Bab 13 - Perkara Park Chanyeol ke Ragunan

2113 Kata
"BERTA BEE!" teriak Diego di samping Janu yang tengah memonitoring take shoot Anyelir. Anyelir terjatuh menyentuh tanah dengan posisi tengkurap, ia terdiam beberapa menit sebab rasa sakit kian menjalar hampir ke seluruh tubuh, hanya saja pada bagian lutut rasanya teramat perih sampai gadis itu kesulitan bangkit. Camera tetap melanjutkan rekaman, tidak ada kata 'cut' dari Janu. Beberapa crew nampak diam tak membantu dengan alasan yang sama. Diego merasa ada yang tidak beres dengan tingkah Janu, seperti tidak ada sedikitpun simpati padahal Anyelir diam dengan posisi yang sama karena sakit. Kala Diego bersiap untuk menolong Anyelir yang nampak mengkhawatirkan, Janu menyentuh pundak lelaki jangkung itu. "Diam!" ucapnya sarat akan penekanan. "Ambil gambar lebih close up, masukan adegan jatuh tadi ke dalam script." Janu berucap tepat di samping kuping Diego pada sebuah Walky-talky yang terhubung langsung kepada seorang DOP (Director of photography). "Apakah Anda masih waras, Pak?!" ada nada protes dengan intonasi tinggi menyulutkan api kebencian dari Diego. "Diam! bantu dia sebagai Dierja. Kasih tahu Berta Bee bahwa adegan masih berlanjut, jangan lihat ke arah kamera dan lakukanlah se-natural mungkin!" Janu mendorong tubuh Diego untuk masuk ke dalam adegan. Diego berjalan dengan tangan yang terkepal kuat, sekejap menoleh ke arah belakang dengan tatapan nyalang. Jika Janu bukanlah seorang sutradara, dan kondisi saat ini bukan sedang dalam situasi syuting dalam artian bekerja, sudah dipastikan tangan Diego melayang sekuat tenaga ke wajah sang sutradara. Sementara jempol Janu teracung ke salah satu crew di ujung utara—dari bagian DOP, ada makna yang tersirat di dalamnya, hanya Janu dan crew tersebut yang tahu. Adegan berlanjut tanpa 'cut' sama sekali, tentu saja membuat beberapa crew heran sekaligus cemas. "Pak, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Aruna Kawindra—astrada Janu—ikut berkomentar dengan apa yang baru saja dilihatnya, Janu sedikit keterlaluan. "Dia hanya jatuh biasa," sahut Janu. Lelaki itu tak sedikitpun mengindahkan pandang dari aktivitas di hadapannya. "Tapi Berta Bee sepertinya merasa kesakitan, Pak." Wajah Aruna mendongak untuk melihat ekspresi Janu yang sangat datar, sungguh tidak ada secercah kekhawatiran seperti yang Aruna dan para crew lain rasakan. Bagaimanapun juga Berta Bee adalah aktris utama, rekan kerja yang menjadi tanggung jawab bersama. Jatuhnya Berta Bee termasuk ke dalam kecelakaan kerja, dan gadis itu berhak mendapatkan pertolongan yang layak. Tapi Janu, justru memanfaatkan kejadian tersebut demi keuntungan film semata. "Itu bagus, semakin terlihat alami." "Tapi Pak di—" Akhirnya Janu menoleh ke arah Aruna, wajahnya yang datar menyorot tatapan tajam menusuk, hingga membuat si asisten sutradara itu menciutkan nyali. "Jangan campuri keputusan saya! paham?!" "I—iya, maaf, Pak." Di dalam adegan, Diego membantu Anyelir untuk bangun dan mendudukkan diri. Orang tidak akan mengira jika Diego tengah berbisik untuk memberi tanda bahwa adegan masih berlanjut dan Berta Bee harus mengikuti alur. Ekspresinya merintih kesakitan, sementara Diego kebingungan dengan cemas yang kian bertambah kentara. Darah bercucuran di sekitar lutut hingga kaki Anyelir, celana olahraga tipis yang ia kenakan sudah robek tak tentu. Ada ranting tajam yang berhasil membuat sayatan, memberikan sensasi nyeri yang luar biasa. Anyelir meratapi luka sembari mengalirkan setitik dua titik air mata. Dasar tidak punya hati! Tak ada pilihan lebih baik yang bisa gadis itu lakukan, selain merutuk dalam hati, tak tahu harus mengumpat seburuk apa atas tindakan seenaknya Janu. Kali pertama ia mendapatkan perlakuan di luar dugaan seperti ini, apakah hal kecil yang menimpa Anyelir merupakan sesuatu yang lumrah dalam pembuatan film action? jika iya, ia tak akan pernah mau menerima tawaran film action lagi. "Saya akan mengobati luka Anda, bertahanlah, Nona Shawnette!" Diego mengelus pelan pucuk kepala Anyelir, mata teduhnya menatap lekat dengan penuh cemas lantas beranjak. "CUT!" Dan akhirnya mereka bernapas lega setelah ikut tegang dengan kejadian tak terduga. Diego kembali terududuk berhadapan dengan Anyelir, dengan penerangan minim karena matahari belum juga muncul, wajah kesakitan Anyelir terlihat dengan jelas. "Apa ini sakit sekali?" Anyelir mengangguk. "Tolong bantu Berta Bee!" lelaki itu sedikit berteriak kepada beberapa crew yang siap menghampiri untuk membantu, ada seorang wanita membawa air dalam botol, sepertinya untuk membasuh luka Anyelir. "TUNGGU DULU!" Suara bariton Janu kembali terdengar, membuat seluruh atensi kini terfokus padanya. Janu mendekat ke arah Anyelir, ditatapnya sebentar gadis itu dari pucuk kepala sampai ke bawah mata, ada rasa ngilu yang tiba-tiba muncul dari lubuk hati paling dalam. Apa kamu baik-baik saja, Anyelir? fokusnya beralih ke luka Anyelir. Pada dasarnya seorang Genta Janu Sadajiwa adalah manusia paling gengsi yang pernah ada, maka tidak heran jika ia hanya berucap dalam hati, memasangkan wajah datar seolah tak pernah peduli. "Jangan diobati." Ucapan gilanya itu sukses membuat semua mata membola, ada debas yang muncul saling bersaut-sautan. "Maaf, Pak. Tapi saya akan mencuci lukanya saja, ditakutkan Berta Bee terkena infeksi." Seorang crew wanita yang membawa botol air tadi menyahuti ucapan Janu. "Tidak usah," "Tap—" "Dierja yang akan membasuh lukanya, ganti botol itu dengan daun talas di sana." Tangannya menunjuk ke arah selatan, tempat sungai kecil itu mengalir. Di bibir sungai biasanya memang terdapat tanaman talas liar, yang mana daunnya mampu berfungsi untuk. menampung air. "Kita mulai lagi adegannya," "Maksud Bapak, mencuci luka Berta Bee masuk ke dalam adegan juga?" Diego protes. "Kamu pikir orang terluka langsung bersih begitu saja? di mana logikanya?!" "Tapi Berta Bee benar-benar terluka, bukan hasil riasan!" "Memang apa bedanya? sama-sama terluka bila dilihat dari kacamata pembuatan film?" "LO PUNYA OTAK NGGAK, SIH? ANJING!" Muak sudah Diego dengan tingkah Janu. Ia bangkit mendekati si sutradara, persetan dengan etika berprofesi yang Janu terapkan untuk bersikap formal dan sopan terhadap sesama rekan kerja. Diego lebih mementingkan simpati daripada sikap untuk tetap saling menghormati. "Kalo saya tidak punya otak, saya mati." "Lebih baik kayak gitu! percuma Lo punya otak tapi nggak punya hati, Janu! DIA CEWEK! DIA TERLUKA! DIA SAKIT! HATI NURANI LO ADA DI MANA, HA?" "Saya tahu, saya tidak buta. Apa salahnya memasukkan aktivitas itu ke dalam adegan? keduanya sama-sama membersihkan luka Berta Bee," "Beda anjing!" Diego yang terkenal dengan artis nakal itu mulai menunjukkan reaksi. Aktor senior itu memang kasar tanpa menutup-nutupi sikap asli, terlebih di luar konteks kerja karena ia bergabung dengan pergaulan bebas anak-anak hedonis ibukota. Bisa dibilang geng motor jalanan yang mengedepankan solidaritas tanpa batas, Diego menyukai hal itu. "Gue nggak tahu caranya bersihin dan obatin luka, itu makanya gue minta para crew bantu Berta Bee. Emangnya kalo dia infeksi Lo mau bertanggungjawab, njing?!" lanjut Diego dengan nada yang masih melambung tinggi. "Jangan berlebihan, Anda juga pasti pernah mengalami hal itu. Apa langsung diobati? tidak, 'kan?" "LO EMANG HEWAN YA, NJING!" Bam! Satu pukulan mentah Diego mendarat di pelipis Janu, hampir mendekati mata. Ada gelenyar ngilu seperti petir di malam hari sampai membuat Janu mengedip-ngedipkan mata guna menetralisir semuanya. Lelaki berambut ikal itu hanya memegangi luka yang siap membengkak, menimbulkan lebam keungu-unguan tanpa berniat membalas perbuatan Diego. "Pak Jan—" Aruna yang berada di dekat sana bersiap menghampiri Janu karena lelaki itu terluka, tapi satu lambaian tangan kanan dari sang sutradara menghentikan niatnya. "Diego ... luka Berta Bee tidak separah yang kamu kira. Apa dia patah tulang? apa dia geger otak? apa dia mengalami henti jantung? lumpuh?" Janu menggeleng seraya mengerjap karena merasa pusing. "Tidak, 'kan? Berta Bee hanya tergores ranting, dan saya membutuhkan shoot itu atas dasar naturalistis," sambungnya pelan. "Jadi, artis Lo harus patah tulang dulu baru bisa menarik simpati manusia hewani kayak Lo, gitu?! dasar b******k!" Diego lagi-lagi tersulut emosi dan hendak melayangkan dua tiga pukulan membabi-buta, namun Anyelir berteriak kencang. "CUKUP!" Ia bangkit dengan tertatih-tatih, mendekat ke arah keduanya yang mulai memanas kian bertambah tegang tanpa ada yang berniat memisahkan. Lagipula crew mana yang berani melakukan hal itu? Aruna Kawindra saja tidak berani, Janu dan Diego bukanlah orang biasa. "Cukup! cukup! emangnya berkelahi bisa menyelesaikan semuanya? apa dengan Diego memukul Pak Janu bisa menyembuhkan luka saya? sayangnya enggak!" Anyelir sempat merunduk, rupanya pilihan dia untuk berdiri semakin menambah sensasi sakit. "Berta Bee, kamu duduk aja. Itu pasti sakit, 'kan?" Diego khawatir mendapati ekspresi Anyelir. "Iya sakit! sangat sakit, makanya cepat selesaikan adegan yang diminta supaya kalian berdua tidak menambah derita saya!" Janu menatap Anyelir dengan datar, meski sorot mata terpancar menunjukkan rasa khawatir luar biasa. "Mari kita lanjutkan, sebelum matahari terbit." Anggukan pernyataan dari Janu membuat Anyelir mendelik tak suka, lantas beranjak ke posisi semula. Dibantu Diego, Anyelir kembali terduduk sembari memegangi lututnya yang semakin bertambah sakit. "Maaf karena tadi tersulut emosi," ucap Diego lembut. "Tak apa, wajar. Kita semua lelah hari ini," Kurva manis dari Anyelir membuat Diego turut melakukan hal serupa, lantas berdiri mencari seseorang. "Aruna!" Orang yang dipanggil mendekat dengan alis yang berkerut. "Ada apa?" "Tolong carikan daun binahong, secepatnya! adegan ini harus realistis, 'kan? saya membutuhkan itu untuk obati Berta Bee." "Daun binahong?" "Daun binahong bisa digunakan sebagai antiseptik, agar Berta Bee tidak infeksi," "Maksud saya, mencari daun binahong di hutan seluas ini dengan keadaan gelap? bagaimana bisa?" "Bukannya kalian semua menginginkan serba natural?! kita mengikuti keinginan kalian para b******n, tapi kalian? untuk sekedar meminta setangkai daun saja menolak! sialan!" Lagi, Diego kembali tersulut emosi. Anyelir sedikit terenyuh sebab Diego begitu memperjuangkan hak yang memang seharusnya didapat Anyelir karena terluka, tapi ia juga terkejut dengan sikap Diego yang rupanya terlihat kasar. "Tapi masalahnya sek—" "Pakai batang daun talas saja." Janu muncul dari arah belakang Aruna, tangannya sebelah masuk ke dalam saku celana. "Saya sudah membawanya." Ada dua tangkai tanaman talas berukuran sedang yang ia bawa, tentunya hanya batang dan daun saja. Teracung tepat di depan wajah Diego. "Jangan gila!" "Flavonoid, Tanin, antiinflamasi ... bekas operasi saja bisa diobati dengan batang daun talas, jika hanya sekedar tergores, kenapa tidak?" Janu menyerahkan dua tangkai tanaman talas tersebut kepada Aruna, lantas tersenyum singkat kemudian pergi. "AYO KEMBALI KEPADA POSISI SEMULA, KITA MULAI!" Teriaknya seraya berjalan menuju tempat monitoring. Adegan Dierja—yang diperankan oleh Diego—dengan telaten membersikan luka Shawnette—yang diperankan oleh Anyelir—setelah tadi berlatih cara mengobati luka dengan benar, itu pun Janu yang ajarkan, lelaki itu nampak terbiasa dengan hal-hal demikian. Di tengah-tengah proses syuting yang mulai khidmat, Janu menoleh ke arah Aruna yang nampak anteng menyaksikan keahlian akting Diego dan Anyelir. "Aruna," bisik Janu. Aruna menoleh. "Ada ap—" matanya membulat karena terkejut dengan pelipis Janu kian membengkak buah tangan Diego. "... Pe—pelipis, Bapak?!" "Saya nggak apa-apa. Bisa kamu tolong saya?" "Iya, Pak. Kenapa?" "Tolong informasikan tim yang akan membawa sarapan ke sini untuk secepatnya datang, jangan lupa bawa kotak P3K dan keperluan Berta Bee. Kasih tahu manager Berta Bee juga untuk membawa pakaian ganti yang hangat, di sini dingin." Bukannya cepat-cepat menuruti permintaan Janu, justru Aruna tersenyum pulas membuat sebelah alis Janu terangkat tidak mengerti. "Kamu ini kenapa?" Jempolnya terangkat. "Saya dukung seratus persen!" Aruna menepuk pundak Janu agak keras. "Semoga langgeng, ya, Pak? kasian Ibu, pengen cepet-cepet momong cucu!" lantas beranjak dengan tingkah jenaka yang semakin membuat Janu bingung setengah mati. "Perasaan yang jatuh Berta Bee bukan Aruna." Kepala Janu menggeleng-geleng heran. ** Tepat pukul 06.00 WITA, para crew yang bertugas membawa sarapan tiba, termasuk Batari. Kotak box yang berisi serta-merta sandwich sederhana lengkap dengan buah-buahan dan s**u sereal dibagikan merata. Semua atas peraturan Janu, tidak ada pembeda antara profesi serta jabatan dalam hal apapun. Janu adalah tipikal orang yang membenci kepala terangkat hanya karena menjadi seorang atasan, meski ia sedikit otoriter bila menyangkut keputusannya yang tak mau dicampuri siapapun. Menghargai derajat sesama manusia adalah salah satu amanat sang ayah yang selalu ia terapkan sampai detik ini. Sementara Batari yang masih terlihat kesulitan bernapas usai berjalan dengan sedikit tergesa-gesa lantas menghamburkan segala keresahan ke arah Anyelir, Janu melihat adegan itu secara diam-diam. "Are you okay? oh, it's hurt?!" pekiknya khawatir, tak lupa kedua tangannya menjelajahi setiap lekuk tubuh Anyelir, mengamati luka yang harus cepat disembuhkan agar bekasnya tidak bersarang terlalu lama. Lain hal dengan si aktris yang sudah lelah menghadapi syuting pertamanya di tengah hutan, memang beruntung mereka tidak ketemu beruang atau macan dahan, tapi kejadian tak terduga justru semakin membuat Anyelir kelimpungan apalagi tanpa sosok Batari. "Ke mana aja lo?! dibangunin nggak bangun-bangun!" "Salahin Park Chanyeol," "Kenapa? kasian anak orang disalahin, mana lagi cari nafkah di Korea." Bibir Anyelir maju beberapa centimeter, dari kejauhan Janu yang diam-diam memperhatikan menyunggingkan senyum. "Lagian Park Chanyeol ngajak bulan madu ke Ragunan, ngidam liat monyet!" "Padahal nggak usah ke Ragunan, ajak ngaca aja. Ada tuh monyet betina di samping gue!" "Diem Lo trenggiling Dubai! sini kakinya, biar Park Tari obatin," "Pa—apa? Park Tari?" Anyelir tergelak sampai-sampai gigi gerahamnya terlihat semua, Batari malah mengulum lidahnya agak malu. "Marga suami itu, Bu. Park Chanyeol udah ijab qabul tadi malem soalnya," "Heh!" Lagi Anyelir tergelak seolah sensasi sakit yang sejak tadi mendominasi hilang oleh guyonan receh Batari, perkara mimpi menikah dengan Park Chanyeol dan bulan madu di Ragunan lihat monyet, Batari memang mood booster bagi Anyelir. "Makasih, ya. Park Tari!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN