Pintu kaca yang nampak transparan dari luar bergeser, gadis berbalut handuk muncul dengan rambutnya yang basah. Menyegarkan diri adalah alternatif utama usai semalaman memikirkan beberapa lontaran kalimat dari Janu yang terkesan ambigu.
Anyelir sedikit berjinjit keluar dari kamar mandi, ia lupa tidak membawa sehelai kain pun untuk berganti baju di ruangan sana. Tapi justru alisnya malah berkerut, mencari koper yang sengaja ia bawa dari penginapan menuju pulau Maratua ini. Bahkan ingatannya masih bagus, tersimpan rapi di sudut tempat peraduan.
"Lo kenapa?" Batari yang tengah mengunyah kacang polong sembari bersandar menonton film animasi bertanya.
Gadis itu sudah pergi sejak pagi buta tadi, untuk melihat sunrise katanya, dan sekarang Batari sudah kembali tapi Anyelir malah baru selesai mandi. Meski Anyelir beberapa kali dibangunkan oleh sejumlah manusia, tetap saja mimpi menikah dengan Janu lebih nyaman daripada menikmati matahari terbit yang tertutup awan.
"Koper gue mana?!" Anyelir masih keluyuran mencari kotak berisikan pakaian serta perlengkapannya. Ingat, hanya berbalut handuk saja.
"Bukannya lo simpan di bagasi bis?" Benar-benar manusia bernama Batari ini, santai sekali padahal sahabatnya sendiri tengah kelimpungan mencari sehelai kain untuk di pakai, ia malah berujar dengan datar tanpa menoleh sembari fokus pada kartun animasi di dasar laut.
"Lo gila kali, udah gue bawa!"
"Gue nggak gila, lo emang pelupa p****t gorila!"
Tidak mungkin Anyelir lupa, dengan jelas ingatannya berputar saat ia menggusur koper berukuran sedang menggelinding di atas jembatan kayu. Bahkan saat itu ia kesusahan saat menarik benda miliknya dari dalam bagasi.
"Sumpah, Tar. Gue udah bawa!" Nada Anyelir kini naik beberapa oktaf. Sangking kesalnya merasa tidak diacuhkan, Anyelir mengambil remote televisi dan mematikan saluran yang tengah di tonton Batari.
Batari yang kaget bercampur kesal kini bangkit, mendekat pada Anyelir dengan ekspresi siap memangsa. "Lo ... apa-apaan, sih?!"
"Koper gue mana?!"
"Ya, mana gue tahu! Emang gue emak lo?!" Sudah menjelang siang udara mulai terasa panas, kedua sahabat sehidup semati juga berdebat tak kalah membara.
"Terus gue pakai baju apa?! Selera fashion gue sama lo, 'kan beda!"
Memang, apa yang disukai oleh Anyelir belum tentu disukai oleh Batari. Anyelir benar-benar feminim, tetapi Batari cukup terkesan tomboy yang sedikit gemulai tapi cerewet.
"Lo pakek baju baru gue, deh!"
"Baju baru, lo?"
Arah pandang Batari langsung terfokus pada sebuah paper bag yang tersimpan dengan rapi di atas meja dekat televisi. Anyelir yang penasaran lantas membuka hasil belanja Batari tadi pagi.
Sebuah dress putih tipis menjuntai hingga bagian lutut membuat Anyelir terpukau, terlebih tak ada bagian lengan yang terbentuk melingkar acak sehingga bagian dadanya sedikit terlihat. Anyelir terkejut, bukan karena bajunya yang sexy. Tapi karena hal ini merupakan sesuatu yang dibenci Batari, bahkan ada labelnya yang masih terpampang di sana.
"I—ini beneran ... beneran punya, lo?!"
"Lucu aja,"
"Sejak kapan lo suka baju cewek?!"
"Eh! Kuping babi! Gue emang cewek! Udah sana pakai bajunya, kita makan siang!"
"Bentar labelnya gue ma—"
Batari melotot, menyambar langsung pakaian yang baru saja dibeli bahkan masih memiliki label. "Ini punya gue!"
Ia memegangi label yang hampir dicabut habis oleh Anyelir, aneh bila itu masih tertera di sana. leher serta pundaknya juga tak nyaman. Tapi Batari bersikukuh, selama ia belum mengenakan pakaian baru yang dipinjamkan pada Anyelir, label itu tidak boleh di lepas.
"Pokoknya, awas aja kalau sampai lo copot labelnya ... gue musuhin tiga ratus enam puluh lima hari!" Batari memberikan dress itu pada Anyelir yang masi melongo.
Jujur saja, mau menolak pemaksaan Batari, apa daya gadis itu sedang dalam mode ibu kost akhir bulan yang menagih biaya pembayaran tetapi penyewanya kabur-kaburan. Siapa yang tidak pusing? Mau mengiyakan juga, Anyelir seperti hidup di masa penjajahan, benar-benar tertekan.
Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Ia tak punya sehelai pakaian pun, tidak mungkin juga pergi makan siang bermodalkan handuk. Bisa-bisa tubuhnya menjadi santapan lapar bagi kaum tidak bermoral. Padahal wanita seutuhnya diciptakan indah untuk dirinya sendiri, tidak bermaksud menggoda apalagi menghasut. Fantasi liar yang tercipta oleh kaum Adam muncul dari dalam dirinya, tercipta oleh jalur pikiran penuh khayalan. Tapi mengapa selalu wanita yang disalahkan?
"Iya, gue pakai." Lebih baik Anyelir cari aman, bukan?
**
Sembari menunggu makan siang siap, Anyelir tengah bersandar di atas kursi. Menikmati semilir angin di bawah pohon kelapa, kacamata hitam yang digunakan membuatnya semakin merasa nyaman. Sebab sinar matahari tidak terlalu menusuk korneanya.
Tangan Anyelir bersedekap, bagian kanan yang bertumpu sedikit menunjukkan gelang yang dipakai Anyelir. Cukup unik, sampai Batari yang tengah berfoto-foto atensinya pun turut teralihkan. Ia seperti pernah melihat gelang seperti itu, tapi entah milik siapa.
"Eh gue mau liat, dong."
"Apaan?" Anyelir baru mengeluarkan ponssl miliknya, mendokumentasikan setiap moment yang akan indah nantinya.
"Gelang, lo!"
Tahu apa keinginan Batari, Anyelir menyodorkan tangannya yang mana melingkar gelang unik pada Batari. Dibuat terpukau Batari langsung berdiri, berjalan beberapa langkah untuk mengambil potret lucunya saat tangan sendiri mengenakan gelang unik.
Keasikan dengan spot foto di sana, tanpa sadar gelombang yang tiba-tiba tinggi membuat refleks gerakan Batari berantisipasi ditakutkan terjatuh. Tapi sayang, gelang milik Anyelir terbawa oleh arus laut. Membuat Batari bingung harus membicarakannya bagaimana, lagian gelang kecil itu nampak murah dimatanya.
Sekembali Batari dari tempat foto tadi, Anyelir sudah stan by mempertanyakan perihal gelang miliknya yang dipinjam oleh Batari. "Mana gelangnya?"
"Hilang," ucap Batari datar.
"Ha?! Lo gila, Tar?"
Terkejut Batari melihat reaksi Anyelir yang tiba-tiba terkesan berlebihan, hanya perkara gelang yang jatuh terbawa arus laut Anyelir seperti kehilangan nyawa seseorang, heran.
"Apaan, sih? 'kan cuman gelang doang!"
"Bukan masalah gelangnya ... Tar, Lo kenapa, sih? Ah!"
"Lo yang kenapa, Lir?!
"Berisik!" Anyelir tiba-tiba melenggang pergi meninggalkan Batari yang mematung.
"Lir ... Lir!"
Anyelir marah? Hanya karena gelang? Oh ayolah mereka bukan hanya anak TK. Batari yang heran lantas mengejar sahabatnya itu, jika begini apa bedanya Anyelir dengan bocil-bocil merajuk yang harus dibujuk dengan penuh perhatian. Batari berhasil menangkap lengan Anyelir.
"Berapa harga gelangnya? Gue beliin sekarang."
"Gue nggak masalah soal harga, itu gelang harus balik pokoknya!" Bentak Anyelir.
Kening Batari berkerut, heran dia dengan pola pikir Anyelir. "Terus gue harus tenggelam dulu gitu, buat nyari itu gelang, ha?!"
"Ya, mau gimana lagi itu 'kan tanggung jawab, Lo!"
"Tinggal beli lagi yang baru apa susahnya, sih, Lir?"
Anyelir memutar bola matanya malas, mendelik pada Batari dengan wajah bersemu merah karena marah. "Gila, Lo!"
Dari pertengkaran kecil mereka berada di tepi pantai dekat saung untuk makan siang, Janu melewat untuk mengisi perut. Sempat melihat ada yang tidak beres antara Batari dan Anyelir, bahkan saat mereka tiba di tempat makan dua-duanya benar membisu.
Janu yang penasaran, lantas bertanya pada Batari yang baru saja tiba di saung tempat makan. Lelaki itu mengerutkan dahi. "Ada apa, Tari?"
"Itu ... Anyelir marah gara-gara gelang punya dia hilang ... gila kali, ya?! Perkara gelang aja malah debat sama gue!"
"Gelang?" Sama terkejutnya dengan reaksi Anyelir tadi, Janu lantas beranjak menghampiri Anyelir yang nyaris mengantri makanan untuk siang ini.
Lelaki itu menepuk pundak Anyelir agar membuatnya berbalik. Benar saja, wajah Anyelir ditekuk penuh amarah, dilihatnya gelang yang pernah dikenakan dengan manis di tangan Anyelir sudah kosong. Padahal kemarin sore saat bertemu Anyelir itu masih ada terikat di sana.
Tak mau memunggu waktu lama, Janu bersiap menghujani Anyelir dengan berbagai tanya. "Gelangnya mana?!"
Anyelir yang ikut terkejut sebab reaksi Janu tiba-tiba bertanya demikian tergagap. "Ba—batari ... hilang!"
"Bisa jaga amanah, nggak, sih?" Nada dingin dengan sorot mata yang menusuk mulai terlihat kembali.
"Bukan salah saya, dong! Batari yang menghilangkan gelangnya!"
"Saya nggak peduli siapa yang pakai, siapa yang hilang, yang penting 'kan itu punya kamu ... dan itu harus kamu jaga!" Janu tiba-tiba membentak.
Lelaki itu mengacungkan pergelangan tangannya, benda serupa yang dipakai beberapa hari lalu itu masih melingkar di sana. Janu tak pernah mencopot barang sedikitpun, meski ia mandi atau makan gelang itu setia menemani. Tapi Anyelir? Malah dipinjamkan pada Batari dan berakhir hilang.
"Saya aja nggak pernah lepas!" Lanjut Janu terus-menerus memaki Anyelir.
"Saya juga nggak pernah, itu salah Batari."
"Jangan pernah menyalahkan orang lain! Kamu sadar diri, bisa nggak, sih?!"
"Loh, kenapa Bapak jadi berlebih gitu, sih?"
"Ya, jelas! Itu amanat dari saya kenapa kamu mengabaikan?!"
"Saya nggak mengabaikan, ya!"
Oh, ayolah mereka bertengkar di antrian makanan untuk siang ini. Siapa yang tidak menjadi pusat perhatian? Janu sudah kepalang emosi, apalagi Anyelir sudah masuk tahap gunung siap meletus. Pada dasarnya memang Anyelir tidak salah, ia hanya meminjamkan gelang lalu gelangnya hilang. Tapi Janu memaki seperti Anyelir perampok yang rakyat kelas kakap saja.
"Terserah apa alasannya, pokoknya saya nggak mau tau gelang itu harus ketemu!" Janu segera beranjak meninggalkan Anyelir yang kian berseteru.
Benar-benar hubungan mereka entah harus dikatakan bagaimana, benar-benar hancur lebur tak berbentuk. "Heboh!"