Tiga kilo wortel segar yang dibalut kresek hitam ini rupanya terasa berat bagi tangan mungil Anyelir, belum lagi terik yang mulai membakar kulit putihnya. Oh, jangan lupakan bahwa jalanan pasar yang rusak menyisakan tanah merah yang becek, menciptakan kubangan-kubangan kotor. Lihat sandal jepit yang dikenakan sudah tak berbentuk sebab beberapa kali menginjak lumpur, alhasil kotor dan sedikit menjijikkan.
Berada di lingkungan masyarakat yang terbilang prasejahtera membuat Anyelir tersadar, bahwa hidup adalah tentang bersyukur. Gadis itu malah terdiam di dekat penjual kerupuk, seberangnya terdapat seorang lelaki tengah banting tulang, orang biasa menyebutnya kuli panggul. Cobaan yang selama ini menimpa tak seberat sulitnya mencari nafkah, tak dapat didefinisikan betapa penatnya demi sesuap nasi. Tak bisa pulang bila tak ada materi untuk diberi.
Apa yang selama ini menimpa Anyelir merupakan garis takdir, ibaratkan perjalanan, kita tidak mungkin terbang bila menapak kaki di atas aspal hanya sebagai manusia. Semua sudah ada jalannya, tinggal Anyelir pilih harus belok kanan, belok kiri, atau tetap lurus. Ia hanya berharap keadaan disekitarnya tetap baik-baik saja, meski tidak dengan hatinya.
Termenung lama, tanpa sadar ada sebuah motor usang yang dilucuti sudah tak berbentuk hanya terlihat bagian depan serta jok saja melaju sedikit kencang dari arah kanan. Kubangan kotor tepat di depan wajah Anyelir, bayangkan jika motor itu tanpa sengaja melewati jalur di hadapan Anyelir. Tetapi gadis itu masih belum sadar.
Hingga dalam hitungan detik motor melaju melewati kubangan menciptakan cipratan air kotor, gadis itu memejamkan mata bersiap menerima gemercik menjijikkan itu. Tapi rupanya tubuh Anyelir masih kering dan bersih. Sebab seorang lelaki bertopi hitam polos tiba-tiba mendekapnya, mengorbankan punggung bidang untuk melindungi Anyelir.
Mata Anyelir terbuka, masih dalam dekapan seorang lelaki. Napasnya tersenggal sebab masih takut bajunya akan basah terkena air tadi. Ada semilir mint yang menyengat membuatnya kian mendongak terkejut.
"Pak Janu?!"
Masih geram dengan pengemudi itu, kedua tangan Janu terkepal kuat hendak mengejar motor tadi untuk melayangkan bogeman. Tapi tak jadi, sebab Anyelir memanggilnya dengan khawatir.
"Kamu nggak apa-apa?" Tiba-tiba kalimat itu refleks keluar dari mulut Janu.
Dahi Anyelir berkerut, matanya menelisik posisi tubuh yang masih berdekatan, benar-benar mengikis jarak. Tersadar, lantas menjauh dari Janu seraya membuang wajah, bukan apa-apa, detak jantung Anyelir seperti dipacu ratusan kali lipat. Takut-takut Janu mendengarnya, padahal Janu sendiri merasakan hal yang sama.
"Sa—saya ... saya nggak apa-apa." Anyelir masih membuang muka, menyembunyikan pipi yang bersemu merah seperti kepiting rebus.
"Baguslah." Janu mengibas-ngibaskan lengan kemeja beserta celananya karena kotor, kubangan itu benar-benar bertanah merah becek dan sedikit menjijikkan.
Anyelir yang baru menyadari itu menoleh, matanya melotot melihat kemeja serta jeans selutut Janu kotor. "Baju, Bapak!" Pekik Anyelir.
"Iya ... kotor, gara-gara kamu." Janu melepas kemeja telor asin yang sudah basah bagian punggungnya, menyisakan kaus putih polos terlalu ketat membentuk tubuh atletisnya.
"Kok gara-gara saya, Pak?"
Kini lelaki itu menatap Anyelir dengan intens, ada rasa jengah yang ia lampiaskan melalui helaan napas. "Kamu saya panggil nggak nengok-nengok, sampe teriak juga nggak digubris. Budeg apa gimana?!"
Lihat, sekali Janu tetaplah Janu. Mulutnya bertindak menurut logika, bukan kata hati. Jelas hal itu membuat Anyelir kesal, dia kira dengan sikap yang rela mengorbankan tubuh untuk menolong Anyelir masih menyisakan kehangatan apalagi setelah bertanya keadaan Anyelir.
Tapi sekarang? Sudahlah ia tak ingin mengharapkan lebih untuk dijadikan ratu oleh Janu. Benar-benar ucapan Janu memberi kesan bahwa lelaki itu tidak ikhlas menolong Anyelir.
"Yaudah, maaf dan makasih!" Ketus Anyelir, lantas beranjak dengan susah payah membawa satu kantong wortel.
Janu yang heran dengan tingkah Anyelir hanya mengerutkan dahi, Anyelir masih saja marah dan menghindar? Oh, ayolah ia masih terbilang belia untuk memahami perasaan wanita serumit matematika anak SMA, sebab mendekati kaum hawa saja tak pernah, apalagi pacaran.
Hingga ia hanya bisa menghela napas, mengejar gadis itu untuk berjalan menyeimbangkan langkah. Janu melihat Anyelir berwajah datar, membuang muka seolah tak menganggap keberadaannya. Sorot mata yang beralih pada sekantong wortel baru membuatnya tersadar, ya, walaupun sedikit.
"Biar saya yang bawa." Tangan Janu hendak mengambil kresek itu, tapi Anyelir memindahkannya ke sisi yang lain.
"Nggak usah!" Sahutnya kesal.
"Itu pasti berat, sini biar saya yang bawa."
"Tangan Pak Janu masih terluka!"
"Saya punya dua tangan, Berta Bee. Yang satu masih berfungsi dengan baik, sini!"
Anyelir enggan memberikan, malah gadis itu terus melangkah semakin cepat. Janu yang sedikit merasa geram mendahului, lantas berdiri di depan Anyelir yang sukses membuat langkahnya tak lagi melaju.
"Jangan keras kepala!" Dalam hitungan detik Janu merebut kantong wortel itu lantas berjalan mendahului Anyelir.
"Bapak apa-apaan, sih?! Ganggu banget! Sini wortelnya! Jangan sok perhatian!"
Alih-alih menggubris protesan Anyelir, Janu malah dengan santainya bersiul seraya berjalan seperti bocah sambil berjingkrak-jingkrak. Tak peduli dengan perasaan Anyelir yang kian membludak.
Siapa yang tidak kesal? Janu bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Memang benar Anyelir mencium lelaki itu terlebih dahulu, tapi bisakah Janu mengerti maksud dari ciuman itu? Anyelir perlu kejelasan dengan hubungannya. Jika Janu tidak memiliki perasaan yang serupa, lantas mengapa lelaki itu tadi menolongnya? Bukankah seharusnya ia beristirahat di pusat kesehatan saja?
Kendati di mata Janu, Anyelir lebih sulit untuk dimengerti. Ia memang benar-benar tak paham, ingin menjelaskan tapi Anyelir selalu menghindar dan bersikap dingin. Mau menyalahkan, tapi Janu selalu di pihak yang salah, memang pada kenyataannya lelaki harus peka, bukan?
Faktanya berbicara soal ego tak akan ada habisnya. Sampai keduanya hanya bergelut dengan perasaan masing-masing, tanpa sadar pangkalan ojek tempat Raude, Bu Suri dan Batari berdiri sudah di depan mata.
"Pak Janu?" Batari yang heran mengerutkan dahi.
Janu menyerahkan wortel itu pada Bu Suri dengan cengiran canggung, menaikan sebelah alis pada Batari tanpa berucap. Sementara Anyelir masih bersedekap, wajahnya ditekuk kesal.
"Apa lagi yang harus dibeli, Bu?" Tanya Janu pada Bu Suri.
Tapi sebelum Bu Suri menjawab, Batari bertanya sedikit terdengar menginterogasi.
"Pak Janu ngapain di sini?"
"Olahraga," jawabnya entang.
"O—olahraga? Kenapa olahraga pergi ke pasar Om Sutradara?" Raude yang bertanya.
"Iya, saya jalan kaki tiba-tiba sampai di sini." Lelaki itu mengacak-acak pucuk kepala Raude.
"Keren sekali jalan kaki, saya saja tidak sanggup, Om!" Raude terheran.
Lagipula alasan macam apa itu? Berjalan kaki dari pusat kesehatan menuju pasar? Tentu saja mustahil. Pasar berada di ujung timur, jalur melalui sini saja begitu jauh harus melewati perkebunan kelapa sawit dengan jalanan yang sedikit becek. Orang normal seperti mereka yang terbilang sehat tidak tergores apapun harus menggunakan motor untuk sampai di pasar ini. Apalagi Janu?
"Sudah semuanya, kita pulang saja," Bu Suri memecah kecanggungan yang berisikan pertanyaan memojok.
Ibu rumah tangga itu membereskan seluruh belanjaan di motor butut yang di bawa oleh Raude, sisanya Batari dengan peka mengambil beberapa kantong kresek berisikan ikan segar. Kendati ada hal yang mengusik Bu Suri, sebab di pangkalan ojek ini hanya tersisa satu motor. Artinya hanya satu orang yang bisa pulang dengan cepat.
"Motornya hanya ada satu," cicit Batari.
"Dua orang harus menunggu dulu, tidak apa-apa?" Bu Suri berusaha membujuk.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita tunggu saja," ucap Anyelir seraya mengukir senyum singkat.
"Tapi masalahnya, saya harus segera pergi ke ladang ... takut bos saya marah." Wajah Bu Suri nampak sedih, membuat Anyelir tak tega.
"Bu Suri duluan saja, tidak apa-apa kok kita menunggu di sini!" Anyelir mengedipkan sebelah matanya, memasang wajah ceria agar Bu Suri tidak merasa canggung.
"Iya, Bu, tidak apa-apa. Biar Berta Bee dan Pak Janu menunggu saja, mereka sudah terbiasa menunggu. Ayo, Bu."
Ucapan Batari barusan sukses membuat Anyelir melotot, bukan itu konsep yang dimaksud. Ia pikir dengan menunda kepulangan artinya semua juga turut menunggu, tapi jika berakhir seperti ini ia malas, apalagi dalam kondisi ketidakjelasan yang tercipta antara Janu dan Anyelir.
Ibaratkan, Anyelir masih marah, Janu masih bingung.
Anyelir mendekat ke arah Batari, menarik lengan gadis itu lantas berbisik kesal.
"Lo apa-apaan, sih, Tar?!
"Emang kenapa? lo sendiri 'kan tadi yang minta, gue 'kan nggak ngomong mau nunggu di sini!" Batari tak kalah berbisik dengan penuh penekanan.
"Ya ... tapi, nggak gue sama Pak Janu juga, dong!"
"Lir, gue harus cepet balik ke penginapan. Soalnya gue harus beresin perelengkapan Pak Janu sama perlengkapan lo, besok pagi kan kita udah balik!"
"Iya, tap—"
"Ada apa, Nona Artis?" Bu Suri yang menyadari keduanya saling perang bisikan lantas mengerutkan dahi.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Ayo kita berangkat!" Batari dengan entengnya langsung pergi menaiki motor milik tukang ojeg, melambaikan tangan pada Anyelir sembari tersenyum miring.
Dasar kecoa Zimbabwe!
Dengan terpaksa Anyelir tersenyum menyaksikan kepergian Batari kembali ke pusat kesehatan. Sementara Raude yang membonceng Ibunya mengangguk sopan lantas melajukan motor. Anyelir dan Janu benar-benar ditinggal berdua.
"Haus nggak?" Tiba-tiba Janu yang tengah teduduk di kursi bambu sembari bersedekap itu mengeluarkan suara.
"Nggak!" Ketus Anyelir.
"Yaudah." Tanpa pikir panjang Janu berdiri, ia berniat untuk meredakan dahaga menuju kedai sederhana yang berada tepat di ujung jalan dekat penjual pernak-pernik.
Saat langkahnya baru saja terhitung lima, suara anyelir terdengar. Membuat senyumnya terukir.
"Tungguin!"
Janu menoleh, dengan alis yang terangkat sebelah ia berucap, "Katanya nggak haus?"
"Gara-gara Deket Pak Janu jadi mendadak haus!"
"Emangnya saya matahari?"
"Bukan. Tapi percikan api neraka! Apalagi mulutnya, pedes banget kayak dapet bibit cabe di ladang setan!"
"Setan punya kebun cabe?"
"Tau ah! Capek!"
Anyelir menyugar rambut cokelat yang terurai, jengah dia. Niat hati pergi ke pasar ingin menghindari Janu, tapi dengan polosnya lelaki itu muncul berdalih olahraga.
Cih! Olahraga dari mananya? Batin Anyelir protes.
"Kalo dipikir-pikir, kamu itu orangnya gampang marah ternyata."
Janu tiba-tiba berucap demikian, apa dia sendiri tidak berkaca?
"Nggak usah ngomong yang aneh-aneh, deh! Lagian bapak ngapain, sih, datang ke sini?!"
"Nemenin kamu."
"Saya udah ditemenin Batari, Raude, Bu Sari! Nggak perlu ditemenin, Pak Janu!"
"Tapi mereka udah pergi. Coba kalo saya nggak dateng, kamu sendirian emangnya berani?"
Benar juga. Tapi kenapa waktunya bisa sepas ini? Tiba-tiba motornya hanya ada satu, tiba-tiba juga ada Janu yang menemani di tempat asing ini. Bila dipikirkan, mereka hanya tinggal berdua diantara kerumunan orang asing. Apa Janu merencanakan hal lain untuk mengajaknya ke kedai minum nanti? pikir Anyelir.
Ah entahlah, Anyelir hanya bisa menghela napas, tak ingin berharap lebih. Menyeka keringat di dahinya yang terlihat bersinar saat terkena cahaya matahari, tapi hal itu justru membuat pria-pria di sekitar sana terpana.
Janu yang menyadari hal itu, mendelik tajam. Pasalnya para lelaki yang sudah berumur itu memperhatikan Anyelir dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan lapar. Ingin rasanya ia melayangkan bogeman mentah, tapi Janu masih tau diri, ini wilayah asing baginya.
Topi yang dikenakan Janu lantas dipakaian tanpa permintaan di kepala Anyelir, membuat si empunya menghentikan langkah.
"Apa, sih?"
"Pakai topinya, nggak enak diliat orang!" Ketus Janu, lelaki itu memasang tatapan tajam pada pria-pria yang memperhatikan Anyelir sejak tadi.
Mengikuti arah pandang Janu, Anyelir lantas menelan salivanya berat. Jujur saja ia takut bila ditatap demikian, seolah tubuh Anyelir adalah tontonan pemuas nafsu. Lantas menurut, Anyelir menarik topi itu sembari merunduk, menyembunyikan wajahnya.
Padahal bila diperhatikan, pakaian yang gadis itu kenakan hanyalah jeans hitam polos dengan hoodie kebesaran berwarna putih. Benar-benar tertutup. Tapi pemikiran predator memang tak bisa ditebak. Apalagi bila otaknya sudah kotor memikirkan bagaimana nikmatnya memandangi tubuh Anyelir, apalagi sampai menghayal menyetubuhinya. Anyelir mendadak gemetar takut.
Menjadi seorang artis memanglah hal yang wajar bila berhadapan langsung sebagai pusat perhatian. Tapi yang Anyelir rasakan adalah tatapan kagum, terpukau atas paras rupawan juga prestasi yang membanggakan. Bukan seperti sekarang, seolah pakaian dan kecantikan yang diperlihatkan dijadikan alasan pemancing birahi. Manusia yang berinsting hewani memang begitu keji, sungguh sangat ironi.
Janu tahu, bahwa gadis itu baru menyadari selama di pasar ia menjadi tontonan tak mengenakan. Lantas dengan percaya diri menggenggam erat tangan Anyelir, seolah menunjukkan pada dunia bahwa Anyelir adalah miliknya seorang.
"Jangan takut, saya nggak akan ngebiarin tubuh kamu tersentuh oleh predator seperti mereka barang secuilpun!"
Perlakuannya aja kayak gini, gimana nggak baper coba gue? Batin Anyelir.