Pagi menjelang siang ini Janu dan Anyelir sudah tiba kembali ke penginapan. Aruna membantu Janu yang nampak kesulitan membawa perlengkapan sebab lengannya hanya berfungsi sebelah, masih terasa ngilu oleh jahitan berbalutkan perban. Kalau dipikir-pikir mereka bedua hanya tiga hari tinggal di pusat kesehatan, tapi lihatlah keperluan yang dibawa Janu juga Anyelir seperti habis mengungsi terkena banjir.
Longsor yang menutupi akses jalan sudah dibersihkan dua hari yang lalu, jadi Aruna mampu menjemput Janu, Anyelir, juga Batari dengan jeep yang di sewa oleh tim produksi.
Tanpa pikir panjang, Janu dan Anyelir lekas berjalan menuju kamar Anyelir. Melihat hal itu Aruna mengerutkan alis pada Batari yang hanya mengangkat bahu tak mengerti dengan reaksi kedua makhluk itu.
Janu membuka-buka setiap pintu lemari yang berada di ruangan Anyelir, mencari sebuah kotak yang ditafsir ada rahasia tersembunyi di sana. Sampai atensinya terfokus pada meja tempat berhias yang tak pernah Anyelir sentuh selain menyimpan berbagai macam skincare di atasnya.
Di meja itu ada empat laci yang menjadi hiasan unik serta tempat menyimpan barang, Anyelir bukan tipikal orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Maka tak heran laci itu tidak pernah ia buka semenjak menginjakkan kaki di rumah khas ini.
Satu dua laci masih kosong, membuat peluh di dahi Janu bercucuran oleh panas juga rasa penasaran yang berkunjung sejak malam tadi. Sampai-sampai Janu tidak bisa tidur, pun dengan Anyelir.
Akhirnya di laci ketiga, Janu menemukan sebuah kotak beludru merah yang nampak usang dilihat dari ukiran besi tua berkarat membentuk lengkungan aneh. Tanpa sabar, Janu lantas mengambil kotak itu dan memperlihatkannya pada Anyelir, sementara si gadis justru menganga terkejut dengan temuan Janu.
"Ayo lihat!" Keduanya memang tak sabar, lantas duduk berdua saling berhadapan di tempat peraduan.
Sebelum membuka kotak, Janu mendongak, menatap pintu yang terbuka lebar menampilkan orang lalu-lalang sibuk bekerja. Takut-takut orang lain mengetahui privasi tentang keluarganya, Janu berjalan menutup pintu rapat-rapat.
"Kenapa di tutup?" Anyelir turut penasaran.
"Ini privasi keluarga saya." Janu berjalan kembali duduk di samping Anyelir. "Saya nggak suka ada orang asing tahu tentang keluarga saya," lanjut Janu.
"Orang asing?" Jelas saja Anyelir heran.
Sejak awal mengenal Janu, Anyelir tidak tahu menahu soal hubungan tali persaudaraan lelaki itu dengan sutradara Panca. Begitupun dengan media, kedua orang itu memang tertutup soal keluarga, tidak pernah menampakkan seorang keluarga pun di awak media. Kecuali saat kematian Arina-putri sutradara Panca satu tahun silam, mungkin pada saat itu Anyelir belum mengenal Janu. Sehingga ia tidak tahu kalau Janu tururt menghadiri pemakaman sebagai keluarga berduka.
Tempramentalnya yang kentara membuat Janu risih diusik orang lain, begitupun menyangkut keluarga. Ia tidak suka orang asing mengetahuinya, bukan? Tapi Anyelir?
"Iya, saya nggak suka berbicara soal keluarga pada siapapun." Janu bersiap membuka kotak itu, namun, terhenti saat Anyelir menyuarakan maksdunya.
"Tapi saya orang asing,"
Janu menoleh, menatap lekat iris cokelat terang yang menjadi candu baginya saat ini. "Kamu bukan orang asing bagi saya,"
Lagi. Entah berapa kali Anyelir berharap Janu tiba-tiba bisu. Siapa yang tidak kelimpungan dengan tingkah sutradara yang satu ini. Menegaskan dengan jelas pada semua orang bahwa keduanya tidak memiliki hubungan spesial, barang sedikit saja. Tapi lihat ucapan dan perlakuan Janu sekarang, seolah Anyelir di matanya terlihat berbeda dengan gadis dan crew lain.
"Terus kalo bukan orang asing, saya siapa?" Gemas Anyelir dengan tingkah Janu.
"Ya, kamu Berta Bee ... artis saya,"
"Tapi 'kan saya rekan kerja, bukan keluarga. Sama saja dong dengan orang asing?"
Terlihat dari raut wajahnya, Janu nampak berpikir keras. Memang pada dasarnya pertanyaan Anyelir ada benarnya juga, secara yuridis artis cantik itu bukanlah keluarga Janu. Tetapi Janu mengizinkan Anyelir, seolah memberikan harapan bahwa Anyelir spesial di matanya.
Tetapi, sedikit-banyak ada rasa yang tiba-tiba sesak di d**a saat Anyelir mengalun kata 'rekan kerja', seperti satu hal jauh dari harapan yang mudah tergapai oleh Janu.
"Beda." Janu berucap tanpa menoleh sedikitpun pada Anyelir, lebih tepatnya ia memalingkan wajah ke arah lain. "Kamu keluarga bagi saya, apalagi bagi paman Panca."
"Hanya itu? Kenapa saya bisa dianggap keluarga?" Goda Anyelir, tidak puas dengan jawaban Janu.
"Karena paman juga beranggapan begitu,"
"Benar, kah?"
Akhirnya lelaki itu menghela napas pelan, bahkan Anyelir tidak menyadarinya. Lantas menoleh pada gadis yang mengerutkan dahi menanti jawaban pasti.
"Shawnette adalah dirimu, Berta Bee. Bagaimana kamu bisa memahami isi hati Shawnette jika kamu tidak mengenal siapa Shawnette sebenarnya?" ucapan Janu sedikit membuat Anyelir mengerti, dan tahu maksud dari menganggap Anyelir sebagai bagian dari keluarga.
"Jadi ... di mata Pak Janu, saya adalah Shawnette?"
"Sudahlah, kita kembali lebih cepat bukan untuk membahas ini. Bisa kita lupakan?"
Padahal Anyelir ingin sekali mendengar hal lebih dari yang Janu ucapkan, menganggap Anyelir sebagai keluarga karena gadis itu istimewa di matanya. Sudahlah, Anyelir lelah harus terus berharap lebih.
Sebetulnya Janu tidak ingin melupakan pertanyaan Anyelir barusan, tapi ia lebih memilih menyudahi perbincangan daripada berakhir menyinggung perasaan satu sama lain. Tanpa basa-basi lagi Janu membuka kotak beludru tersebut, mulut Anyelir ikut menganga.
Puluhan foto-foto seorang gadis putih berambut pirang itu tersimpan dengan rapi di dalam kotak, Janu berdiri lantas menjejerkan semua foto itu di atas tempat tidur. Menelisik satu-persatu foto yang tertera di sana.
Semua merupakan foto Arin yang tengah tersenyum manis di depan kamera. Ada foto Arin yang tengah berada di stasiun kereta, di tengah hutan, bermain di rawa, tengah masuk ke dalam sungai kecil, memanjat pohon, bermain boxing, bahkan beberapa foto nampak Arin tengah menggunakan kupluk seolah tak ada sehelai rambut pun di sana.
Sepengetahuan Janu, kehidupan gadis itu tidak lebih dari sekedar belajar, mengikuti berbagai macam perlombaan sains dengan sejuta gudang prestasi. Tapi anehnya tak ada satupun foto yang dicetak saat Arin mendapat penghargaan, membuat Janu mengerutkan dahi.
"Ada yang aneh," ucap Janu pada Anyelir.
"Apa yang aneh? Ini semua foto Arina, 'kan?"
Janu menoleh pada Anyelir, lagi, iris hazel yang nampak teduh itu begitu memabukkan. Membuat ia harus kuat-kuat menelan salivanya agar bisa bersikap biasa saja.
"Ingat piagam itu?"
"Piagam penghargaan olimpiade internasional milik Arin?"
"Ya." Janu mengangguk. "Coba lihat semua foto ini." Kini atensinya dialihkan pada deretan foto kembali, pun dengan Anyelir.
"Ah!" Anyelir baru sadar. "Benar, kenapa tidak ada foto saat diberikan penghargaan satupun, ya?"
"Great analysis!" Janu bersedekap nampak berpikir dengan keras. "Kenapa ... Kenapa ... Kenapa."
Berbeda dengan Janu yang diam seraya berpikir, Anyelir justru penasaran dengan foto yang berjejer itu. Ia mengamati semuanya satu-satu secara dekat, dan tanpa sengaja membalikkan foto itu.
Matanya melotot seketika, terdapat tulisan tangan yang rupanya di hampir setiap foto ada. Gadis itu dengan cepat memperlihatkan apa yang ia temukan pada Janu. Foto itu merupakan foto Arin tengah berada di atas pohon sembari tersenyum ceria.
"Memeluk pohon ... Tujuh belas dari seratus satu keinginan hidup yang sudah tercapai," baca Anyelir. Lantas mendongak menatap Janu dengan penuh kebingungan.
"Seratus satu?" Tanya Janu. Jeda beberapa detik Janu nampak semakin kebingungan dengan semua ini. "Coba lihat foto yang lain,"
Setuju dengan permintaan Janu, Anyelir mengambil foto Arin yang tengah mengukir kurva manis saat berada di kereta bawah tanah.
"Menaiki kereta bawah tanah, berharap bisa membawaku ke masa lalu ... Masa di mana Mama dan Papa belum mengenal apa itu ambisi ... Satu dari seratus satu keinginan hidup yang sudah tercapai." Usai membacakan itu, Anyelir dengan cepat mendongak. "Ini yang pertama!" Lanjutnya berkomentar.
"Ambisi?" tanya Janu heran.
"Ya, ambisi ... memangnya Papi punya ambisi apa?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Anyelir, Janu malah memandangi foto itu satu persatu dengan seksama. "Hutan ... Ambisi ... Hutan ...."
Pemikiran mereka yang abu-abu itu seolah menggambarkan adanya badai tengah berkuasa di benak keduanya, namun tiba-tiba saja mereda. Menciptakan secercah harapan yang selama ini mereka nantikan, sebuah petunjuk menggambarkan keadaan untuk menghadapi cobaan.
"Olimpiade!" Pekik Janu sedikit berteriak, lantas menoleh pada Anyelir yang mengerutkan dahi.
"Olimpiade?" Anyelir masih bingung sebetulnya.
"Iya. Semasa hidup Arina, ia tak pernah punya waktu istirahat dari belajar. Awalnya Arina menyukai matematika sampai-sampai tiada henti ia mempelajarinya, dan berhasil meraih berbagai pengharapan juga perlombaan sains lainnya. Tapi seiring berjalannya waktu, ia pasti jenuh." Janu nampak menggaruk tengkuknya. "Berkaitan dengan ambisi ...."
"Apa almarhum istri Pap—"
"Benar!" Janu nampak bersemangat menyimpulkan apa yang ada di benaknya sekarang. "Foto-foto ini adalah keinginan Arin semasa hidupnya yang tak pernah menginjak dunia luar selain berkutat dengan buku ... Dan itu hanya tecapai usai kematian istri Paman ...."
Janu mengarahkan telunjuk pada setiap tulisan di bawah sudut kanan setiap foto, tanggal-tanggal pemotretan tercetak di sana, mengingatkannya pada momen beberapa tahun silam.
Frada—istri Panca Pirmuranggeng merupakan seorang profesor ternama di salah satu Universitas negri di Jakarta. Wanita itu mengalami hipotermia dan henti jantung saat melakukan penelitian di Rusia dua tahun silam. Hanya berjarak empat bulan usai kematian sang istri, kebahagiaan sutradara Panca direnggut paksa oleh takdir bahwa Arin—putri kandung satu-satunya mengalami kanker otak yang turut merenggut nyawanya.
Fakta bahwa Arin dituntut sang ibu untuk menguai bidang sains membuat gadis itu jenuh, mengharapkan kebebasan hidup yang terdengar tabu di telinga ibunya.
"Artinya, Arin tidak lagi berkutat dengan matematika usai Tante Frada meninggal," ucap Janu.
"Dan dia meminta kebebasan pada Papi, melakukan seratus satu hal yang paling ingin dia lakukan semasa hidupnya ... Tapi tidak semua tercapai karena Arin sakit?"
"Benar," lirih Janu.
Lelaki itu kembali memandangi deretan foto, menghitung kertas-kertas bergambar itu yang berjumlah 84 buah, artinya ada 17 keinginan yang belum terealisasikan oleh Arin karena Tuhan menjemputnys lebih awal. Kini atensi Janu menoleh pada Anyelir, menatapnya lekat seolah baru menyadari satu hal.
Tersadar oleh tatapan Janu yang terlalu lekat tanpa mengedipkan mata bahkan terkesan dalam itu membuat Anyelir mengangkat sebelah alisnya bingung. "Apa?"
"Sekarang saya tahu, kenapa paman Panca bersikukuh menginginkan kamu berperan sebagai Shawnette,"
"Saya?"
Janu mengangguk. "Karena hanya kamu yang bisa merealisasikan keinginan Shawnette, karena hanya kamu yang paman Panca percaya ... Dan hanya kamu yang memiliki paras cantik seperti Shawnette."
Janu mendekat ke arah Anyelir, mengulurkan tangan kanannya sembari tersenyum.
"Kenapa?" Anyelir masih belum membalas uluran tangan Janu, gadis itu malah mengerutkan dahi.
"Saya ingin berjabat tangan dengan benar, mewujudkan keinginan Shawnette melalui karya yang bisa dikenang selamanya ... Ayo mulai lagi dari awal, Berta Bee." Senyum manis Janu begitu membuat jantung Anyelir terasa dipompa berkali-kali lipat.
Dengan senyum yang tak kalah manis dari Janu, Anyelir menerima jabatan tangan kanan Janu. Tidak seperti sebelumnya, mereka berjabat tangan kiri yang tidak lain bermakna penolakan juga pemberontakkan.
"Mari bekerjasama dengan baik, Pak Janu."
"Saya akan mengumpulkan seluruh crew ... Kita rapat dari awal dengan sistem yang berbeda, saya menyesal telah melakukan banyak kesalahan seperti kemarin." Janu masih belum melepaskan genggaman tangan berdalih simbol kerjasama.
"Tidak apa-apa, semua butuh proses. Kita buat keluarga Papi bahagia di atas sana."
"Back and kill it bukan hanya tentang balas dendam, tapi tentang hal yang ingin dilakukan seorang gadis ketika dia dihadapkan oleh tekanan. Sekarang saya sadar makna di balik film itu."
"Sa—saya—" Anyelir menatap lekat genggaman Janu yang tak mau lepas sejak tadi, ia benar-benar kebas. "Pak Janu bisa ... Bis—"
Baru tersadar, Janu lantas melepas genggaman itu. Gara-gara itu juga suasana berubah menjadi canggung, dengan wajah Anyelir yang dibuang paksa karena bersemu merah, ia juga bingung sekarang harus bagaimana.
"Ka—kalo gitu ... Berta Bee, sa—saya ... Saya ... Ayo kita berkumpul di halaman!" Gugup Janu.
Melihat gelagat Janu yang nampak menggemaskan, Anyelir terkekeh sendiri. Ini adalah waktu yang tepat untuk dia menggoda Janu, lihatlah betapa polosnya lelaki yang satu ini.
"Pak Janu?"
"A—ayo! Kita adakan rapat sebelum mulai syuting besok." Janu segera beranjak, nyaris membuka pintu sebelum Anyelir membuat matanya melotot.
"Kalo saya mau cium Bapak harus kasih kode dulu, ya?"