Minggu berganti Minggu keadaan semakin terlihat membaik. Terlebih sejak penemuan Janu dan korelasi dengan kisah nyata seorang gadis bernama Arin yang merupakan saudara Janu sendiri. Lelaki itu juga acap kali mengajak para crew diskusi secara transparan, tidak seperti sebelumnya.
Bahkan asistennya saja—Aruna, sejak awal bekerja dengan Janu tak pernah diajak diskusi bersama dulu.
Janu juga membuat aliansi kecil-kecilan sebagai bentuk jaminan kerja di hutan yang memakan banyak resiko. Berbaikan dengan Diego yang sejak awal keduanya menggali ngarai masing-masing untuk menjauh satu sama lain.
Diskusi yang diadakan Janu hampir setiap hari, bahkan tak heran para crew membuat lingkaran besar hanya untuk membedah naskah dan membahas proses syuting selanjutnya. Padahal jauh sebelum mengetahui makna Back and Kill It', Janu seolah apatis, tak ingin mendengar pendapat dan menjalankan proses syuting sesuai schedule tanpa mau berdiskusi.
Melihat perkembangan yang signifikan ini, siapa juga yang tidak senang? Anyelir seolah ditantang untuk menaikkan satu level dari suka menjadi cinta jika sikap Janu semanis itu. Bahkan pernah di satu hari Janu menyiapkan makan khusus Anyelir, menyuapi gadis itu dengan telaten karena Anyelir demam usai seharian syuting di rawa-rawa.
Tapi sampai detik ini, keduanya belum ada kepastian hubungan apa-apa. Bukan karena tak ingin, Anyelir pikir bahwa menunda adalah hal yang tepat saat situasi sibuk agar Janu fokus terhadap apa yang dikerjakan. Hanya saja, siapa yang tidak kalang kabut tiap malam mengharapkan hal lebih jika sikap Janu terlampau manis setiap waktunya.
Seperti hari ini, Anyelir dijadwalkan syuting di sungai seharusnya dari pukul 09.00 pagi. Akan tetapi hujan mengguyur secara tiba-tiba, membuat gadis itu kebingungan karena tidak mungkin memaksakan diri menerobos hujan apalagi berada di bantaran sungai yang acap kali terjadi peluapan.
Alhasil, Janu menyuruh Anyelir untuk menunggu sampai dapat aba-aba darinya. Sebab lelaki itu pergi terlebih dahulu menerobos hujan demi mengecek keadaan di sekitar sungai. Belum lagi, Janu memberikan jas hujan ponco miliknya pada Anyelir. Siapa yang tidak ketar-ketir dengan perlakuannya itu?
Anyelir tersenyum sembari memeluk jas hujan milik Janu kala termenung di jendela menengadah pada rinai. Batari yang baru masuk ke kamarnya mengerutkan dahi sebab gadis itu terlihat seperti orang gila jika senyum-senyum sendiri tanpa adanya alasan.
"Eh kutu! lo ngapain senyam-senyum gitu?"
Pertanyaan Batari sukses mmebuat Anyelir tersentak, pasalnya ia malah membayangkan pergi berdua bersama Janu di tengah hujan sembari menikmati tetesan air bersama. Bahkan kalau boleh menari sambil tertawa, dasar halu.
"Tar, kalo masuk kamar orang tuh ketuk dong! 'kan kaget gue!" protes Anyelir.
"Ya, lagian pintu lo kebuka lebar gitu. Lo lagi apa, sih?"
"Halu." Cengir Anyelir.
"Udah-udah ... halu mulu, gila baru tahu rasa! ayo ke depan siap-siap, kita berangkat,"
"Ke mana?"
batari menghela napas seraya memutar bola matanya jengah. "Perempatan Dubai!"
"SERIUS?!"
"Ke sungai, iler cicak! 'kan kita mau syuting sekarang ... kayaknya emang lo udah gila beneran!"
"Jangan gitu, ucapan adalah do'a." Anyelir memajukan mulutnya beberapa centimeter, bila ini ditunjukkan di depan Janu, lelaki itu pasti akan kesenangan melihat betapa gemasnya Anyelir.
Berbeda dengan Batari, gadis itu malah mengerutkan alisnya geli. "Nggak ada konsepnya ucapan adalah do'a, gue suka bilang mau nikah sama Park Chanyeol ... buktinya? sampai sekarang pacar aja kagak punya!"
"Ya, kalo yang itu Tuhan juga segan mengabulkannya. Kasian nanti Park Chanyeol kena mental kalo nikah sama manusia super cerewet kayak lo, Tar!"
Melotot Batari mendengar penuturan Anyelir yang seolah tidak ada rem di mulutnya, lama-lama Anyelir ketularan Janu. Suka mengkritik orang dengan kata-kata pedas untuk menjatuhkan mentalnya.
"HEH! MANUSIA APA TADI?!" Wajah Batari sudah merah menahan amarah.
Melihat itu nyali Anyelir langsung menciut, untung saja si kembar Abra Cadabra melintas di depan kamarnya. Membuat otak nakal Anyelir bekerja dua kali lipat lebih pintar sekarang.
"ABRA CADABRA!"
Anyelir menoleh pada Batari yang melempar tatapan tajam siap memangsa seperti harimau, seram. Lantas gadis itu tersenyum kikuk dengan menampilkan deretan gigi-gigi putihnya pada Batari. "Tuh, udah ditungguin Abra sama Cadabra. Gue duluan, ya!"
Tanpa basa-basi Anyelir lari terbiririt-b***t menghampiri manusia kembar itu untuk menjauh dari Batari. Lihatlah arah pandang Batari yang memutar tubuh untuk menatap Anyelir dengan penuh kekesalan. "HEH! BERTADINE ANYELIR! GUE BELUM SELESAI BICARA!" Teriak Batari.
Batari akan bertambah sensitif jika menyangkut calon jodohnya Park Chanyeol, walaupun halu tetap saja di matanya seperti nyata. Kasian Chanyeol harus menunggu di Korea, kerja keras banting tulang untuk masa depan mereka berdua, pikir Batari.
**
Anyelir dan para crew tengah berjalan menyusuri hutan, menuju sungai yang berukuran sedang hasil survey Janu dan Aruna. Di belakangnya ada Diego yang sejak tadi mengajak gadis itu bercanda perkara serial kartun anak kecil yang botak sudah bertahun-tahun ada tapi tak pernah tamat TK. Belum lagi mendebatkan perihal bubur diaduk atau tidak, ternyata bila diteliti lebih jauh Diego adalah sosok yang memiliki humor terbilang receh. Anyelir gemas sendiri.
Sementara Batari yang berada di barisan paling belakang mendumel. Secara acak gadis itu mencabuti daun perdu yang tertanam di seoanjang jalan setapak, biasanya hidup liar di sekitar pinus atau mahoni.
Bila sudah begini, Anyelir harus menyiapkan segudang barang bujukan agar batari kembali seperti biasa, agak sulit memang membujuk manusia satu itu. Apalagi perkara Park Chanyeol, Anyelir menganggap halu Batari terlampau aneh sehingga dengan mudah ia mengejeknya, tapi Batari menganggap semua itu serius.
Anyelir geleng-geleng kepala sendiri bila mengingat tingkahnya.
Berjarak sekitar 300 meter dari hadapan Anyelir seorang lelaki bertubuh cukup tinggi mengenakan kaus salur sedikit berlari ke arah puluhan crew dan juga Anyelir sebagai salah satu rombongan. Nampak dari ekspresinya lelaki itu tengah ketakutan, ada jaket jeans berwarna hitam yang ia bawa di tangan kirinya.
"Itu Aruna ngapain lari-lari ke arah sini," ucapan Diego sukses membuat satu rombongan yang berisikan para pemain, DOP, lighting, make up and hair menghentikan langkah karena bingung.
Benar saja, Aruna dengan ekspresi penuh ketakutan menghampiri para crew. Celana dan setengah bajunya sudah basah, bahkan tangannya kotor. Atensi Anyelir terlaih pada jaket jeans yang di bawa oleh Aruna, ia mengenali pakaian itu. Sebab, hari di mana sutradara Pnaca mengalami kecelakaan ada sehelai pakaian yang menutupi wajah Anyelir dari kerumunan wartawan, itu milik Janu.
TIba-tiba saja perasaan tidak enak menyelinap di batin Anyelir.
Diego yang berada di barisan kedua dari depan lantas menyela, menyaksikan Aruna yang nampak ngos-ngosan setngah mati. "Lo ngapain lari ke sini?" tanya Diego.
Di salah satu diskusi, Diego mengajukkan agar dirinya berbicara non-formal. Sebab menurut Diego, menjalin hubungan kerjasama yang terlalu fokus pada aturan bisa membuat jenuh. Hal itu yang mmebuat orang-orang sulit bergaul, katanya.
"Pak Janu ... Pak janu ...." Napas Aruna masih tersenggal, membuatnya nampak kesulitan berucap.
Anyelir yang berada di belakang Diego melotot, lantas menyelinap untuk berhadapan langsung dengan Aruna. Memastikan bahwa perasaan sesak di dadanya hanyalah khawatir tak mendasar.
