Bab 15 - Pelukan

2181 Kata
Fajar mulai mengintip menunjukkan sebagian sinar di ufuk timur, meski begitu, kabut masih senantiasa nyaman menyelimuti area penginapan khusus film "Back And kill It". Tak ada frasa yang mampu menimbulkan makna menjelaskan keadaan dalam hati yang menggelora. Hanya kicauan betet ekor panjang saling bertaut terdengar nyaring nampak baru kawin tengah b******u di atas pohon kenari genjah, ada embun yang mengalir dari setiap dahan, menggelayut menuju tangkai. Terkadang bulir yang menggelembung jatuh menuju daun, tertahan di sana atau justru semakin terjun mengudara bebas ke tanah. Seperti hidup rupanya, berada diantara dua pilihan. Mengalir dan tertahan di satu sisi hanya karena dendam dan kenangan buruk masa lalu, atau terjun bebas menikmati apa yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Takdir mungkin tak bisa ditebak, entah saat terjun nanti menimpa daun kering, lumpur yang basah, serpihan ranting, tumpukan batu, atau kotoran hewan. Tinggal pilih, mau terjun dengan selamat, atau selamat tanpa terjun. Dunia memang penuh komedi. Bau perdu tercium begitu menyeruak di hidung seorang gadis, ada kepulan asap tipis dari secangkir kopi di pagi hari. Ia menyesapnya dengan lembut, menikmati sensasi pahit khas kafein penyegar tubuh. Semalam tidur lebih awal. di luar dari kebiasannya, maka tak heran di waktu yang asing bagi Anyelir ini, ia sudah bangun. Terlebih cuaca dingin sepertinya pas untuk menghangatkan tubuh dengan secangkir luwak. Arah pandang mengedar, masih sama, hanya deretan rumah khas Kalimantan yang diselimuti pohon besar. Terlalu banyak, Anyelir tidak hafal jenis-jenisnya. Tiba-tiba bunyi kendaraan terdengar, membuat alisnya berkerut tanda heran. Di pagi buta ini suara seperti bis mini semakin mendekat, ada apa? Gadis itu bangkit dari tempat duduk, kedua iris cantik tak salah menangkap. Kendaraan putih berhenti tepat di depannya, empat lima orang turun secara beraturan dengan atensi yang langsung teralih pada Anyelir, mulut si rambut cokelat itu terbuka setengah. Surai kuning dan merah? siapa lagi kalo bukan si kembar Abra Cadabra. Wajah Anyelir tiba-tiba saja sumringah. "ABRA CADABRA!" pekiknya. Lantas dua orang yang dimaksud berlari menghamburkan diri, berpelukan. Orang akan memandang klise, bagaimana tidak? satu tubuh ringkih kurus seorang gadis dipeluk manja oleh dua orang bertubuh kekar dan berotot, mana sambil melompat-lompat seperti bocah SD baru bubar sekolah, ah lucu sekali. "Kok baru sekarang ke sininya? ke mana aja? gue kira kalian nggak terlibat dalam kontrak ini? gimana perjalanannya? jauh? capek nggak?" Anyelir langsung memborong pertanyaan kepada mereka berdua, siapa yang tidak terkejut dihujani hal demikian. Baru saja tiba setelah melalui perjalanan hidup dan mati sangking jauh juga melelahkan, bukannya di suruh duduk manis terlebih dahulu, atau sekadar meluruskan punggung. Ini bertolak belakang dengan ekspetasi. "Bisa kasih napas dulu nggak kalo nanya?!" Abra itu, memang temperamennya gemar memprotes dengan nada tinggi. Tapi bukan berarti marah. "Oh iyah ... duduk dulu duduk!" Anyelir hendak membawa keduanya menuju kursi, ia beranjak duluan. Membuat kedua manusia kembar itu mengerutkan dahi cemas. "Eh tunggu! Kaki Bee Bee kenapa? Itu ... Anu ... Jalannya kok begitu!" Cadabra menyadari, lagipula siapa yang tidak penasaran dengan langkah kaki si aktris cantik yang terlihat pincang juga kesusahan. Malas sebetulnya untuk menjelaskan detail yang tidak perlu, tapi Anyelir bisa mati kelelahan karena diteror ribuan tanya oleh kedua makhluk absurd bernama Abra Cadabra ini. Akhirnya ia memutuskan untuk menoleh, celana tidur kotak-kotak yang agak longgar disibaknya, diperlihatkan luka yang berbalut perban kasa habis diobati. "Aww!" Jerit Abra. Membuat Anyelir refleks membetulkan celana. "Heh curut! Ekeu kaget!" Kembarannya memukul keras pundak Abra. "Itu lagian ... Kenapa, Bee Bee? I'am so sad ... Hmmm." Wajah garangnya berubah, memasang puppy eyes yang menurut Anyelir jijik hingga bergidik ngeri. "Gue jatuh kemarin, ini udah diobatin sama Pak Janu kok tadi malem." Dengan santai gadis itu mendudukkan b****g, tanpa tahu yang barusan diucap terdengar tabu ditelinga keduanya. Seorang sutradara Janu Jiwa, si pemarah, perfeksionis nan gengsi tiada tara mengobati luka? Iya sih, Anyelir bukan orang biasa. Tapi ... Waktu anggota dewan jatuh di hadapannya saja, jangankan mengobati, sekadar menolong membantunya berdiri saja tidak. "Padahal belum sebulan, ya, di sini? Tapi kok Bee Bee udah depresi aja ... Ekeu jadi ikutan sedih." Cadabra menggeleng tak percaya. "Depresi? Apaan, sih, Ab? Lo tuh yang depresi, mana pernah pakek di luarnya BH lagi!" "Lagian nggak mungkin, Pak Janu bantu bersihin. Serem juga Bee Bee jadi halusinasi," "Ih, gue serius! kema—" Anyelir sedikit mendongak, pandangnya mengarah pada pintu takut-takut orang yang diceritakan muncul tiba-tiba. "Kemarin tuh emang beneran dia, gue masih waras kali! Kalo nggak percaya tanya aja Diego, dia jadi saksi tuh!" "DEMI APA?!" keduanya serempak terkejut, bahkan posisinya sudah duduk di dekat Anyelir. Wajah mereka berada di kiri kanan, mengikis jarak sampai jantung Anyelir hampir copot. "Gila ini rekor!" "Masuk museum muri!" "Dapet penghargaan!" "Pak Janu kesambet petir!" Kalimat pamungkas Abra setelah saling bersahut-sahutan membuat semuanya tertawa. Mereka berdua semakin keasyikan berbincang, sementara tiga orang lainnya nampak sibuk mengangkut barang menuju rumah yang berada tepat di samping Anyelir, ada beberapa crew yang sudah bangun, tidak seperti tadi, sepi. "Gimana, Bee? udah tahu caranya gelantungan kayak monyet?" Cadabra yang membuka obrolan lebih santai, tidak berbasis simulasi jantung copot kayak tadi. "Hah? monyet?!" "Lagian iwww ... ini tempat syuting udah kayak hutan penangkaran! sana sini ada owa, sana sini pohon, untung belum ketemu singong!" "Si—singong?" alis Anyelir bertaut bingung. "Heh p****t gorila! di kalimantan mana ada singa ... singa itu adanya di Afrika! di padang pasir!" kembarannya menyahuti, sudah pasti perang dunia akan segera tiba. "Udah-udah! Kenapa jadi bahas singa, sih? lagian yang di padang pasir itu unta! sekarang Jawab pertanyaan aku dulu!" "YANG MANA, BEE?" Kompak, keduanya bertanya bersamaan lagi. "Kenapa baru Dateng sekarang?" "Ngurusin kostum Bee Bee, dong!" Wajah Anyelir langsung menoleh ke arah Cadabra. "Kostum?" "Iya, kostum dadakan permintaan Pak Janu. Nanti sore pas syuting langsung pakek, terus ekeu juga bakalan ngurusin seluruh kebutuhan Bee Bee. Pokoknya, kita udah ngurusin lengkap tuh sampe satu minibus penuh!" "Tapi ... kenapa permintaannya dadakan?" Alis Anyelir berkerut. "Entah. Baru dapet pencerahan kali," "Yaudah. Makasih, ya ... dan selamat menjadi monyet!" Anyelir berucap sukses menghangatkan keadaan dingin di pagi hari ini, berkat kedatangan Abra dan Cadabra. ** Sore hari nampak cerah, cuaca mendukung untuk syuting di bibir sungai kecil yang dangkal. Anyelir beserta para crew sudah bersiap di hamparan batu halus, ia takjub sekaligus heran dengan kostum yang dikenakan. Hanya samping yang di buat celana, lalu baju pendek katanya terbuat dari sutra polos berwarna putih kusam, baju yang dipinjamkan oleh Dierja ceritanya. Sementara, Diego dari awal memakai celana yang serupa dengan Anyelir, tak memakai baju tapi tetap saja sepertinya lelaki itu tidak merasa kedinginan. Ada ikat kepala yang melingkar, gaya bicara Diego juga benar-benar terlatih seperti orang zaman dulu. Anyelir mendekat ke bibir sungai, Diego tersenyum dan menyentuh pundaknya untuk menyemangati. Adegannya tidak sulit, hanya mencari ikan dan memakan buah limpasu yang berada di sebrang sungai. "Itu buahnya melimpah banget, siapa yang tanam?!" Anyelir terpukau, sebab buah limpasu nampak memenuhi kaki pohon yang menjulang tinggi itu. Hampir semuanya sudah menguning matang. "Emang siapa yang tanam pohon di hutan?" Diego terkekeh. "Ma—maksudnya? Itu tumbuh liar?!" "Hmm." Lelaki itu mengangguk. "Tuhan yang tanam, tinggal manusianya yang harus pelihara. Bukan malah dibakar secara sengaja demi keuntungan semata, manusia itu menjijikan, ya?" "Berarti kita?" "Menjijikkan. Maka daging ayam tanpa nanya ke ayamnya siap mati atau belum? Kasian, 'kan?" "Hah?" Anyelir tergelak dengan guyonan receh dari Diego Lelaki itu memang pandai menghangatkan suasana, seperti tadi malam contohnya. Usai gemetaran oleh tingkah Janu yang menjelaskan cara cepat bunuh manusia, kedatangan Diego selain membawa kue juga bercerita panjang lebar turut memberi rasa nyaman. Tentangnya yang menyukai hewan-hewan langka, segala kekayaan alam, atau balapan liar. Bisa-bisanya dengan enteng dia mengakui kenakalannya sendiri. "Semuanya siap!" Suara bariton yang agak menjengkelkan membuat keduanya saling beradu pandang tanda pasrah. "Berta Bee, ingat. Cari buah yang warna kuning, artinya sudah matang! Dan Diego ... Di sini kayaknya nggak ada ikan, saya lagi suruh crew buat cari di hulu sungai. Nanti kita ambil take di akhir kalo ikannya sudah dapat," Diego dan Anyelir hanya mengangguk saja, memang keduanya masih sama-sama malas. Diego yang kesal karena ulah Janu malam itu seperti tidak manusiawi, Anyelir yang memang belum berdamai dengan laki-laki itu. "SIAP?! KAMERA ... ROLLING ... ACTION!" Tak! Clapper board berbunyi. Anyelir mulai berjalan menyebrangi sungai kecil itu, ada Janu dan seorang cameraman mendekat guna mengambil gambar close up ekspresi dan detail bentuk buah lampesu. Sementara Diego mencari ikan di arah belakang Anyelir, jaraknya agak jauh. Anjir, dingin banget airnya! Alisnya berkerut dengan mata yang sedikit terbuka, sontak Janu menghela napas berat. "CUT!" teriaknya. "Aruna, kita ambil gambar close up dari masing-masing dulu. Tolong atur Diego!" "Baik, Pak." Aruna mengacungkan jempol mantap. Kini Janu terfokus lagi pada Anyelir, wajahnya datar sarat akan kekesalan. "Kenapa wajah kamu kayak gitu?" Anyelir menoleh menghela napas berat, belum apa-apa sudah salah. "Dingin," "Lebih dingin mana sama kutub Utara?!" "Lebih dingin sikap, Bapak." Anyelir menutup mulutnya refleks. "Saya nggak bercanda, ya. Tolong serius! Saya nggak suka kamu yang suka bercanda murahan sama Diego tadi!" Entah apa maksud dari perkataan Janu barusan, yang jelas terdengar klise. Memangnya ada yang salah bercanda dengan Diego? Lagipula syutingnya belum di mulai, toh, para crew juga tidak mempermasalahkan hal itu. "Kenapa Bapak jadi ngurusin hidup saya?! Mau saya bercanda sama monyet, gajah, orangutan, sama kecoa pun ... Bukan urusan, Bapak!" Benar. Itu bukan urusan Janu, tapi entah mengapa ada gelagat kurang suka semacam tidak enak dipandang saat Diego bercanda dengan Anyelir, entah orang lain merasakan atau hanya dirinya sendiri. Janu sendiri bingung dengan situasi ini. "Pantesan aneh, bercandanya sama monyet ternyata." Ada semburat tawa yang hampir tertahan. "Ya, itu perumpamaan! Saya nggak beneran becanda sama monyet!" "Emang saya ngomong kalo kamu beneran becanda sama monyet?" "Udah! Mulai aja!" Mulut Anyelir maju beberapa centimeter, percuma debat sama Janu. Selain tidak mau kalah, lelaki itu juga selalu mendistorsi segala hal. Hingga akhirnya Anyelir lagi yang kalah dalam berdebat. Perlu diakui, Janu memang pintar dalam hal apapun, otaknya seperti wikipedia, serba tahu serba ada. "Yasudah." Janu menopang dagu. "Siap, ya?" "Iya," gumamnya lemas. Janu mundur beberapa langkah, matanya fokus ke arah gimbal yang tengah digenggam seorang cameraman. "Siap ...." "KAMERA ... ROLLING ... ACTION!" Anyelir kembali berjalan menyusuri sungai, hanya sampai lutut saja airnya. Agak keruh sebab hujan turun tadi malam, tapi tidak mengurangi konsentrasi kealamian sungai tanpa pencemaran limbah rumah tangga maupun industri. Gadis itu memetik satu buah limpasu, ia kupas pelan-pelan untuk dicicipi. Kamera masih menyala, Janu menyimak dengan seksama. Namun, saat buah itu mulai bersentuhan dengan indera pengecapan, Anyelir bergidik menahan rasa masam yang menyengat. Asem banget! "CUT!" Janu menghela napas lagi. "Bisa nggak lebih natural?! Ekspresi kamu daritadi nggak dapet!" "Asem banget tau! Cobain aja sendiri, biar tahu gimana rasanya!" Jelas, lelaki itu tersneyum miring dengan alis sebelah yang terangkat. Menghampiri Anyelir tepat ke sebrang sungai, berdiam di dalam air. Tanpa aba-aba Janu memetik buah limpasu, mengupas dan memakannya dengan wajah datar. Benar-benar tanpa ekspresi, Anyelir dibuat aneh oleh tingkah Janu. "Biasa aja," ucap Janu enteng. "Kayaknya lidah Bapak mati rasa. Pantesan ngomongnya nggak pake rem!" "Udah nggak usah lebay! Lanjut!" Janu beranjak untuk menuju ke bibir sungai lagi, menopang kedua tangan di d**a sembari memasang ekspresi yang sama, datar. Tanpa mereka sadari, seekor ular berukuran tiga jari orang dewasa muncul dari arah samping Anyelir, coraknya hitam putih, belang. "Berta Bee fokus!" Janu mengangkat tangan. "Siap ... Kamer—" "PAK! ULAR!" Cameraman itu berteriak menghentikan ucapan Janu. "BERTA BEE AWAS!" lagi, crew tersebut berteriak memperingatkan si gadis yang berjarak 30cm saja dari ular yang dimaksud. Karena terkejut, Anyelir menjerit lantas berniat untuk segera pergi dari dalam air. Namun sayang, dasar sungai kecil itu lumpur yang cukup tebal maka tak heran ia kesulitan sampai-sampai tubuhnya hilang keseimbangan. Janu yang menyadari hal itu refleks berlari ke arah Anyelir, memeluk gadis itu dari arah belakang dan menyeretnya sampai ke bibir sungai. Posisi keduanya sukses menarik atensi seluruh orang yang berada di sini, Anyelir yang menghadap ke samping dipeluk dari arah belakang oleh Janu. Sebelah tangan kanan Janu memegang erat pinggang Anyelir, sebelahnya lagi mengelus kepala gadis itu sangat lembut. Waktu seolah berhenti, mereka masih diposisi yang sama dengan detak jantung yang berpacu ribuan kaki lipat. Entah angin darimana dekapan Janu mampu membuat Anyelir tenang, bagaimana ia tidak panik jika ular hampir saja menuju ke arahnya. Keduanya seperti menikmati adegan berpelukan satu sama lain. "Nyaman banget, ya, itu peluk-pelukan?!" Abra yang sedang memakan pisang menyindir mereka. Keduanya langsung saling melepaskan diri, menoleh satu sama lain dengan gelagat canggung yang kembali mendominasi. "Ma—makasih," ucap Anyelir datar. "Eh, kok di lepas?! Oh, mau dilanjut nanti, ya? di kamar?!" "Abra!" Anyelir melotot membuat si ngondek Abra mengatupkan mulut. Ada seorang crew membawa golok berjalan ke arah ular tersebut, membuat atensi Janu teralihkan ke sana. Pria itu berancang-ancang membunuh ular dengan golok yang digenggamnya, namun Janu dengan sigap menahan pergelangan lengannya. "Nggak usah dibunuh, biarin aja lewat. Lagipula ini habitatnya, ini rumahnya ... Harusnya kita yang minta izin," "Ma—maaf, Pak." "Hewan juga punya perasaan. Punya rasa was-was, punya rasa sedih ... Kalo kita mau memahami perasaannya, dia juga akan memahami perasaan kita," ucapan Janu terdengar sangat tulus dan bijak, mampu membuat para insan terpukau. Berbeda dengan Anyelir yang memutar bola malas. Sama hewan manusiawi, sama manusia malah hewani!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN