Bab 40 - I Love You, Bertadine Anyelir

1230 Kata
Terkadang tak selamanya yang dianggap baik akan berbuah baik, harapan yang Anyelir bangun sedemikian rupa harus runtuh oleh keadaan. Entah memang ia yang terlalu banyak menginginkan hal lain, atau pada dasarnya Janu tak sesuai dengan apa yang Anyelir pikirkan. Sebetulnya artis cantik bernama Anyelir itu tidak mengalirkan butiran-butiran air mata, hanya saja kenyataan yang rupanya jauh dari kata indah terlalu sesak sampai menangis pun bukanlah jalannya. Lantai yang dingin ia tatap nanar, seolah-olah memori indah dan senda gurau bersama Janu terlintas di sana. Di saat Anyelir mulai merasakan kenyamanan lebih, disaat hubungan keduanya tinggal naik satu tingkatan. Bumi seolah berteriak untuk berpisah, Anyelir seperti dilanggar untuk mendapatkan makna bahagia dari orang yang disuka. Haruskah masa lalu itu terukir kembali? Masa di mana ketakutan terbesarnya berada di puncak tertinggi. Munafik bila Anyelir berkata tidak pernah suka pada lawan jenis, tapi ia sadar akan ketakutan terbesar yang membuatnya terlalu pesimis menanggung resiko. Kelainan Anyelir bukanlah penyakit biasa yang bisa dimaklumi dan mudah diobati, tapi cacat yang membuatnya kelimpungan membedakan wajah. Anyelir semenyedihkan itu. Sungguh. Tok ... tok ... tok Suara Batari terdengar di sana. "Lir ... buka." Anyelir sempat menarik napas panjang untuk menetralisir mimik sedih sekaligus kesal di wajahnya, menahan tangis bukan karena gengsi, tapi karena lelah hanya untuk meraung meratapi nasib yang tak pernah kunjung pasti. Gadis itu membuka pintu villa yang menjadi tempat istirahat Anyelir juga Batari. Batari tidak masuk, ia diam di bibir pintu membuat Anyelir heran. "Lo ngapain?" "Gelang lo udah ketemu, tuh! Ambil sendiri di Pak Janu!" ketus Batari. "Mana?" "Budeg apa gimana, sih, Lo?! Gue bilang 'kan di Pak Janu, ambil sana!" Batari sedikit menabrak bahu Anyelir yang masih terheran, lantas masuk ke dalam villa dengan merebahkan dirinya. Anyelir memutar bola matanya malas. "Pak Janunya di mana?" Alih-alih menjawab pertanyaan Anyelir, Batari malah memainkan ponsel sembari terlentang di atas kasur. Kakinya yang jenjang menjuntai ke bawah sembari diayun-ayunkan. Siapa yang tidak kesal? Baru hendak Anyelir berniat untuk merebut ponsel Batari, gadis itu menghentikan langkah oleh bunyi ponsel miliknya sendiri yang beriringan dengan suara Batari. "Itu kontak Pak Janu, terakhir Aruna bilang Pak Janu ada di pinggir pantai ujung sebelum parkiran bis. Kalo lo nggak ketemu juga, telpon aja!" Refleks Anyelir mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana, ada notif kiriman kontak dari Batari yang membuatnya termenung antara pergi atau tidak. "Emangnya gue harus ke sana, ya?" "Ya, itu balik lagi ke lo! Katanya gelang itu penting?!" "Yaudah gue ke sana!" Tanpa pikir panjang Anyelir beranjak, bahkan ia sempat membanting pintu, melampiaskan kekesalannya pada Batari yang tak mampu terealisasi oleh keadaan. ** Tempat yang dimaksud Batari terbilang jauh, tapi sunset yang memancarkan kilau jingga di ufuk menghilangkan rasa lelahnya untuk berjalan selama beberapa menit lamanya. Ingat, hanya demi sebuah gelang. Anyelir pun tak menyangka bila dirinya melakukan hal demikian, sudah tahu akan berakhir bagaimana tetap saja gelang ibaratkan amanah yang harus dijaga, pemberian dari orang lain. Sebelumnya Anyelir sempat menelepon Janu beberapa menit yang lalu, dan ia bilang tengah berada di restauran pinggir pantai dekat parkiran bis. "Bingai?" Anyelir membaca sebuah palang di pintu masuk yang terbuat dari tempelan batu halus sampai membentuk nama. "Ini bener nggak, sih? kok gelap?" Berkali-kali Anyelir membuka ponsel, mengamati pesan Janu yang mengirimkan nama restoran tempatnya sedang minum kopi. Benar, namanya 'bingai' tapi sepertinya sepi, restoran itu juga gelap seperti tak ada pencahayaan apapun padahal si baja hitam siap menarik tirai kegelapan sebentar lagi. Harusnya lampu sudah mulai dinyalakan. Anyelir mencoba masuk, dengan ragu-ragu juga sedikit takut, gadis itu mengendap-endap melihat seisi restoran yang memang dalam keadaan gelap. Panggilan menuju Janu ia sambungkan, dan rupanya dering ponsel Janu terdengar. Restoran seafood yang bernuansa bambu khas dengan lantai asli tanpa alas bermodalkan pasir pantai. Ada sebuah tangga yang membawa Anyelir ke arah bawah, dari situ dering ponsel Janu semakin terdengar. Susah dipastikan Janu ada di sana, tapi kenapa dia berdiam diri di tempat yang gelap? Anyelir was-was sendiri sembari menuruni anak tangga. Cahaya dari layar ponsel Janu terlihat, tepat berada di atas meja bundar di tengah-tengah ruangan yang tidak terlihat apapun selain gelap. Anyelir sempat menyalakan flash, hanya ia gunakan menyoroti tapak kaki agar tidak salah injak, menghindar dari tersandung tujuannya. Semakin dekat, samar-samar layar ponsel Janu terlihat. Hampir mendekati, mata Anyelir melotot. Tubuhnya membeku hampir saja menjatuhkan ponsel miliknya sendiri yang berada tepat di genggaman tangannya. "Pa—pacar?" Anyelir bergumam pelan membaca nama yang tertera di layar ponsel Janu, 'Pacar' dengan emoticon love merah yang besar. Jujur Anyelir bingung apa maksudnya dari semua ini. Tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan, ia mematung dengan napas seolah kehabisan udara di sekitarnya. Tak lama kemudian, derap langkah dari arah berlawanan terdengar. Begitu teratur juga lembut, aroma bau tubuh mint yang khas juga tercium kuat membuat Anyelir kesulitan menelan salivanya. Ia masih belum mengerti dengan situasi yang sedang dihadapi ini. Lengan kekar yang belum terlihat jelas wujud aslinya menyambar ponsel berbunyi berisikan notif panggilan dari Anyelir yang belum putus sebab Anyelir hanya terdiam. Ingin mengelak beribu-ribu katapun bahwa nomor itu bukan miliknya tetap tidak bisa, sebab dengan jelas urutan nomor ponsel itu memang milik Anyelir. Tetapi bertuliskan 'pacar'. Jari milik Janu menggeser tombol hijau, panggilang terhubung. "Hallo? saya kekasih Bertadine Anyelir, ada perlu apa?" Seketika lampu, satu persatu dari arah Utara yang berjejer sepanjang dinding berwarna jingga menyala. Menimbulkan bias cahaya dengan benda yang tertata rapi di sana. Bahkan di sudut kiri seberang Anyelir, terdapat panggung kecil yang mengalunkan musik klasik. Ada sebuah poster yang dipajang di sana, sekali lagi membuat Anyelir mematung bertuliskan 'I'll make you my girlfriend, Bertadine'. Terlihat jelas sebab ada lampu sorot yang benar-benar menyinari poster berukuran sedang itu. Janu mendekat ke arah Anyelir, dilepasnya ponsel yang ia genggam dengan kaku. Diraihnya tangan Anyelir yang dingin dengan lembut, mata mereka beradu dengan tatapan Janu yang penuh makna. "Kamu sudah menerima saya sebagai pacarmu sejak tadi pagi," ujar Janu diselangi dengan senyum manisnya. "Ma—maksudnya?!" Lelaki itu mendekat, semakin mengikis jarak. Membuat Anyelir memejamkanj mata bersiap menerima perlakuan tak terduga Janu. Tiba-tiba tangan Janu bergerak ke arah tengkuk Anyelir, menyusuri punggung indah yang berbalut dress putih lantas mencabut benda yang selama ini ia cari. Janu mundur kembali, pasalnya saat ini degup jantung Anyelir begitu tak bisa terkontrol. Ia membayangkan hal lebih padahal Janu hanya mencabut label dress yang Anyelir kenakan. Lelaki itu menunjukkan tulisan yang tertera di belakang labelnya, sial Anyelir tidak menyadari itu tadi pagi. Anggapannya hanya sebatas hiasan dari brand yang bersifat persuasif, ternyata itu benar-benar tulisan Janu. "If you wear this dress, we're dating ... Ja—nu," Anyelir membaca tulisan kecil yang terukir miring seperti aksara latin namun tetap indah. Mata Anyelir memanas, tidak bisa ia berucap dengan kata-kata atas surprise bertubi-tubi yang dibuat oleh Janu, semua yang dilakukan di sini rupanya diatur dengan begitu apik dan mengejutkan hati. Belum sempat Anyelir menetralkan detak jantungnya, Janu mengeluarkan kotak beludru yang saat dibuka berisikan gelang berlian mengkilap. Tepat di wajah Anyelir, safir biru yang nampak bercahaya indah tersodor mengiringi ucapan Janu. "Saya tidak mau bertanya kamu mau jadi pacar saya atau tidak. Dengan kamu terlihat cemburu tadi, dengan kamu memakai dress dari saya ... dan dengan pipi kamu yang bersemu merah sekarang... itu adalah tanda bahwa kamu menerima saya sebagai kekasih kamu sekarang." Janu memasangkan gelang baru, menggantikan pemberiannya yang sudah dihilangkan oleh Batari. Bahkan lebih cantik dan indah. "I love you, Bertadine' Anyelir." Kecupan singkat dilayangkan tepat di punggung tangan kiri Anyelir, begitu lembut dan penuh makna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN