Lambaian tangan Diego mengakhiri perjumpaan melapas rindu, ada sedikit kerinduan tapi lebih kentara dengan amarah. Bukan pada Diego, tapi pada Janu. Pujaan hatinya, Dewa-nya, Zeus-nya, dambaan hati yang terukir dalam di hatinya. Telah berhasil membuat hati terasa begitu ngilu atas kekecewaan. Niat hati ingin menghindar pun tak berguna, sebab Janu sudah menunggu di parkiran mobil dengan tangan yang berkutik pada layar laptop.
Karakter Janu sekarang jauh lebih menyeramkan daripada awal bertemu, Janu lebih posesif, cemburuan, bahkan rasa cemburu yang tak beralasannya sudah membuat Anyelir keceewa. Jika Deigo menyadari pun pasti ia ikut kecewa atas tindangan satu pihak Janu. Padahal terlihat jelas hari ini pekerjaan Janu nampak begitu menunmpuk, tapi ia bersikukuh mengantar dan menjemput Anyelir hanya karena takut Anyelir bertindak macam-macam dengan Diego.
Anyelir menghela napas panjang, di ujung anak tangga sebelum pintu keluar ia berdiri mutung Malas sekali rasanya menhmapiri Janu, amarahnya masih memuncak, seperti lava yang mendidih di ujung kepala. Barangkali orang-orang harus menganggap Anyelir bersyukur karena cemburu tanda cinta, tapi cinta apa yang dimaksudkan? Janu seperti bukan cemburu, tapi lebih mendekat ke arah takut kehilangan yang terlalu berlebihan.
Dengan senyum yang terukir dari balik jendela mobil, Janu menutup layar laprop. Wajah Anyelir dari pintu restoran yang berbahan kaca jelas terlihat. Lelaki itu menghampiri Anyelir dan menarik lengannya. "Cepatlah … saya buru-buru."
Anyelir menaiki mobil Janu, wajahnya yang datar seolah tidak menyambut hangat kedatangan Janu. Anyelir marah? oh tentu siapa yang tidak marah berbulan-bulan menyembunyikan fakta bahwa Diego ternyata setulus itu pada Anyelir, lelaki itu bahkan sering memberi Anyelir hadiah. Sebelumnya hadiah besar saat Anyelir menerima penghargaan, terakhir kotak merah jambu kecil yang Diego sengaja beri sebagai ucapan atas launching-nya produk yang semakin menambah kepopuleran Anyelir.
Wajah Anyelir di tekuk membuat Janu menghentikan aktivitasnya saat melaju, menarik pegas lantas mematikan mobil. Tidak enak rasanya berada dalam mobil yang sama dengan perasaaan yang berbeda. Janu nampak berseri, sementara Anyelir terlihat menderita dengan pikirannya sendiri, memikirkan Janu yang bertindak seenak jidat tanpa mau bertanya.
"Hei ... kenapa?" Lengannya lihai membelai lembut pipi Anyelir.
Masih diam, entahlah rasanya malas sekali. Memangnya Janu mau mengaku? Ia adalah manusia terlampau gengsi yang nyaris malas membahas hal-hal sepele.
"Lir ... kenapa?" Satu tarikan napas lolos dari mulut Janu. "Saya 'kan udah kasih izin ketemu Diego, ngasih hadiah ke dia, apalagi sekarang?"
"Kenapa kamu nggak bilang kalo Kak Diego pernah ngasih kado buat aku?"
Dahi Janu mengernyit. "Kado? ka—kado apa?"
"Ucapan selamat buat penghargaan kita waktu di Singapura! kenapa kamu nggak kasih ke aku?"
"Saya 'kan pacar kamu, Lir."
"Tunggu, ya ... kenapa kamu jadi kayak gini? walau kamu pacar aku, hubungannya Diego ngasih kado ke aku apa? kenapa nggak boleh?"
Janu terdiam sesaat, entahlah di matanya semua yang diminta oleh Anyelir bukanlah perkara sepele. Diego tahu Janu adalah kekasihnya, tapi malah dengan sengaja memberikan hadiah romantis seolah mereka sedang berpacaran mengadakan tukar kado. Memangnya salah kalau Janu cemburu?
Hati Janu rasanya memanas saat Dewi-nya, Aphrodite-nya, selalu menyebut-nyebut nama Diego seolah lelaki itu istimewa, punya tempat tersendiri di hati Anyelir. Lihat tatapan tajam yang membola lebih hitam pekat seolah wajah Janu dapat terserap ke dalamnya, pertanda bahwa Anyelir benar-benar marah.
Sebelah tangan Janu terkepal, ingin rasanya melayangkan tinjuan pada Diego yang telah berhasil membuat pacarnya terpengaruh. Anyelir dengan amarah seperti ini mirip singa betina, seolah Janu adalah musuh baginya. Kenapa sampai segitunya? Apa Deigo begitu istimewa di mata Anyelir?
"Saya hanya cemburu, Lir."
"Kok cemburu? hubungannya apa, sih? heran aku sama kamu, belum paham aku sama jalur pikir kamu yang selalu bertindak semaunya! Egois tahu nggak?!"
"Ya kamu pikir aja ... bagaimana saya nggak cemburu kalau ada lelaki lain yang memberi hadiah, mendekati secara non verbal belum lagi banyak menyatakan kasih sayang?!"
"Kita hanya sebatas rekan kerja, Janu ... tidak lebih!"
"Kalau begitu saya dan Bella juga hanya sebatas rekan kerja?"
Anyelir heran dengan jalur pikir Janu, kalaupun ia cemburu kenapa selalu berlebihan. seolah-olah yang dilakukan oleh Anyelir adalah kesalahan besar yang tidak patut ditolerir. Banyak lelaki di luarasan sana, penggemar Anyelir yang bahkan terang-terangan menyatakan cinta, mengirim Anyelir berbagai macam hadiah bahkan ulang tahun kemarin Anyelir mendapat kado-kado mahal sampai kalung berlian dari peggemarnya. Tapi, kenapa Janu cemburu hanya karena kado sederhaa dari Diego?
"Itu bed—" Anyelir menghela napas panjang, percuma membahas hal seperti ini dengan Janu. Sebab tak heran Janu juga akan menyinggung banyak hal, dasarnya keras kepala. "Sekarang hadiah itu di mana?"
Nampak berpikir keras, Janu mengerutkan dahi. Pasalnya hadiah itu diberikan kepada Anyelir pada saat mereka berangkat menuju Singapura dan itu sudah lumayan lama. Seingatnya di simpan di ruang kerja, itu pun kalau tidak di buang.
"Sepenting itu ya, Lir?"
"ASTAGA ... aku harus ngomong kayak gimana lagi? apa aku harus ajarin kamu cara menghargai pemberian orang lain, ha?!"
"Saya menghargai, kalau itu dari kamu."
"Kalau dari Aruna kamu bakal tolak? Kalau dari staff kantor juga bakal kamu tolak?" Anyelir menyugar rambutnya semakin lelah. "Bayangkan kalau kamu punya penggemar sautu saat nanti … kamu bakal tolak hadiahnya?!"
"Buat apa Aruna kasih saya hadiah? Dan … saya nggak mau punya penggemar, itu terlalu berisik!"
"Udah ... kasih tahu aku sekarang, di mana kadonya?!"
"Di rumah saya." Janu bersiap menyalakan kembali mesin mobilnya yang sempat menepi di daerah Sudirman dekat taman kota. Pikirannya menjadi sangat kacau, terbagi dua antara kerjaan juga perasaan. "Tapi nanti, saya harus ke kantor dulu. Saya antar kamu ke Batari, ya?"
Alih-alih menurut, Anyelir malah mengerutkan dahi seolah tidak percaya dengan permintaan Janu yang tiba-tiba mengajaknya kembali ke agensi sebelum mengambil kado daei Diego. Perasaan Anyelir mulai tidak nyaman.
"Kenapa harus nanti? apa emang kadonya udah kamu buang?"
Mata Janu terpejam kesal, satu tarikan napas membawa oksigen yang mampu menetralkan semburan api di sekitar d**a. Emosi Janu sudah sampai di ujung, mungkin akan segera meledak sebab semuanya benar-benar tidak sesuai dengan yang diharapkan. Apa yang Janu lakukan selalu salah di mata Anyelir.
"Lir ... bisa nggak ... nggak usah curiga sama saya? kadonya ada sama saya! tapi sabar!" Janu sedikit membentak Anyelir, ada benang-benang yang bertaut di otaknya, semakin Anyelir berbicara juga semakin bertambah rumit.
"Hah?" Anyelir malah menyeringai meremehkan. "Nggak usah curiga?" wajah Anyelir maju mengikis jarak antara lekukannya dengan wajah tampan Janu. "Coba kamu ngaca, Jan ... kenapa aku nggak pernah percaya sama kamu!"
"Saya ini pacar kamu, Anyelir! dan kamu malah terus memojokkan saya demi membela Diego? kenapa? kalian saling suka?!"
Mata Anyelir melotot, jarinya terangkat menunjuk Janu. "Eh jangan ngomong yang aneh-aneh, ya!"
Dengan wajah yang terpaksa beralih ke jendela samping, Anyelir menggigit bawah bibirnya. Semua terasa menyesakkan, bahkan perisai yang melapisi manik akan segera hancur meleburkan setiap tetes cairan kristal. Sulit untuk dibendung, setiap kata yang terlontar dari mulut Janu begitu mengiris hati.
"Kalau kamu tidak merasa ... kamu nggak usah panik seperti itu! publik mendukung kalian karena kalian cocok! silahkan pacaran kalau memang itu mau kamu!!!"
"Stop! stop!" Anyelir menoleh ke arah Janu dengan tiga empat tetes air mata, menghirup oksigen yang nyaris hilang oleh rasa sesak di d**a. "Aku lagi nggak mau bertengkar, ya, Jan!"
Janu turut menghela napas kasar, ia malah tersulut emosi sekarang. Lantas menyalakan mesin dan melaju seperti sengaja menginjak pedal gas. "Kamu pikir saya mau bertengkar? saya juga capek ngehadapin sikap kamu!"
"Capek?" Anyelir tertawa hambar membuat Janu mengumpat dalam diam atas tindakan tak sadarnya barusan. "Kalau kamu capek sama aku ... lebih baik kita sekarang put—"
"Ayo ke rumah saya!" Janu segera memotong kalimat yang akan Anyelir lontarkan. Ini terlampau masuk dalam zona penuh emosi. Apa yang Anyelir katakan suatu saat menimbulkan penyesalan. "Saya nggak suka perbincangan kita isinya perdebatan."
Aku juga nggak suka hubungan kita isinya kebohongan.