"Pak Janu kenapa?!"
"Pa—pak Janu ... Pak Ja—Janu ... di—dia ...."
Geram dengan tingkah Aruna yang tidak jelas, Anyelir memegang bahu tinggi milik lelaki di hadapannya dengan kuat-kuat. Memberi tatapan lekat untuk menyadarkan Aruna agar berbicara dengan benar, belum lagi dari sudut mata Aruna yang meneteskan air mata bercampur keringat membuat hati Anyelir terasa mulai di iris.
"Bicara yang bener!" Melotot Anyelir pada Aruna. "Pak Janu kenapa?!"
Mendengar pertanyaan itu, alih-alih menjawab Aruna justru menangis di hadapan Anyelir membuat gadis itu semakin bertambah cemas. Apa yang terjadi pada Janu?
Enggak ... enggak ... Tuhan tolong jangan, batin Anyelir.
"ARUNA!" bentak Anyelir, "BICARA YANG BENER!"
Diego yang mendapati Aruna emosional juga Anyelir yang turut terbawa suasana mulai ikut khawatir. Lelaki itu membawa air minum kemasan kemudian di berikan pada Aruna. "Minum dulu, Lo harus tenang. Bicara baik-baik, Aruna."
Dengan senang hati Aruna mengambil minum dari Diego lantas menegaknya sampai tandas. Aruna mulai merasa baik, tidak cengeng seperti sebelumnya, ia menarik napas sebelum berucap.
"Pak Janu ...."
"Cepet bilang!" Bentak Anyelir.
"Pak Janu ... Ka—kayaknya Pak Janu—"
"Kayaknya apa?!" Anyelir nampak tak sabar.
"Kayaknya Pak Janu terbawa arus sungai,"
Deg.
Lemas sudah Anyelir. Seluruh ototnya seolah tidak lagi berfungsi dengan baik guna menopang bobot tubuhnya, belum lagi suara tonggeret yang bersahut-sahutan terdengar begitu pilu di telinga Anyelir. Gadis itu membeku, menatap nanar ke arah Aruna yang mulai menitikkan air mata lagi.
Dengan cepat Anyelir menggelengkan kepala. "Nggak mungkin!"
Tidak sesuai harapan Anyelir, Aruna justru mengacungkan jaket jeans yang sejak tadi ia bawa tepat di depan wajah Anyelir. Membuat hati Anyelir terasa semakin kesakitan.
"Sa—saya me—menemukan ini ... Tiba-tiba lewat depan mata say—"
Belum rampung Aruna menjelaskan kronologi yang terjadi, Anyelir sudah mendorong tubuh lelaki itu untuk menyingkir lantas berlari sekuat yang ia bisa.
"Lir ... Lir ... Mau kemana?" Batari dari arah belakang tergesa-gesa menyelinap untuk mendekat ke arah sahabatnya itu. "Anyelir!" Ia mulai berteriak saat tubuh Anyelir semakin menjauh.
"BERTA BEE!" Teriakkan Diego juga beberapa crew sama sekali tak di dengar oleh Anyelir.
Hampir semua orang yang saat ini tengah berdiri panik, lantas mengikuti pergerakan Anyelir. Apalagi Diego yang sudah ikut berlari menyusul gadis itu tepat di belakangnya. Diego tidak berani menahan Anyelir untuk lebih santai, ia tahu situasi, yang terpenting Anyelir aman di hadapannya.
Suara aliran air mulai terdengar, lokasi yang dimaksud sejak awal briefing sudah terlihat di depan mata. Bahkan ada seorang cameraman yang tengah menjelajah atensi setiap sudut sungai, pandangan Anyelir mengabur kala tiba tanpa melihat sebatang hidung pun dari Janu.
"Pak David!" Anyelir menghampiri seorang cameraman berwajah serupa dengan Aruna tengah kelimpungan.
Lelaki berusia empat puluh itu ditugaskan Janu untuk berangkat lebih awal demi memastikan keamanan lokasi syuting juga mencari angle kamera yang pas. Mereka berangkat bertiga di tengah guyuran hujan, tapi sekarang? Yang tersisa hanya dua orang.
"Pak David ... Pa—pak ... Di mana Pak Janu ... Pak Janu di mana?!" Anyelir membentak lelaki bertopi abu-abu yang sengaja di pakai ke arah belakang itu dengan gemetar.
Satu dua tetes lolos membasahi pipinya melihat David hanya membisu secara merunduk. "Di mana?! Cepet katakan di mana?!"
"Ma—maaf ... Ber—berta Bee ... Saya nggak tahu!"
"Kalian gila apa gimana, sih?! Sutradara kalian hanyut kalian masih aja diam?!" Anyelir membentak seluruh crew yang anehnya malah terdiam menyaksikan adegan Anyelir mempertanyakan keadaan Janu pada David.
"Orang sinting mana yang hanya menyaksikan saya di saat situasi kayak gini. Saya bukan tontonan!" Atas teriakan dari Anyelir itulah para crew mulai menyusuri sungai untuk mencari keberadaan Janu.
"Lir, Lo harus sabar, ya? Jangan marah-marah kayak gini." Batari menepuk-nepuk pundak Anyelir untuk menyalurkan energi positif.
"Pak David, cepat ceritakan kronologinya." Diego yang muncul berusaha menenangkan suasana.
Percuma saling membentak dan berteriak, ujung-ujungnya menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi sudah terbawa emosi, solusi apapun tidak akan berjalan dengan baik.
"Sa—saya ... say—"
"Pak David!" Diego memegang kedua pipi David agar mata lelaki itu fokus pada Diego dan berani mengungkapkan apa yang terjadi tanpa rasa takut, tidak seperti Aruna yang sekarang sudah tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Fokus!"
"Saya butuh informasi dari, Pak David. Jadi tolong ... fokus dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" lanjut Diego.
David nampak mengangguk mantap.
"Ketika kita tiba di lokasi ini, aliran sungai agak keruh. Sambil menunggu saya dan Aruna mencari angle yang pas ... Pak Janu ... Pak Janu bilang mau periksa keadaan sungai di hulu, takut-takut air yang keruh oleh hujan itu tiba-tiba menjadi deras alirannya." David nampak menghela napas.
"Terus-terus?!"
"Nggak lama setelah itu, air sungai memang agak deras. Pas Aruna lagi cek keadaan aliran ... Tiba-tiba jaket milik Pak Janu lewat, kami kaget,"
Anyelir mukai menggigit kuku-kuku jarinya, tak bisa ia menghilangkan barang sedikit saja perasaan di benaknya.
"Pas Aruna ambil buat cek, ternyata bener itu jaket Pak Janu. Untuk memastikan keadaan Pak Janu, Aruna pergi ke hulu sungai ... Tapi Pak Janu tidak ada," lanjut David dengan rinci.
Terduuk sudah Anyelir di tanah berlumpur dengan lemas. Sembari menggeleng-gelengkan kepala Anyelir sudah terisak, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Janu pergi meninggalkannya di saat mereka masih menunggu waktu untuk bersama?
Tangan yang gemetar membuat napas yang tersengal bertempo teratur oleh isak tangis tertahan, ingin rasanya Anyelir menjerit meratapi nasib yang begitu kejam menghujamnya terus-menerus. Sampai-sampai dadanya ia pukul berkali-kali sangking terasa ngilu di sana.
"Pak Ja—janu ... Pak ... Pak Janu baru aja ... Baru a—aja sembuh ... Baru aja jahitannya kering ... Di mana—di mana ... Tar!"
"Lir, Lo yang sabar." Batari mendekap Anyelir dengan sangat kuat. "Lir ... ayo dong jangan kayak gini ... gue jadi pengen nangis." Gadis itu juga mengelus-elus pundak Anyelir dengan lembut.
"Pa—pak Janu ... Pak Janu ... nggak mungkin pergi ninggalin gue, 'kan, Tar?"
"Nggak, Lir." Masih di pelukan Batari, Anyelir menenggelamkan wajah di bahu Batari dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi. "Udah dong, Lir ... Pak Janu pasti baik-baik aja, gue sakit hati liat Lo nangis kejer kayak gini ... udah, ya?"
Siapa yang tidak akan menangis bahkan menjerit bila perlu. Anyelir sudah merasakan penderitaan yang datang bertubi-tubi sejak kecil, belum lama juga ia ditinggal Panca—orang yang menjadi ayah kedua di mata Anyelir.
Kehadiran Janu menjadi obat tersendiri bagi Anyelir untuk menyadari bahwa hidup pasti menyimpan sudut manis yang memberikan kehangatan. Dan hanya Janu yang bisa melakukan itu meski dulu sikapnya begitu menyebalkan, tapi Janu di mata Anyelir sekarang adalah sosok yang hangat.
Di saat Anyelir mulai merasaka cahaya yang indah menyinari hidupnya yang abu-abu, Janu pergi begitu saja? Tanpa pamit? Ibaratkan Anyelir lebih baik diselingkuhi daripada ditinggalkan tanpa permisi.
"Kenapa Pak Janu ... jahat banget sama gue, Tar?"