Bab 31 - Perkara Ikan Cupang dan Pelukan

1993 Kata
"Saya nggak akan ninggalin kamu." Suara itu tiba-tiba muncul di telinga Anyelir, terlalu banyak memikirkan Janu sampai ia berhalusinasi. Anyelir masih tenggelam dalam tangisnya di dalam dekapan Batari, tak ingin rasanya ia menunjukkan sedikit saja wajah cantik yang mulai memerah oleh tangisan. Seluruh atensi di tepi sungai berukuran sedang terfokus pada Anyelir, tak tahu mengapa gadis itu bisa se-histeris ini. Dibilang berlebihan, tapi memang siapa juga yang tidak takut dan cemas luar biasa mendengar kabar bahwa Janu hilang terseret arus. Pasalnya, Anyelir sudah berkali-kali ditinggalkan orang tersayang tanpa pamit dan permisi. "Lir?" Batari berbisik di telinga Anyelir. "Sorry, Tar ... gue ... gu—gue halusinasi denger suara, Pak Janu." Posisi Anyelir masih sama, terduduk di tanah samping sungai meneggelamkan wajah dalam dekapan Batari. "Tapi, Lir ... lo—" "Sekali ini aja diemin gue halu, Tar!" "Lir ... gue bukan ngelarang ... tapi lo—" Anyelir akhirnya menunjukkan wajah, ia menatap Batari lekat ditambah dengan aura ketajaman seolah memberikan percikan api-api perang. Batari sendiri hanya mengerutkan dahi saat gadis itu bersiap mengeluarkan kalimat-kalimat pedas pada Batari. "Lo kenapa, sih? Tar?!" Anyelir menghapus jejak air matanya dengan kasar, siap menyerbu Batari dengan protesan-protesan yang dianggap krusial baginya. Lagipula apa salahnya membiarkan Anyelir halusinasi? walaupun itu tidak nyata, tapi tidak merugikan Batari barang sedikit saja. Sudah beberapa menit berlalu pencarian Janu terus dilakukan, tapi katanya belum membuahkan hasil apa-apa. Anyelir rindu, sungguh. Wajar bila ia melampiaskan birahinya dengan berhalusinasi mendengar suara Janu. "Lo yang kenapa, Lir?" Batari malah balik bertanya. "Hah?! Apaan, sih, Tar?! emang apa salahnya gue tiba-tiba halu kalo Pak Janu ada di sini, ha?!" Batari menggeleng. "Masalahnya ... lo—" "Udah! Kalo Lo nggak suka ... nggak usah deket-deket gue daritadi!" Nampak Batari semakin mengerutkan dahi seraya menghela napas berat. Anyelir dalam mode singa betina memang sedikit sulit dijinakkan. Ingin memberikan penjelasan sebanyak apapun, gadis itu akan pura-pura tuli, harus melihat bukti konkret terlebih dahulu. "Bukan gitu, Lir ... lo denger penjelasan gue dulu, dong!" "NGGAK USAH! gue mau cari Pak Janu sendiri!" Anyelir membentak Batari seraya bersusah payah untuk berdiri, lagi-lagi menghapus jejak air mata yang tiada henti melintas di pipinya dengan kasar. "Sebegitu takutnya kamu kehilangan saya?" Ada suara bariton lagi yang muncul. Tapi benar-benar terdengar nyata, kenapa halusinasinya bisa sebaik ini? pikir Anyelir. Alih-alih memutar tubuh, gadis itu justru menepuk-nepuk telinganya sendiri. Bisa bahaya jika ia terus hanyut dalam kerinduan Janu, bisa-bisa tak akan ada hasil apapun dari jejak pencariannya menyusur sungai. "Gue terlalu sering halu! Sadar ... sadar, Lir!" Gerutu Anyelir sukses membuat Batari menggelengkan kepala. "Kamu nggak halu," lagi, suara itu muncul. Jengah dengan kebodohan Anyelir di atas rata-rata, Batari memegang kokoh pundak gadis itu dengan kedua tangannya. Menatap lekat seolah terbayang bahwa yang dilakukan Anyelir barusan terlampau berlebihan. Tanpa menunggu aba-aba, Batari memutar tubuh Anyelir untuk menoleh ke arah belakang. Menyaksikan bahwa yang selama ini yang dibilang halu rupanya nyata. Seorang lelaki atletis yang sudah basah kuyup setengah badan itu tengah tersenyum simpul, wajahnya nampak pucat kedinginan menggenggam plastik bening yang di dalamnya berisikan ikan-ikan kecil. Anyelir mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, sosok ini benar Janu. Dan memang terlihat nyata, bahkan seluruh atensi pun terfokus pada mereka berdua. "Kamu nggak halu, Berta Bee ... saya memang ada di sin—" Belum sempat Janu merangkai kata yang berisikan penjelasan agar gadis itu tidak terlalu mengkhawatirkannya. Anyelir tiba-tiba berlari ke arah Janu dan memeluknya cukup erat. Awalnya Janu tersentak, terkejut dengan gerakan Anyelir yang tiba-tiba, tapi ia berusaha menyesuaikan keseimbangan tubuhnya. Ada detak jantung yang saling beradu terdengar begitu cepat, Janu membeku.Tak menyangka bahwa gadis itu begitu khawatir sampai benar-benar takut kehilangan dirinya. Ada kebingungan yang baru saja bermuara di dalam otaknya, sebab dalam hidupnya Janu belum pernah dipeluk seorang wanita selain ibunya dan gadis yang sudah lama hilang di dalam ingatan Janu. Dengan tangan yang gemetar gugup, Janu berusaha membuat tubuhnya untuk membalas pelukan itu. Benar-benar terlihat hati-hati dan bingung. Tangan kirinya mengelus punggung Anyelir lembut. "Jangan cemas lagi, ya?" Janu berbisik pelan, membuat Anyelir melepaskan pelukan eratnya. Batari beserta crew lain seolah tengah menyaksikan adegan dalam film-film, menurut Batari mereka berdua terlalu hiperbolis. Bayangkan kalau Janu dan Anyelir masuk dalam film yang sama, pasti sudah laris-manis dengan tingkah ajaib keduanya yang terlampau drama. "Kenapa?" Janu bingung dengan reaksi Anyelir. Gadis itu nampak melempar tatapan tajam pada Janu, siap memangsa juga membabi-buta si sutradara. Sudah tak ada lagi raut khawatir di wajahnya, bahkan air mata Anyelir rasanya mengering. Kesal dia. Bayangkan sudah setengah mati ia mengkhawatirkan Janu sampai menangis tersedu-sedu, tapi dengan polosnya Janu datang membawa plastik berisikan ikan, dan berkata pada Anyelir untuk tidak cemas? Oh, semesta senang bergurau rupanya. "Lain kali jangan bikin anak orang gila!" bentak Anyelir, tiba-tiba gadis itu pergi dari hadapan Janu juga Batari. Amarahnya nampak memuncak. "A—ah? Ka—kamu ... kamu marah sama saya?" Janu menyusul langkah Anyelir yang nampak begitu kesal bersiap meninggalkan lokasi syuting. "Berta Bee ... tunggu!" Sementara Batari dan Aruna salinga melempar tatap, pun dengan Diego. Aruna memberikan tatapan meminta pendapat sementara Diego hanya mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng pelan. Batari mengerti. "RESCHEDULE!" ** Malam hari, hujan kembali mengguyur. Satu hal yang membuat syuting ini harus memutar otak agar sesuai jadwal adalah cuaca yang tak menentu. Bahkan Janu yang terluka juga masuk dalam kategori pelebaran jadwal syuting yang semakin bertambah rumit, belum lagi drama-drama kecil yang menghambat seperti tadi. Sepulangnya dari sungai, usai berjibaku dengan tangisan hanya karena Janu dianggap tenggelam entah ke mana. Anyelir mengurung dirinya di kamar, meredakan amarah yang kian membuncah karena tingkah Janu. Bisa-bisanya lelaki itu terlihat biasa saja, padahal Anyelir ketakutan setengah mati. Bahkan, Abra yang sejak tadi harus mengurusi perawatan rambut Anyelir menutup mulutnya rapat-rapat. Sebab gadis itu sungguh seperti singa betina yang baru saja melahirkan, sensitif. Ibaratkan baru saja menampakkan wajah sudah diterkam. "Emangnya kalo gue marah salah, ya, Ab?" Setelah sekian purnama berada di dalam kamar Anyelir untuk melakukan hair treatment, gadis itu baru bersuara. Abra yang tengah menyisir rambut Anyelir mengerutkan dahi. "Nggak, kok!" "Nggak, 'kan? Tuh! Mereka aja yang berlebihan!" Dalam diam, Abra tersenyum canggung. Itu pun Anyelir pasti tidak menyadari sebab Abra berada di belakang gadis itu. Biarkanlah Anyelir hanyut dalam pikirannya sendiri, toh mengkhawatirkan orang lain memang tidak salah apalagi di mata hukum. Tidak ada aturannya, hanya berdasarkan naluri semata. "Udah jangan dipikirin, Bee." "Ya enggak. Cuman males aja, kenapa reaksi mereka beranggapan bahwa gue berlebihan!" Abra tak lagi berkomentar, ia fokus merapikan helaian rambut Anyelir. Hanya memberikan reaksi tersenyum simpul. Tak lama kemudian pintu Anyelir terdengar ketukan. Sontak keduanya menoleh, menyaksikan kepala Janu yang muncul melemparkan senyum canggung. Abra yang sudah selesai mengurusi helaian rambut Anyelir siap pergi. "Sudah rapi, Bee." Abra tiba-tiba beranjak dari hadapan Anyelir. "Mau ke mana?!" "Permisi, Pak Janu." Lelaki ngondek itu membungkuk kala melewati Janu yang tediam di arah pintu masuk. "Abra! Ab!" Benar-benar si kembar itu melesat pergi menyisakkan Anyelir dan Janu yang nampak canggung. "Sa—saya boleh ... masuk?" tanya Janu hati-hati. "Kalo saya larang juga tetep bakal masuk, 'kan?!" masih ketus Anyelir pada Janu, gadis itu bersedekap sembari duduk di atas peraduannya. "Saya perlu bicara sama kamu," "Yaudah!" Anyelir membuang muka ke arah samping, malas melihat wajah tak berdosa Janu. Tiba-tiba ada sebuah wadah berbentuk tabung berbahan plastik terisi air berada tepat di depan wajah Anyelir. Gadis itu mengerutkan dahi, sebab ikan hias yang tidak Anyelir ketahui berenang bebas di dalamnya. "Buat kamu." Janu benar-benar menyodorkan tabung itu. Jelas Anyelir mengerutkan dahi tak paham dengan maksud Janu. "Apa ini?" "Ikan cupang," "Hah?! Buat apa, sih?!" "Permintaan maaf saya, sudah bikin kamu khawatir." "Saya nggak suka ikan cupang!" "Tapi saya suka." Janu menyimpan tabung berisi sepasang ikan cupang liar di atas nakas. Ikan itu hidup di rawa-rawa atau tepi sungai, warnanya hitam ada corak hijau yang nampak terang. Terlihat unik. "Bapak ngapain, sih? Ke sini?!" "Jaket saya memang terbawa arus. Saya taruh di tepi sungai tapi tiba-tiba aliran airnya deras sampai jaket saya hilang entah ke mana. Pada saat Aruna cari saya, kayaknya saya lagi merunduk buat nangkap ikan cupang itu." "Ohh," timpal Anyelir sekenanya. "Kamu marah sama saya?" "Marah? Oh ... Haha ... buat apa?!" Tiba-tiba petir menyambar menciptakan kilatan cahaya kelap-kelip juga bunyi yang memekakkan telinga. Anyelir memejamkan mata takut, sungguh halilintar itu benar-benar kencang sampai jendela di kamarnya gemetar kuat. Melihat reaksi Anyelir yang tiba-tiba ketakutan, Janu mengerutkan dahi. Ia terlampau bingung harus berbuat apa. Maklum, masih pemula. "Kamu takut?" Anyelir masih menutup telinga serta matanya. "E—enggak!" "Terus ken—" "Kyaaaaaaaaaaaaaa!" Anyelir berteriak histeris sebab lampu tiba-tiba saja padam, refleks Janu mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Menyadari hal itu, Anyelir juga membalas. Merekatkan tangannya di pinggang Janu yang tengah berdiri di samping peraduan. "Kenapa lampunya mati?" "Ja—jangan kemana-mana! Saya takut!" Anyelir masih berteriak sembari memeluk pinggang Janu. "Iya, saya nggak akan kemana-mana." Lelaki itu mengeluarkan ponsel di sakunya, lantas menyalakan flash. Disorotnya wajah yang bertambah cantik tiap harinya itu dengan perlahan, Anyelir enggan membuka mata rupanya. Ketakutan terbesar dalam hidup Anyelir adalah mati lampu dalam keadaan gelap, bukan apa-apa. Ia selalu beranggapan bahwa buta wajah perlahan akan membuatnya buta juga, sampai tak bisa melihat apa-apa. Padahal itu hanya rumor tidak jelas. Sehingga lihatlah sekarang, tak ingin sedikitpun melepas pelukannya pada Janu. Janu menggerakkan tubuhnya sedikit, Anyelir bereaksi masih menutup mata karena takut. "Mau ke mana?!" "Saya pegal." Baru tersadar bahwa ada cahaya dari ponsel Janu, Anyelir mulai melepaskan pelukannya. Menggeser tubuh agar lelaki itu duduk di samping Anyelir, menyenderkan tubuh tepat ke bagian kepala tempat tidur. "Sini." Janu yang manis tiba-tiba merentangkan tangan lagi usai duduk di samping Anyelir. "Masih takut?" Sungguh lelaki itu nampak berbeda sekarang, terlihat begitu hangat dan peka. Anyelir tak mau melewatkan momentum di mana Janu menyadari bahwa gadis di hadapannya ini memang membutuhkan dirinya. Gadis rapuh bertubuh ringkih yang selalu terlihat baik-baik saja. "Makasih, ya. Sudah mengkhawatirkan saya," bisik Janu tepat di atas kepala Anyelir. Dalam kegelapan lelaki itu secara diam-diam menciumi pucuk kepala itu sangat lembut. Ada rasa yang mulai membludak di benak Janu. Tak bisa didefinisikan oleh perkataan maupun tindakan, Janu berucap dan bertingkah sekarang hanya mengikuti naluri dan kata hati, tidak lagi logika. Mulai dari mengumpulkan sejumlah niat untuk datang menemui Anyelir sekarang hanya untuk memberikan ikan cupang. Tubuhnya yang refleks memeluk Anyelir saat gadis itu takut akan gelap, sampai secara sadar ia ingin kembali mendekap Anyelir dengan penuh perhatian. "Pak Janu jangan kayak gitu, lagi!" "Iya, saya janji ... ngomong-ngomong, boleh saya bertanya?" Anyelir masih nyaman menenggelamkan wajah di d**a bidang Janu. Aroma mint yang khas ini benar-benar memabukkan, menjadi candu untuknya sampai bertambah rindu bila tidak bertemu. Ia juga memejamkan mata sebab kantuk mulai berkuasa. "Tanya apa?" "Saya ingin mengenal kamu lebih dalam, saya ingin tahu ... kamu ini orangnya seperti apa?" "Menurut Pak Janu sendiri seperti apa?" Tangan Janu refleks menepuk-nepuk punggung Anyelir seperti tengah membuat bayi tertidur, senyumnya sama sekaki tidak pudar bahkan hanya terlihat oleh sedikit cahaya dari ponselnya. "Awalnya saya pikir kamu manja, sombong, juga cerewet." "Akhirnya?" tanya Anyelir tidak sabar. "Kamu menghargai setiap perbedaan tingkatan manusia, tidak pernah sekalipun menganggap orang lain rendah. Kamu baik, dan juga cantik." Ada keuntungan tersendiri bagi Anyelir saat lampu benar-benar padam, pipinya yang bersemu merah seperti kepiting rebus mampu disembunyikan dengan baik sebab Janu tidak melihatnya. "Hanya itu?" tanya Anyelir tidak puas. "Memangnya ada lagi? saya hanya menilai sampai situ, kalo begitu ceritakan." "Selain baik dan cantik ... saya suka koleksi kaktus." Anyelir terkekeh sendiri. "Kaktus? buat apa?" Janu terpukau dengan hobi Anyelir, baru kali pertama ia menemukan gadis mempunyai hobi memelihara kaktus yang berduri. "Suka aja, mereka tidak pernah mengeluh. Selalu bersyukur walau saya jarang siram, mampu bertahan dalam segala kondisi padahal hanya sedikit membutuhkan nutrisi," Janu ber-oh ria. Bahkan lelaki itu mengangguk-angguk baru paham, ada makna tersendiri dari balik kaktus yang berduri. Makna hidup bahwa menjadi manusia harus kuat banting terhadap tekanan dan masalah walau terselipkan kebahagiaan yang hanya seujung jari. "Terus, selain kaktus kamu suka apa lagi?" Janu masih penasaran mengenal Anyelir lebih dalam. "Saya suka, Pak Janu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN