Usai makan-makan bersama, dengan sajian buah hasil Anyelir menghadapi momen langka pergi ke pasar membeli sayur-mayur. Kini beberapa warga serta pendatang termasuk Batari, Janu, Anyelir juga Ricky tentunya tengah menikmati minuman penutup yang dibuatkan oleh Batari khusus.
Minuman hangat yang dibuat dari campuran matcha serta fresh milk itu menemani dinginnya udara malam di desa terpencil ini. Tapi tak memudarkan semangat canda tawa yang diselingi sesi sharing bersama, tentang kehidupan di Kalimantan, sumber mata pencaharian, sampai adat-istiadat. Anyelir cukup terpukau dengan kekayaan yang tiada habisnya di miliki kota Borneo ini.
Beralih dari perbincangan serius, Raude tiba-tiba bertanya menimbulkan keheningan sesaat.
"Om Sutradara itu punya pacar atau tidak?" tanya Raude.
Pertanyaan itu sukses mengalihkan atensi Anyelir yang semula hanya bergurau dengan gadis kecil adiknya Raude. Nampak sabar, aktris itu menanti jawaban dari Janu, entah sesuai yang diharapkan atau hanya sebatas frasa tanpa makna.
"Pacar? Kamu masih kecil sudah tahu hal begitu?"
Ekspresi Janu yang terpancar benar-benar terlihat tenang, kalau datar itu sudah pasti. Hanya saja, sedikitnya Anyelir berharap lelaki itu tersipu malu atau gelagatan. Tapi justru malah mempermainkan pertanyaan Raude.
"Zaman sudah canggih, Om. Hanya bertemu lewat ketik-ketik handphone saja sudah pacaran. Om ini ... Temanku banyak yang seperti itu!" Jawab Raude.
"Pacaran itu bukan perkara lihat wajah orang tampan atau cantik, suka lalu tinggal jadian." Janu menyesap hidangan matcha latte buatan Batari yang benar-benar terasa nikmat.
"Terus apa?"
"Pacaran itu soal komitmen ... komitmen bagaimana caranya kita menjaga pasangan kita, menghargainya, menganggapnya ada, dan mengorbankan apapun yang kita punya demi kebaikan dia." Senyum Janu terukir begitu tulus, membuat Anyelir terpana untuk kesekian kalinya.
"Dan juga bukan soal status ... saya pikir status itu tidak penting ... yang penting itu adalah pengakuan. Tentang bagaimana caranya kita mengakui rasa sayang yang dimiliki melalui perlakuan," lanjut Janu nampak seperti penasihat cinta, benar-benar bijak.
Anyelir sudah tak kuasa menahan rasa bahagia yang membludak di dalam hatinya. Sementara para warga malah betepuk tangan usai mendengar sepenggal kalimat bermakna yang Janu lontarkan, bahkan Batari sampai menyenggol pinggang Anyelir dengan sikutnya sangking terkejut bercampur tidak menyangka atas ucapan Janu.
"Berarti ... Pak Janu ini sukanya hubungan spesial, walaupun tanpa status asalkan saling mengakui melalui perlakuan, begitu?" tanya Ricky, masih penasaran dia. Pasalnya ucapan Janu memang tidak sebanding dengan tampanng dingin dengan aura tempramental yang kuat.
Samar-samar Janu nampak mengangguk. "Bisa dibilang begitu," ucapnya santai.
"Dengan Berta Bee, bagaimana? Apakah itu hubungan spesial atau kalian memang sudah berpacaran?" Ricky rupanya benar-benar mencurigai tingkah laku Janu dan juga Anyelir.
Lagipula siapa yang tidak curiga bila keduanya mempunyai hubungan dari sekadar teman kerja? Rasa khawatir yang ditunjukkan Anyelir secara tersirat saat membawa Janu bersimpuh darah tengah malam diguyur hujan menuju pusat kesehatan mengandung konotasi lain, terlebih ketika Anyelir terisak seolah takut benar-benar kehilangan Janu. Bahkan gadis itu berjaga semalaman demi memastikan keadaan Janu.
Lalu Janu, lelaki itu bertingkah seperti bocah cinta kebingungan. Ricky sering mendapati Janu tengah berbicara sendiri, entah apa yang dipikirkan. Sebab hampir setiap waktu Janu bertanya mengenai perasaan wanita pada Ricky, tapi enggan untuk memberitahukan siapa wanita yang dimaksud. Belum lagi kejadian tadi pagi, Janu nampak cemas beranggapan bahwa Anyelir pulang ke penginapan. Sampai-sampai menyusul gadis itu menuju pasar.
"Saya? Dengan Berta Bee?" Pertanyaan balik Janu tentu saja membuat Anyelir semakin bertambah penasaran.
Bahkan gadis itu sejak tadi menempelkan gelas di mulut sebagai upaya untuk menghilangkan kecanggungan, berpura-pura terus menyesap matcha padahal tidak ada setetes pun yang menyelinap ke dalam lidahnya.
"Iya, para warga di sini juga pasti penasaran dengan hubungan kalian berdua, benar, 'kan?"
"Betul!" Jawab Raude serta beberapa warga lain kompak.
Reaksi Janu nampak menggaruk tengkuk tak gatal, kalo sudah begini pasti ia gugup. Takut yang dilontarkan justru menjadi boomerang untuknya, Janu menoleh sekejap ke arah Anyelir tapi gadis itu malah memalingkan wajah.
"Saya tidak pacaran dengan Berta Bee, kami tidak memiliki hubungan spesial apa-apa. Hanya sebagai teman kerja," jawaban Janu sukses membuat semua orang terkejut.
"Pak Janu yakin?" Tanya Ricky lagi.
"Iya, kami tidak ada hubungan spesial apa-apa. Benar, 'kan, Berta Bee?"
Bayangkan betapa sesaknya d**a Anyelir sekarang. Sebuah fakta bahwa Anyelir dan Janu memang tidak berpacaran, dan gadis itu mentoleransi hal tersebut karena memang begitu kenyataannya. Tapi soal 'hubungan spesial'. Memangnya ada perlakuan manis yang diberikan Janu terhadap lawan jenis masih disebut sebagai 'rekan kerja'? bukan hal yang spesial?
Baru kali ini Anyelir menenggak habis matcha latte tanpa merasakan panas sedikitpun, masa bodo, minuman itu terasa hambar sekarang. Apalagi saat seluruh atensi terfokus padanya, Anyelir nyaris mengalirkan air mata sangking tidak menyangka dengan pengakuan Janu barusan.
"Itu benar, kah? Kakak Artis?" Pertanyaan Raude sukses memojokkan Anyelir.
Hatinya ingin berkata 'tidak', tapi mulutnya justrus berkata, "Iya, be—benar."
Berat sekali Anyelir mengatakan hal demikian, sampai ingin rasanya ia pergi sejauh mungkin. Bahkan Janu nampak tak acauh, ia hanya mengacungkan jempol lalu kembali fokus berbincang dengan Ricky.
Ah benar, Anyelir tersadar lantas segera berdiri. "Saya masuk duluan, mengantuk." Ucapan singkat Anyelir sukses menbuat suasana menjadi canggung.
Berbeda dengan Janu, justru lelaki itu semakin fokus berbincang dengan Ricky. Benar-benar tak peduli bahwa Anyelir masuk ke dalam pusat kesehatan dengan satu dua tetes air mata yang disembunyikan, menciptakan nuansa canggung bercampur tidak enak. Batari menyadari hal itu, maka tak heran ia mulai mencairkan suasana dengan mempertanyakan adat dan tradisi lainnya.
Sementara Ricky mengerutkan dahi sembari menatap lekat ke arah Janu, lelaki itu terlihat kebingungan dengan perbincangan seriusnya mengenai bekerja sebagai dokter sekaligus relawan. Janu juga belum menyadari bahwa Anyelir tiba-tiba pergi karenanya.
"Ngomong-ngomong, Dokter Ricky," nampak Janu tengah menimbang-nimbang ucapannya.
"Kenapa? Katakan saja,"
"Anda 'kan sudah berada di sini hampir dua tahun, artinya ... Anda sudah mengenal daerah di sini?"
Ricky masih bingung dengan arah tujuan perbincangan Janu yang terlampau berbelit-belit.
"Terus? Memangnya kenapa?"
"Apa anda tahu di mana tempat terindah di Berau? tempat yang juga berkesan untuk Anda saat pertama kali ke berkunjung ke sana?"
"Tempat indah yang berkesan?" Ricky mulai berpikir keras.
**
Hampir menjelang tengah malam, acara berbincang itu baru berakhir. Janu tidak jadi masuk ke dalam kamarnya, ia justru menyelinap menghampiri Anyelir yang tengah melamun di meja kerja milik Aroem dengan tatapan kosong tertuju pada pintu masuk.
Bahkan Janu yang baru saja masuk, Anyelir tidak menyadarinya. Sebelum lelaki itu mengetuk pintu membuat gadis bersurai cokelat itu mengerjap.
"Kenapa belum tidur?" tanya Janu basa-basi.
"Terserah saya!" Anyelir langsung beranjak tanpa menoleh ke arah Janu sana sekali, tentu saja hal itu membuat lelaki polos seperti Janu kebingungan lagi.
"Hei ... Berta Bee ... saya mau bicara." Janu segera menyusul langkah Anyelir yang tiba-tiba keluar dari ruangan, lelaki itu segera meraih lengan Anyelir.
"Lepasin!" Tiba-tiba Anyelir menunjukkan nada tinggi sampai terdengar seperti membentak Janu.
"Kamu marah lagi?" Tangan Janu masih mencekal sikut Anyelir.
"Enggak! Apaan, sih? Lepasin!"
"Terus kenapa nggak mau bicara sama saya?"
"Udah malem, ngantuk!"
Kini Janu melepaskan cekalan tangan itu, sebab ia mengalihkan fungsi untuk kembali menggaruk tengkuk. Entah berapa kali hari ini ia melakukan hal serupa hanya karena sesuatu yang membingungkan.
Gadis itu berdalih mengantuk, tapi pergi ke luar. "Emangnya di luar ada kamar? Ngantuk tapi kenapa keluar?"
"MAU TIDUR DI LUAR!" ketus Anyelir sedikit berteriak, gadis itu hendak beranjak, namun, langkahnya tertahan mendengar ucapan Janu.
"Saya mau bicara soal Sutradara Panca,"
Anyelir berbalik. "Saya lagi nggak pengen bercanda, ya, Pak!"
"Tapi saya nggak bercanda,"
"Yaudah, ngomong!"
"Ayo ikut saya." Janu tiba-tiba membuka pintu ruangannya, mempersilahkan Anyelir untuk masuk.
Alih-alih menurut, Anyelir justru mengerutkan dahi. "Kenapa harus di dalam? Kan bisa di sini!"
Sabar ... Janu ... sabar.
Jika Janu bertindak menurut logika yang tertanam sejak dini, maka ia akan mengeluarkan berbagai macam u*****n untuk melampiaskan amarahnya pada Anyelir. Tapi Janu mulai mengendalikan hal itu sekarang, lantas menarik napas panjang.
"Ada yang mau saya tunjukkan ke kamu. Masuk." Janu malah masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
Anyelir tak bisa berkata-kata selain menggelengkan kepala, terlalu sulit memang menghadapi manusia datar seperti Janu. Selain pemarah dan membosankan, Janu teramat tidak peka sama sekali.
Yang harus ngerti di sini siapa, sih? Kesel! Batin Anyelir.
Dengan kekesalan yang masih diatas rata-rata, Anyelir terpaksa masuk, menyaksikan Janu tengah terduduk nampak mengotak-atik laptop miliknya. Bagaimana bisa ada di sini?
"Kemarin Aruna nganterin ini ke saya." Untung saja Janu membeberkan informasi tanpa Anyelir harus bertanya terlebih dahulu, gengsi dia. "Saya harus tunjukkan ini ke kamu."
"Oh, oke." Anyelir bersedekap, masih tak mau duduk padahal Janu sengaja menyisakkan space di peraduan miliknya untuk Anyelir.
Mendengar kalimat singkat itu Janu mendongak, menghentikan aktivitasnya semula. "O ... Oh? Oh saja?"
"Kenapa? Emangnya nggak boleh?!"
Anyelir masih dalam mode macan betina, sehingga Janu harus bisa waspada. Takut-takut macan yang tengah tertidur itu tiba-tiba membuka mata lalu menerkamnya, seram bukan?
"Duduk." Kepala Janu menoleh pada tempat kosong di sampingnya. "Kemarilah, lihat ini."
"Apa?" Anyelir mengikuti keinginan Janu, ditatapnya layar laptop berlogo apel tergigit yang nampak begitu terang.
Seorang gadis berkulit putih s**u dengan Surai pirang keemasan yang nampak berkilau tengah tersenyum lebar di samping kandang beruang madu. Dari raut wajah dan bentuk tubuhnya, Anyelir tafsir gadis itu seusianya. Pakaian casual yang santai juga nyaris menyamai seleranya. Tapi Anyelir mengerutkan dahi sekarang.
"Siapa dia?"
"Shawnette," ucap Janu enteng.
Sontak Anyelir melotot. "H—hah?! Shawnette?! Ma—maksudnya ... maksudnya Shawnette itu ... gadis yang ada di dunia nyata?!"
Janu mengangguk. "Shawnette itu putri sutradara Panca ... Arghhhh! Sial! Kenapa saya baru menyadarinya sekarang!"
Dilihat dari ekspresi Janu, lelaki itu nampak menahan emosi yang mendominasi. Namun pada hakekatnya, itu ditujukan pada diri sendiri.
"Bukannya nama anak Papi itu ... Emm ... Temarina?"
Wajah Janu yang memerah oleh api amarah kini menoleh pada Anyelir dengan ekspresi dingin.
"Kamu tahu nama panjangnya Arin?"
Anyelir terdiam sesaat nampak berpikir. Memorinya berputar pada sebuah pigura yang menjadi hiasan dinding tepat sebrang pintu masuk ruangan Papi. Di situ sebuah piagam penghargaan olimpiade matematika internasional terpampang, bahkan waktu itu Anyelir sempat bertanya pada sutradara Panca terkait gadis yang kerap disapa Arin itu. Gadis cerdas nan produktif yang menyukai salah satu film Anyelir.
"Shawn Ettalyon Temarina?" Sebelumnya ragu, tapi setelah sadar Anyelir tiba-tiba melotot. "Shawn Ettalyon Temarina ... Shawnette!"
"Benar ... Shawnette adalah Arin, karya yang dibuat oleh paman Panca itu dipersembahkan untuk Arin!" Janu memukul-mukul kepalanya beberapa kali. "Kenapa aku baru menyadarinya sekarang! Sialan!"
"Menyadari apa?"
"Kunci kesuksesan Back And Kill It'!" Pekik Janu.
"Kunci? Apa kucinya?"
"Saya rasa itu ada di kamar kamu,"
Melotot lagi Anyelir. "Kamar saya? Kok bisa?"
"Kamu lupa saya pernah mengecek kamar satu-persatu? Saya mencari benda itu!" Janu menutup layar laptopnya, lantas ia berdiri tiba-tiba mondar-mandir seperti berpikir.
"Jadi ... tujuan ngecek kamar itu bukan untuk nyari kamar yang lebih layak?"
"Bukan!"
"Te—terus ... terus sekarang kita gimana?"
"Besok kita harus cari benda itu. Pasti ada rahasia di sana yang mampu memecahkan maksud dari setiap adegan di Back And Kill it,"
"Oke." Anyelir ikut berdiri, berniat untuk kembali ke kamarnya.
Lagipula benda yang dimaksud tidak ada, jadi untuk apa dia berlama-lama lagi bersama Janu di ruangannya. Tapi niatnya tertahan, sebab Janu tiba-tiba menghalangi langkah Anyelir dsn beridir tegak di depannya.
"Apa lagi?!" Anyelir sedikit berteriak.
"Saya cuman mau bilang ... kalo kita udah jadi kesatuan sekarang. Saya harap selama proses syuting kita menghindari adanya cacian dan makian saking menuduh memperkuat ego, bisa, 'kan?"
Alis Anyelir berkerut, ada kata ambigu yang membuat gadis itu heran. "Kesatuan? Maksudnya?"
"Kita sudah menjadi satu, Berta Bee. Apa kamu tidak menyadarinya?"
Anyelir masih bingung, tapi bercampur cemas juga khawatir kalau sampai Janu tiba-tiba mengungkapkan kalimat sakral.
"Bentar ... bagaimana maksudnya?"
"Kita menjadi satu ... karena sesama rekan kerja harus mempunyai satu visi untuk keberhasilan kedepannya. benar, 'kan?"
Tersentak secara tidak langsung Anyekir, bingung sekali. Ternyata benar dihadapan Janu Anyelir hanyalah rekan kerja biasa, lihat kejadian tadi saat mengaku pada warga tidak apa-apa. Dan sekarang hampir menggoyahkan hatinya lagi.
"Oh!" Sudahlah, marah dan menghindar adalah jalan ninja Anyelir agar tidak terlalu menyedihkan.
"Oh lagi?!" Janu ingin mendengar penjelasan, tapi sayang gadis itu sudah masuk ke dalam ruangan Aroem dan menutip pintu dengan kasar. "Hei ... Batari?"
"Hei!" percuma, Anyelir sudah benar-benar masuk ke dalam sana.
Kini manusia datar yang selalu dianggap tidak punya hati hanya bisa terdiam, jangan lupakan untuk terus menghela napas.
"Ada kamus untuk memahami sikap wanita, nggak, sih?"