manggut – manggut saja. “ Apa kepalaku terpisah? “ ketika Bunga bertanya hal konyol seperti itu, Darren hampir saja tertawa. “ Ya, kepala dan kaki kamu terpisah. “ Ledek Darren seraya membantu Bunga untuk berdiri. “ Ck, Darren! kepala sama kaki itu emang terpisah, kalau menyatu namanya cacaat! “ protes Bunga sambil berjalan agak sempoyongan menuju mobil di bantu Darren. “ Nah, Itu kamu tahu. “ Darren membukakan pintu mobil agar Bunga masuk. “ Aku fikir kamu mabuk berat ternyata masih agak sadar. “ “ Aku masih sadar, hanya kepalaku saja yang berat. “ Ucap Bunga seraya masuk ke dalam mobil. Darren buru – buru masu ke dalam, lalu segera melajukan kendaraannya karena kebetulan lampu sudah menujukkan warna hijau. Sepanjang perjalanan, Bunga diam saja sambil memegangi perutnya. Darren melirik gadis itu nampak letih sekali. Darren menduga sepertinya tadi malam Bunga banyak job sehingga mundar – mandir nemenin tamu dan itu memang benar adanya. “ Bunga? “ “ Iya, Darren. “ Bunga menoleh lamban. “ Udah makan? “ tanya Darren dan gadis itu menggeleng lemas. Tak banyak bicara lagi, Darren melajukan mobilnya ke arah lain bukan menuju kos – kosan Bunga. Hanya memerlukan waktu beberapa menit, Darren pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk membeli bubur ayam. Bunga menoleh ke arah luar jendela. “ Kita ada dimana? “ “ Pinggir jalan. “ Darren mematikan mesin mobilnya, lalu dia buka jendela kanan dan kirinya agar udara bisa masuk. Bunga mengeluarkan setengah kepalanya dan dapat melihat ada tukang bubur di tepi jalan. “ Tunggu sebentar. “ Darren turun dari mobil untuk memesan dua mangkuk bubur setelah itu dia menghampiri Bunga. “ Nih. “ Dia berikan bubur yang sudah dibeli itu kepada Bunga melalui jendela yang terbuka. Bunga melongo selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil mangkuk itu.“ Makasih, Darren. “ Dengan wajah terpampang kelelahan Bunga tersenyum. Darren kembali masuk ke dalam mobil. “ Selamat makan. “ Ucap Darren, mereka berdua mulai menyantap bubur ayam yang masih hangat itu. Darren sengaja memilih untuk makan di dalam mobil karena dia tidak enak saja jika mengajak Bunga keluar sedangkan pakaian gadis itu sangat seksi dan selalu saja kekurangan bahan, ditambah lagi gadis itu saat ini jalannya sempoyongan, yang ada nanti dia malah buat ulah lagi. Sepertinya membiarkan Bunga di dalam mobil adalah jalan terbaik. “ Darr—“ “ Kalau makan jangan bicara, Bunga. “ Ucap Darren memperingati. “ O—oke. “ Bunga mengangguk, ia ingin melahap makanannya dengan terburu – buru tetapi Darren segera menahan tangan Bunga yang menyendok bubur secepat kilat. “ Pelan – pelan! “ tegasnya melemparkan tatapan agak sinis karena gadis itu selalu saja bertingkah. Bunga terkekeh. “ I—iya, Darren. Maaf ya. “ Bunga pun melanjutkan makan buburnya dengan pelan – pelan. Tak lama, si tukang bubur datang membawa dua gelas air untuk mereka berdua minum. “ Makasih, kang. “ Ucap Darren sedangkan Bunga mengambil gelas kecil itu dari tangan si tukang bubur sambil memberikan tatapan kurang puas. “ Akang, ini dikit banget isi airnya. Nanti kalau saya masih haus minta lagi boleh, ya? “ protes Bunga membuat Darren agak malu mendengarnya. “ Tenang aja atuh, neng. Masih ada satu teko air minum. “ Ucap si tukang bubur. “ Oke, deh. “ Bunga meneguk air minum itu cepat, kemudian beberapa kali dia merepotkan si tukang bubur karena bulak – balik menuangkan Bunga air minum. Apa lagi yang Darren bisa lakukan selain menghela nafas dan geleng – geleng kepala, sepertinya dia mulai terbiasa dengan sikap Bunga meski kadang sedikit keget dan kesal. Selesai makan, Darren buru – buru mengantar Bunga pulang karena dia harus berangkat ke kantor. Darren memang selalu lebih awal datang ke tempat kerjanya karena di Apartemen dia iseng dan merasa bosan karena tidak ada yang bisa dilakukan, sehingga dia memilih berdiam diri di kantor saja, setidaknya ada yang bisa dia kerjakan. “ Akhinya pagi ini gak makan mie lagi. “ Bunga usap – usap perutnya yang sudah kenyang, wajahnya nampak sedikit segar tidak seperti tadi lemas tak bertenaga. “ Ternyata kamu kelihatan lemas karena lapar ya? “ celetuk Darren dan gadis itu pun mengangguk membenarkan ucapan Darren. “ Aku juga jadi lebih semangat karena ketemu kamu, ya walaupun semalam diabuat kesal karena kamu udah menipuku! “ seru Bunga memasang wajah sok ngambek. Darren acuh saja, mau Bunga marah, cemberut dan menggerutu karenanya tentu saja Darren bersikap acuh. Tugasnya hanya membantu saja, selebihnya dia tidak terlalu perduli. Bunga melirik Darren, ia pandangi paras lelaki itu benar – benar memikat siapapun yang akan melihatnya. “ Kalau aku nikah sama kamu, pasti anaknya jadi cakep. “ Celetuk Bunga, jari telunjuknya menusuk pipi Darren tidak terlalu dalam, tapi itu cukup membuat Darren kaget. “ Bunga! “ tegasnya. Darren benar – benar tidak suka jika di sentuh sembarangan. Bunga terpanjat kaget karena Darren agak membentak. “ Maaf. “ Apa lagi yang bisa Bunga katakan selain ucapan itu setelah membuat Darren marah. Daren mengusap pipinya sambil menggelengkan kepalanya, entah sudah berapa kali kepalanya geleng – geleng seperti orang dugem, tapi yang jelas Bunga benar – benar memusingkan. Kadang, Darren tidak ingin ikut campur atau menolongnya tetapi hati nuraninya terus berteriak untuk memabantu gadis itu meski tahu ujung – ujungnya selalu ada ulah Bunga yang bikin Darren naik pitam. Sampainya di depan kosan, Bunga tidak langsung turun. “ Darren, makasih banyak ya kamu udah sering banget tolongin aku. “ Bunga melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai. “ Maaf banget aku selalu saja ngerpotin kamu. “ Darren mengangguk. “ Oke. “ “ Kapan – kapan, kamu dong yang ngerepotin aku. “ Cetus Bunga membuat kedua alis Darren saling bertautan. “ Kamu cari masalah atau apa gitu biar aku tolongin. Serius aku gak apa – apa kalo kamu repotin terus. “ Ucapnya asal – asalan. Darren menatap Bunga heran kenapa dia bisa berkata seperti itu. Padahal, tidak ada orang yang mau mendapat masalah tetapi Bunga malah nyuruh – nyuruh Darren mendapat perkara. “ Turun. “ Perintah Darren yang sudah malas berkomunikasi panjang lebar dengan Bunga yang menurut Darren sangat tidak berfaedah. “ Sebelum turun, aku mau tanya sesuatu sama kamu. “ Kali ini Bunga menampilkan raut wajah serius. “ Hm? “ Darren hanya berdehem menunggu kelanjutan pembicaraan Bunga, walaupun dia tahu pasti pertanyaan gadis itu tidak penting. “ Apakah aku tidak menarik? “ pertanyaan Bunga sukses mendapat perhatian dari Darren, lelaki itu langsung menoleh dan menatapnya sedikit terkesima. Darren bungkam sebentar, sebelum akhirnya menjawab. “ Kamu menarik dimata orang yang tepat. “ Jawab Darren berusaha bijak karena kalau di lihat – lihat, Bunga memang cantik dan memesona, sayangnya itu bukan menjadi patokan bagi Darren untuk dirinya agar bisa suka dengan perempuan, sehingga Darren menganggap kecantikan yang Bunga miliki adalah hal lumrah dan masih banyak juga perempuan yang lebih dari Bunga jika di takarkan dengan standar fisik. Bunga tersenyum sambil manggut – manggut. “ Kalau dimata kamu, apakah aku tidak menarik?“ tanya Bunga lagi dengan perasaan bergemuruh dan jantungnya berdebar tak normal menunggu jawaban Darren. “ Bunga, aku mau berangkat kerja. Silahkan turun. “ Ucap Darren merasa percakapan sudah semakin dalam dan Darren tidak suka itu karena menganggap Bunga hanyalah orang asing. “ Sesulit itukah menjawab pertanyaanku? “ perlahan senyum Bunga memudar, hatinya mencelos begitu dalam. “ Sulit. “ Jawab Darren tanpa berfikir panjang. “ Silahkan turun. “ Darren menunjuk ke arah pintu agar Bunga segera keluar dari mobilnya. “ Makasih, Darren. “ Dengan tubuh yang mendadak kembali lemas, Bunga turun dari mobil Darren dengan perasaan kecewa. Bunga heran, kenapa untuk menjawab pertanyaan simple seperti itu saja Darren sangat sulit Darren memutar kedua bola matanya malas, ia segera pergi dari sana untuk menuju kantornya dan mencoba melupakan pertanyaan Bunga yang agak sedikit menggangu fikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN