Bab 12 - Saya Bukan Sampah

2110 Kata
Balutan gaun merah muda menggelembung seperti payung raksasa menyentuh tanah, kilau pernak-pernik nampak jelas saat kilatan flash kamera membabi-buta lekuk tubuh Anyelir. Rambut cokelatnya menggelung cantik dengan hiasan bunga-bunga kecil serta mutiara. Ada mahkota emas yang bertengger di sana, mempercantik setiap liontin yang ada, saling bergesekan, terdengar nyaring bak lonceng pemujaan. "Tuan Putri." Seorang pria bertopi fedora hitam lengkap dengan kacamata serta tuxedo berwarna serupa membungkuk kepada gadis di dekatnya. Anyelir yang tengah berdiri di ujung tangga, beralaskan karpet merah memanjang hingga gedung istana megah di belakangnya menoleh lantas tersenyum. "Ada apa?" "Sebentar lagi, pangeran akan segera tiba dengan kereta kuda." Disodorkannya sebuket lily putih kepada Anyelir, semerbaknya tercium menyegarkan. "Titipan dari pangeran." Belum sempat bunga Lily itu beralih kepemilikan, ketukan sepatu kuda terdengar berirama. Lonceng tanda kerajaan dibunyikan dengan seksama, seiring dengan munculnya sosok pria mengenakan tuxedo serba putih, rambutnya tersisir rapi. Lantas turun dan menghampiri Anyelir. Bukannya terkejut, justru Anyelir membuka matanya bulat-bulat, alisnya kian berkerut. Ada amarah tertanam di sana. "Pak Janu? sedang apa Anda di sini?!" "Tuan Putri, Pangeran sudah tiba." "Tidak! Dia bukan Pangeran, dia Janu!" "Betul. Pangeran Janu sudah tiba." Pria bertopi fedora tersebut lantas pergi dari samping Anyelir, sorak-sorai serta kilatan cahaya dari kamera semakin bertambah. "Put—" "Kamu bukan Pangeran berkuda yang saya maksud!" Anyelir membentak, berusaha menolak segala keadaan yang sedikit-banyak membuatnya kesal. "Berta Bee ... bangunlah," "TIDAKKKKK!" "Berta Bee ... Berta Bee?" panggil seorang lelaki memakai kaus hitam polos pelan. Tiga kali percobaan membangunkan Anyelir terasa sulit, nampak dari raut wajah yang semula tersenyum kemudian kesal membuat seorang crew tersebut kebingungan. Lantas dengan terpaksa menepuk pelan pundak Anyelir yang tertidur dengan posisi miring. "Berta Bee?" "TIDAK!" Anyelir membuka mata, napasnya terengah-engah dengan keringat mulai muncul. "Anda sud—" "PAK JANU GILA!" potong Anyelir cepat, membuat seorang crew yang tidak ia kenal siapa namanya itu melotot sempurna. "Ke–kenapa?" tanyanya bingung. Dengan wajah khas bangun tidur namun tetap cantik, Anyelir terpaksa mengerjakan tubuhnya untuk duduk. Mata memerah, berkedip berkali-kali. Rambut cokelat yang sudah tak berbentuk lebih mirip dengan singa jantan, benar-benar kusut. Ia menyeka setiap sudut bibir, takut-takut ada tetes-tetes air membentuk pulau berbau tak sedap di bantal masih tersisa di sana. "Untung kamu bangunin saya, soalnya kalo nggak bisa di culik sama Pak Janu di mimpi, ih serem!" "Hah?" rupanya crew tersebut masih bingung dengan apa yang sebenarnya Anyelir utarakan, memang begitulah Anyelir. Dia akan melantur panjang agak sedikit lebar saat bangun tidur mendapati mimpi yang tidak sesuai dengan ekspektasi. "Udah lupain!" Anyelir menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu mau apa ke sini? saya mau tidur lagi, masih malem!" "Ini sudah hampir subuh," "Ya, itu bagi saya masih malem. Jam tujuh pagi aja itu masih malem di otak saya, cuman mataharinya aja terlalu semangat," "Hah? a–anu sa–saya mau mengingatkan bahwa kita akan syuting hari ini," Anyelir menoleh seketika, wajahnya dengan crew tersebut saling berhadapan, ada alis yang berkerut di sana tanda tak nyaman. "Itu doang?" "I—iya, Berta Bee." Mengangguk. "Kalo itu saya juga tahu, nggak usah bangunin saya!" "Tapi Berta Bee sudah di tunggu di luar oleh Pak Janu," "HAH?! SEKARANG?!" Anyelir buru-buru mengambil benda pipih miliknya, berada tepat di atas nakas, di samping tempat tidur. Layar di nyalakan, foto anak-anak Anyelir—kaktus, terpampang nyata di sana. Matanya melotot saat mendapati jam yang tercetak dengan jelas menunjukkan pukul empat pagi. Baru ingat, semalam Janu sudah memperingatkan. Tetapi mimpi itu, Anyelir dibuat bergidik ngeri membayangkan Janu muncul sebagai pangeran di mimpinya. "Iya Berta Bee, kami sebentar lagi akan berangkat menuju lokasi," "Tapi saya belum mandi!" "Nggak usah mandi!" ada suara bariton yang menggema di seisi ruangan, nadanya tegas sarat akan penekanan. Semerbak mint tercium begitu pekat, membuat Anyelir paham. "Dia bangunkan kamu saja butuh hampir dua puluh menit, apalagi menunggu kamu mandi!" "Tap—" baru saja Anyelir siap berprotes, tapi sudah ditolak mentah. "Saya juga nggak mandi. Memang kamu sanggup mandi di jam segini tanpa air hangat?" Benar. Ini bukan Jakarta, atau sedang berada di hotel. Untuk mencari tidur nyenyak malam tadi saja rasanya sangat sulit, sebab udara sejuk khas pegunungan begitu menusuk. Di tambah lagi dengan bunyi serangga-serangga malam yang memekakkan gendang telinga. "Ya—yaudah saya ganti baju dulu, sana pergi!" "Kamu nggak mencuci baju yang kamu pakai sewaktu di stasiun bawah tanah, 'kan?" "Bapak gila?! pasti saya cuci, saya nggak sejorok itu!" Janu berkacak pinggang. Pelipisnya yang berdenyut ia pijat pelan, ada bawah mata yang menghitam di sana. Tanda tidur tak mampu mengistirahatkan tubuh atletisnya. "Bodoh di pelihara!" Ketus, dingin, dan menusuk. Mengatakan tanpa menoleh bahkan langsung beranjak, tentu saja membuat Anyelir marah di pagi buta, tepatnya sangat buta ini. "APA TADI BILANG? BODOH! LEMES BANGET YA ITU MULUT!" Sementara seorang crew tadi justru nampak terlihat kelimpungan, lantas segera pergi menyusul Janu. Takut-takut ada perang dunia yang siap melenyapkannya menjadi korban tanpa di minta. "Saya tunggu di bawah, lima menit!" teriak Janu sebelum seluruh tubuhnya hilang di ambang pintu. ** Anyelir beserta puluhan crew berjalan menyusuri gelapnya hutan. Sangat gelap, sampai ia hanya bisa melihat pijakan dan beberapa pohon di sekitar, banyak lumut yang menyelimuti pohon. Juga ranting-ranting panjang yang hampir menghalangi jalan, sehingga diperlukan golok untuk mempermudah lalu lintas menuju tempat yang dimaksud. Dingin semakin menyelimuti, terlebih pakaian Anyelir hanyalah kaus polos berlapis zipper tipis. Jalannya agak terjal, menanjak sedikit berlumpur sebab hujan turun tadi malam, benar-benar tanah merah. Suara tonggeret masih menghiasi perjalanan, semakin ke dalam semakin kencang, sukses membuat bulu kuduk Anyelir berdiri entah mengapa. Diego yang berada tepat di belakang Anyelir menyadari satu hal, bahwa gadis itu nampak tak nyaman juga kedinginan. Beruntung Diego mengenakan pakaian hangat tambahan sebab ia tahu kondisi hutan akan seperti apa, sementara Anyelir? menginjakkan kaki di tanah lumpur saja baru kali ini. "Berta Bee?" "Ya?" Mereka masih berjalan, hanya berbicara tanpa menoleh atau menghentikan langkah. "Kamu dingin?" "Di belakangku siapa?" Entahlah ini pertanyaan benar atau tidak. Yang jelas ia tak bisa mengelak, wajah tersorot lampu dengan jelas saja masih belum bisa dikenali, apalagi di tengah gelap gulita seperti ini. "Kamu nggak kenal aku lagi?" "Maaf, tapi di sini gelap banget." "Diego." Samar-samar dengan penerangan minim Diego melihat Anyelir mengangguk-angguk mengerti. Lantas niatnya di mulai. "Berhenti dulu." Anyelir, Diego, dan lima orang yang berada di belakangnya berhenti. Dengan cepat Diego melepaskan jaket parasut anti air yang cukup hangat di tubuhnya, lantas diberikan kepada Anyelir. "Biar nggak dingin." "Makasih." Gadis itu menerima dengan senang hati, sebab jujur saja ia memang sangat kedinginan, berkali-kali menggosok-gosok tangannya guna menimbulkan energi panas. Anyelir kembali melanjutkan langkah, rasanya sangat lemas. Bagaimana tidak? baru saja bangun dari tidur sudah berjalan entah berapa kilometer, makan sesuap biskuit saja tidak apalagi harus sarapan. Terlebih Batari tidak ada di sini, sudah puluhan orang membangunkan manusia itu tapi tak kunjung berhasil. Sehingga dengan terpaksa ia berangkat sendiri, lagipula bila dilihat dari script tidak terlalu banyak adegan. Akhirnya semua tiba di sebuah area yang cukup datar, tidak terjal seperti sebelumnya. Banyak pohon-pohon tinggi di sekeliling, namun jelas Anyelir tidak tahu jenisnya apa. Gemercik air terdengar dari sini, salah satu crew mengatakan ada sebuah sungai kecil dengan air yang berwarna agak hitam. Alirannya deras, namun dangkal. Dua tiga menit berlangsung Anyelir masih termangu, sementara para crew sibuk mempersiapkan camera, lighting beserta antek-anteknya. Sekejap ia menyadari, ternyata benar, membuat film action tidak semudah yang dibayangkan. Penuh perjuangan, bahkan menantang maut sebab berada di tengah hutan, mungkin saja bersebalahan dengan hewan buas. Maka dari itu, Anyelir selalu geram khususnya bagi masyarakat yang menyaksikan sebuah karya melalui platform terlarang, benar-benar tidak menghargai kerja keras seseorang. "Kenapa diem aja?" Ada manusia berbau mint mendekati, mudah terdeteksi oleh Anyelir yang sedikit melamun. "Cuman pengen, emangnya nggak boleh?" "Nggak! script kamu mana?" "Lupa." Anyelir memalingkan wajah, malas sekali untuk menanggapi manusia bermulut pedas yang satu ini. "Tidur!" "Hah?" "Tidur! nggak tahu caranya?" "Di mana?" "Di sungai! ya, di sini!" Lengan Janu yang menggenggam gulungan script menunjuk ke arah bawah, tanah becek berlumpur, ditaburi daun-daun gugur yang lembab. "Buat apa?! Gila, ya, Bapak?!" "Suruh siapa cuci bajunya?" "Ya—Bapak pikir aja, masa saya pakek baju bekas keringet se-ember!" "Ya, kamu pikir aja, masa ngambil shoot di tengah hutan bajunya bersih!" nada Janu hampir menyerupai Anyelir tadi, hanya beda kata-kata saja. Mulut Anyelir mengatup. Benar. Ini adalah film action, bukan romance. Rasanya otak yang dia punya perlu sedikit perbaikan supaya tidak lupa dadakan seperti sekarang. "Yaudah, maaf. Saya 'kan nggak tahu!" "Tunggu apa lagi?" Anyelir mundur beberapa langkah lantas mengernyit, membayangkannya saja membuat gadis itu ketakutan. Bagaimana kalo sampai ada cacing yang menempel? belum lagi ada macan lewat yang tiba-tiba pipis? atau ada kotoran monyet di sini? lalu bagaimana nasib zipper kesayangannya nanti? "Jangan bilang kamu nggak mau?!" Jelas, Anyelir mengangguk-angguk pasrah. "Saya nggak suka ditolak!" "Saya juga nggak suka dipaksa! Bapak ini gimana, sih? kenapa mempersulit artis sendiri?! 'kan bisa bajunya pake riasan aja, nggak usah tiduran di bawah terus guling-guling! emangnya saya sampah?!" "Iya!" tukas Janu cepat. "Hah?! benar-benar, ya ...." Anyelir menggigit bawah bibirnya kesal, matanya terpejam beberapa saat seraya menghela napas kasar. Salut dengan ucapan yang baru di dengar barusan. "Terus apa?! mahkota? berlian? emas? asal kamu tahu ... mereka yang berkilau itu berasal dari tanah!" "Emangnya sampah berasal dari tanah?! enggak, 'kan?" Anyelir meninggikan intonasi, semakin bertambah geram. "SAYA CUMAN SURUH KAMU BERGULING DI TANAH BERTADINE ANYELIR! APA SUSAHNYA?!" Janu mebentak Anyelir sangat keras, sukses membuat gadis itu memejamkan mata karena takut. Kedua telinganya ia tutup rapat-rapat dengan tangan yang gemetar, baru kali ini Anyelir dibentak dengan nada setinggi ini, sungguh ia merunduk menahan perisai bening yang siap mencair. Namun tiba-tiba, tubuhnya merasakan dekapan hangat dari arah samping. Ia tidak bisa merasakan wangi tubuh selain semerbak kopi yang khas, tapi cukup menyejukkan. "Nggak usah segitunya, dia perempuan!" "Diego, Anda jangan ikut campur!" Janu masih berada dalam tingkat amarah. Nama itu terdengar, membuat Anyelir membuka mata lantas mendongak sebab tubuh Diego lebih tinggi darinya. Ia dapat melihat wajah khawatir terpampang di sana. Diego melepaskan dekapannya. "Dia lawan main saya, adegan kami bergantung padanya, bisakah, Pak Janu yang terhormat bersikap sedikit saja lembut? kalo tidak saya yang akan membujuknya." "Kerjasama yang bagus!" ketusnya. Lantas Janu beranjak begitu saja. Janu sialan! Anyelir menghela napas lega, meski rasa yang mengganjal masih bersarang di sana. Sungguh perkataan Janu barusan membuatnya takut setengah mati. "Are you oke?" "Aku nggak apa-apa," jawab Anyelir pasrah. "Berta Bee ... ini adalah film action, kotor itu adalah hal yang lumrah. Sutradara Janu menyuruh kamu berguling semata-mata untuk membuat riasan agar terlihat alami, itu demi kualitas kita juga. Penonton akan terbawa suasana jika yang kita kenakan semuanya terlihat natural," "Tapi ak—" "I know it. Kamu mungkin belum terbiasa, dan akan terkesan sedikit menyebalkan. Tapi ... itu akan menyenangkan jika kita melakukanya bersama!" ada nada Jenaka tercipta di sana, membuat Anyelir sedikit menghangat. "Kamu mau berguling-guling juga?" "Tentu saja, mari kita lakukan bersama!" Diego mengulurkan kedua lengannya membuat dahi Anyelir berkerut. Ada isyarat dari mata lelaki itu yang sedikit banyak dimengerti. Anyelir memberikan kedua tangan lantas mereka berpegangan. Mengikis jarak, posisi Diego dan Anyelir hanya berkisar beberapa centimeter saja, bahkan napas lelaki itu dapat terdengar dengan baik. Sampai tiba di mana genggaman tangan Diego beralih menjadi tarikan pinggang. Anyelir terlonjak, tapi justru tubuh mereka berdua semakin sangat dekat. Diego dapat merasakan postur Anyelir yang hampir menyentuh d**a bidangnya, ada yang tegang tapi bukan karena gugup, membuat lelaki itu cepat-cepat menarik napas. "Diego!" "Are you ready?" "Apa yang—" "Let's roll!" Mereka berdua menjatuhkan tubuh di tanah dengan perlahan, lantas berguling-guling. Saling tumpang tindih. Semula Diego di bawah, Anyelir di atas atau sebaliknya. Adegan itu sukses menarik perhatian seluruh orang termasuk Janu, ada tangan yang terkepal bersembunyi di balik celana. Rasa terbakar yang sebetulnya tak mampu ia definisikan, mencuat seperti jerawat yang baru saja muncul, rasanya perih Awalnya Anyelir ketakutan, tapi semakin lama itu terasa menyenangkan, seperti menaiki sebuah wahana meski ia tak pernah melakukannya. "Sudah-sudah, nanti terlalu kotor!" teriak Anyelir sedikit kegirangan. "Berhenti bercanda! kita mulai sekarang!" Suara bariton Janu terdengar kala keduanya tengah tertatih untuk berdiri dengan pakaian kotor, bahkan beberapa daun menempel diantaranya. "Saya bukan sampah! ingat itu baik-baik!" Anyelir menyahuti Janu, sementara lelaki itu hanya membalas dengan tatapan tajam. Janu membaca script sekejap, lantas kini menoleh pada Diego juga Anyelir. "Adegannya berlari, dari ujung sana." Janu menunjuk ke arah selatan, jaraknya agak jauh, ada crew yang berjaga dengan lighting yang tersedia. "Sampai sana." lengan Janu juga bergerak menunjuk ke arah Utara. Adegan dimulai. Prosesnya berlangsung cukup sukses, Anyelir dan Diego berlari-lari sungguhan. Keringat pun kian bercucuran, napas nampak tersengal-sengal. Tapi ada kepuasan sendiri saat Diego menganggap semua adegan ini menjadi sebuah permainan, demi mengalihkan mood Anyelir. Namun di detik terakhir, ada ranting yang tak sengaja Anyelir injak secara kasar, dan ... Bug!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN