Lagu penghantar yang Janu nyanyikan dengan sepenuh hati seolah menjadi penutup dari perjalanan para crew back and kill it. Benar saja firasat Batari, minibus ini berhenti tidak jauh dari bibir pantai. Pasir eksotis putih nampak mengkilap saat tersorot sang mentari, air laut pun jutstru terlihat seperti biru tosca benar-benar bening tanpa kontaminasi dari pencemaran lain apalagi sampah.
Saat langkah jenjang artis itu turun dari minibus, matanya menyipit, tersilaukan oleh terangnya sinar melukiskan indahnya alam buatan sang Pencipta. Tidak mungkin Janu melakukan syuting di pantai yang indah ini, sebab dalam script tidak ada adegan pantai sama sekali. Benar-benar pure di hutan, kalo pun berhubungan dengan air hanya sebatas rawa-rawa dan sungai.
Manik hazel terang menangkap villa terapung yang dimaksud Ricky. Resort bintang lima berdiri tepat di atas laut, berjejer saling berhadapan membentuk hexagon. Tidak jauh dari pesisir, membutuhkan akses semacam jembatan terapung dari rentetan papan kayu yang membentang menuju water villa tersebut.
Orang-orang yang masih kebingungan kini berkumpul di depan bis, panas yang mulai terasa sebab mentari menuju puncaknya mmebuat Anyelir terasa pusing sendiri. Beruntung, Aruna dengan segera menyalakan toa sampai seluruh atensi berfokus kepadanya.
"Check ... check ... ehmm! Check sound!" Percobaan Aruna sukses membuat orang-orangnya bertambah penasaran menunggu aba-aba darinya.
"Welcome to paradise island!!!" Aruna berseru tepat di bibir toa sampai melengking membuat ngilu di kuping.
Tapi Janu yang tiba-tiba bertepuk tangan sendiri lantas dibalas dengan tepukan yang lain. Aruna sebetulnya tidak tahu kalau Janu merencanakan pemesanan resort untuk liburan, bukan untuk melakukan syuting lagi. Sebab semuanya sudah berakhir, tinggal tim pasca produksi yang akan mengurus segala penyelesaian syuting.
"Ini adalah salah satu surprise dari, Pak Janu. Bentuk apresiasi beliau atas kerja keras kita selama hampir empat bulan lamanya. Tepuk tangan dulu, dong!"
Semua bertepuk tangan, bahkan sebagian riuh teriakan terdengar kompak. Janu menyunggingkan senyum meski hanya singkat tapi itu terlihat.
"Tugas kalian hanya mengikuti acara yang kita buat, sisanya silahkan liburan dengan senang hati selama tiga hari ke depan!"
Yang lain bertepuk tangan juga bersorak-sorai, berbeda dengan Anyelir. Artis cantik itu justru mengerutkan dahi, merasa ada yang mengganjal dengan maksud Janu membawa pergi liburan seluruh crew. Seperti kali pertsms dalam sejarah, sebab Janu terkenal dengan manusia apatis anti liburan-liburan club' katanya. Tapi Sekarang? Benar-benar di luar dari kebiasaan Janu.
Sementara Aruna membagikan kunci villa pada beberapa orang yang sudah membereskan barang bawaan, Aruna juga sebetulnya tidak tahu-menahu soal liburan dan water villa yang disewa Janu. Saat mereka berhenti di rest area untuk sarapan, Janu membawa Aruna ke tempat sepi untuk memimpin perjalanan karena Janu gengsi melakukannya sendiri. Aruna sempat terkejut sekaligus senang, meski hatinya penuh tanya darimana Janu mengeluarkan biaya untuk liburan sementara biaya produksi terbilang melebar.
Usai Anyelir mengeluarkan kopernya dari bagasi, gadis itu menghampiri Janu. Menarik lengan kekarnya untuk memperjelas sesuatu. "Tunggu."
Janu yang sudah siap merebahkan diri, berjalan di atas jembatan terapung menuju villanya terpaksa menghentikan langkah. Menoleh pada gadis yang entah sejak kapan hinggap di dalam pikirannya.
"Kenapa?" tanya Janu agak sedikit ketus.
"Siapa yang bayar semua biaya liburan ini?!"
"Tim produksi," ujar Janu datar.
"Jangan bohong!"
Lelaki itu menghela napas seraya memutar bola matanya malas. Kenapa juga harus ada yang mengusut biaya penyewaan villa ini, padahal ia sendiri tak jadi masalah asalkan rencananya berjalan dengan baik.
"Itu bukan urusan kamu,"
"Itu jadi urusan saya kalau Pak Janu mengurus ini dengan uang Bapak sendiri!"
"Nggak. Sok tahu kamu!" Janu hendak beranjak menjauh dari Anyelir, katakanlah ia tak pandai berbohong. Di desak seperti itu bisa membuatnya bereaksi, takut-takut hal rahasia terbongkar nantinya.
"Jangan dulu pergi ... saya belum selesai bicara!"
"Kita bicarakan nanti, saya capek." Janu benar-benar melangkah, tapi baru tiga ayunan kaki ia berhenti.
"Sekali-kali jangan tinggalkan saya!" Janu mematung mendengar sahutan Anyelir, gadis itu sudah berjalan dan mendahuluinya. "KALI-KALI SAYA YANG NINGGALIN PAK JANU DULUAN!" Gadis itu berjalan sedikit lebih kencang usai menggerutu sampai membuat Janu tertohok.
"Berta Bee? Hei Bert—"
Ponsel Janu yang berbunyi nyaring mengurungkan niatnya mengejar Anyelir untuk menjelaskan tujuan lain ia melakukan hal demikian, Anyelir memang aneh. Ia selalu pergi tanpa mau mendengarkan segelintir fakta dari Janu.
Nama Ricky yang muncul dari balik layar menggerakkan jemari untuk menggeser tombol hijau. Janu berbalik arah, tidak jadi mengejar Anyelir yang sudah berharap untuk dikejar. Ah, percuma. Ia lebih baik pergi sedikit berlari untuk cepat beristirahat daripada memikirkan manusia tidak jelas seperti Janu.
"Hallo, Dok? I—iya ... saya udah sampai, saya ke sana sekarang!"
**
"This ...." Ricky menyodorkan kotak beludru hitam berukuran sedang di atas meja.
Masih terhalang oleh gelas berair yang di isi minuman segar lemon soda pesanan Janu, lelaki itu sedikit menggeser lantas mengambil pemberian dari Ricky. Janu membuka kotak yang diberikan, tersemat gelang berlian dengan permata safir yang melintang pada bulatan penyangga. Benar-benar indah nan mengkilap.
Janu mendongak, menatap wajah Ricky yang mengangkat sebelah alisnya sembari menyeruput es kelapa muda yang ia pesan juga di cafe tepi pantai ini. "Kenapa?"
"Di Kalimantan juga ada barang mewah kayak gini?"
"Eh! Jakarta sama Kalimantan itu bukan beda alam, hanya beda provinsi!" Ricky sedikit membentak Janu, memang lelaki itu bila berbicara tak pernah pakai rem.
"Oh, Iyah." Janu tak mau mengalihkan pandang, ia benar-benar terpukau dengan apa yang baru saja di lihatnya. Akan menjadi satu momen berharga dalam hidupnya bila rencana Ricky berjalan dengan baik. Semoga.
"Sorry, saya cuman bisa bantu ini aja."
"Nggak apa-apa, makasih Dokter Ricky udah bantu saya selama ini."
"Panggil saya Ricky. Kita seumuran, 'kan?"
"Haha ... baiklah, say—" ponsel Janu berdering kembali, lelaki itu tak enak bila mengangkat telepon di hadapan Ricky. Tapi tak ada pilihan lain, karena nama Aruna tertera di sana. "Sebentar ... saya ...."
"Angkat saja. Kebetulan saya harus pergi menghadiri pertemuan di Samarinda selama tiga hari, semoga berhasil, ya!" Ricky tiba-tiba bangkit, menepuk pundak Janu.
"Tap—"
"Sudah. Saya tunggu kabar baiknya." Ricky yang beranjak duluan membuat Janu mematung sekejap, lantas dengan terburu-buru mengangkat telepon dari Aruna seperti panggilan mendesak benar-benar tidak sabar.
"Hallo? Kenapa?" tanya Janu to the point'.
Suara dari sebrang sana terdengar begitu heboh, Janu mendengar seraya berjalan menuju villanya. Jarak yang ditempuh memang tidak jauh, hanya sekitar dua puluh langkah saja ia akan sampai. Tapi Aruna memang hiperbolis sekali, sampai Janu hanya bisa memijit kepalanya yang agak pening.
"Iya ... Ini saya lagi jalan menuju ke sana!" Ucapan itu mengaakhiri perbincangan telepon yang terbilang heboh, Janu muali berjalan di atas jembatan kayu dengan degup jantung yang tak karuan.
Dilema di antara tak sabar juga takut, entahlah sepanjang hidupnya, apapun yang dilakukan Janu jarang membuahkan hasil yang diinginkan. Janu gusar, sungguh takdir baik selalu melenceng dari hidupnya. Ia tidak menyalahkan Tuhan, juga tidak menyalahkan takdir. Hanya saja Tuhan dan takdir tidak berpihak sampai dirinya melakukan kesalahan sendiri.
Dari kejauhan Diego nampak gelisah, membuat Janu semakin mempercepat langkah. "Kenapa kamu?"
"Do—dompet saya ... dompet saya kayaknya jatuh di dalam bis! Bisa kita balik lagi ke sana?"
Janu masih belum fokus pada Aruna yang katanya kehilangan dompet, ia malah menatap Anyelir yang baru keluar dari tempat tidurnya. Benar-benar setelan yang cocok, celana pendek selutut berbalutkan cardigan tipis dengan topi pantai yang hampir menutupi wajahnya.
"Pak!" Arjuna berteriak mengingatkan, tapi Janu memang sengaja menulikan pendengaran agar terbiasa dengan hal ini.
Alih-alih mendengarkan protesan dari Aruna, Janu malah memberikan ponsel miliknya tanpa menoleh sedikitpun. Ada rencana yang harus ia selesaikan sekarang untuk menemui Anyelir.
"Kamu cari kontak Kayang Luxury Bus, hubungi saja. Itu kontak supirnya." Janu malah meninggalkan Aruna yang masih resah perkara dompetnya. "Saya pergi dulu!"
"Tapi, Pak nan—" Aruna mengikuti arah gerak Janu yang tergesa-gesa menuju dua insan berjenis kelamin wanita, salah satu tujuannya pasti ada maksud lain. "Pantesan ... b***k cinta!"
Sementara Janu sudah berada di hadapan Anyelir dengan napas yang teesenggal-senggal. Anyelir berniat mencari makan siang bersama Batari, tapi melihat Janu yang nampak ingin berbicara, Batari sengaja pergi duluan untuk menjaga privasi mereka.
"Mau apa?!" Anyelir masih ketus rupanya, Janu semakin bingung.
"Besok sore kita bicara, penting." Janu menggaruk hidungnya asal, padahal tidak gatal.
"Bukannya, Bapak bilang tujuan kita ke sini mau liburan? saya males bicara soal kerjaan!"
"Bukan soal kerjaan,"
Anyelir mendongak, menatap lekat iris hazel Janu yang tiba-tiba membulat saat keduanya saling mengunci pandang. Bibir itu ... rasanya Janu takut hawa nafsu berkeliaran hingga merusak hubungan diantara keduanya.
"Soal apa?"
"Soal saya dan kamu." Janu tak kuasa menahan rasa malu yang mampu memanaskan kedua pipinya sampai merah, lantas ia beranjak begitu saja membuat Anyelir semakin bertambah bingung.
Saya dan kamu?