Bab 14 - Maafkan Saya, Anyelir

2265 Kata
Bau khas kayu ulin mulai menusuk penciuman Anyelir. Akhirnya usai berjibaku selama hampir empat jam di tengah jenggala yang anggara, daksa yang sudah rapuh seperti serpihan kertas menembus air mulai direbahkan di tempat yang semestinya. Ada sudut bibir yang terangkat membuat gadis lain ikut tersenyum. Sensasi itu masih ada menggerogoti setiap rasa dalam satu jiwa. Namun tak apa, perjuangan Anyelir baru saja dimulai, menginjakkan kaki saja belum tuntas apalagi melewati garis finish. "Lo mandi, ya? gue harus ke desa nyari obat pereda nyeri." Batari membantu mendudukkan Anyelir di tempat tidurnya. "Kenapa nggak nyuruh crew lain? kenapa lo yang pergi buat nyari obatnya?" "Crew-crew juga pasti capek lah, apalagi mereka dan Janu semalam nggak tidur. Terus subuhnya langsung berangkat, mereka manusia bukan, ya?" Mata Anyelir membola, alisnya berkerut menatap Batari demi mencari secercah ekspektasi. Tapi tak ada, sorot mata Batari tidak menyiratkan kebohongan demi membuat Anyelir tidak manja saat ditinggalkan olehnya. Semua terlihat sesuai fakta, seolah gadis itu benar-benar memperhatikan Janu yang tidak tidur semalaman. Benarkah itu? kasian sekali Janu. "Kenapa Pak Janu nggak tidur?" "Hah?" Batari memegangi dahi Anyelir dengan punggung tangannya, seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya demam karena kebanyakan bicara melantur. "Gue nggak salah denger, 'kan?" "Maksudnya?" "Lo nanyain Pak Janu, tumben banget." "Ya, nanya aja. Dia 'kan sutradara kita," "Gue juga tahu dari Aruna, pantesan mood-nya nggak jelas. Orang kurang tidur emang suka kayak gitu, sih." Gadis itu berusaha membenarkan sikap Janu dengan alasan kurang tidur, tangannya tak berhenti bergerak membereskan serta-merta kebutuhan Anyelir. Sementara si artis hanya membeo kebingungan, antara kasiahan dan marah pada Janu masih saling berkesinambungan. "Oke, baju dan peralatan mandinya udah gue siapin tuh." Mata Batari mengarah pada beberapa helai pakaian serta seperangkat alat mandi di sudut kasur Anyelir. "Gue juga sekalian mau cari mobile WiFi, soalnya di sini susah sinyal. Ada beberapa kerjaan yang harus gue selesaikan," "Terus ... nanti gue syuting gimana? Lo mau ninggalin gue lagi? sekali Lo nggak ikut aja gue udah jatuh, terus nanti apa lagi? ketiban kelapa? tenggelem? ketemu beru—" "Hus!" Batari menutup mulut Anyelir yang kehilangan rem jika bicara soal keluh-mengeluh. "Ucapan adalah kenyataan, Lo nggak boleh ngomong yang aneh-aneh! lagian syutingnya dilanjut besok pagi, jadi lo istirahat aja, ya!" Anyelir menyibakkan tangan Batari yang dengan seenak jidat menyumpal mulutnya, ada bau tak sedap entah bekas apa pori-pori milik Batari itu. "Tangan Lo bau iler!" "Masa, sih?" Refleks Batari mengendus-endus tangannya sendiri, memang sih tercium bau yang asing di olfaktori-nya, tapi bukan iler seperti yang dimaksud Anyelir. "Enggak, kok!" "Lagian yang bener itu ucapan adalah doa, bukan ucapan adalah kenyataan!" "Terserah gue dong, mulut-mulut gue! Udah ya, Park Tari berangkat dulu." Tangannya gemulai menarik selempang kotak putih berisi perlengkapan pribadi, menggantung dengan anteng di ujung pundak gadis itu lantas berbalik menuju pintu masuk, bersiap pergi sesuai yang dikatakan barusan. "Bang Bane gimana? masa yang nyata tergantikan dengan halusinasi?" Anyelir agak berteriak sebab Batari terus berjalan meninggalkan ruangan tanpa menoleh. "Bang Chanyeol juga nyata!" Tak menyangka Batari berteriak tepat setelah keluar dari ruangan Anyelir, membuat gadis itu menggeleng-gelengkan heran. "Mama Batari kalo ngidam gimana, ya? jangan-jangan pas ngidam pengen mandi pake air bekas ketiak Chanyeol lagi? pengen makan bekas Chanyeol, kayaknya dikasih tulang ikan pun sanggup asalkan bekas Chanyeol!" Fantasi sedikit kurang masuk di akal Anyelir selalu muncul tiba-tiba, bagaimana bisa gadis itu nampak bahagia hanya karena membayangkan Batari mandi bekas ketiak Park Chanyeol? belum lagi menjilat-jilat tulang ikan bekas makan Park Chanyeol. Hei, ayolah Anyelir terbahak sendirian seraya menjejakkan kaki sempoyongan menuju tempat mandi. Nasib baik tidak ada crew yang berkeliaran ke sana ke mari, lagipula fajar baru saja bersua. Sedikit demi sedikit mengusir bayangan kabut yang berselimut semalam suntuk membuat hawa dingin kian menyeruak setiap menitnya. Anyelir menenteng ember hitam kecil untuk kemudian diisikan dengan air. Langkah pertama seperti yang diperintahkan Batari adalah membersihkan luka. Itu tidak mungkin dilakukan di dalam kamar mandi, sebab ukuran hanya berkisar 80x80 saja, penerangannya minim. Belum lagi tidak ada toilet duduk untuk setidaknya memudahkan Anyelir menggapai bagian lutut dengan posisi mendudukkan b****g rapi. Gemercik air mulai terdengar, matanya menangkap gundakan batu besar diujung deretan benteng mandi lelaki. Untung sepi. Ia mulai masuk ke dalam sumber air untuk mengisi ember, Anyelir sungguh kelimpungan. Sensasi nyeri yang belum hilang, sebelah tangan kiri menggandeng tote bag berukuran sedang berisikan segala pretelan Anyelir, sebelah tangan kanan bersiap membawa ember, berat. "Ini gimana bawanya?! berat banget!" entah Anyelir yang bodoh, atau aliran dari sumber mata air terlalu deras sampai ember kecilnya berisi penuh, mau dibuang sayang. Mau dibawa, apa daya tenaga tak ada. "Asem nih Batari, giliran yang berat-berat hilang! giliran lagi seneng disayang, dasar kecoa Zimbabwe!" Boleh sebut Anyelir mirip orang gila sekarang. Sudah rambut dan pakaian berantakan, ngomong sendirian, sama air yang tak berdosa pula. Kasian, mana belum nikah kelamaan menyepi. Entah percobaan ke berapa usaha mengangkat se-ember air kecil, catat ya, beratnya paling kurang dari dua kilo. Tapi memang Anyelir lemas, belum lagi menahan berbagai jenis rasa sakit yang meremuk tubuh serta rohaninya. Gagal angkat ember lagi. "Ah BATARI ASEM! Berat!" "Biar saya bantu." Ada suara makhluk jadi-jadian terdengar berdengung di kuping Anyelir, eh, tidak mungkin juga di pagi bolong begini muncul sahabat pocong beserta rekan-rekan kuntilanaknya. Anyelir menoleh. Iris hazel terang dengan rambut cokelat agak kemerahan sedikit basah itu mengunci pandangan Anyelir, bumi seperti berotasi slow motion sangking sedapnya memandang wajah tampan lelaki titisan surga ini. "Berta Bee?" Berkedip. Anyelir membulatkan mata lantas mengangkat kedua alisnya entah kenapa. "I—iya? apa?" Muncul debas dari arah lelaki itu, lantas menggelengkan kepala seraya menapakkan kaki mengikis jarak dengan Anyelir. Lagi, pandangan mereka beradu, semakin dekat, semakin terlihat, semakin memikat. Bau mint! Anyelir langsung mundur beberapa langkah kiranya ia gentar entah apa sebabnya, ada jantung yang dipompa berkali lipat lebih cepat. Belum lagi aliran darah yang terasa berdesir menghangat ke setiap sudut urat saraf, ini lagi ... kupu-kupu bergelitik manja di dalam perut seperti ada pesta pora. "Ma—mau apa?!" Janu masih belum bersuara, tetap fokus mengunci pandang Anyelir. Semakin terus mendekatkan wajah di antara keduanya, bibir mereka berdua hanya berkisar jarak beberapa centimeter saja. Fantasi Anyelir mulai bergerak liar membayangkan lumatan manis dari merahnya milik Janu. Janu terus mendekat. Dada bidangnya terasa hampir menyentuh. Kepalanya berada tepat di atas Anyelir, Janu tinggi. Bibir mereka berdua saling bertegur sapa, belum kontak fisik secara nyata. Detak jantuk Janu terdengar. Sangat-sangat dekat. Anyelir memejamkan mata. Dan ... "Ambil ember." Tangan kekar lelaki itu mengambil ember yang berada tepat di belakang Anyelir, wajahnya masih datar dengan alis yang terangkat sebelah. "Kenapa?" "Hah?" Mata Anyelir terbuka. Janu sialan! bikin anak orang hampir serangan jantung! "Ehm! ini kelilipan!" "Emangnya di sini panas, ya?" "Iya, soalnya ada Pak Janu di sini. Siapapun Deket mulut cabe Bapak pasti kepanasan!" gerutu Anyelir tiba-tiba menyambar seperti halilintar. "Oh pantesan, soalnya pipi kamu merah." Benar-benar tanpa ekspresi dan tanpa berdosa lelaki itu berucap seraya melenggang. Mampus! kenapa, sih ini? pipi mahal malu-maluin aja! Si gadis berambut tergelung yang masih berusaha menetralkan maksud dari tindakan barusan hanya mengekor langkah Janu, baru saja keluar dari bilik tempat mandi lelaki mencari sumber mata air. Janu berhenti, menoleh sekejap ke arah Anyelir. "Ini buat apa?" "Makanya sebelum bantu orang tanya dulu baik-baik! mulutnya kali-kali dipake dengan lembut dan perhatian, bukan kayak meteor jatuh. Untung hati saya kayak atmosfer, sebelum bener-bener jatuh udah bakar semua omongan pedes, Bapak!" "Kok jadi marah sama saya?" Benar juga. Kenapa Anyelir justru yang menghujani Janu dengan ribuan huruf pedasnya, Anyelir pun bingung. Yang terpenting sekarang jiwanya lebih waras sehingga mampu memikirkan kata-kata demikian, beda dengan beberapa jam lalu saat ia terjatuh, untuk sekadar bertanya saja lemasnya minta ampun. "Ya—yaudah! simpan aja di batu itu, saya mau bersihin luka." Si pemilik iris hazel itu mengangguk tanpa berucap, lantas kembali berjalan menuju tempat yang dimaksud Anyelir. "Makasih." Lantas gadis itu terduduk, membuka tote bag yang sudah disediakan rapi oleh Batari. Kemudian termangu. "Kenapa diam?" Anyelir mendongak. "Cara bersihinnya gimana?" "Di dalam situ apa ada kasa? alkohol? obat merah?" Nampak bingung, gadis itu perlahan mengeluarkan satu-satu pretelan yang Batari siapkan. Mulai dari sabun mandi, shampo, conditioner, pasta dan sikat gigi, mouth wash, sabun cuci muka, body mist, body lotion, hingga membuat Janu melongo tak percaya, itu hanya sebagian peralatan mandi Anyelir, belum lagi bodycare lain dan skincare yang berada di kamarnya. "I—itu buat obatin luka kamu?!" "Ini buat mandi!" "HAH?!" Terkejut Janu bukan main. Pasalnya ia hanya memakai pasta dan sikat gigi, sabun dan shampo. Itu pun terkadang shampo menjadi multitalenta beralih fungsi sebagai sabun. "Emangnya Bapak mandi pake apa? air doang? kayak ular aja!" "Ya, saya pake sabun. Udah-udah sekarang biar bersihin dulu lukanya." Tengkuknya digaruk meski tak gatal. "Tapi nggak ada alat-alat yang tadi Bapak sebut," "Cuman itu aja?" Gadis itu mengangguk. "Kamu mandi dulu, perban yang ini jangan dilepas. Nanti setelah mandi dibersihin," "Pak Janu mau bantu bersihin?" "Say—" "Dasar nggak bertanggungjawab!" Mata Janu melongo, bikin satu kalimat saja belum rampung, sudah menyimpulkan tidak bertanggungjawab, Janu hanya bisa menggeleng tak percaya. "Iya, saya bantu kamu! puas?" "Awas kalo kabur! saya sumpahin nikah sama singa!" "Iya-iya," Meskipun lelaki itu nampak melongos, tapi tak apa. Setidaknya di menit ini Anyelir merasa senang telah berhasil mengalahkan perdebatan dengan Janu, meski sebetulnya ini bukan berdebat, tapi Janu mampu dibuat tunduk di depan Anyelir. Jelas begitu, walaupun pada awalnya Janu seolah tak acuh seakan hal yang menimpa Anyelir adalah biasa. Tetap saja, jauh di lubuk hati yang paling dalam ia khawatir, hanya saja gengsi untuk mengutarakan rasa cemas yang melanglang buana batinnya. ** "Aw ... aw! awas ya, pelan-pelan!" cicit Anyelir. Janu yang terduduk di lantai sementara Anyelir di atas ranjang dengan lutut menjuntai ke bawah kini mendongak."Saya belum mulai." "Tetep aja kerasa hawanya," "Hawa apa?" "Semacam hasrat ingin membunuh saya. Bisa aja, "kan itu? dari awal kita nggak pernah bersahabat dengan baik. Bisa aja Bapak tiba-tiba bunuh saya, cekik saya, atau naburin racun di lutut saya!" Mata Janu memutar jengah, memang benar yang dikatakan Anyelir. Padahal mereka berdua adalah rekan kerja, tapi tak pernah mau berdamai dengan baik. Bertegur sapa saja tidak, bila berdialog pasti bertengkar, bagaimana jadinya jika mereka menikah? bukan hanya Krakatau yang sudah punya anak, gunung Merapi juga sepertinya bisa punya anak dari pertengkarannya antara Janu dan Anyelir. "Bodoh dipelihara! itu terlalu lama." Janu tiba-tiba memegang leher Anyelir dengan sebelah tangan, posisinya seperti orang yang mau mencekik tapi tidak ditekan betulan. "Mencekik kamu butuh waktu belasan menit buat kamu kesulitan bernapas, henti jantung dan mati." Sorot tajam itu memaku ke arah Anyelir, meski yang ditatap gemetar karena takut. Sungguh Janu saat ini seperti psikopat berarah dingin yang Anyelir tonton di film-film berlogo 'N', kejam dan tanpa ampun. Lalu posisi mencekik itu berubah, hanya memegang bagian agak samping leher kanan Anyelir dengan kedua jari. "Saya bawa pisau, tinggal tusuk ke arah ini. Ada arteri karotis di sini, kalo putus aliran darah ke otak berhenti. Kamu mati," ucap Jani dingin, sangat menusuk, membuat Anyelir mengerjap ketakutan. "PAK JANU PERGI AJA! BIAR SAYA BERSIHIN SENDIRI!" teriak Anyelir refleks karena takut. Seketika Janu tergelak membuat Anyelir semakin bertambah takut. "Saya bercanda," ucapannya enteng disela-sela tawa. "Nggak lucu tahu!" "Buat saya lucu. 'Kan saya memang menghibur diri sendiri, bukan menghibur kamu. Pede banget," sialan! dasar mulut cabe! Akhirnya Janu menuntaskan membuka perban luka Anyelir tanpa membuat gadis itu kesakitan. Anyelir justru terpukau heran, apa guyonan receh yang hampir membuat jantung Anyelir nyaris putus itu membantu membuat gadis itu fokus sampai tak sadar lututnya tinggal mengganti kassa? sungguh Janu tak terduga. Sementara si sutradara memandangi dalam luka di lutut Anyelir, ia tak menyangka jika goresan ranting itu cukup dalam menancap sampai sepertinya daging Anyelir terlihat. Terlalu masa bodo untuk sekedar mementingkan sebuah adgean dalam film, Anyelir benar, Janu egois. Maafkan saya, Anyelir. Namun sayang, kata maaf itu tak mampu terlontarkan secara langsung. Hanya tertahan didalam batin sebab ego dan gengsi senantiasa memenuhi seluruh raga dan jiwa Janu. "Get well soon, Berta Bee!" Tiba-tiba suara bariton membuyarkan lamunan Janu, kedua pasang mata itu menoleh ke sumber suara. Diego datang membawa kotak merah yang sepertinya berisi kue. Benar, chocolate cake tersodorkan ke arah Anyelir. Di dalamnya juga terdapat sticky note bertuliskan 'lekas sembuh rekan kerja' kemudian di beri tanda love di dekatnya. "Alay," gumam Janu sangat pelan, sampai keduanya tak bisa mendengar. "Asisten gue baru tib—" Diego menutup mulutnya terkejut dengan barusan yang diucap. "Gue? eh—boleh gue ...." Anyelir paham. "Iya, santai aja kali." Mereka berdua akhirnya tertawa, sementara Janu bangkit dengan wajah datar. "Oke ... asisten gue baru tiba dari Jakarta. Makanya gue suruh cari kue di bandara, khusus buat rekan kerja cantik." Mendengar hal itu Janu menyunggingkan senyum miring, wajahnya terlihat tak suka entah kenapa begitu. Ada hawa panas menyerang sekitar tubuh, tangannya juga terkepal entah sejak kapan. "Pak Janu kenapa?" tanya Anyelir heran. "Oh, rupanya ada Anda di sini. Maaf saya nggak lihat, bisa Anda pergi? tidak usah mengganggu kebersamaan kami?" Lelaki yang merasa tersindir mendelik tak suka, seolah ada api-api yang membakar diantara keduanya padahal entah apa yang dipermasalahkan. "Tentu, buat apa juga saya di sini menyaksikan adegan murahan kayak gini!" Tentu saja ucapan pedas berwajah datar seraya melenggang pergi itu sukses membuat Diego hampir melemparkan bogeman mentah jika Anyelir tidak cepat-cepat menahannya. Meski Anyelir juga kesal dengan tingkah lelaki itu seperti kesurupan, tiba-tiba baik, tiba-tiba marah dan sangat aneh luar biasa. Tapi setidaknya Janu sudah membantu Anyelir dengan caranya sendiri. "Pak Janu!" panggilnya agak berteriak. Dengan begitu Janu mengentikan langkah, lantas menoleh seraya mengangkat alis. "Makasih." Senyum pulas Anyelir tercetus dengan ucapannya yang tulus. Tentu membuat Janu ikut tersenyum juga, baru pertama ia melakukan senyuman semanis ini di depan Anyelir. Sama-sama, Anyelir. Lagi, hanya terucap dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN