Bab 34 - Berakhir Sebelum Bermula

2103 Kata
Setelah melakukan percobaan take shoot berulang-ulang tanpa adegan kiss yang sesungguhnya, Anyelir lelah. Maka dari itu, keputusan untuk beristirahat adalah hal yang tepat. Anyelir dan Diego yang terduduk di tepi bukit dengan peluh bercucuran oleh rasa lelah mulai menghela napas panjang, hanya satu perkara yang sejak tadi mengganggu. Janu—lelaki itu berkomentar banyak hal tentang adegan mereka, entah itu terlalu monoton, berlebihan, tidak sesuai genre dan kritikan pedas lainya. Sekaleng kopi instan tersodorkan di wajah Anyelir, ada kain sekali pakai yang dipergunakan juga untuk mengelap keringat. “Kopi banyak gula?” Tanya Anyelir. Gadis itu mendudukkan bokongnya tepat di atas kursi lipat berwarna army di samping Diego, lelaki itu tersenyum singkat. “Kenapa? lo lagi diet?” Diego membuka penutup kopi latte instan, yang mudah dijumpai di minimarket. “Enggak. Aneh aja liat kopi kaleng, soalnya di sini nggak ada minimarket.” Anyelir perlahan menyeruput kopi pemberian Diego demi menghilangkan silang-sengkarut yang bertambah kusut di otaknya, kafein memang obat terbaik demi mengatasi kekacauan. “Tadi asisten gue pergi ke kota, gue suruh beli ini sekalian.” Diego memijat pangkal hidungnya, padahal syuting hari ini bukanlah adegan yang rumit. Tidak memerlukan tenaga ekstra juga latihan yang cukup seperti bela diri, hanya menyatakan cinta dan berciuman. Tapi Janu membuat semuanya terasa melelahkan. “Kayaknya asisten lo baik,” Diego menoleh. “Emang asisten lo ke mana?” “Gue nggak punya asisten.” Anyelir mengangkat bahu malas. “Itu Batari?” “Dia manager gue,” Alis Diego bertaut heran, antara Batari yang terlalu baik atau manager Diego yang pemalas. Sebab semua jadwal syuting dan pekerjaan selalu diserahkan langsung pada asistennya Diego, ikut menemani syuting saja dapat terhitung jari. “Kenapa lo nggak punya asisten? Aneh banget artis nggak punya asisten!” Diego malah terkekeh sendiri. “Mana ada asisten yang mau sama manusia pemilih kayak dia.” Batari yang muncul dari arah samping tiba-tiba menyeruput minuman Anyelir tanpa permisi, dengan santainya ia menenggak hampir tandas. “Berisik, lo!” Anyelir protes. “Lah, emang bener kenyataannya kayak gitu! Udah berapa puluh orang yang gue kasih ke lo buat jadi training? Tapi hasilnya apa?” Batari menghela napas terlebih dahulu, memberikan kopi kalengan kepada pemiliknya. “Tar … gue nggak mau yang ini, dia rambutnya rontok. Tar, jangan yang ini selera bajunya norak. Tar, cariin yang lain yang ini kalo tidur ngrorok … Tar … Tar … Tar … lama-lama gue capek. Lagian, ya! Di dunia ini itu nggak ada manusia yang sempurna, yang ada tuh manusia rewel kayak lo!” Akhirnya setelah sekian purnama Batari mengeluarkan uneg-uneg yang tiap hari bertambah menggunung di hatinya. Anyelir orangnya memang pemilih dan hati-hati, tapi coba bayangkan perkara rambut rontok, selera fashion, atau bahkan mendengkur. Betapa klisenya orang dipecat hanya karena hal tersebut? Benar-benar ajaib. Anyelir yang merasa tersalahkan di perbincangan ini lantas mendecak kesal. Ia bersedekap dengan wajah ditekuk, bisa-bisanya Batari membongkar aib dapur pada Diego yang notabene baru mereka kenal beberapa bulan yang lalu. “Terus akhirnya, lo jadi manager sekaligus asisten Berta Bee?” Diego Nampak antusias dengan cerita Batari, padahal pada kenyataannya terlalu hiperbolis. Batari mengangguk. “Gue mau minta saran, dong. Sama senior!” “Senior? siapa? gue bukan senior!” Diego membantah. Karena menurutnya, semua aktor di mata sutradara sama saja. Yang membedakan itu dari kelebihan atas genre tertenu, seperti action yang menjadi hal paling dikuasai Deigo. “Gue mau minta saran cari asisten buat manusia ini yang baik tuh kayak gimana?” “Asisten? gu—“ Padahal Diego ingin memberikan informasi tertentu perkara ia memilih asisten. Bukan apa-apa, ia juga selalu gonta-ganti asisten berdalih kenyamanan. Sudah banyak jenis orang yang Diego kenal, bukan berarti Diego ahli. Tapi ia mendapatkan semua itu dari pengalaman pribadi. Ia tahu betul apa yang dirasakan Anyelir. Tapi waktu tidak tepat, ponsel Batari berdering nyaring. “Bentar, ya, gue angkat telpon!” Batari beranjak dengan ponsel di telinganya. “A—apa? Sorry, nggak jelas … sinyal di sini jelek!” Batari semakin menjauh, mengacung-acungkan ponselnya karena susah jaringan. “Kalo lo senior, berarti umur lo berapa?” Anyelir kembali memulai pembicaraan. “Gue bukan senior, Berta Bee!” Tukas Diego mempertegas. “Gue dua enam, kenapa?” “Meskipun lo nggak mau disebut senior, tapi lo emang lebih tua dari gue. Boleh gue panggil lo, Kakak?” Diego melotot, hal geli yang selama ini ia hindarkan. Sebutan yang menurutnya dan juga teman-teman motor bin hedonis dari Ibu kota adalah kata yang paling alay. “Hah? Kakak?!” “Iya, emang kenapa?” “Nggak apa-apa, sih. Cuman alangkah lebih ba—“ Atensi Diego tiba-tiba terfokus pada sosok lelaki bertubuh atletis yang tiba-tiba melintas di hadapan mereka. Tidak sedikitpun menoleh, tapi Diego tahu lelaki itu mendengarnya, maka dengan sengaja Diego menerima tawaran Anyelir. “Iya! Lo boleh panggil gue Kakak!” Lelaki yang tak lain adalah Janu itu tiba-tiba mengepalkan tangan, lantas berbalik menajamkan pandang pada kedua insan yang tengah istirahat sembari bersenda gurau. “KITA MULAI LAGI!” “Ayo, Dek!” Diego Nampak sumringah, menyebut Anyelir dengan sebutan ‘Adek’, seperti pada adik kesayangan.Tentu saja wajah Janu bertambah merah. Dengan tangan yang masih terkepal, Janu menuju Aruna—si lelaki yang sejak tadi memperhatikan interaksi Diego dan Anyelir. Tak lupa, ia juga melihat reaksi Janu yang terlalu mencolok larut dalam kecemburuan. Lelaki itu masih berdiri di tepi bukit, agak jauh dari kursi para artis untuk beristirahat. Sebenarnya Aruna juga tidak tahu Anyelir membicaran apa dengan Diego, kendati nampak dari mimik wajahnya artis cantik itu terlihat bahagia. Sayang, bos besar yang memberikan nafkah kepadanya benar-benar muram. Wajahnya kusut penuh amarah. Aruna menghela napas saat Janu sudah berada di sampingnya. “Cih! Adek? Haha murahan!” cibir Janu tiba-tiba. “Yang ada di dalam hati, belum tentu berarti, Pak,” Aruna menyahuti cibiran Janu. Janu menoleh pada Aruna yang tiba-tiba berkomenar sedikit bijak, lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?!” “Karena yang setia, akan kalah dengan yang lebih menggoda. Yang membuktikan cinta saja, akan kalah dengan yang selalu ada.” “Maksudnya, gimana?” “Saya tahu Berta Bee suka sama, pak Janu. Tapi bapak kelewat b**o! Percuma banyak membuktikan kasih sayang dan cinta bapak melalui tindakan tapi nggak pernah sepenuh hati. Ya, jelas cewek bakalan milih yang pasti dan juga selalu ada, kayak Diego!" “Kamu ngomong apa, sih? Saya nggak ngerti!” “Makanya banyak-banyak nonton film romantis. Biar kalo ada quotes bijak tuh langsung ngerti maksudnya!” “Saya nggak ada waktu buat nonton film murahan, apalagi cium-ciuman nggak jelas. Emangnya mereka nggak punya pasangan masing-masing apa? nggak ngerti perasaan pasangannya apa gimana, sih? cinta kok dipermainkan!” “YA TUHAN, PAK JANU! Tahu apa tentang cinta? pacaran aja nggak pernah, 'kan?!" Aruna dibuat takjub dengan mulut pedas Janu yang tidak punya rem itu, ia mengkritik terlampau pedas. Perkara adegan ciuman yang sebetulnya bukan hal yang tabu di kalangan dunia per-artisan, masih saja diperdebatkan. Padahal itu semua hanyalah rekayasa fiktif belaka. Anyelir tiba-tiba menghampiri Aruna yang tengah mempersiapkan syuting kembali, asisten sutradara itu agak kelimpungan nampaknya. Sebab Janu hanya berkacak pinggang, enggan membantu tapi banyak protes. Benar-benar sifatnya seperti cewek ngambek saat kedapatan hari pertama datang bulan. “Aruna!” Anyelir memberikan script miliknya yang sudah dipenuhi sticky note juga coretan-coretan kasar, ada satu adegan yang ia beri lingkaran merah. “Saya sama Kak Diego bakal ciuman beneran,” ucapnya enteng. Janu yang berada di belakang Aruna melotot lagi, mengambil air minum di salah satu meja monitor. Lantas menenggaknya seperti benar-benar kehausan. Sementara Aruna mengambil script Anyelir, membaca maksud dari kata-kata yang dibubuhkan lingakaran merah lantas mengangguk. “Oke. Ayo lakukan!” Aruna setuju. Anyelir sempat berniat senang, tapi Janu muncul dengan air mineral yang masih baru di tangannya. “Sutradanya di sini siapa? Kamu, Aruna?!” “Pak Janu lah, Pak!” cengir Aruna, nyalinya mulai menciut. “Terus kenapa seenaknya menyetujui? sudah saya katakana dari awal nggak ada ciuman beneran, murahan!” “Hah? murahan? murahan dari mananya, sih?” Sungguh perkataan Janu terlalu kasar menurut Anyelir. Dari awal lelaki itu berpedoman pada naturalitas, sampai-sampai Anyelir jatuh saja benar dimasukkan dalam scene. Diobati juga di dalam scene, demi mendapatkan ekspresi yang alami katanya. Tapi sekarang? Anyelir ingin bertindak senatural mungkin juga untuk meningkatkan kualitas, bukan ingin berciuman sungguhan. Janu keterlaluan. “POKOKNYA SAYA NGGAK SETUJU! Sekali saya nggak setuju yang nggak setuju!” “Kalo seluruh crew sepakat untuk melakukan adegan itu, Bapak masih menolak juga?” Anyelir mulai mendesak Janu. Pasalnya ini memang bukan perkara yang tabu baginya, entah berapa kali lelaki yang sudah melakukan hal manis bersamanya dalam film, lalu setelah itu dilupakan. “Bisa nggak kamu … nggak usah menuruti sutradara lain kalo disuruh adegan kiss. Kita 'kan nggak tahu laki-laki itu sehat atau tidak, kamu pikir hal kayak gitu keren?” “Bapak kenapa jadi ngatur-ngatur saya?! emangnya bapak siapa?” Tertohok sudah benak Janu. Sudah tak ada kata lagi yang mampu ia bantah demi memaksa Anyelir untuk tidak melakukan hal tersebut. Coba bayangkan betapa sesaknya d**a Janu? Hatinya sudah penuh tenggelam ke dalam pesona penuh cintanya Anyelir. Tapi ia harus menyaksikan dengan sukarela Anyelir mencium lelaki lain, meskipun itu hanyalah settingan. Janu membeku. “Kenapa diem aja? nggak bisa jawab, ‘kan?” Gadis itu semakin mendesak Janu. Di lain sisi juga Anyelir melampiaskan kekesalannya selama ini. Ada maksud lain selain menciptakan adegan yang natural, membuat Janu sadar bahwa perasaan yang mereka miliki harus dibuktikan oleh fakta. Jika Janu benar-benar cemburu, Anyelir berharap dengan gamblang Janu menyatakan perasaannya. Oleh karena itu, Anyelir tidak akan bersikukuh untuk melanjutkan adegan itu. Tapi jika yang terjadi sebaliknya. Anyelir menyerah, ia akan berhenti mengharapkan Janu untuk berada di sampingnya. Tolong jawab sesuai yang saya harapkan, kumohon. batin Anyelir. Mulut Janu benar-benar kelu saat ini, ia malah mematung. Menatap lekat ke arah Anyelir dengan penuh harap. Berharap bahwa Anyelir menyudahi perdebatan ini tanpa menyakiti satu sama lain, kali pertama di hidup Janu. Mengakui kalah berdebat dengan Anyelir. "Terserah kamu. Kalau ingin melakukan adegan itu ... silahkan." Janu dengan wajah datar, beranjak dari hadapan Anyelir. Benarkah semua ini harus berakhir? bahkan sebelum saya memulai? batin Anyelir berteriak dalam sepi. ** "Kakak?! ck!" Janu tertawa hambar sembari mondar-mandir di dalam ruangannya sendiri, benar-benar seperti manusia gila kerasukan api cemburu. "Kakak dari mananya? Diego nggak cocok dipanggil, Kakak! emang dia sebaik apa?!" Dasar Janu. Terlihat datar seolah tak acuh saat mengizinkan Anyelir melakukan adegan sesuai dengan apa yang diinginkan, tapi justru kini terlihat sebaliknya. Janu pergi saat adegan itu berlangsung, bukan tak peduli. Tapi ia tak sanggup menahan api cemburu yang mengirimkan sinyal-sinyal menuju otot untuk menghajar Diego. Janu masih waras. "Ck! Kakak sialan!" gerutu Janu. "Pak ...." tiba-tiba pintu yang tidak dikunci itu memunculkan sosok Aruna berwajah sumringah. "Makan malam sudah siap," ujarnya antusias. Meski masih dilema alias bergelut antara cemburu dan kesal, perut Janu tetap terasa lapar. Ia bersiap merapikan rambut juga penampilan, merubah ekspresi menjadi sangat datar lantas keluar. Matanya melotot lagi, sebab Diego ikut makan malam bersama di rumah penginapan. Padahal lelaki itu sebetulnya tinggal di rumah yang berbeda, tapi lihatlah? malah tertawa riang dengan Anyelir. Gadis itu sempat melihat Janu sekilas, melemparkan pedang-pedang tajam dari balik manik cokelatnya, semacam antisipasi berperang. Janu menelan ludah, lantas terduduk lesehan berhadapan langsung dengan pasangan fiktif di film Back and Kill It'. Makan malam mereka terbilang sederhana, tapi terbilang agak mewah. Ada sajian smoke beef juga ayam bakar, cah kangkung, tempe balado, sayur bayam. Semua hidangan kembali normal sebab musim kian berganti, tidak lagi hujan terus-menerus sampai berakhir longsor. Janu berniat mengambil sayap ayam bakar, tapi keduluan dengan Anyelir. Niat hati ingin mengikhlaskan, tapi menjadi kesal sebab daging itu malah diberikan kepada Diego. "Kak Diego suka sayap ayam, 'kan?" "Ingatan lo bagus juga, ya? thanks!" Si sutradara yang mendengar juga melihat interaksi di hadapannya itu mendengus kesal, tak tahan ia berkomentar seraya mengarahkan hari telunjuk pada sayap ayam. "Itu punya saya!" protes Janu. Anyelir mendongak. "Punya Kak Diego!" "Sayap ayam itu kesukaan saya! tadi saya udah mau ngambil, kamu tiba-tiba nyerobot!" "Sayap ayam juga kesukaan Kak Diego. Pak Janu aja yang lelet, jadi ini udah milik Kak Diego!" "KAK DIEGO! KAK DIEGO! KAK DIEGO!" Keluar sudah amarah Janu sekarang. "Bisa nggak? NGGAK USAH SEBUT PANGGILAN ITU DI HADAPAN SAYA!" bentak Janu dengan napas teesenggal karena emosi. Mulut Anyelir setengah terbuka. "Ke—kenapa?" "Mikir aja sendiri!" Hilang sudah selera makan Janu sekarang. Entahlah kenapa emosinya bisa meledak hanya karena sebutan 'Kakak'. Janu beranjak dengan penuh amarah, sementara Anyelir terdiam menahan sesak di d**a. Hampir pertahanannya hancur ketika Janu kembali pada titik di mana ucapannya tidak bisa terdeteksi, tiba-tiba marah. Dengan suara lantang yang membuat Anyelir takut. Pak Janu kenapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN