Desir angin yang berembus kencang, perlahan menerpa wajah wanita tersebut. Cloud, ia berjalan tulang lenggang dengan tatapan sinis yang mengedar ke sana ke mari; mencoba untuk mengamati beberapa tanda-tanda dan sesuatu yang ada di depan dan sekitar tempat. Selain itu, di satu sisi bersebelahan, dapat disimpulkan bahwa mendadak dia dan teman-teman sudah sampai di titik berhenti. Perjalanan panjang tadi menyisakan keringat di sekujur tubuh, serta beberapa degup jantungnya yang berdetak tak ada berhenti normal. “Kita langsung masuk, Cloud? Kamu yakin tidak ada kesalahan jalan, ‘kan?” Menggeleng, Cloud hanya bisa membalas seperti itu. Wajahnya memejam perlahan, diselimuti oleh hiruk pikuk suasana yang tiba-tiba penuh diiringi angin kencang. Perasaan kalut turut mengikuti, tetapi dengan menta

