Dua gelas es teh manis sederhana ala kedai pasar tersodorkan di depan mata Anyelir. Sementara Janu mengambil posisi untuk duduk berhadapan dengan gadis itu, ada meja berlapis spanduk bekas berbentuk persegi, kayunya sudah agak rapuh. Kursi yang diduduki Anyelir juga janu terbuat dari bahan serupa, bentuknya memanjang dengan ujung berkaki sebagai penopang.
Anyelir masih terdiam, menetralisisr jantung yang tiada henti berdegup usai menerima gengaman erat dari Janu. Bahkan, gadis itu semakin menarik topi Janu yang memancarkan semerbak fabric softener khas semakin ke bawah, guna menutupi wajah memanas kian bertambah merah.
"Bukannya haus?" Janu malah mengambil miliknya seperti tak berdosa, padahal ia hampir membuat anak orang mati terkena serangan jantung.
"Iya." Segera, Anyelir menarik es teh manis guna meredakan dahaga.
Es teh manis sederhana tanpa embel-embel latte, caramel, machiato atau bahkan minuman mewah lainnya terasa begitu manis dan nikmat. Mungkinkah pemberian langsung dari Janu mempengaruhi cita rasa? Anyelir tersenyum sendiri di sela-sela menandaskan air minumnya.
Tiba-tiba suasana berubah menjadi canggung, Janu benar-benar diam seribu bahasa tanpa mengatakan sepatah kata ataupun mengalun tannya. Bukan apa-apa, lelaki itu juga bingung harus memulai pembicaraan seperti apa, takut yang terucap menyakiti Anyelir. Situasi apa ini? Janu mengikuti kata hati untuk lebih waspada dalam merangkai kata?
Apalagi Anyelir, ia tidak mau memulai pembicaraan duluan. Lagipula kenapa harus selalu ia telebih dahulu? mulai dari mengurus Janu, bahkan sampai titik di mana Anyelir berani mencium pun, apa ada penjelasan atas semua itu dari Janu? Anyelir sendiri sulit menerka apa yang ada dalam otak sutradara itu.
"Berta Bee!"
"Pak Janu!"
Akibat dari terlalu lama berpikir, sampai tak sadar keduanya memiliki tujuan yang sama.Ingin memulai permbicaraan tapi terhambat oleh ego dan kebingungan. Inilah konsekuensinya, malah saling memangil nama secara bersamaan.
"Bapak duluan," ucap Anyelir tak enak.
"Tidak, kamu duluan,"
"Bapak aja dulu,"
"Kamu dulu,"
Anyelir menghela napas, sudahlah tak ada gunanya jual mahal di hadapan Janu yang kelewat polos tentang perasaan wanita.
"Cobalah untuk memulai, bukan membalas."
Nampak mengerti, Janu berdeham pelan. "Yaudah, saya duluan."
"Saya hanya punya satu pertanyaan," ucap Janu hampir membuat Anyelir was-was.
"Apa?" tanya Anyelir ragu.
"Kamu marah sama saya?"
"Nggak," jawab Anyelir cepat.
"Oh, oke." Janu mengangguk mantap.
Siapa yang tidak terkejut dengan reaksi Janu sepolos itu? apakah Janu tidak peka barang sedikit saja dengan jawaban Anyelir yang ia lontarkan barusan. Bukan Anyelir egois ingin mendengarkan reaksi lebih Janu, tapi memang hal yang dilakukan Janu barusan terlalu datar.
Logikanya, setelah merasakan hal yang serupa. Menunjukkan sikap cemburu, bahkan diam saat menerima ciuman dari Anyelir. Janu harusnya berpikir, antara memperjelas hubungannya ke jenjang yang lebih naik satu tingkatan, atau memilih berhenti dan menjauh sebelum semuanya terlambat. Sebab Anyelir tidak tahu apa yang lelaki itu rasakan sekarang, belum tentu juga Janu menyukainya.
"Cuman itu doang?!" nada Anyelir sedikit berubah tinggi karena kesal.
Janu kini mendongak, melihat dengan seksama wajah Anyelir yang hampir tertutupi oleh topi. Ada amarah yang berusaha Anyelir sembunyikan dari balik manik cokelatnya, hal itu yang membuat Janu tersadar bahwa jawaban Anyelir bermakna lain, walaupun hanya sedikit yang ia pahami melintas di otaknya.
"Saya 'kan cuman bilang ada satu pertanyaan, memangnya salah?"
"NGGAK!"
Lelaki itu mulai menghela napas, bingung rasanya. Anyelir bilang tidak marah tapi jawaban yang ia berikan setiap kali Janu bertanya terlampau singkat, lihat juga wajah yang ditekuk dengan bibir dipajukan, siapa yang tidak akan mengira kalau Anyelir biasa saja.
"Saya belum bisa memahami kamu, Berta Bee." Janu mengangkat topinya sedikit untuk melihat dengan jelas wajah Anyelir. "Karena itu ... tolong katakan pada saya apa yang kamu inginkan, apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu benci. Biar saya paham, ya?"
Yang ada dalam otak Anyelir saat ini adalah, Janu seperti menunggu waktu yang tepat dalam memperjelas hubungannya. Mungkin memang benar, sikap yang Anyelir tunjukkan terlampau buru-buru, ingin segera mencapai apa yang gadis itu inginkan. Tapi ucapan Janu barusan sedikit menyadarkan, bahwa keduanya masih butuh waktu untuk saling mengerti.
"Oke. sekarang giliran saya!"
Janu menopang dagunya di atas meja, mengerahkan atensi seolah tak ada kepuasan sama sekali saat menatap wajah jelita Anyelir.
"Pertanyaan apa?" tanya Janu tak sabar.
"Apa yang Pak Janu rasakan setelah mendapat ciuman dari saya?"
Deg.
Melotot sudah mata Janu, lihat saja bahkan mulutnya setengah terbuka. Lelaki itu tiba-tiba membenarkan posisinya, membuang wajah yang tiba-tiba bersemu merah padahal mereka berada di tempat yang teduh. Belum lagi, oksigen yang mendominasi paru-paru seolah habis entah ke mana, jangan lupakan kerongkongan yang kering dalam sesaat.
Anyelir terkekeh melihat reaki Janu yang nampak tegang. Pertanyaan krusial seolah mudah dilontarkan, padahal sejak tadi Anyelir terdiam mengumpulkan keberanian untuk bertanya demikian.
Masa bodo dengan harga diri, melihat ekspresi Janu sekarang saja sudah membuatnya gemas. Apalagi saat Janu tiba-tiba mengambil es teh dengan tangan gemetar dan menandaskannya tanpa sisa. Di detik itu juga Anyelir tak kuasa menahan tawanya.
"Itu es teh punya saya!"
Gelapagan Janu, tengkuknya yang digaruk terasa benar-benar gatal. "Ha—hah? i—ya, nanti say—saya ... saya-"
"Kita ciuman lagi," sahut Anyelir di sela gelaknya, sukses membuat Janu semakin kalang kabut. Jangan tanyakan bagaimana Anyelir bisa mudah menggoda Janu, adegan itu bukanlah hal yang tabu apalagi setelah bertahun-tahun terjun di dunia film romance.
"H—hah? Ci—ci ... cium?"
"Ini ...." telunjuk Anyelir mengarah pada gelas tinggi yan digenggam Janu, ada bekas lipstik dari bibir Anyelir tercetak di sana. Kini sudah hampir hilang sebelah oleh bibir Janu yang tiba-tiba menenggak habis minuman manis itu. "Pak Janu minum bekas saya ... secara tidak langsung kita berciuman lagi!"
"Ka—kamu ... kamu masih haus? ka—kalo gitu minum punya saya saja!"
Anyelir menggeleng pelan, senyum manisnya terukir di sana. "Lihat wajah bapak aja udah seger!"
Entahlah, rasanya melihat Janu gugup bercampur kaget itu membuat Anyelir senang. Hanya itu yang dapat memberikan hipotesa pada Anyelir bahwa Janu juga mempunyai rasa yang sama, kendati keduanya membutuhkan waktu lebih untuk saling mengharagai dan merubah diri.
Untuk kali ini Anyelir sebetulnya tidak ingin memikirkan hal di luar kontrolnya, ia hanya ingin mendapat kejelasan atas perasaan keduanya. Tapi di sisi lain, ada ketakutan tersendiri yang membuat gadis itu harus memutar otak. Menyembunyikan kelainan dari Janu sebisa mungkin, itu benar-benar membuat Anyelir takut. Ia beranggapan bahwa Janu akan meninggalkannya dan mengumbar kekurangan Anyelir di depan publik, dengan alasan itu juga ia tak pernah mau berpacaran lagi. Berlebihan atau tidaknya pemikiran Anyelir, tidak ada salahnya untuk waspada, bukan?
Janu segera berdiri, berjalan menuju pemilik kedai lantas melakukan transaksi. Tapi sebetulnya ada tujuan lain yang Janu lakukan saat melakukan pembayaran, tidak lain dan tidak bukan untuk meneteralisir detak jantungnya yang tak karuan. Takut Anyelir dengar, pikirnya.
Usai menunggu Janu membayar minuman, Anyelir menghampiri lelaki itu dengan aura yang berbeda. Tidak lagi muram dan penuh amarah, mungkin karena ada secercah cahaya yang secara tidak langsung mendefinisikan keduanya.
"Kita tunggu ojek lagi, Pak?"
Lelaki beriris hazel yang tengah menyimpan dompet milik pridadi ke saku itu nampak menggeleng pelan. "Ayo beli sesuatu."
"Beli apa?"
"Saya pengen ke sana." Arah pandang Janu tertuju pada toko di samping kedai minuman, pernak-pernik khas Kalimantan mengalihkan atensi Anyelir.
Dengan penuh semangat gadis itu berjalan menuju toko pernak-pernik dan aksesoris yang menyajikan manik kayu juga batu khas Kalimantan. Souvenir seperti kalung etnik Dayak dari rotan yang unik mampu melengkapi gaya casual yang sering dipakai Anyelir saat menghadiri rapat.
Janu melihat-lihat dengan seksama, kali pertama ia mengikuti kata hati untuk bertandang ke toko souvenir seperti ini. Ada benda yang terlintas diotaknya ia cari untuk menjadi sebuah kenangan bersama Anyelir di Kalimantan.
Lelaki itu sadar bahwa selama projek berlangsung, baik Anyelir maupun dirinya sama-sama tertekan oleh keadaan. Saling menyalahkan, menjungjung tinggi egoisme bahkan tak asing dengan u*****n dan cacian kasar. Karena itu, demi mengganti kata 'maaf' yang terlalu tabu untuk diucapkan Janu, ia mencari hal lain yang cocok untuk diberikan.
Sementara perhatian Anyelir teralihkan dengan ikat kepala tenun etnik dengan nuansa hitam paduan merah terang yang nampak ciamik. Membayangkan Janu memakai benda itu di kepalanya, menciptakan sekatan antara dahi dan rambut ikal sedikit panjangnya. Terlihat keren dan maskulin, pikir Anyelir.
"Bu saya mau ini." Gadis itu mengambil ikat kepala bercorak khas tanah Toraja lantas melakukan transaksi.
Sejak tadi Anyelir tidak melihat Janu, bukannya pergi ke toko ini adalah keinginan lelaki itu? tapi lihatlah entah di mana keberadaan Janu sekarang. "Katanya pengen ke sini? tapi hilang, ke mana, sih? padahal gue kan beli ini buat dia."
"Kenapa, Nona cantik?"
"Hah?" Anyelir baru tersadar bahwa dia bergumam sendirian, padahal menurutnya tadi begitu pelan. Tapi rupanya terdengar. "Tidak apa-apa, Bu."
Si pemilik surai cokelat itu lantas mengambil kresek yang berisikan ikat kepala, untuk diberikan pada Janu. Tapi masalahnya ia kehilangan jejak Janu, menyisir seisi toko lelaki itu juga tidak menampakkan batang hidungnya.
Terpaksa Anyelir keluar toko pernak-pernik sembari mengedarkan pandang, ia takut salah orang. Masalahnya Janu memakai kaus putih polos dan banyak sekali warga yang memakai baju serupa sekarang. Anyelir termenung di depan toko sederhana itu, mungkinkah Janu pulang duluan?
"Apa dia marah, ya?" hanya kalimat itu yang terbesit di dalam otaknya.
Janu yang anyelir kenal adalah manusia lepas yang benar-benar tega. Ingat bahwa lelaki itu tak peduli saat Anyelir terjatuh, saat masuk ke dalam rawa-rawa dan kejadian lainnya. Mungkin saja ia sengaja mengajak Anyelir ke dalam toko sana untuk membuat gadis itu sibuk, maka dengan mudah Janu meninggalkan Anyelir.
sial.
Tapi otak negatif yang semula berkuasa tiba-tiba lenyap. Sebab ada tangan kekar yang menyodorkan dua gelang etnik plat Kalimantan yang nampak unik dengan ukiran khas. Anyelir tiba-tiba mengerutkan dahi.
"Darimana aja? saya cari-cari, Bapak!"
"Saya di dalam. Saya lihat kamu cari-cari saya, terus kamu jalan keluar, saya kira kamu emang udah menemukan saya dan menunggu di luar,"
Tentu saja Janu terheran, dengan jelas Anyelir melewati tubuhnya. Bahkan lelaki itu mengalun senyum saat berpapasan dengan Anyelir yang tadi nampak celingak-celinguk mencari Janu. Tapi gadis itu mengira bahwa Janu pergi?
Rasa takut kian menyelinap di benak Anyelir, ini adalah salah satu dari sekian banyak ketakutan yang akan menimpa Anyelir bila ia menjalin hubungan lebih. Tinggal bersama orang tua saja sulit untuknya mengingat kebiasaan, penampilan dan juga hal identik lainnya. Apalagi baru mengenal Janu yang hanya berjarak tiga bulan saja, selain wangi mint khas tubuhnya Anyelir tidak tahu ciri Janu yang lainnya.
"Ah, udah lupain! ini apa?!" Anyelir mengalihkan pembicaraan.
Sementara Janu masih menatap gadis itu dengan heran. Aneh.
Kembali fokus, Janu mengedip-ngedipkan matanya perlahan. "Ini gelang."
"Buat saya?"
Janu mengangguk. "Orang alay biasa menyebutnya couple."
"Alay?"
"Iya, yang diperbudak oleh cinta mereka suka memakai hal serupa dengan pasangannya,"
"Bapak diperbudak oleh cinta?" gemas sekali Anyelir melihat ekspresi Janu, seperti baru pertama memberikan hadiah pada lawan jenis.
"Enggak!" Ketusnya gengsi.
Lihat, Janu selalu gugup bila melakukan tindakan untuk Anyelir. Sepertinya lelaki itu tidak bisa merencanakan sesuatu, hanya akan tepat bila berjalan sesuai naluri. seperti tadi saat menggenggam tangan Anyelir.
"Sini kepalanya." Anyelir nyaris mengeluarkan ikat kepala.
"Hah? Kepala saya? buat apa?"
"Buat di tebas!" Anyelir berseringai, membuat Janu mengerutkan dahi. "Saya beli ini buat, Pak Janu." Gadis itu mengeluarkan ikat kepala yang tadi dibeli.
Baru mulai mengerti Janu sedikit membungkuk, membiarkan Anyelir memakaikan ikat kepala dengan baik. Benar saja, paras Janu bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Anyelir tersenyum.
"Sini tangan kamu." Giliran Janu yang bersuara, benar-benar penampakan mereka seperti anak remaja pertama kali jatuh cinta.
Dengan sukarela Anyelir menyerahkan tangan kanannya, memakai gelang yang serupa dengan Janu. Keduanya tersenyum pulas, Janu yang semanis saat ini benar-benar hampir menbuat Anyelir kehilangan akal. Ingin rasanya ia mengecup bibir Janu, memeluknya erat atau membawanya tidur. Astaga, tapi ia harus bersabar, Janu adalah tipikal orang yang sangat hati-hati.
"Anggap saja ini bagian dari permintaan maaf saya," ucap Janu tulus usai memasangkan gelang di tangan Anyelir juga tangannya.
"Udah saya maafkan sejak lama," jawab Anyelir.
Kini Janu menatap manik cokelat yang nampak begitu indah dengan lekat, pun dengan Anyelir. Seolah bumi tak lagi berotasi, benar-benar terasa hanya berdua. Menyisakkan detak jantung juga kegugupan yang melanglang buana.
"Makasih, ya." Janu mengusap pucuk kepala Anyelir, menyingkirkan helaian-helaian rambut yang nyaris menghalangi wajah cantiknya.
"Untuk apa?"
"Segalanya. Saya sudah merepotkan kamu, tapi tolong ... jangan mengorbankan diri kamu untuk lelaki jahat seperti saya."
"Maksudnya?!"
"Saya nggak suka ada orang yang terluka karena saya, kalo saya tahu kemarin kamu nolong saya dengan hujan-hujanan. Kamu nggak tidur, lupa makan ... saya akan menolak dengan tegas pertolongan kamu."
"Itu 'kan keadaannya darurat, Pak."
"Pokoknya, Jangan pernah diulang lagi, ya?"
"Tap—"
"Dan satu lagi!" potong Janu cepat, tak ingin mendengarkan pembenaran dari Anyelir yang hanya akan membuat ia semakin merasa bersalah telah membiarkan Anyelir berkorban untuknya.
"Apa?"
"Kalo mau cium, kasih kode dulu. Biar saya nggak kaget,"
Blush!