Sejak malam itu, Bunga mulai membangun benteng kepada Darren karena dia merasa lelaki itu sudah memiliki pacar. Bunga memang mengejar Darren seperti tidak tahu malu, tapi jika lelaki itu sudah memiliki kekasih, pantang bagi Bunga untuk mengacaukan hubungan orang. “ Masih banyak laki – laki di dunia ini, Bunga. Anggap saja Darren bukan jodoh lo! “ Bunga bicara pada cermin yang menempel di dinding, ia melakukan itu agar berkaca supaya sadar diri bahwa dirinya memang tidak pantas untuk Darren. “ Mulai sekarang, gue harus lupain Darren, walaupun sulit.“ Bunga mendongakan kepalanya karena matanya sudah berkaca – kaca, ia tidak ingin menitikan air matanya. “ Ah, cengeng banget sih, gue.“ Tutur Bunga, ia usap setitik air di sudut matanya. Baru kali ini Bunga merasakan sakit yang begitu menda

