Terkadang, menyamakan satu visi dalam banyak kepala bukanlah perkara yang mudah. Butuh pemahaman dan pengertian yang menyeluruh agar tidak terjadi kesalahpahaman, sebab sebuah organisasi hanya berpusat pada satu komando. Berjalan, berlari, bersama, digiring oleh orang serupa dengan semangat yang berbeda.
Tapi, bukan berarti segala sesuatu diserahkan langsung pada satu orang. Ada masanya di mana demokrasi dibutuhkan, di mana keputusan dikembalikan pada forum. Hanya saja, itu tidak dibutuhkan sekarang. Sebab, bukan hanya Anyelir yang tidak tahu apa yang sudah diputuskan oleh Janu beberapa hari ini. Aruna—asisten sutradaranya juga tidak tahu.
Janu mengumpulkan perwakilan setiap orang dari jejeran rumah penginapan untuk rapat dengannya, pun dengan Aruna dan Diego. Ada hal penting yang akan Janu sampaikan mengenai keberlangsungan syuting Back And Kill It'. Aruna sebenarnya bingung, sebab siang tadi hampir seluruh rangkaian adegan sudah rampung, tapi respons Janu seolah tak acuh. Tidak ada tanda-tanda dari Janu untuk pembahasan mengenai kepulangan tim produksi menuju Jakarta.
"Semuanya sudah berkumpul?" Janu mulai membuka forum diskusi melingkar yang ia khusus adakan untuk rapat.
"Sudah," ucap mereka kompak. Biar cepat pikirnya.
"Oke. Ada beberapa pengumuman yang harus saya sampaikan." Lelaki itu menenggak botol minum mineral mini berwarna jingga cukup banyak, demi menghilangkan dahaga. "Tapi sebelum itu ada yang ingin bertanya?"
Crew yang hadir dalam rapat dadakan ini hanya menggeleng kompak, lantas Janu mengangguk paham tanpa perlu menginterogasinya lagi biar mereka ikut berpikir nanti.
"Oke ... kalo tidak ada ... pengumuman yang pertama, syuting kita belum berakhir,"
Ucapan Janu sukses menimbulkan riuh bisikan yang rata-rata membicarakan soal kelanjutan syuting. Sebab setahu mereka, seluruh adegan sudah dilaksanakan. Bahkan di hutan tadi merupakan tiga adegan terakhir yang Janu coret perkara perang dan pelarian dari musuh Dierja. Tapi Sekarang? Syuting lagi katanya? Oh, Anyelir merasa seluruh tubuhnya remuk.
Ada yang mengacungkan tangan, sepertinya dari departemen of photography. Janu mengangguk sebagai bentuk persetujuan. "Bukannya tadi, Bapak bilang kalau hari ini adalah scene terakhir. Bahkan itu tertulis di clapper board?"
"Secara transparan, ini kita buka-bukaan aja ... untuk seluruh rangkaian sesuai script itu memang sudah selesai. Tapi yang namanya sebuah film, pasti ada proses pematangan konsep. Dari apa yang ada di dalam otak saya itu belum semuanya rampung, jadi kalian dengan mohon saya minta kesediaannya untuk kelanjutan dari syuting kita," ucap Janu.
Hampir seluruh orang mengangguk, sebab alasan yang dibawakan Janu juga sering terjadi di beberapa syuting-syuting lainnya. Melihat persetujuan itu, Janu melanjutkan pembahasan.
"Pengumuman yang kedua, bahwa kita akan pergi ke suatu tempat dalam tiga hari untuk menyelesaikan syuting,"
"Jadi kita akan pindah lokasi?" Tanya Batari.
"Iya, maka dari itu saya mengumpulkan kalian tujuannya agar kalian mempersiapkan segala hal baik itu pakaian dan segala kebutuhan kalian lainnya. Masih ada pertanyaan?"
Diam semua. Bukan tak paham, hanya terlalu terkejut Janu tiba-tiba mengutarakan apa yang ada di otaknya saat ini, ingin menolak tapi Bukan perkara yang mudah harus meninggalkan pekerjaan.
"Ayo, mumpung saya membuka forum diskusi. Tanyakanlah apa yang menjadi pemikiran kalian sekarang. Intinya, kalian siap-siap, besok siang kita akan dijemput naik minibus."
Tak ada pilihan lain, ingin membantah tak punya rasionalisasi yang pas bila berhubungan langsung dengan kelanjutan syuting. Terpaksa mereka sepakat demi kebaikan bersama, termasuk Anyelir yang sejak tadi melamun entah memikirkan apa.
**
Disela-sela break, usai pertemuan tadi Anyelir langsung terjun mempersiapkan segala kebutuhan dengan hamparan baju-baju yang berantakan di atas tempat peraduan. Ia bingung harus membawa baju apa, Janu bilang paling tiga sampai empat hari. Tidak lama, tapi cukup membuang waktunya untuk segera pulang menuju Jakarta.
Jujur, Anyelir pribadi sudah merasa sesak berada di sini bersama Janu. Terhitung sudah tiga hari sejak kejadian adegan ciuman itu, Janu dan Anyelir benar-benar memutus komunikasi. Saling bertegur sapa saat keduanya berpapasan saja tidak, apalagi berbincang.
Bukan berarti Anyelir terburu-buru, tapi jika ia terus dihadapkan dengan hal yang tidak pasti untuk apa ia pertahankan? Lagipula apa yang dipertahankan jika kenyataannya perasaan yang terlihat seolah bertepuk sebelah tangan.
Janu yang menyetujui adegan kiss saja menurut Anyelir adalah hal yang aneh. Mana ada pasangan yang memiliki perasaan serupa mengizinkan ciuman panas dengan lelaki lain hanya karena sebuah adegan. Meski Janu paham perasaan Anyelir ditujukkan kepadanya juga, tetap kecemburuan itu pasti ada.
Sejujurnya Anyelir hanya memancing Janu, tidak bermaksud memaksa untuk menerapkan ciuman sungguhan dalam adegan itu. Berdalih bahwa Janu akan menolak keras karena cemburu, dan menyatakan apa yang selama ini lelaki itu rasakan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, siapa yang tidak kecewa?
Anyelir menghela napas sembari melipat jaket hangat yang siap ia bawa untuk ke tempat syuting lain, di Berau udara cukup sejuk. Bagi tubuh Anyelir yang mudah kedinginan, wajar membutuhkan banyak pakaian hangat. Tapi hal itu justru menjadi sesuatu yang aneh, sebab Janu yang baru saja melintas di depan kamar Anyelir tahu mereka akan pergi ke mana.
"Kamu kenapa bawa banyak pakaian hangat?" Tanya Janu di ambang pintu.
Tahu, siapa yang bicara, Anyelir hanya melanjutkan aktivitasnya tanpa menoleh pada Janu. "Hak saya."
"Di sana tidak terlalu dingin, jadi bawa saja pakaian tipis," saran Janu.
Entah niat dari mana lelaki itu tiba-tiba masuk ke dalam kamar Anyelir, mengeluarkan beberapa hoodie yang menjadi d******i pilihan Anyelir untuk memakainya selama di sana.
"Bapak ngapain, sih?!" Anyelir risih dengan tingkah Janu kali ini. Selama lebih dari tiga hari mereka perang dingin, tapi sekarang? Janu kembali lagi memberikan perhatiannya.
Janu yang tengah mengeluarkan hoodie-hoodie Anyelir hanya memasang tampang datar. "Kamu akan kegerahan kalau pakai ini di sana."
"Emangnya kita mau kemana, sih?!"
"Tempat istimewa."
Anyelir justru melakukan hal yang berbanding terbalik dengan Janu, memasuk-masukkan kembali hoodie miliknya ke dalam koper kecil yang ia sediakan. Tentu saja Janu mengerutkan dahi.
"Nggak usah sok peduli." Anyelir berujar dengan nada dingin, menyingkirkan lengan Janu yang tengah mengoreksi pakaiannya sendiri. "Ini urusan saya!"
"Saya hanya memberitahu kamu,"
Menoleh sudah tubuh Anyelir. Geram ia, sikap Janu yang plin-plan seperti ini membuatnya gemas luar biasa. Janu terlihat tidak acuh, tapi terkadang juga ia memikirkan seseorang sampai ke detailnya. Bagaimana Anyelir tidak silang-sengkarut dengan tingkah manusia satu ini?
"Mau bapak itu, sebenarnya apa, sih? Kenapa menunda kepulangan kita?! Pakai acara pindah lokasi lagi! Bukannya Bapak bilang kalau biaya produksi kita membengkak?!"
Janu mengerti, ia hanya mengangkat alisnya sebelah. Lelaki itu sebenarnya merasa bersalah, sudah menjauh dari Anyelir tanpa kejelasan yang membuat Anyelir pastinya kesal. Tapi tetap saja, diam-diam Janu memperhatian setiap hal yang dilakukan Anyelir. Tak sanggup ia bila benar-benar harus menjauh.
"Saya butuh stock shoot yang banyak, jadi kita harus pindah tempat," jawab Janu menormalkan keadaan.
"Kenapa harus sama saya? Kenapa nggak pergi aja sendiri!"
"Karena kamu pasti bakal suka tempat itu,"
Kening Anyelir berkerut. "Tempat apa?"
"Tempat yang terkenal bisa menyimpan sejuta kenangan di sana. Agar Shawnette di matamu bukan hanya sekedar tokoh fiksi dalam sebuah film, tapi separuh jiwamu,"
"Jangan goyahkan keputusan saya!" Tiba-tiba Anyelir membentak Janu, padahal lelaki itu memang benar menjelaskan hal yang menjadi tujuannya.
"Maksudnya?"
Anyelir mengambil hoodie yang tengah dilipat Janu dengan kasar, mendorong Janu keluar dari kamarnya meski nampak Janu kebingungan juga heran.
"Jangan ganggu saya!"
Bam!
Anyelir menutup pintunya kasar. Janu yang termenung semakin bertambah bingung, Anyelir yang terdiam semakin bertambah malang. Sungguh jika ada penghargaan untuk sikap plin-plan sebagai seorang lelaki, Janu juaranya. Sebab Anyelir juga heran, kadang-kadang Janu marah, kadang-kadang baik, kadang-kadang menghindar, kepalanya terasa pening sekarang.
Harus berapa kali lagi Anyelir menegaskan pada Janu, bahwa ia ingin segera mengakhiri semuanya walaupun tidak ada permulaan. kini ia terlihat menyedihkan rasanya.
"Bapak tahu nggak? Sekuat tenaga saya menahan diri agar terlihat menjauh? sakit."