15

1014 Kata
"Bubble?" Kolonel Beef mengangguk. "Kariernya meroket padahal usianya baru 21 tahun. Bahkan sekarang ia menjadi Kolonel termuda di kepolisian Belgia ..., tidak, tidak ..., tetapi di seluruh dunia." Semua yang ada di sana tersentak. Memang belum pernah dalam sejarah kepolisian mana pun, seseorang menjabat Kolonel pada usia semuda itu. Tidak berlebihan kalau ia dikatakan sebagai seseorang yang genius. "Android apa yang ia miliki, Kolonel Beef?" tanya Hot, penasaran. "Ia memiliki android bernama Gum. Seperti namanya, android itu bisa melar seperti karet. Tapi Bubble tidak sekadar mengandalkannya. Ia sendiri memiliki kemampuan luar biasa. Tidak sekalipun di dalam pertempuran mereka kalah. Karena itulah karier Bubble meroket," terang Kolonel Beef. Tea mendengkus. "Ia tidak pernah kalah karena belum pernah berhadapan denganku. Kalian akan menyaksikan kalau ia akan bertekuk lutut di hadapanku." Sudut bibir Kolonel Beef terpantik. "Simpan dulu keinginanmu. Sekarang kita harus bekerjasama dengan kepolisian Belgia. Setelah itu terserah." Kolonel Beef memang seorang atasan yang pintar memancing semangat bersaing anak buahnya. Ia sengaja bercerita tentang BubbleGum supaya semangat anak buahnya terpacu. Apalagi ia tahu, semua anggota pasukan elit memiliki jiwa kompetitif yang tinggi. "Sekarang bersiap-siaplah. Nanti akan aku panggil sebekum kita berangkat," perintah Kolonel Beef, membubarkan anak buahnya. Para pasukan elit itu keluar dari ruangan. Semangat mereka melambung, dan tidak sabar ingin menuntaskan misi di depan mata. *** Cloud dan kawan-kawan telah tiba di Kota Ath. Mereka menggunakan syal dan topi untuk menutupi sebagian wajah agar tidak ada yang mengenali mereka. Apalagi poster-poster hologram buronan terpampang di sana-sini. Saat itu Kota Ath tampak ramai. Para pedagang menjajakan dagangannya di toko-toko yang berjajar di pinggir jalan. Namun, bukan toko-toko itu yang menjadi tujuan mereka, karena semua toko itu merupakan toko legal. Pasar gelap yang menjadi tujuan mereka berada jauh dari sana. "Sebaiknya kita beristirahat dulu. Setelah itu kita akan pergi ke pasar gelap," tukas Potato. "Tidak. Kami tadi ditangkap karena ada karyawan hotel yang melaporkan keberadaan kami," tolak Cloud. "Jangan khawatir." Potato memberikan kartu hologram. "Aku sudah menyiapkan identitas palsu untuk kalian." Milk tersenyum. "Ah, bagus. Aku setuju kalau kita beristirahat. Ingat, kita menjadi buruan polisi. Kalau energi kita habis, jangan harap bisa lolos dari mereka." Mereka pun berjalan menyusuri jalanan sampai akhirnya masuk ke sebuah penginapan. Penginapan itu sangat sederhana. Teknologinya pun termasuk tertinggal dibandingkan penginapan umumnya. Namun, mereka merasa penginapan seperti itu lebih aman ketimbang yang memiliki teknologi canggih. Setelah memesan kamar, Splash membuka kartu ATM hologramnya. "Untung aku membawa cukup uang." "Mau ke mana?" tanya Cloud, heran. Splash tersenyum lebar. "Aku belum pernah ke tempat seperti ini. Jadi aku mau belanja beberapa barang." "Spare part?" Splash menggeleng. "Bukan. Sekadar barang kenang-kenangan." Cloud mengangguk. "Berhati-hatilah. Kalau ada sesuatu segera kabari kami." Splash mengangguk kemudian bergegas ke luar dari penginapan bersama Orange. Mereka berjalan sambil melihat-lihat ke sekitar. Sesekali mereka berhenti, melihat barang dagangan yang dijajakan di toko-toko itu. Akhirnya setelah cukup jauh berjalan, Splash melihat sebuah hiasan yang menarik perhatiannya. "Berapa harganya?" tanya Splash pada penjual. "Murah, cuma 153 Bucks." Splash terbelakak, kaget. "Hah! Harga segitu kamu katakan murah?!" "Yah, kamu bisa menawar." "Aku mau beli dua kalau kamu turunkan harganya menjadi 145 Bucks," tawar Splash. Penjual itu menggeleng. "Paling rendah 147 Bucks. Silakan mencari di toko lain, tidak ada yang lebih murah daripada harga yang kutawarkan." Splash mendesah seraya mengeluarkan kartu ATM-nya. "Ya su—" Tiba-tiba ada yang merebut kartu ATM Splash lalu berlari kencang. "Copet!" Splash berlari mengejar anak kecil yang telah mengambil kartunya. "Ayo, Orange!" Splash dan Orange berlari cepat, dan berhasil mempersempit jarak. Namun, anak itu menyelusup di antara kerumunan. "Sial!" seru Splash kesal. "Pegang tanganku!" Orange menarik Splash lalu melayang di udara. "Itu dia!" Orange memacu kecepatannya, tetapi anak itu cerdik. Ia berbelok ke sebuah lorong dan terus berlari dan menghilang dari pandangan. "Ke mana anak itu?" Splash mengedarkan pandangan ke sekitar. Di sekitarnya terdapat rumah-rumah tidak layak yang berjajar di kanan kiri jalan. "Mungkin ia bersembunyi di salah satu rumah. Ayo, kita tanya satu persatu, Orange," cetus Splash. Satu demi satu mereka mengetuk pintu rumah, tetapi tidak satu pun penghuninya yang melihat anak itu. Kini hanya tinggal satu rumah di ujung jalan yang belum mereka hampiri. "Cuma ini satu-satunya rumah yang belum kita datangi." Splash mengetuk beberapa kali. Tak lama kemudian pintu terbuka. Seorang anak kecil—lebih kecil dari pada si pencopet—membukakan pintu. "Apakah kamu melihat anak kecil yang mengenakan pakaian hi—" "Siapa itu, Ketch?" tanya seseorang dari dalam. Spalsh melongok dari celah-celah pintu. "Bukan siapa-siapa, Kak." Anak kecil itu mengalihkan pandangan pada Splash dan Orange. "Aku tidak per—" "Jangan sembunyikan pencopet itu!" Tiba-tiba Splash mendorongnya, lalu masuk ke dalam. Benar dugaannya, si pencopet berdiri di dalam rumah. Si pencopet terkejut bukan main melihat Splash dan Orange. "To-tolong, maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya." "Terpaksa? Cepat kembali—" "Lihatlah." Pencopet itu bergeser sehingga terlihat seorang perempuan terkulai lemah di ranjang. Semula Splash tidak memperhatikan lantaran perempuan itu menggunakan selimut dan bagian wajahnya tertutupi si pencopet. "Aku butuh biaya berobat untuk ibuku. Ibuku terkena penyakit langka. Dulu kami bisa mengobatinya di Ath, tetapi sejak kedatangan FlipFlop, semua bahan obat-obatan diambilnya. Kami tidak punya pilihan lain selain membawanya berobat ke Jerman. Dan kamu tahu 'kan, untuk ke Jerman memerlukan biaya besar." Splash terenyuh mendengar penjelasan si pencopet. Namun, di sisi lain ia membutuhkan uangnya dan tidak mungkin memberikannya pada mereka. "Bisa kamu beritahu siapa FlipFlop?" tanya Splash. Pencopet itu mengangguk. "Flip adalah pemimpin perampok yang akhir-akhir ini mengganggu Kota Ath. Ia merampas semua obat-obatan di sini." "Hanya obat-obatan?" tanya Splash, heran. Pencopet itu mengangguk. "Benar. Aku juga tidak tahu alasannya hanya merampas obat-obatan. Tapi itu bukan urusanku. Bagiku yang terpenting mengobati ibuku." Splash tertegun beberapa saat, kemudian berkata, "Kembalikan kartuku, dan aku akan membantumu mengambil obat-obatan itu dari tangan FlipFlop." Pencopet iti memandang Splash keheranan. "Tidak ada yang sanggup mengalahkannya. Bahkan sampai sekarang polisi tidak bisa meringkusnya." Splash menepuk dadanya, yakin. "Serahkan padaku! Aian kupastikan semua obat-obatan itu kembali, dan mengusir FlipFlop dari kota ini!" Pencopet itu menatap Splash. Ia tahu dari mata Splash, tersirat keyakinan yang besar. Entah mengapa keraguannya pun sirna. Mungkin, ya, mungkin saja perempuan di hadapannya itu tidak membual. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN