Bab 33 - Cemburu

1557 Kata
Hari berganti hari, benar-benar tidak ada yang beres dengan lelaki yang menyandang gelar sebagai sutradara itu. Siapa yang tidak tahan dengan sikap Janu? lelaki itu tak pernah mengalun sepatah katapun dengan Anyelir, memperjelas apa yang telah mereka lakukan tempo hari. Sampai Anyelir berpikir begitu keras, apa yang dia perbuat hingga Janu begitu menghindarinya. Apakah ia melakukan sesuatu saat tidur bersama? Apakah tidur dengan Anyelir adalah suatu kesalahan fatal. Siapapun yang menyaksikan raut wajah Anyelir sekarang, seperti gadis patah hati. Benar-benar muram. Selain itu, jadwal syuting yang benar padat membuat ia tak ada waktu untuk sekedar meluruskan kesalahpahaman. Dan yang membuat Anyelir heran, Janu selalu pergi usai syuting berdalih menemui dokter Ricky. Atau terkadang lelaki itu absen bila pengambilan shoot hanya sebatas stock saja. Siapa yang tidak berhipotesa bahwa Janu memiliki pujaan hati yang selalu ingin ia temui di desa sana. Pernah suatu hari Janu tidak pulang, ia pergi dua hari dan kembali larut malam. Di pagi harinya pun sutradara itu tidak ikut sarapan bersama. Benar-benar Anyelir di buat gila oleh tingkah manusia egois itu. Anyelir tak tahan, ia lelah bila harus digantung dengan ketidakpastian ini. Sedikitpun Janu tidak pernah mengatakan bahwa dirinya mempunyai perasaan lebih, atau membalas penuturan Anyelir. Apa selama ini yang Anyelir terka Janu memiliki perasaan lebih hanyalah ilusi semata, hanya angan-angan? "Wah ... ini nggak beres!" Anyelir menggelengkan kepalanya, wajah cantik itu bersemu merah karena merajuk. "Pokoknya bagaimanapun caranya gue harus temui Pak Janu sekarang!" Gadis yang tengah duduk di depan cermin, berbicara sendiri sembari merangkai setiap memori itu lantas bangkit. Malam ini juga ia harus menemui Janu, apapun kesibukan yang sedang dilakukan lelaki itu ia harus temui. Anyelir lantas membuka pintu, ia berjalan mengitari seisi ruangan untuk mencari keberadaan makhluk kasat mata itu. Rupanya Janu tengah berada di luar, sendirian di malam hari yang dingin. Berkutat dengan laptop juga kertas-kertas yang Anyelir tafsir script naskah. "Pak Janu," panggil Anyelir. Orang yang dipanggil menoleh, menatap datar Anyelir yang tengah berdiri di ambang pintu. Alisnya terangkat sebelah sebagai bentuk pertanyaan, Janu masih bungkam. "Ada yang mau saya bicarakan," tak sabar Anyelir ingin segera melemparkan berbagai keresahan di dalam benaknya. "Silahkan." Janu tak lagi menoleh pada Anyelir, malah fokus pada layar laptop di hadapannya. Merasa bahwa Anyelir sedikit tak dianggap, gadis itu melangkahkan kaki. Duduk di atas kursi kayu berhadapan dengan Janu. "Pak Janu, kalo orang bicara lihat matanya!" nada Anyelir sedikit tinggi. "Mendengar itu pakai telinga, bukan mata." Sungguh perkataan yang datar itu mengingatkan Anyelir pada hari pertama bertemu Janu, ia kembali menjadi sosok yang dingin bermulut pedas. "Bapak kenapa, sih?! Salah saya apa?!" Janu menghentikan aktivitas mengetiknya, iris hazel itu menatap lekat milik Anyelir. Ada kerinduan yang sejak lama ia tahan selama ini, demi sebuah kesuksesan atas rencana matang yang tengah dibangunnya. "Oh ... tadi kamu tumpahin kopi ke script Diego," sahut Janu seadanya. "Bukan itu!" "Ya, terus apa?" Memang benar tadi Anyelir menumpahkan kopi saat break syuting tepat di atas script Diego, tapi itu tidak sengaja lagipula ia sudah minta maaf pada Diego. Bukan pada Janu, memang apa hubungannya? "Sikap, Pak Janu!" "Nggak ada." Lelaki itu masih santai memainkan laptopnya. Kesal ucapan Anyelir tidak ditanggapi dengan baik, gadis itu lantas bangkit dan menutup laptop Janu dengan sengaja. Menyimpannya di sisi meja cukup kasar. Lalu melotot. Janu yang menyaksikan itu hanya menghela napas. "Kamu ngapain, sih?!" "Bapak yang ngapain! Bapak ini kenapa, sih?! Menghindar dari saya! Nggak mau ngomong sama saya! Terus pergi mulu kerjaannya, pake baju rapi. Terus nggak bilang-bilang!" "Itu hak saya," "Bukan begitu konsepnya! Masalahnya, Pak Janu menghindar dari saya, emangnya salah saya apa?!" Ini yang Janu takutkan, Anyelir akan meledak pada waktunya. Ia juga menyadari keadaan gadis itu, sudah terbayang bila Janu berada di posisi Anyelir, pastinya tak akan sanggup menahan rindu. Janu yang menghindar tapi Janu juga yang tiap malam kalang kabut, memikirkan Anyelir tiap detik tapi terpaksa harus menjalankan saran dokter Ricky. "Nggak ada. Kamu nggak salah," "Sebenernya Pak Janu itu gimana, sih? Jangan bikin saya terlalu berharap lebih! Lama-lama saya juga capek!" Melotot Janu. Takut yang diucapkan Anyelir benar-benar terjadi. "Saya nggak bermaksud," "Tapi Pak Jan—" Tiba-tiba dering ponsel yang agak gemetar di saku Janu terdengar, atensi Anyelir teralihkan juga Janu menghela napas lega sekarang. "Saya angkat telpon." "Tapi saya belum selesai bicara!" "Kita bicarakan nanti!" Janu berujar seraya, melangkah meninggalkan Anyelir dengan datar. "Maunya apa, sih?! Heran!" gerutu Anyelir. ** Gelak tawa yang terdengar menggema di seisi hutan membuat seseorang mengepalkan tangan, wajahnya merah padam. Bila dibiarkan lebih lama, handy talky yang digenggam bisa hancur karena cengkraman kuat. Menyalurkan seluruh emosi dan rasa benci di d**a pada benda penghantar suara itu. Bisa dikatakan hari ini adalah detik-detik menjelang adegan ending dari kisah Shawnette—si gadis pemberani yang berpetualang melintas waktu. Bertemu dengan Dierja—si pencuri kelas kakap yang kini berhasil menarik hati gadis dari era 20 itu. Sad atau happy ending-nya film. Back and Kill It, tergantung dari persepsi penonton. Dikatakan sad, sebab Shawnette tidak mampu kembali ke masa depan, terkurung secara hakiki di masa lampau hanya untuk memutus rantai keluarga agar kisah menyedihkannya tak terulang lagi. Happy, karena Shawnette akan hidup sederhana bersama Dierja—lelaki yang dicintainya. Yang membuat hari ini terasa lebih cerah dari sebelumnya adalah, adegan ciuman sebagai babak pamungkas dari Back And Kill It' mulai dilakukan perekaman. Diego selaku membuat Anyelir tertawa, baik karena tingkah konyolnya atau humor recehnya. "Jadi kalo mau anak kembar harus berapa kali?" Diego yang terduduk di tepi tebing, menampilkan hamparan hutan Kalimantan yang luas juga indah. Sungai Kapuas yang membentang nampak seperti ular piton cokelat. Anyelir yang duduk di tempat yang sama mengerutkan dahi. "Apanya?" "Anu-anu ... dua hari sekali? Dua kali sehari? Atau dua jam sekali?" "Hah? Anu-anu?!" Anyelir tergelak lagi. Mereka masih sempat bercanda ditengah-tengah kesibukan menanti persiapan syuting. Diceritakan dalam adegan bahwa Dierja membawa Shawnette ke atas bukit untuk menyatakan cinta, memaksanya untuk tinggal bersama tanpa harus kembali ke masa depan. Dan diakhiri dengan ciuman. Maka tak heran bila Diego dan Anyelir tengah terduduk manis di tepi bukit sembari menikmati pemandangan, jangan lupakan bercanda agar tak bosan. "Hahaha ... Lo nggak ngerti beneran apa pura-pura nggak ngerti?" Diego malah bertanya lagi. "Nggak, gue baru denger." Diego dan Anyelir memang sepakat untuk berbicara non-formal, Anyelir hanya menurut, lagipula dengan begitu mereka lebih terlihat akrab juga dekat. Tidak kaku seperti Janu. Anyelir sebetulnya menyadari bahwa atensi Janu sama sekali tak beralih, terlalu lekat dan tajam memerhatikan gerak-gerik Anyelir berinteraksi dengan Diego. Tapi Anyelir tak peduli, toh Janu duluan yang menjaga jarak padahal masih belum ada kepastian. Sudahlah, jika Anyelir yang terus memikirkan dan berharap ebih lagi, itu akan terasa sakit. "Nanti juga lo tau." Diego tiba-tiba berbisik, wajahnya ia dekatkan tepat di samping telinga Anyelir. Bila dari kejauhan seperti lelaki haus nafsu yang siap melakukan hubungan. "Tau apa?" Anyelir masih belum sadar. "Anu-anu," "Kenapa nanti? Kenapa nggak sekarang?" Diego mendecak dengan kepolosan Anyelir. "Soalnya masih siang," "Emang apa hubungannya?!" "Perempuan dan lak—" "SEMUANYA BERSIAP!" Janu berteriak hampir membuat Anyelir terperanjat, terpksa Diego pun menghentikan ucapannya. Aktris dan aktor itu enggan untuk beranjak, mereka hanya menoleh mendengar perintah dari Janu. "Kita mulai!" Janu kembali berteriak mengingatkan. "Adegan kali ini—" Janu terdiam, mencengkram script yang ia genggam dengan kuat, melampiaskan amarah. Tak ingin rasanya ia menjelaskan adegan mana yang akan dilakukan sekarang. "... Aruna!" Aruna yang tengah berbincang dengan camera person menoleh, lantas menghampiri Janu. "Ada apa, Pak?" "Kamu yang lanjutkan, saya pantau!" Jelas dari raut wajahnya Janu enggan memimpin syuting yang bertujuan mengambil rekaman kiss. "Oke, adegan kali ini. Diego mengajak Shawnette menikah, lalu berciuman ... Sebelum itu, kita cari angle yang pas untuk posisi adegan ciumannya!" "Kita berlatih dulu maksudnya?" Diego bertanya. "Ya ... lihat kamera yang ini." Aruna menunjuk seorang lelaki yang memegangi gimbal. "Buat se-natural mungkin." Diego tiba-tiba menarik atensi Anyelir. Ditatapnya lekat iris cokelat yang nampak bening mengkilap, tersihirkan oleh sinar mentari menjadi nampak cantik. Sekejap, Diego terpesona. Wajahnya ia dekatkan perlahan untuk bersiap mencium Anyelir. "Dari depan gini?" Ia memberikan contoh angle adegan yang pas. "Atau—" lelaki itu menarik tengkuk Anyelir, memiringkan kepala gadis itu. "Atau dari samping sini?" "Coba lihat di kamera bagus yang mana?" "Ambil dua angle aja. Depan dan juga belakang," saran Aruna. "NGGAK USAH!" tiba-tiba Janu membentak membuat semua orang terkejut. "Dari satu angle saja, depan! Biar nggak usah ciuman beneran!" Anyelir mengerutkan dahi. "Loh, kenapa?" "Na—namanya juga akting, tidak usah beneran, 'kan?" Janu nampak gugup, tapi ia tak tahan juga tak rela bila lelaki lain harus berciuman dengan Anyelir dihadapannya, walaupun hanya sebatas akting. "Tapi biasanya saya beneran," ujar Anyelir. Siapa yang tidak bertambah mengepalkan tangan bila Anyelir sebetul itu soal perasaannya. Lagipula kenapa harus jujur? Memang faktanya hampir di setiap film yang Anyelir bintangi pasti ada adegan tersebut, demi menambah bumbu-bumbu ketegangan. "Sekarang jangan!" "Kenapa, jangan?" "Pokoknya jangan aja! saya nggak mau mengadakan adegan ciuman sembarangan?" Diego ikut mengerutkan dahi dengan maksud perkataan Janu. "Sembarangan? apanya yang sembarangan?" "Ka—kalian 'kan ... kalian 'kan tidak berpacaran. Jadi jangan asal berciuman!" Janu mempertegas lagi. "Lo kenapa, sih? cemburu?" Deg Pertanyaan Diego seolah tepat sasaran menghujam bagian hati Janu yang terluka oleh keadaan, ia juga bingung harus bertindak apa sekarang. Melarang mereka untuk tidak berciuman berdalih jangan sembarangan, tentu saja terdengar klise. Dengan tangan yang terkepal kuat, keringat yang mengucur menimbulkan otot-otot yang mencuat. Janu melemparkan tatapan tajam ke arah Diego. "Iya, saya cemburu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN