Pagi-pagi sekali 24 seater VIP bus tiba di pekarangan penginapan, corak golden brown yang mengkilap dilengkapi privaci glass menimbulkan pantulan dari mentari yang mulai menampakkan diri. Janu sudah siap dengan setelan casual celana pendek putih, kemeja biru langit yang ia buka dua kancing atasnya. Jangan lupakan kacamata hitam yang bertengger nampak tampan.
Lelaki itu bersedekap menyenderkan tubuh pada punggung minibus, tebar pesona dengan bibir sexy hampir merah alami. Atensinya tidak teralih pada pintu utama rumah penginapannya. Tidak munafik, ia menanti Anyelir yang belum kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Pak Janu!" Malah Aruna yang menghampiri, lelaki itu muncul memakai hoodie putih. Bagian kupluk ia gunakan menutupi rambut, Janu selalu mengira mirip orang sakit, pikirnya.
"Kok kamu pakai baju kayak gitu?"
"Lah." Aruna sendiri mengerutkan dahi. "Emang, Pak Janu nggak dingin?"
"Di sana itu bakalan panas!"
"Emang kita mau kemana, sih? kayak bukan syuting, berasa mau liburan!"
"Rahasia." Janu membuka kacamata hitamnya, ia selipkan pada saku kemeja di bagian d**a. Matanya mengernyit.
"Yaudah, saya masuk duluan." Aruna membuka power door yang menggeser otomatis, sungguh canggih, Janu memang pandai memilih fasilitas mewah.
Disusul Diego yang malas berbicara muncul, raut kantuk mata panda menghiasi pagi artis itu. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya pada Janu lantas masuk duluan ke dalam minibus, semalam tuntutan pekerjaan membawanya melek sampai subuh. Melanjutkan tidur di dalam bus adalah tujuannya kini.
Selang beberapa detik, nampak dari kejauhan gadis yang ditunggu muncul. Menarik koper mini dengan kesusahan, Janu sempat terperanjat refleks kembali memasang kacamata hitam agar tak kelihatan memperhatikannya. Rumput yang sedikit meninggi memang akan mempersulit pergerakan roda di koper Anyelir, meski hati Janu rasanya ingin sekali berlari dan membantu. Apa daya gengsi berkuasa.
Lelaki itu malah beranjak masuk ke dalam bus. Pandangannya mengedar, tas kecil Janu sudah nangkring dengan cantik di kursi depan sebelah kiri. Ia sengaja masuk dan duduk menempati, menunggu Anyelir untuk diajak duduk bersama. Baru rencana, semoga ia tidak kalah lagi dengan gengsi.
Anyelir menaiki tangga bus, disuguhkan dengan carpet through out dari ujung depan sampai belakang. Reclining seats berwarna hitam ditatapnya nyaman, benar-benar fasilitas mewah. Bisa terhitung jari jika ia berpergian naik bus. Selain untuk kepentingan pekerjaan, romosi film, atau perjalan memakan waktu yang membutuhkan orang banyak.
Janu yang tengah bersedekap menjadi orang pertama yang ia lihat, kursi di sebelahnya kosong. Anyelir menatap harap, tapi untuk apa? kenapa ia masih menginginkan Janu setelah sikap lelaki itu yang menghindar memberi jarak seolah mereka bukanlah siapa-siapa?
Usai menyimpan kopernya di bagasi, Anyelir malah membeku tepat di samping kursi kemudi. Tiba-tiba Janu membuka kacamatanya, menatap Anyelir dengan wajah so cool.
"Kenapa? mau duduk sama saya?"
"Ih? siapa juga yang mau duduk sama, Bapak?" Anyelir memutar bola matanya malas, lantas menoleh pada kursi di samping Diego. Lelaki itu nampak terlelap sembari bersender pada kaca. "Saya mau duduk sama, Kak Diego!"
Jujur saja, itu adalah bentuk permintaan sekaligus permohonan Janu. Tapi memang dasarnya ia manusia aneh, meminta seperti merendahkan Anyelir seolah gadis itu yang sangat menginginkan duduk bersama. Wanita mana yang mau diperlakukan seperti itu? meski Anyelir mau, ia akan menolak jika ajakan dari Janu seperti itu.
Kak Diego ... Kak Diego ... Kak Diego sialan!
Janu mendengus, posisi duduk yang semula di sebelah kanan berpindah menjadi di pojok dekat jendela. Janu ingin menikmati pemandangan, daripada menahan sesak melihat interaksi Anyelir dengan Diego.
"Oh, sorry. Gue ketiduran, gatau kalo lo duduk di sini." Diego terbangun dengan bantal di lehernya.
Jelas Janu mendengar percakapan mereka. Sebab keduanya tepat di samping Janu, lelaki itu tidak budeg sama sekali.
"Nggak apa-apa, Kak. Lo lanjut tidur aja, semalem belum tidur, 'kan?"
Diego nampak mengucek mata. "Lo mau pindah di sini? nanti lo jatuh kalo di situ,"
"Nggak usah, 'kan ada ini." Anyelir menepuk-nepuk penyangga yang biasa melintang di samping kursi duduk, sejujurnya ia tidak yakin juga bila terlelap dengan tiba-tiba kepalanya bergeser ke arah sana. Belum lagi kalau bus rem mendadak.
"Oke. Gue boleh lanjut tidur? ngantuk banget soalnya,"
"Boleh dong. Maaf udah ganggu tidur, Kak Diego!"
"Santai aja." Diego kembali menyenderkan kepala di jendela minibus, matanya terpejam kembali.
Sedikit-banyak gadis itu curi-curi pandang ke arah Janu yang termenung menatap ke arah jendela. Sayang, Batari masuk membuyarkan keinginan hasrat Anyelir untuk terus memandangi wajah rupawan Janu.
"Lo ngapain duduk di sini, Lir?" Baik Anyelir juga Janu menoleh ke arah Batari yang baru masuk ke dalam minibus.
"Biar bisa lihat pemandangan langsung!" Anyelir seperti membuang wajah saat Janu menatapnya sekilas. "Udah, lo duduk di belakang gue aja! Bentar lagi bisnya jalan!"
"Yaudah, lo di sini aja. Kalo tidur jangan lupa nyender ke pundak Diego." Batari mengompori Janu yang mulai memasang tampang kesal. Gadis itu mencari tempat duduknya sembari terkekeh pelan.
Usai melewati berbagai drama di pagi hari, seluruh crew sudah memasuki busmini. Anehnya, yang ikut ke dalam rencana pindah lokasi syuting ini terbilang sedikit. Batari bahkan menghitungnya tidak semua ikut, masih ada yang tertinggal. Perasaannya mulai aneh.
"Kenapa gue ngerasa kalo kita mau liburan, ya? daripada syuting."
Janu sempat menoleh ke arah Batari, gadis itu berbicara dari arah belakang dengan kencang. Pasti ditujukkan pada Anyelir. Takut yang direncakannya gagal Janu bertindak.
"Tidak ada liburan-liburan! Pekerjaan kita masih banyak." Janu berdiri, memutar tubuh menghadap semua orang yang sudah terududuk di posisinya masing-masing. "Semuanya! Kita akan berangkat menuju lokasi syuting terakhir, semoga kita semua diberi kelancaran. Mari berdoa menurut kepercayaannya masing-masing."
Bus pun melaju menuju tempat yang masih dirahasiakan Janu. Hari spesial akan segera datang menghiasi setiap insan. Semoga saja berjalan dengan baik, pikir Janu.
**
Beberapa jam berlalu keadaan masih sama, yang membedakan suasa sunyi sejak tadi sebab orang-orang terlelap. Berbeda dengan Janu, ia sudah teduduk di dekat Anyelir menahan kepala gadis itu yang tertidur hampir terjatuh.
Sejak beberapa menit yang lalu kepala Anyelir bergerak hampir terjatuh ke bawah mengenai penghalang berbahan besi, Janu yang melihatnya refleks menahan dengan perlahan agar gadis itu tidak terluka. Tapi malah keenakan, kini ia bingung sendiri saat tangannya kebas tapi pipi Anyelir menempel di telapak tangannya. Anyelir masih hanyut dalam mimpi.
Tiba-tiba supir bus menginjak rem mendadak saat mobil di hadapannya berbelok tanpa memberi aba-aba. Hampir semua tubuh penumpang membungkuk ke depan, tapi tidak dengan Anyelir yang berhasil ditahan oleh Janu. Gadis itu membuka mata karena merasa pergerakan bus tidak stabil.
Sembari masih mengerakkan keadaan, Anyelir berkedip berkali-kali. Ada lengan kekar yang memegangi kepala gadis itu, ia menoleh kepada seorang pemiliknya. Janu belum sadar sebab ia fokus pada supir yang hampir menabrak mobil di hadapannya.
"Bapak ngapain?!"
Janu melotot lantas menoleh, mengembalikan lengan yang semula memegangi kepala Anyelir agar tidak terluka. "E—enggak!"
"Bapak pegang-pegang?!"
"Enggak! Itu tadi kepala kamu hampir jatuh ke depan!"
Anyelir menetralkan detak jantung yang semula berpacu, mengambil air mineral lantas menenggaknya. Ia memang merasakan bahwa bus ini menginjak rem mendadak sampai tubuhnya hampir maju ke arah depan, tapi anehnya Diego masih tertidur dengan nyaman. Benar-benar seperti kebo.
"Sudah! Daripada tegang mending kita nyanyi-nyanyi!" Diego sudah berdiri memegangi pundak kursi Janu.
Si asisten sutradara itu berjalan ke arah depan, menuju drop down DVD screen untuk menampilkan video karaoke. Tak lupa Aruna juga mengambil mic sampai orang-orang benar terbangun oleh suaranya.
"Teman-teman, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Om, Tante semua! sambil menghilangkan jenuh, mari kita bernyanyi!" Aruna mengambil remote untuk mencari lagu yang diinginkan. Tapi kemudian kembali menatap orang-orang yang baru terbangun, terfokus padanya.
"Kita tampilkan!" Tiba-tiba Aruna berteriak sembari menoleh pada Anyelir. "Berta Bee!"
Mic diberikan pada Anyelir yang terkejut, ia baru saja terbangun dari mimpi, mendapati lengan Janu di kepalanya. Kemudian disuruh untuk bernyanyi? Oh, nyawanya saja belum terkumpul apalagi suaranya.
"Apa, sih?! saya nggak bisa nyanyi!"
"Berta Bee ... Berta Bee ... Berta Bee." Aruna yang menyuarakan pendapatnya pada mic menarik perhatian crew lain, lantas meneriakkan nama Anyelir untuk membuatnya berdiri dan bernyanyi.
Anyelir tak bisa mengelak bila semuanya sudah mendesak, lantas berdiri dan mengambil alih mic. Membuat semua orang bertepuk tangan mengapresiasi, ia mengambil remote control untuk mengetikkan judul lagu di layar TV.
"Saya ... akan menyanyikan lagu Kahitna berjudul Rahasia Cinta." Anyelir mulai tersenyum saat alunan musik terdengar.
Suara Anyelir ternyata benar-benar merdu, sampai orang-orang terpukau lantas bertepuk tangan. Selain pandai ber-akting tidak diragukan lagi bila ia mampu bergabung dalam girl group papan atas, atau penyanyi solo lainnya. Karena suaranya benar-benar indah dan khas.
"... Sering aku meragu
Harus ku melangkah
Terkadang kau beri harapan
Kadang terasa jauh
Pedihnya hati bila ini
Hanya terbawa perasaan
Dan aku mencintaimu
Sungguh-sungguh tanpa kau tahu
Tersimpan di dalam hatiku ...."
Penggalan bait itu mampu membuat Janu rasanya tertohok berkali-kali lipat, sejak Anyelir bernyanyi sampai sekarang lelaki itu tak sanggup menatap manik cokelat teduh milik Anyelir. Selain berhasil menghabiskan air mineral demi menghilangkan rasa sesak, Janu juga kegerahan padahal air conditioner terasa sejuk.
Semua bertepuk tangan usai Anyelir selesai bernyanyi, terkecuali Janu. Ia mengatur napasnya sebab setiap lirik yang dinyanyikan Anyelir seperti mewakilkan perasaan gadis itu. Dan memang begitu faktanya.
Aruna mengambil alih. "Mau dengarkan suara yang tak kalah indah?"
"Mau!" Teriak para crew serempak.
Pohon, ladang, kebun, jalan raya dan mobil menjadi saksi bisu bahwa yang dipanggil Aruna barusan adalah si sutradara.
"Pak Jaaaaanuuuuuu! Mari kita dengarkan suara emasnya."
Janu melotot saat mic tersodorkan tepat di depan wajahnya, bukan tak pernah bernyanyi. Janu malas bila di hadapan orang lain. Tapi apa yang bisa diperbuat? Meski melemparkan sorot tajam bermakna 'saya potong gaji kamu, Aruna', tetap saja. Semua memaksa.
Janu akhirnya bangkit, mengambil mic yang diberikan lantas mencari lagu yang ia maksud. Jika Anyelir menyinggung perasaannya melalui sebuah bait lagu, apa salahnya jika ia melakukan hal serupa.
Alunan musik 'Separuh Aku' dari Noah terdengar indah. Janu tak kalah memukaunya seperti Anyelir, mereka ibaratkan memiliki bakat terpendam dalam menyanyi yang malas dipertunjukkan kepada khalayak umum.
"... Dengar laraku
Suara hati memanggil namamu
Kar'na separuh aku
Dirimu ...."
Sorot mata Janu begitu lekat pada Anyelir, ada kerinduan yang tertahan membuat ia semakin jatuh ke dalam pesona Anyelir setiap harinya. Berbeda dengannya tadi yang membuang muka karena merasa bersalah, Anyelir justru mengunci pandang terhadap manik hazel Janu. Benar-benar tak ingin beralih, seolah Janu mengalun permintaan maaf melalui lagu yang ia bawakan.
Jika begini jangan salahkan jika cinta ini semakin bertambah.