Bab 72 - Esensi Hadiah Diego

1355 Kata
Mobil Janu terparkir di pekarangan begitu mulus, kedua insan yang berada di dalamnya keluar, yang satu terburu-buru yang satu lemas. Harusnya hari ini ada beberapa pertemuan meeting project, tapi karena urusan mendesak Anyelir, Janu terpaksa mencari alasan untuk tidak ikut. Langkah Janu yang terbilang cepat di susul Anyelir dari belakang, pintu miliknya terbuka. Sunyi dan sepi, sebab Ander tidak ada di rumah. Penjelasan Janu sejak kemarin tentang Ander berubah-ubah, kadang di Yogyakarta, kadang di Malang. Entah di mana tempat sebetulnya. Anyelir sendiri tidak tahu kenapa ibunya Janu bisa ada di sana, bukan Janu rasanya mudah to the point' dengan apa yang dirasa, dengan apa yang terjadi, mulutnya entah dikunci berapa gembok. Susah sekali. Langkah Anyelir di bawa langsung ke tempat kerja Janu, ruangan serba biru yang berisikan ikan-ikan cupang juga poster Puteri Jazmine. Di dekat meja kerjanya, Janu mengobrak-abrik beberapa tumpukan barang yang membuat dahi Anyelir berkerut. Satu kotak berukuran sedang Janu ambil, lantas diberikan kepada Anyelir. "Nih, masih saya simpan. Puas?!" Kotak itu hanya kotak biasa, warnanya peach berbalut pita merah. Nuansanya unik yang Anyelir suka, namun sedikit berdebu sebab Janu biarkan bersama beberapa tumpukan kerjanya Janu. Tapi Anyelir malah menatapnya nanar, ucapan Janu barusan cukup membuat hati Anyelir tergores rasanya. Sejak tadi Pertengkaran tak ada usai, Anyelir berasa di neraka saat bersama Janu tadi. Lihat sekarang, apa salahnya mempertanyakan sebuah hadiah pemberian orang lain, yang bahkan pemberinya pun begitu tulus tapi Anyelir tidak tahu sama sekali. "Kamu kok gitu ngomongnya, Jan?" pertanyaan Anyelir terdengar pelan juga lemas. "Lagipula kenapa kita mempersalahkan kotak seperti itu? saya juga sanggup membelikan itu untuk kamu!" "Astaga ... Janu." Anyelir nyaris kehilangan akal dengan pola pikir Janu. Yang ia pikirkan bukan barang murah dapat dibeli secara gampang. Tapi ketulusannya, pemberian dari orang lain memiliki etika saat menerimanya. Mana mungkin Anyelir menolak, dari fans saja selalu ia terima untuk menghargai pemberian tak seberapa namun berarti. "Lir, kalau kamu nggak punya perasaan sama Diego, kamu nggak akan maksa saya buat memberikan kotak murah yang dia kasih dulu!" "Ini nggak ada sangkut pautnya sama perasaan! It's f*****g a gift!" "Justru itu! hanya kotak seperti itu saya sanggup beli buat kamu bahkan ratusan kotak pun saya sanggup!" Wajah Janu yang memerah benar-benar terlihat marah, ia menunjuk-nunjuk Anyelir dengan jari telunjuknya. "Buat apa lagi menerima hadiah murah dari Diego?!" Siapa yang tidak emosi dengan tuduhan tak mendasar Janu, memang apa salahnya menerima hadiah? toh itu tidak akan merubah status bahwa Janu dan Anyelir berpacaran. Mengapa Janu begitu mempermasalahkan seolah pemberian dari orang lain bukanlah hal yang biasa? "Bukan kotaknya, Jan ... yang aku permasalahkan. Tapi niatnya!" "Niat untuk menjadikan kamu kekasihnya? begitu?!" "Janu!" Mata Anyelir sudah berair, mencuatkan lapisan-lapisan kristal yang siap meluncur jika Anyelir berkedip. Tak tahu harus membalas apa dengan mulut Janu yang terlampau pedas saat emosi. "Saya aja nggak pernah berani ngasih kado istimewa ke pacar orang lain, kenapa dia berani sekali? untung saya ambil hadiahnya! kalo tidak, berasa cintanya sudah kamu terima!" "Ha? Gila ya kamu, Jan!" "Yes I'm crazy! Asal kamu tahu Anyelir ... Diego memang menyimpan rasa buat kamu jauh sebelum saya menyadari kalau saya suka sama kamu!" "Hah? Ma—maksud—" Anyelir menutup mulutnya terkejut, kenapa dia baru menyadari hal itu? benarkah yang diucapkan Janu barusan? apa itu hanya omongan semata agar Anyelir bungkam? Anyelir mendongak dengan air mata yang sudah membasahi pipi. "Kamu nggak bohong, 'kan?" "Sayangnya untung kali ini enggak." "Nggak mungkin." Anyelir menggeleng pelan. "Bukan nggak mungkin, memang kamu nya saja yang nggak sadar!" Jika diputar beberapa bulan sebelumnya, perlakuan manis Diego, pembelaan Diego saat Anyelir merasa selalu disalahkan Janu benar-benar terlampau tulus. Terlambat rasanya Anyelir menyadari bahwa Diego memiliki rasa, tapi memang lelaki itu tidak terlalu mencolok dalam menunjukkan hal lain dari sekadar perhatian atas rekan kerja. Dengan tangan yang gemetar, air mata bahkan nampak tak asing menemukan jalur terjun bebas dari manik sampai isak tangis terdengar begitu kencang. Anyelir membuka kotak pemberian dari Diego, mulutnya setengah terbuka karena terkejut. Kaktus paskah yang seharusnya berbunga indah ternyata sudah tak berbentuk lagi. Kering kerontang, berdebu juga terlihat usang. Sakit rasanya membayangkan kalau Anyelir berada di posisi Diego. Memberikan amanat tapi tak sampai, terhalang oleh ego atas kecemburuan tak mendasar. Dunia terkadang ganas, melahap satu manusia binasa yang terkendali nafsu juga amarah. Barangkali Anyelir harus menyadari, barangkali Anyelir harus tahu diri, Janu begitu karena baru Anyelir sadari bahwa sikap santainya membawa Janu pada kecemburuan luar biasa. "Sudah rusak." Anyelir menatap gamang, terisak hanya melihat sebatang kaktus kering yang sudah mati. Yang membuat Janu heran, Isak tangis Anyelir justru bertambah kencang. Padahal hanya sebatang kaktus, tapi rasanya seperti ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Anyelir meraung, sampai ruangan terdengar menggema oleh jeritannya. Bukan karena kaktus, bukan karena pemberian Diego. Tapi emosi yang sejak lama terkumpul kini menjadi satu, emosi lama, amarah lagi, kesedihan lama, rasanya nuansa biru menghantarkan Anyelir untuk merayakan kesedihan. Sesak dan sakit, hubungannya diambang permasalahan. Terjangan badai membuat ketakutan mendalam sampai jerit pun tak meredakan hujan. "Lir ...." Janu merasa bersalah lantas mengelus pundaknya. "Maaf ... maaf saya tidak menyadari kalau kaktus ini berharga buat kamu ... maafkan saya, Lir." Alih-alih berlari ke dalam dekapan Janu, Anyelir malah terduduk di lantai. Hal yang selalu ia lakukan, seluruh perasaan di hatinya tumpah ruah dalam tangisan pilu. Anyelir lelah, bekerja sebagai artis dengan jam terbang yang terbilang panjang bukanlah perkara yang mudah. Terkadang Anyelir tidak tidur selama tiga hari berturut-turut, belum lagi harus mengurusi segala permasalahan Janu. Kebohongannya, masa lalunya, ucapan pedasnya, tuduhan tak mendasarnya, bahkan Janu tidak pernah terbuka dengan hal-hal kecil. Kenapa sisi lain dari Janu begitu membuat hati Anyelir sakit? "A ... aku ... a—aku ... aku nggak punya perasaan ... nggak—nggak punya ... nggak punya perasaan sama Diego ... kenapa—kenapa kamu ... kamu nuduh aku?!" Susah kalau sudah begini, hati Janu ikut sakit kalau Anyelir menangis sejadi-jadinya. Baru kali ini Janu melihat Anyelir menangis seperti kesakitan, banyak tangisan yang Anyelir keluarkan saat bersama Janu di Kalimantan. Tapi tidak separah ini, artinya Janu berhasil membuat hati Anyelir rasanya hancur. "Lir ... maaf." Janu hendak mendekap Anyelir tapi gadis itu mendorong tubuh Janu. "Aku mau pulang!" Anyelir menghapus jejak air matanya kasar, meski bulir-bulir kristal itu terus saja mengalir tanpa permisi. "Lir!" Janu meraih tangan Anyelir tapi gadis itu malah bangkit dan melepas cengkraman nya. "Lepasin ... lepasin, Jan ... aku ... aku mau pulang!" Anyelir mendorong tubuh Janu agar menjauh, lantas beranjak menuju pintu keluar dengan lunglai. Baru satu dua tiga langkah, Janu berlari dan mendekapnya dari belakang. Terasa erat dan hangat, Janu mengutarakan rasa bersalahnya melalui tindakan, ia menyesal sungguh. Tapi rasanya itu tak cukup untuk Anyelir. Kecewa di dalam hatinya masih menumpuk penuh. "Lepas, Jan!" Anyelir berontak tapi percuma, tenaganya jauh lebih lemah daripada Janu. "Maaf saya cemburu berlebihan ... maaf saya banyak berbohong sama kamu ... maaf saya akhir-akhir ini sering minta maaf sama kamu. Entah kamu menilai ini tulus atau tidak ... tapi jujur, Lir. Kata maaf bagi saya adalah hal yang tabu, saya berani mengucapkannya ... itu karena saya benar-benar merasa bersalah." Janu menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leher Anyelir, menghirup dalam-dalam aroma semerbak cherry blossom. Matanya memanas ingin menangis. "Biarin aku sendiri ... sebentar aja, Jan." "Lir ... saya tahu kamu ingin saya segera terbuka, tentang saya atau masa lalu saya. Tapi tolong kasih saya waktu, Lir ... saya belum sanggup menceritakan tentang diri saya." "Tapi kapan?! masa lalu kamu itu berpengaruh dengan masa depan kamu! aku yang menerima dampaknya dari Bella, Jan!" "Saya tahu ... saya tahu." Janu memutar tubuh Anyelir menjadi lebih menghadap padanya, wajah cantik Dewi-nya ditangkup lembut. Pandangan mereka beradu saling mengunci. "Saya mau tanya sama kamu ... apa kamu sanggup menceritakan masa lalu kamu sama saya?" Anyelir melepas pegangan tangan Janu di wajahnya, matanya melotot geram. Bahkan emosinya kembali tumbuh dengan cepat. "Nggak usah bawa-bawa masa lalu aku!" "Lir! Setiap orang punya masa lalu dalam hidupnya. Kenangan pahit, kenangan manis ... orang bilang itu hanya angin lalu, kalau kamu mau saya terbuka ... kamu juga harus terbuka!" "Aku nggak punya kenangan apapun!" Anyelir berbalik, lantas beranjak dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Langkahnya terhenti sejenak. "Jadi ... yang egois itu saya atau kamu, Lir?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN