Bab 32 - Gara-gara Tidur Bersama

2063 Kata
Menjalin cinta tak perlu terburu-buru, asal hati sudah matang untuk diisi sebuah ikatan, tinggal ucap janji yang perlu dibuktikan dengan tindakan. Tidak dengan Janu, ia belum mengucapkan kalimat sakral sebagai bentuk permohonan menjadi sepasang kekasih. Tapi perlakuannya sudah menunjukkan demikian. Malam yang panjang dalam kegelapan mengajarkan mereka untuk saling terbuka, tentunya dengan hal-hal yang berkesan dalam hidup, bukan kepedihan. Pastinya, Anyelir menutup rapat masa lalu juga kelainan yang tengah dideritanya sepanjang hidup. Sebab ia belum siap, masih menunggu waktu untuk membubuhkan kepercayaannya terhadap Janu. Pun dengan Janu, ada luka di masa lalu yang selalu ia sembunyikan dengan menampilkan sikap tempramental. Berkutat dengan sakit hati membuatnya lelah, sampai tak mau menerima orang lain selain keluarga sendiri. Janu terlalu apatis, bahkan terhadap rekan kerja. Tapi dengan Anyelir, entahlah sepertinya rasa itu mulai ada. Terbukti, semalaman mereka bersenda gurau. Mengisi kekosongan hati dengan saling berbagi, bahkan tak melepaskan pelukan sama sekali. Hingga terlelap bersama sampai sekarang, saat fajar mulai menyapa tapi tak berfungsi apa-apa. Keduanya larut dalam alam bawah sadar masing-masing, nyaman dengan posisi saling mendekap memberikan kehangatan dari hati yang menyepi. Pintu terbuka perlahan, Batari berniat masuk untuk membangunkan si putri cantik. Matanya samar-samar mengumpulkan nyawa habis terlelap, dia tidak mimpi. Tapi apa yang dilihat seperti benar-benar tidak nyata. "Itu Pak Janu sama Anyelir ngapain tidur bareng?" Ia masih heran, mungkin nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Pagi-pagi gini gue masih aja mimpi." Sahabat sekaligus manager Anyelir itu lantas mengucek-ngucek mata, pastinya untuk merubah kesadaran. Tapi yang di lihat memang benar-benar nyata. Detik berikutnya si lelaki mulai menggeliat, merasakan silau cahaya mentari yang perlahan masuk menuju kornea. Janu membuka mata, masih belum sadar bahwa ada seorang wanita yang berdiri tepat di dekat peraduan. Menatap heran juga bingung, padahal lebih tepatnya terkejut. Rangkulannya pada Anyelir di lepaskan secara perlahan, tak lupa ia menyunggingkan senyum setelah semalaman bersama berbagi kisah. Anyelir nampak kelelahan, ia masih nyaman terlelap meski pergerakan Janu terasa menggerakkan tempat tidur. Satu detik dua detik, Janu masih mengucek mata. Satu menit baru ia melotot, mendapati Batari tengah melemparkan tatapan penuh tanda tanya pada dirinya. Janu yang terkejut lantas berdiri menjauh dari tempat peraduan, tubuhnya kaku seketika. "Pak Janu ngapain tidur di kamar Anyelir?!" Suara Batari yang berteriak refleks membuat Janu mendekat. "Kalian tidur bar—mppphhh!" Gerakan cepatnya seketika membekap mulut Batari yang siap nyerocos panjang lebar bercampur teriakan. Janu takut membangunkan Anyelir, gadis itu pastinya akan ikut terkejut juga. "Pelan-pelan ... nanti Berta Bee bangun!" bisik Janu tepat di telinga Batari. "Mphhhhhh!" "Ngomong apa kamu, Tari?" Janu mengerutkan alis bingung. "Mphhhhh ... mphhhhh!" "Nggak ngerti, saya. Ngomong apa, sih?" Tidak Anyelir, tidak Janu. Keduanya memiliki tingkat kebodohan yang serupa ternyata. Batari yang kesal lantas menginjak kaki Janu sekuat tenaga, membuat lelaki itu meringis refleks membuka bekapan tangannya di mulut Batari. "b**o dipelihara! Gimana Pak Janu ngerti kalo mulut saya dibekap!" "Sstttttt!" Janu bersiap menyumpal mulut Batari dengan tangannya lagi, tapi gadis itu mundur beberapa langkah menghindar dari rencana Janu. "Bapak nggak tahu, ya? Anyelir itu kebo berwujud manusia! Mau saya teriak pake toa mesjid juga nggak akan bangun dia!" "Masa, sih?" "IYA!" bentak Batari. Gadis itu mengelap sisa pori-pori Janu di mulutnya. "Mana tangan Pak Janu bau ketek Anyelir lagi!" "Emang, iya?" Janu yang merasa heran lantas mengendus tangannya sendiri. Tangan yang digunakan semalaman untuk mendekap gadis cantik yang masih terlelap, Batari salah. Justru tangan Janu tercium wangi cherry blossom khas tubuh Anyelir. "Wangi kok!" "Dasar buta cinta!" Kini si manager cerewet itu mulai berkacak pinggang. "Kalian ngapain tidur bareng, ha?! Habis ngapain? Kenapa Pak Janu ada di sini semalaman, ha?!" Batari beraksi. Janu yang bingung harus menjawab apa, lantas menggaruk tengkuk gatal karena gugup. Lagipula kenapa harus gugup? Secara jujur tidak ada perbuatan lebih di luar batas wajar, mereka hanya bercerita tentang kisah masing-masing. Hanya ditambah bumbu-bumbu sedikit romantis dengan berpelukan. "JAWAB!" Tentu saja Janu masih diam, bingung dia harus menjawab apa. Batari seperti polisi yang berhasil meringkus perdagan seksual di hotel. Menyeramkan. "Sa—saya ... saya sama Berta Bee tidak ... tidak ada apa-apa!" "Bohong! Kenapa pelukan?!" "Se—semalam ... pas petir ... pas ... mati lam—" "Ada apa, sih? Kok rame banget?" Suara serak khas bangun tidur itu sukses membuat Janu melotot. Ia bahkan tak berani memutar tubuh untuk melihat suara siapa, karena sudah jelas itu Anyelir. "Nah ... Tuan Putri sudah bangun ... saatnya menjawab pertanyaan!" Anyelir nampak sulit membuka mata, ia bahkan masih menguap menggaruk-garuk kepalanya yang agak gatal. Dalam pandangannya masih tampak kabur, sebab nyawa gadis itu belum sepenuhnya terkumpul. "Pertanyaan apa?" Rupanya gadis itu belum menyadari. "Kok ada lo di sini, Tar?" Lagi, Anyelir menguap lantas mengucek mata hingga pandanagn di depannya benar-benar terlihat sempurna. "Kok ada Bata—" Gadis itu langsung melotot, ia terperanjat lantas berdiri dengan detak jantung yang terpompa oleh kegugupan. "ASTAGA! BA—BA ... BATARI! PAK JANU!" Dengan senyum damai sedamai lautan samudra tapi penuh penekanan, dari batin yang sedikit tertekan oleh tatapan yang sangat tajam. Batari menyeringai seperti psikopat lantas bertepuk tangan. "Selamat pagi ... pasangan tidak jelas yang tidur bersama tadi malam," ujarnya menyindir. Mampus gue! batin Anyelir. ** Batari memasangkan pin khusus dari bentuk daun kering dihias pita terlihat ciamik, menjadi pembeda antara lawan dan juga kawan. Itu dilakukan demi menghindari kesalahan Anyelir saat memukul orang. Pagi ini memang tidak ada jadwal syuting, tapi Diego dan Aruna memutuskan untuk berlatih baku hantam, sebab film hampir mendekati adegan terakhir di mana perang berkecamuk di mana-mana. Anyelir tersenyum pada Batari yang mengerti keadaan, gadis itu juga memberi penjelasan pada para aktor pembantu yang bertugas pukul memukul bahwa ciri khas ini berguna sebagai pembentukan kubu. Padahal tujuan lainnya untuk Anyelir, sahabatnya. "Makasih, ya, Tar!" Anyelir tersenyum simpul. "Hutang cerita ke gue semalem!" Mendengar ucapan Batari, Anyelir lantas melotot. Mendekati gadis itu untuk menutup rapat-rapat mulutnya tentang kejadian tadi pagi atas kepergoknya Anyelir yang tidur semalaman bersama Janu. "Sttt! Awas , ya! kalo orang lain tau!" "Iya ... aman!" Usai merapikan pakaian olahraga Anyelir untuk baku hantam pagi ini, Batari mengedarkan pandang. Ada satu orang yang menghilang di halaman depan tempat penginapan ini. Seseorang yang tak pernah absen menemani walau isinya marah-marah tidak jelas, tapi itu dulu. Sekarang juga sering, hanya tidak seintens sebelumnya. "Kenapa, Tar?" Anyelir heran melihat ekspresi Batari. "Ngomong-ngomong, Pak Janu kemana?" Si aktris cantik itu hanya mengangkat kedua bahu. "Gue bukan emaknya!" "Tapi lo 'kan pacarnya, kutu kupret!" Nampak dari raut wajahnya, Anyelir tiba-tiba muram mendengar penuturan Batari. Gadis itu menghela napas sedikit panjang. "Pacar darimana?" "SERIUS BELUM JADIAN?!" "Stttttt!" Anyelir menaruh telunjuk di mulutnya, Batari memang kalau bicara seperti di hutan. Teriak-teriak. "Tanya aja sama dia!" Ketus Anyelir, sedikit kesal memang. Lagipula sudah berbagai jenis perlakuan manis, bahkan tidak segan Anyelir menjelaskan bahwa dia suka pada Janu. Mengungkapkan perasaan yang semakin hari bertambah penuh, tapi reaksi Janu terlihat biasa saja. Bahkan usai kepergok oleh Batari, lelaki itu pergi mandi dan setelah itu batang hidungnya tidak kelihatan lagi dari jarak dekat. Latihan pun hanya ditemani oleh Aruna, meski gengsi gadis itu tetap penasaran. "Gue bakal nyari cara buat mancing dia." Batari mengangkat sebelah alisnya agar terlihat keren. "Lo tenang aja ... tapi masalahnya dia pergi ke mana?" Kebetulan orang tepat yang harus ditanyakan tiba-tiba mendekat, Aruna dengan polos mengajak Anyelir untuk bersiap bergabung. "Ayo siap-siap!" ujar Aruna. "Tunggu dulu, Aruna!" Batari mendekat pada lelaki itu. "Pak Janu ke mana?" "Pak Janu hari ini mau berangkat dengan dokter Ricky, katanya ada urusan. Saya juga nggak tahu urusan apa," "Dokter Ricky?! Kenapa? Pak Janu sakit lagi?!" Tiba-tiba Anyelir menjadi khawatir. "Nggak. Tadi saya nanya begitu dia cuman bilang ada urusan." Mata Aruna memicing. "Tuh, orangnya baru berangkat!" Sontak Batari dan Anyelir mengikuti arah pandang Aruna. Nampak dari kejauhan, Janu turun dari tangga tempat penginapan memakai pakaian rapi. Kemeja polos biru langit dengan celana bahan cream, lelaki itu juga memakai kacamata hitam. "Rapi banget ... kayak mau lamar orang!" cibir Batari tiba-tiba. Ada perasaan marah yang muncul dari benak Anyelir, ia tahu tindakan keduanya yang memutuskan tidur bersama sambil berpelukan adalah bentuk ketidaksengajaan. Kata Aruna ada pesan dari warga bahwa akan ada pemadaman listrik bila terjadi petir, karena alat di sini masih terbilang kurang canggih sehingga dengan mudah petir bisa menyambar gardu utama listrik. Akibat gelap itulah akhirnya mereka tanpa sadar terlelap bersama. Tapi Janu seolah menyesal telah melakukan tindakan itu, ia bahkan menghindar tidak mau membahas apapun soal kebersamaan itu. Berpapasan dengan Anyelir di kamar mandi saja ia memasang wajah datar, saat sarapan bersama juga tak ada interaksi seperti biasanya. Dan kini lelaki itu pergi, berjalan dengan datarnya melewati kerumunan orang yang tengah berlatih tanpa menoleh sedikitpun. "Masa, sih? Pak Janu mau lamar orang? Tapi iya juga, sih. Saya baru pertama lihat Pak Janu serapi itu!" Aruna balas mengompori Anyelir yang sudah memanas oleh amarah. "Mau rapat sama Pak RT kali!" sahut Anyelir sekenanya. "PAK JANU!" Teriak Aruna saat Janu mulai membuka Jeep yang akan ia pakai untuk pergi. "HATI-HATI!" Benar-benar Janu keterlaluan, lelaki itu memang menoleh ke arah sini. Tapi yang dilihat hanya Aruna, juga ia sebatas mengacungkan jempol tanpa berucap. Dasar nggak jelas! Batin Anyelir. "Yaudah kita mulai, yuk." Aruna memerintah terpaksa Anyelir menurut. Latihan baku hantam di pagi hari ini sekaligus bentuk olahraga. Anyelir memukul seperti orang kesurupan, bukan karena semangat. Alasannya ia ingin melampiaskan amarah karena Janu pergi pagi-pagi tanpa pamit, bertemu tanpa menyapa. Bahkan terlihat menghindar. Diego sempat terheran karena kubu musuh lebih cepat dikalahkan oleh bogeman juga tendangan Anyelir. Tapi tak apa, itu bisa memantik dirinya agar lebih semangat berlatih. Tujuannya tidak lain, mempercepat proses syuting nanti. Selang setengah jam, Aruna memerintahkan seluruh pemain untuk beristirahat. Anyelir menghampiri Batari yang terduduk di tangga peninapan. Managernya itu refleks memberikan sebotol air mineral untuk menghilangkan dahaga Anyelir. "Lir!" Baru saja Anyelir hendak duduk, Batari tiba-tiba berdiri. "Kenapa?" "Gue ke toilet dulu, ya! Bentar!" "Oh ... Iya." "Titip!" Batari memberikan tas kecil yang berisi barang berharga, ada ponsel nayelir juga Batari di dalamnya. Anyelir yang kelelahan lantas terduduk di tangga kayu, kembali meredakan dahaga dengan menenggak sebotol air mineral. Amarahnya pada Janu lumayan berhasil terlampiaskan, jangan ditiru. Sebab bermain baku hantam bukan menggunakan hati apalagi emosi, tapi fisik dan nurani. Bunyi ponsel yang terdengar mengalihkan atensi Anyelir. Lantas merogoh tas kecil untuk mencari ponsel siapa yang berbunyi. Milik Batari rupanya, ada tiga panggilan tak terjawab dan satu pesan singkat tertera langsung di layar. . Dari : Bang Bane Untuk : Batari . Jangan menunda waktu lagi. Angkat telponnya, kita harus cepat menjalankan rencana kita! . "Rencana?" Anyelir mengerutkan dahi, setahunya apapun rencana yang dijalankan perusahaan akan melibatkan dia untuk berdiskusi. Tapi sejauh ini memang tidak ada rencana apapun. "Rencana apa?" Masih hanyut dalam kebingungan, tiba-tiba ponsel Batari kembali berdering. Nama Bane tertera lagi di layar, dengan cepat Anyelir menggeser tombol hijau. "Bang Bane, ada apa?" Pertanyaan Anyelir yang to the point' dan jelas terdengar suara siapa yang berbicara, membuat sambungan telepon dari Bane tiba-tiba terputus. "Kok mati? apa sinyalnya hilang, ya?" Anyelir mengacung-acungkan ponsel Batari untuk mencari keberadaan sinyal, tapi batang digit yang tertera di ujung layar ponsel menunjukkan jumlah banyak. Artinya sinyal cukup bagus di tempat ini. "Lo ngapain, Lir?" Batari yang berjalan mendekati Anyelir habis dari toilet mengerutkan alis dengan tingkah sahabatnya itu. "Ah ini, Bang Bane tadi nelpon tapi langsung mati. Dia juga kirim pesan, emang kalian ada rencana apa?" Membeku seketika Batari, gadis itu terkejut tapi berusaha menutupi ekspresinya. Refleks ia mengambil ponsel di tangan Anyelir dengan buru-buru, ketakutan secara terang-terangan timbul di benaknya. "Re—rencana?!" "Emang perusahaan mau bikin rencana apa lagi?" Anyelir masih penasaran. Gugup Batari setengah mati, tangan yang menggenggam ponsel terlihat gemetar. Bane menelpon dan mengiriminya pesan di waktu yang tidak tepat. "A—ah? e—enggak ada!" "Terus itu, Bang Bane?" "I—itu ... itu ... gue—" "Lo kenapa gugup gitu, Tar?" Sungguh anyelir heran dengan tingkah Batari yang mengucurkan keringat hanya ditanya perkara rencana. "Ah gue ... gue ... gue rencana pergi sama, Bang Bane!" Alasan Batari seadanya. "Gue nggak diajak?" Batari menggeleng ragu. "e—enggak." "Emang kalian mau ke mana?" "Ke ...." Otak Batari mendadak sulit untuk digunakan, bingung harus menjawab Anyelir seperti apa. "Liburan!" "Oh ... couple vacation ceritanya?" "I—iya! iya ... couple vacation!" Batari tersenyum kikuk seraya menampilkan gigi-gigi putihnya. "Jahat nggak ajak gue! Yaudah, sih. Nanti gue pergi sama Pak Janu!" Anyelir malah tertawa seraya beranjak kembali lagi latihan, dari ekspresinya Anyelir percaya dnegan alasan alakadar Batari. Untung lo percaya, Lir. Sorry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN