Darren berhasil menerobos gerimis menuju gedung Apartemennya dan juga sudah terbebas dari Bunga yang selalu membuatnya jengkel. Ketika Darren tiba di depan lobby Apartemen, ia dibuat terkejut karena saat menoleh ke belakang ternyata Bunga mengikutinya.
“ BUNGA? “ Darren terkaget – kaget dibuatnya, sedangkan Bunga hanya cengar – cengir saja tanpa merasa berdosa sudah membuntuti lelaki itu sampai ke depan Apartemen.“ Kamu ngapain ikutin aku, sih? “ omelnya.
“ A—aku.. ” Bunga menunduk malu, kemudian mencoba untuk memberanikan diri bicara. “ Aku gak punya ongkos pulang karena semua uangku tadi habis buat traktir makan bakso.“ Terang Bunga membuat Darren tercengang dibuatnya.
Jika dia tidak punya uang lebih, untuk apa tadi mentraktir Darren? dasar Bunga..Bunga!
“ Kenapa gak bilang dari tadi? “ Darren memejamkan mata seraya meneguk ludahnya susah payah menghadapi Bunga.
Bunga selalu saja tertawa kecil ketika sudah tidak bisa memberikan pembelaan. “ Aku boleh pinjem duit kamu gak? Cuma dua puluh ribu aja kok, untuk bayar ojek? “ pinta Bunga.
“ Harusnya tadi kamu ngomong aja langsung ke aku kalau butuh duit buat ongkos pulang supaya gak ikutin aku samapai sini. “ Ungkap Darren.
“ Aku malu. “ Bunga terkekeh pelan.
“ Biasanya juga gak tau malu. “ Celetuk Darren, ia mengambil dompet dari saku celananya, lalu dia keluarkan uang lima puluh ribu untuk ongkos pulang Bunga.“ Nih, sana pergi. “ Usirnya.
Bunga mengambil uang itu. “ Makasih Dar—“ Bunga tidak jadi melanjutkan ucapannya ketika mendengar suara hujan turun semakin deras.
“ Yah, hujannya makin gede. Gimana, dong? “ keluh Bunga kepada Darren.
“ Yaudah kamu tunggu aja disini sampai reda. “ Ucap Darren menyuruh Bunga berteduh di depan Lobby.
“ Tapi, disini dingin banget, Darren. “ Bunga memeluk dirinya sendiri menggunakan kedua tangannya. “ Aku boleh gak numpang neduh di Apartemen kamu? “ tanya Bunga dengan tubuh yang sedikit bergetar karena kedinginan.
“ Gak boleh, udah kamu tunggu disini saja sampai reda.“ Darren pun bergegas untuk pergi, tapi baru beberapa langkah saja dia kembali membalikkan badannya.“ Ck, dia memang sangat merepotkan! “ seru Darren seraya kembali berjalan mendekati Bunga.
Memang terkadang sangat menyebalkan sekali kalau punya sifat gak enakan sama orang dan sifat tersebut terkadang membuat Darren jadi pusing sendiri.
“ Kok, kamu gak jadi masuk? “ Bunga keheranan.
Darren diam saja, ia sedang berfikir sambil mengamati sekeliling Lobby mulai sepi dan hanya ada satpam di bagian depan. Dia tidak tega jika membiarkan Bunga sendirian, apa lagi Darren akui malam ini memang sangat dingin dan ditambah lagi dengan hujan disertai angin kencang sehinga suhu udara semakin membuat tubuh menggigil.
Darren memijit pelipisnya yang mendadak nyut – nyutan, kalau sudah begini pasti ujung – ujungnya dia harus melakukan sesuatu untuk gadis itu.
“ Tunggu sebentar. “ Darren masuk ke dalam Lobby, ia meminjam payung kepada bagian receptionist yang berjaga. Setelah itu, Darren kembali menghampiri Bunga.
“ Ayo ikut aku. “ Kata Darren seraya menekan tombol sehingga payung tersebut terbuka.
“ Mau kemana? “ Bunga nampak bingung.
“ Di depan Apartemen ada pangkalan taksi. Aku antar kamu kesana. “
“ Oke. “ Bunga menurut saja, apa lagi saat ini akan jalan menggunakan satu payung berdua.
“ Pelan – pelan, jalanan licin. “ Ucap Darren, padahal hanya kata sederhana saja tetapi mampu membuat Bunga senyam – senyum.
Mereka berdua jalan ke depan Apartemen untuk menuju pangkalan taksi. Selama berjalan, sesekali Bunga melirik wajah Darren dan tak sengaja Darren pun ikut menoleh ke arah Bunga membuat kedua mata mereka berdua saling bertatapan satu sama lain dengan wajah yang agak berdekatan.
DAG..DIG..DUG..
Jantung Bunga seperti ingin lepas dari tempatnya di tatap seperti saat ini oleh Darren, bahkan tiba – tiba saja dengkul Bunga mendadak lemas karena sangat terpesona oleh lelaki itu.
“ Kenapa? “ tanya Darren.
“ Gak apa – apa. “ Bunga menggeleng.
“ Wajah dan leher kamu basah. “ Tangan Bunga bergerak untuk mengusap air hujan yang mengenai wajah Darren.
Darren agak gugup karena gadis itu mengusap dahi dan pipinya, tapi ketika Bunga ingin mengelap air yang ada pada lehernya dengan cepat Darren tepis.
“ Biarkan saja. “ Kata Darren agar Bunga tidak terlalu jauh menyentuhnya.
Akibat berjalan tidak fokus lihat ke depan, Bunga hampir saja terpeleset tetapi dengan cepat Darren menahan bahunya.
“ Eh—“
“ Hati – hati, Bunga. “ Ucap Darren agak panik, untung saja gadis itu tidak jadi terjatuh.
“ Makasih, Darren. “ Bunga kembali berdiri tegak, senyumnya terus saja terukir. Dia sangat senang bisa berdekatan seperti ini.
Bagi Bunga, ini adalah malam paling berkesan dalam hidupnya karena dibawah derasnya hujan dan dinginnya angin yang menusuk kulit, Bunga merasa mendapat kesejukkan berada disamping Darren..
“ Pak? Anterin dia ya. “ Ucap Darren ketika sudah sampai di pangkalan taksi dan bicara pada salah satu supir yang lagi berteduh dibawah terpal.
“ Oh, iya mas. “ Pria berkepala botak itu manggut – manggut.
“ Tempatnya gak jauh dari sini, kok. “ Darren memberikan uang seratus ribu kepada supir taksi meski dia tahu tarifnya tidak akan sampai segitu, tapi Darren berbaik hati saja, itung – itu berbagi rezeki.
“ Baik, mas. “ Pria itu berlari masuk ke dalam taksi sedangkan Bunga masih berada disamping Darren.
“ Terus ini duit lima puluh ribu kamu, gimana? “ Bunga menunjukkan uang yang tadi sudah sempat Darren berikan, tapi ternyata lelaki itu malah membayarkan ongkosnya.
“ Simpan saja buat kamu. “ Balas Darren.
“ Tapi—“
“ Masuk. “ Perintah Darren, lelaki itu membukakan pintu sambil melindungi kepala Bunga dengan payung.
Bunga merasa sangat tersanjung diperlakukan seperti ini oleh Darren. Sungguh, lelaki itu sangat perhatian dan baik hati, maka dari itu Bunga semakin klepek - klepek.
“ Masuk, Bunga. “ Perintah Darren sekali lagi karena Bunga hanya diam saja.
Bunga menatap Darren cukup lama sebelum akhirnya dengan keberanian penuh dia berjinjit untuk mencium Darren.
CUP.
Darren terbelenggu, matanya melebar dan tubuhnya mendadak kaku. Suara derasnya hujan dan sekelilingnya seakan tidak terdengar, bahkan saat ini Darren merasa seperti sedang di tenggelamkan ke bawah alam sadar atas apa yang baru saja Bunga lakukan, yaitu mencium bibirnya.
“ Bung—“ setelah sadar, Darren ingin ngomel tetapi ternyata Bunga sudah pergi menjauh. “ Dia benar – benar sudah tidak waras! “ Darren cukup kesal dengan tindakan Bunga yang sembarangan saja mencium bibirnya. Beberapa kali Darren mencoba menghindar untuk dicium, tapi pada akhirnya dia kecolongan juga.
Bahkan, karena terlalu emosi, Darren pun menutup payung dan memilih berjalan ke Lobby sambil hujan – hujanan. Ya, hitung – hitung menghilangkan bekas ciuman bibir Bunga dengan air hujan.
Sementara itu, Bunga tidak berhenti tersenyum senang di dalam taksi.
“ AAAAAAAAA! “ Teriak Bunga karena terlalu girang sampai membuat sang supir taksi terkaget – kaget dan mengerem mobilnya mendadak.
Pria botak itu menoleh kebelakang untuk memastikan apakah terjadi sesuatu.“ Mbak? Ada apa? “
Bunga menggeleng sambil mengulum senyumnya. “ Gak apa – apa, kok. Ayo jalan lagi, pak “
“ O—oke. “ Pria itu agak bingung dengan Bunga, tapi berusaha untuk tidak perduli meskipun dia mengemudikan mobilnya agak ngeri sebab terdengar suara tawa kecil dari gadis itu. ‘ Dia gilaa apa enggak, sih? kok, ketawa – ketawa sendiri?‘ batin si supir taksi.
**
Cika baru saja pulang kerja, ketika dia masuk ke dalam kos – kosan dikejutkan dengan Bunga yang sudah berdiri dihadapannya sambil memegang kue ulang tahun.
“ Selamat ulang tahun, Cika! “ teriak Bunga heboh sendiri.
Cika bertelak pinggang sambil membelalakan mata. “ Jadi, semalam lo pura – pura sakit, ya? “
“ Iya. “ Bunga terkekeh, ia mendekati Cika. “ Gue sengaja gak masuk biar bisa beliin lo kue dan kasih kejutan. “ Ucap Bunga.
Cika tersenyum haru, ia memeluk Bunga dari samping. “ Makasih banyak, Bunga. Gue jadi pengen nangis dikasih kejutan kayak gini. “
“ Sama – sama. “
Mereka menyudahi pelukannya.
“ Maaf ya gak pakai lilin. “ Ucap Bunga karena dia lupa dan uangnya juga pas – pasan.
“ Gak apa – apa. “ Cika tersenyum, ia melingkarkan tangannya di pundak Bunga. “ Ayo kita potong kuenya. “
“ Yuk! “
Cika segera memotong kue yang Bunga beli menjadi beberapa bagian.
“ Nih, buat sepupuku yang paling cantik tapi lemot. “ Cika memberikan potongan pertama untuk Bunga.
“ Makasih, Cika kampreeet! “ Bunga mencium pipi Cika sekilas. “ Semoga jangan jadi tua yang menyebalkan dan kurang – kurangin ngomelnya biar awet muda. “ Cetus Bunga.
“ Makannya lo jangan buat ngomel – ngomel. “ Balas Cika.
“ CIKA SELAMAT ULANG TAHUN! “ Teriak Tuti yang juga baru saja pulang kerja karena Tuti juga kerja ditempat hiburan malam hanya saja beda tempat.
“ AKHIRNYA UMUR LO SEMAKIN DEKAT DENGAN KEMATIAN! “ teriak Tuti yang memang tidak ada akhlaknya.
“ Kurang ajar lo! “ balas Cika.
Tuti tertawa seraya mendekati Cika, ia memeluk perempuan itu sambil cium pipi kanan dan kiri. “ Ini gue kasih hadiah. “ Tuti memberikan kantong plastik berisi minuman Beer tiga botol.
“ Kita party! “ seru mereka bertiga bersamaan.
Bunga, Tuti dan Cika masing – masing memegang satu botol, lalu mereka bersulang bersama menikmati waktu menjelang pagi dengan mabuk – mabukan.