Berada di antara Batari yang masih mengepulkan api-api amarah, tidak jauh dari jarak tempat duduk meja bundar tempat makan siang ini ada juga Janu yang masih berwajah datar, namun, tatapannya begitu dingin pada Anyelir. Ikan bakar serta udang yang menjadi sajian khas Maratua terasa hambar di mulut Anyelir, sebab emosinya masih diambang sesak. Antara menjadi lemparan yang disalahkan tapi tak bisa banyak mengelak.
Anyelir hanya mengaduk-aduk nasi, matanya tertuju dengan kosong. Otaknya berputar, bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Sebab siapa yang heran? Batari yang menghilangkan gelang Anyelir, tapi gadis itu yang marah-marah padanya, bahkan lihat saja tidak ada raut wajah perdamaian yang tercipta.
Belum lagi Janu, sudah jelas ia tahu bahwa Batari yang menghilangkan gelangnya. tapi tetap saja Anyelir yang disalahkan, dianggap tidak menjaga amanah pemberian khusus dari Janu. Masih mending tatapan kesal Batari mampu dilihat oleh Anyelir, tapi Janu? lihatlah betapa kilatan tajam itu seolah memberikan sensasi menyengat sampai Anyelir tak sanggup sedikitpun menoleh padanya.
Benar-benar situasi sial yang menyulitkan dirinya, padahal tema kali ini adalah liburan. Tapi perkara gelang saja sudah merusak mood Anyelir, ia tak selera makan bahkan malas mengikuti serangkaian acara yang katanya akan berlangsung usai makan siang.
Benar saja, di ujung bagian depan diantara meja-meja bundar. Terdapat panggung kecil yang dihias menggunakan semacam kain pernikahan, ada pamflet khusus berwarna biru langit bertuliskan 'BAKI crew holiday trip' yang mana 'BAKI' tersendiri adalah singkatan dari 'Back and Kill It'. Sengaja dibuat singkatan seperti itu, untuk menutupi identitas asli sebab film ini masih jadi rahasia di kalangan masyarakat, apalagi media massa.
Aruna sudah berdiri di sana, membawa sebuah mic yang terdengar menggema saat suaranya mengalun. Ia memulai acara dengan saling menyapa satu sama lain. Anyelir hanya menatap tak berminat, sejujurnya ia ingin kembali ke villa. Tapi tidak mungkin juga, nanti Anyelir dianggap tidak suka berkontribusi lagi oleh Janu. Padahal dia sendiri yang membuat mood Anyelir hancur.
Tiba-tiba Batari bangkit dan mendekat ke arahnya, kemudian beralih pada telinga Anyelir. "Lo mau ikut games, nggak?"
Dahi Anyelir berkerut. "Games?"
"Iya! Ikut nggak?"
"Males."
"Oke. Berarti nggak, ya?"
Anyelir hanya membalas pertanyaan Batari dengan anggukan. Atensinya fokus menghadap ke arah Aruna yang tengah menjelaskan sesi games untuk mengisi kekosongan waktu juga merekatkan kebersamaan. Rupanya memang games dibuat bertujuan demikian.
Yaitu games menentukan pasangan menikah.
Sial!
"Oke ... sekarang kepada seluruh pemain berdiri dari tempat duduknya dan ... kita ke depan semua." Aruna memberi tanda kepada orang-orang untuk berdiri, semua berdiri kecuali Anyelir.
Gadis itu masih gengsi, sebab mengatakan dengan jelas bahwa ia tak ingin mengikuti permainan pada Batari. Juga nampak terlihat gelisah, karena Janu benar-benar sangat antusias mengikuti agenda ini.
Permainan ini dimulai dengan hitungan. Aruna akan menghitung mundur, setelah itu para pemain diharapkan mencari pasangan. Bukan untuk dijadikan pacar apalagi dinikahi. Pasangan ini berguna untuk melakukan games yang mana nantinya, kertas gunting batu menjadi penanda siapakah yang menang diantara.
Setelah hitungan mundur untuk mendapat pasangan, Aruna berhenti lantas menatap Anyelir heran. Gadis itu berharap Aruna mengajaknya dengan permohonan agar Anyelir tidak terkesan tengah menginginkan ikut permainan tapi terhalang oleh gengsi.
"Berta Bee! Anda tidak ikut?" Pertanyaan Aruna sebelum permainan di mulai teralun pada Anyelir.
Wajah Anyelir berubah sedikit, menjadi lebih sumringah. Ia hendak berdiri tapi ucapan Batari membuatnya terhenti.
"Dia nggak mau ikut, males katanya. Ayo kita main aja!" Sahut Batari.
Sontak Anyelir hanya bisa membeku, ingin menyumpal mulut Batari yang sejak tadi terus merecoki dirinya. Tapi apa daya, rasa kesal yang terkumpul di d**a juga tidak mungkin memaksa diri Anyelir untuk memaki Batari dengan berbagai macam u*****n.
"Oke kalau begitu, ayo kita mulai!" Aruna berseru pada semua orang tapi benar-benar menghiraukan Anyelir.
Gadis yang tengah duduk di meja bundar empat langkah dari arah depan bisa nampak dengan jelas persiapan mereka, semua ikut, kecuali Anyelir. Sungguh ia ingin mengikuti permainan itu, melihat Janu nampak senang berinteraksi dengan salah satu gadis membuatnya juga iri. Sudahlah, cemburu itu wajar. Tapi Anyelir mempunyai hak apa untuk cemburu?
Permainan berlangsung dalam sekejap, hanya mencari pasangan lalu berduel suit yang kalah mundur, yang menang mencari pasangan lagi sampai bertemu di akhir di mana ada pemain laki-laki dan perempuan yang bertahan memenangkan duel kertas gunting batu.
Dan sialnya itu Janu, dengan salah satu crew bernama Catherine. Anyelir tidak kenal gadis itu, tapi bila dilihat lebih dekat parasnya cantik juga sexy, Janu tak memudarkan senyum saat berada di dekat gadis itu. Mungkinkah mereka sebenarnya? Ah tidak mungkin, tapi jujur Anyelir tidak pernah melihat Janu sebahagia itu, berpasangan dengan lawan jenis usai mengikuti permainan. Lengannya juga tak lepas menarik pinggang Catherine.
Lihat betapa sesak Anyelir? Liburan yang Janu maksud bagi Anyelir sekarang terasa seperti neraka. Sudah bertengkar dengan Batari perkara gelang, belum lagi kopernya yang tiba-tiba hilang, lalu Janu juga mengajaknya berdebat. Belum lagi ia harus menyaksikan dengan gamang orang yang disukai bersanding dengan gadis lain. Siapa yang tidak kesal dengan situasi hari buruk ini?
"Oke! Para pemenang ... mari kita dengarkan kesan dan pesan sepasang pemain yang ahli dalam bidang kertas gunting batu ini. Wahhh ... kalian cocok sekali!" Ucapan Aruna sukses mendapatkan riuh tepuk tangan, kecuali Anyelir, hanya terpaksa.
Mic yang digenggam Aruna diberikan pada Catherine, gadis keturunan Jerman berhidung mancung. "Ah ... kesan dan pesan saya ... tentu saya senang bisa menjadi pasangan Pak Janu yang tampan!"
Semuanya bertepuk tangan kembali, berbeda dengan Anyelir yang sesak lantas meminum air mineral di mejanya bekas makan siang barusan.
"Selanjutnya! Mari dengarkan kesenangan yang nampaknya terukir dalam di benak Pak Janu!" Aruna berseru kemudian memberikan mic-nya kepada Janu.
"Emhh ... I'm so happy ... with you, Catherine. Ayo kita foto bareng?" Janu benar-benar melemparkan tatapan penuh kehangatan pada Catherine, siapa yang tidak kesal dengan hal itu.
"Tepuk tangan, dong!" Aruna juga terlihat antusias dengan pasangan ini, apakah kecurigaan Anyelir tentang menghindarnya Janu karena lelaki itu memiliki perasaan lain pada Catherine? Oh sungguh, Anyelir nampak menyedihkan Sekarang.
"Ada hadiah spesialnya, di mana kalian akan dinner berdua malam ini dengan sajian khas paling mahal di villa ini ... tapi sebelum itu kita foto bersama buat kalian agar menjadi kenangan manis!"
Muak sudah Anyelir melihat adegan yang benar-benar membuatnya sesak sekarang. Harapannya untuk bersama dengan Janu pupus seketika, ia masih bisa berpikir positif di awal bahwa Janu menghindar mungkin saja karena ia ingin fokus pada pekerjaan. Tapi melihatnya bersanding dengan Catherine, sisi lain Janu yang begitu hangat diperlihatkan pada semuanya. Siapa yang tidak curiga jika mereka memiliki hubungan spesial?
Anyelir yang merasakan dadanya sesak lantas berdiri, berniat untuk pergi menuju kamarnya. Tapi Aruna menghentikan buat Anyelir.
"Karena Berta Bee sudah berdiri ... sepertinya dia siap untuk menjadi fotografer kalian!"
"Hah?" Anyelir mengerutkan dahi, ia sadar Aruna bercanda tapi seluruh atensi terfokus padanya. Jika Anyelir menolak tentu saja mereka akan bertanya-tanya.
"Berta Bee?" Aruna menyadarkan Anyelir yang nampak bengong. "Bisa, 'kan?"
"Ah iyah! Oke." Anyelir berjalan ke arah dengan tak lepas memasang pandang ke arah Janu, ada sebuah camera yang diberikan Aruna kepadanya.
"Satu ... dua ... tiga." Anyelir menganbil moment Janu yang tengah menarik pinggang Catherine kemudian dibalas oleh gadis itu.
Satu dua kali pose masih wajar, tapi pose ketiga Catherine tiba-tiba mengecup pipi Janu membuat tubuh Anyelir membeku. Ia menatap nanar ke arah Janu yang masih memasang wajah berseri, sungguh d**a Anyelir sesak sekali. Bibirnya gemetar sebab sedetik lagi air mata mengalir.
Catherine melepaskan kecupan di pipi Janu. "Tunggu apa lagi, sih? Lama banget!"
Lamunan Anyelir tersadar oleh ucapan Catherine, tapi ia tak sanggup, ia tak bisa menyaksikan adegan yang membuat matanya memanas.
"Kamu suruh orang lain saja!" Anyelir memberikan camera itu pada Catherine, tapi matanya mendelik tajam ke arah Janu yang berwajah datar. Ada perisai bening yang berusaha ia tahan untuk tidak muncul bebas.
"Masih banyak orang di sini yang mampu mengabadikan gambar, nggak harus saya!" Anyelir berujar seraya beranjak, tangannya yang gemetar menghapus paksa satu butiran bening yang lolos dari mata kiri.
Dasar manusia-manusia tidak punya hati!