Bab 16 - Cokelat 'With Love'

2121 Kata
Keringat yang bercucuran dari pelipis menuju leher mengalir deras, kaos hitam berlapis kemeja telur asin sudah basah oleh banjir peluh. Siang ini cukup panas, entah itu suhu atau situasi. Sang sutradara mendekat ke arah kerumunan orang yang bertempur. Diceritakan bahwa sekelompok penguasa mengejar-ngejar Dierja karena mencuri berlian merah milik sebuah kerajaan, Dierja dalam kisah 'Back And Kill It' adalah pencuri kelas kakap yang selalu menjadi buronan. Sehingga ketika Shawnette bertemu, tidak menutup kemungkinan juga ia ikut terlibat dalam rencana kejar-kejaran dan baku hantam. Seperti adegan yang diambil siang ini, di mana sekelompok pencuri lain menyerang Dierja dan Shawnette. Ada dua kubu rupanya, yang pertama teman-teman Dierja dengan jumlah hampir setengah dari kubu lawan. Kubu kedua sekelompok pencuri juga, yang tidak ingin mengambil resiko pergi ke kerajaan, namun, justru merampas dari hasil kerja keras Dierja dalam mencuri berlian. Di kehidupan masa depan, sebetulnya Shawnette adalah seorang atlet tinju, sehingga saat perputaran menuju masa lalu bukanlah hal sulit bagi Shawnette melumpuhkan lawan. Tapi ... yang Janu lihat saat ini adalah Anyelir, bukan Shawnette si jagoan yang tidak takut mati. Anyelir yang penakut, Anyelir yang cerewet, Anyelir yang selalu melakukan kesalahan, Anyelir yang lemah. Dan Anyelir Anyelir lainnya. Janu geram. "CUT!" Teriak Janu lantang. Pertempuran itu berhenti, hampir semua yang terlibat nampak bernapas terengah-engah. Meski sebuah adegan settingan, tetap saja totalitas dibutuhkan demi mendapat hasil sesuai ekspektasi. Janu berjalan mendekati kerumunan itu, ada beberapa crew yang terpaksa ikut on frame karena keterbatasan pemain. Atensinya langsung terfokus pada Anyelir, padahal bila diingat-ingat yang melakukan kesalahan bukan hanya gadis ringkih itu. "Bisa acting nggak, sih? Kalo nggak bisa nggak usah jadi artis! Beban tau nggak?! Dasar bodoh!" Sorot tajam itu mengepulkan asap-asap amarah dalam diri Janu, bahkan wajahnya pun ikut memerah. Anyelir hanya tersenyum hambar, ia menyugar rambut sekaligus menghela napas berat. Janu seperti macan kesetanan sejak tadi, tak ada raut-raut keramahan dari awal mereka memulai syuting. Entah apa penyebabnya tak ada yang tahu, lebih jelasnya Janu terlihat seolah melampiaskan seluruh amarah kepada semua orang. Keduanya dikerumuni orang-orang yang terlibat di lokasi syuting, suara hutan yang sunyi terdengar sangat hening sampai-sampai debas pun terdengar. Di situasi saat ini, mana ada orang yang berani berkomentar, menyanggah, atau bertanya. Bisa-bisa dimutilasi, pulang ke Jakarta bermodalkan potongan tubuh saja. Seram sekali. "Iya, maaf." Anyelir enggan menanggapi, lebih baik diam untuk menyimpan energi. Pura-pura bahagia saja butuh banyak tenaga, apalagi harus sabar dan tabah menghadapi tempramental Janu. "Hah? Maaf?" Janu justru menyeringai, bawah mata yang menghitam semakin menambah kesan seram. "Berapa kali hari ini kamu bilang maaf, ha?! Maaf kamu nggak berguna kalo terus-terusan ngelakuin kesalahan!" Langkah Janu semakin mengikis jarak diantara keduanya, hanya berkisar satu ayunan kaki saja. Bahkan pori-pori Anyelir kini dapat terlihat dengan jelas sangking dekatnya. "Punya otak, 'kan?" Tangan lelaki yang penuh dengan emosi itu menunjuk ke arah kepala. "Orang yang punya otak itu, nggak mungkin se-t***l kamu!" Jleb. Bukan hanya Anyelir, satu isi hutan saja sepertinya ikut terkejut bukan main. Ada sesak di d**a yang kian menambah pacuan jantung menjadi sebuah luka, entah mengapa ucapan itu terlalu menusuk sampai mata gadis mungil itu berkaca-kaca. "Bisa lebih halus dikit nggak, sih, Pak? Berta Bee itu cewek loh, bisa-bisanya anda berbicara sesampah itu sama dia!" Diego yang semula berada di paling ujung belakang Anyelir kini mendekat. Kedua lengannya terkepal kuat, meski sengaja bersembunyi di balik saku celana. Takut kelepasan pikirnya, tapi kalo memang Janu semakin di luar batas wajar seperti ini, untuk apa amarahnya ditahan-tahan. "Saya nggak suka ada yang ikut campur dengan urusan saya!" tukas Janu. "Saya juga nggak suka ada yang berani kasar sama cewek!" sahut Diego "SAYA NGGAK KASAR!" Mereka kini semakin mendekat, beradu pandang dengan tatapan yang kian menajam. "Memangnya saya pukul dia? Jambak dia? Tampar dia?" Telunjuknya menuju ke arah Anyelir. "Enggak, 'kan!" "Iya ... Bapak benar. Pak Janu memang tidak memukul tubuhnya, tapi hatinya! Tau nggak, Pak? Omongan Bapak kayak apa?! Saya aja yang denger sakit hati, apalagi Berta Bee!" "Tapi dia nggak protes, kenapa kamu yang heboh?!" "Saya diam bukan berarti saya nggak mau protes!" Anyelir masuk diantara pertarungan sengit Diego dan Janu, kini posisinya berada di tengah-tengah. Seperti terhimpit oleh gunung meletus yang mengeluarkan larva sangat panas. "Saya diam supaya semua ini cepet selesai! Apa gunanya adu mulut sekarang, ha?! Memangnya kerjaan kita bisa otomatis selesai dengan berdebat?!" Satu tetesan air mata keluar dari bagian kiri. Dua tiga empat tetesan lainnya menyusul juga, Anyelir tertekan. Syuting sudah berjalan selama hampir satu bulan lebih, tapi keadaan justru semakin keruh. Hari-harinya tidak lebih dari sekedar berdebat, marah-marah, mendengar bentakan, menangis lagi. Bagaimana sebuah film tercipta dengan maksimal jika tim saja tidak satu visi? Perlu diakui memang Anyelir selalu melakukan kesalahan karena ini film action perdananya. Tapi, bisakah Janu perlahan mengajari gadis itu, bukan malah menyalahkan, membentak, mencaci-maki, seperti menganggap Anyelir musuh yang sepatutnya diperlakukan seperti itu. "Jadi sekarang mau kalian apa?!" Lagi, Janu selalu seperti itu. Anyelir tak mengharapkan hal lain selain ucapan maaf minimal jika lelaki itu terlanjur membentak dan mencaci-maki, tapi justru kebalikannya. Janu akan bertanya demikian, melemparkan semuanya dengan mempertanyakan kemauan Anyelir, hal itu tentu saja semakin membuat gadis itu merasa terpojok. "Kenapa diam?! Setiap kali saya tanya mau kalian apa selalu diam! Tapi apa yang saya lakukan selalu diperdebatkan, sebenarnya kalian itu kenapa, ha?!" Masih dengan nada tinggi, Janu bahkan berteriak. Anyelir menggigit bawah bibirnya. "Saya ingin istirahat." "Oke! Silahkan ... Pergi dari sini!" Terkejut lagi. Anyelir melotot tak percaya, ia dibuat takjub dengan ucapan Jnau barusan. "Pergi?" "Ya! Kamu 'kan ingin istirahat, pergi dari sini! Supaya tidak ada yang mengganggu. Benar, 'kan?" "Bapak mengusir saya?" "Kamu yang minta, bukan saya!" "Oke, saya pergi," "Bagus! Penghalang sepertimu harusnya pergi dari awal, supaya mengurangi beban kita." "Hah ... Penghalang?" Gadis itu menyeringai. "Tidak apa-apa, jika hewan yang berucap demikian. Saya terima." Anyelir tersenyum miring, mengambil mantel miliknya dengan kasar lantas beranjak seraya menghapus setiap jejak air mata. Saya? Disamakan dengan hewan? ** Saat sang ksatria baja hitam berselimut, hujan deras ditemani angin kencang begitu terlihat menyeramkan. Hampir setiap penghuni rumah hanya diam, tak ada yang berani keluar sebab badai sepertinya semakin bertambah ganas. Padahal tadi siang suhu terasa sangat panas, ditambah lagi dengan situasi dan keadaan yang tak kalah panas juga. Baik Anyelir, Batari, maupun Janu tengah terduduk lemas dalam satu ruangan sembari menanti makan malam yang dijadwalkan tadi sore, tapi tak kunjung datang juga. Sungguh, rasa lapar itu kian menggerogoti, apalagi Anyelir yang melupakan makan siang karena sempat merajuk, dan parahnya lagi Batari hanya membiarkan tanpa membujuk. Ingin minta, tapi egonya tinggi. Terpaksa siang tadi Anyelir hanya minum air putih. Ditengah-tengah lamunan masing-masing, seorang crew memakai kaos hitam masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya juga. Napasnya memburu seperti baru lomba maraton. Dengan tetesan demi tetesan air yang bercucuran dari tubuhnya, ia hanya berdiri menghadap ke arah Janu dan Anyelir kaku. "Pak ...." "Tarik napas dulu," sergah Janu. Lelaki itu nampak mengatur napas, menyugar rambutnya yang berantakan oleh tetesan hujan. "Gawat, Pak ...." "Apa? Kenapa?!" "Longsor, Pak!" "Hah?" Janu bangkit menghampiri lelaki tadi panik, kini mereka saling berhadap-hadapan. "Longsor di mana?" "Akses jalan menuju tempat ini longsor parah, mobil yang bawa makanan kita terjebak, Pak. Ada empat titik longsor, dan itu semua terjadi di jalan satu-satunya ... menuju ke sini!" "Empat titik kamu bilang?!" "Iya, Pak. Mustahil mobil bisa lewat ke sini, karena titik kedua dan ketiga ... Hampir seluruh jalan tertimbun!" "Terus, kok kamu bisa datang ke sini?!" "Saya ikut warga, lewat hutan. Itupun memakan waktu, nggak mungkin saya angkut makanan ke sini ... Di hutan lagi rawan beruang madu, mereka bisa mencium bau makanan, Pak. Lagipula hujannya deras, makanan pasti bakalan basah." Janu mengacak-acak kepalanya frustasi, tidak ada persediaan makanan di sini, selain beras. Hujan juga tak kunjung reda, tidak mungkin juga semua langsung tidur tanpa makan, orang-orang pasti kelaparan. "Yasudah, ganti pakaianmu. Nanti masuk angin." Janu berbalik menghadap ke arah orang-orang yang terduduk lesu di atas tikar, sementara lelaki tadi pergi untuk berganti pakaian. "Kalo malam ini kita puasa ... Apa kal—" "Nggak bisa!" Anyelir duluan yang protes. Coba bayangkan menjadi Anyelir, ia terakhir makan pukul delapan pagi. Dan itupun hanya sandwich dengan s**u sereal, setelah itu tak ada secuil nasi pun masuk ke tubuhnya. Cemilan saja tidak ada. "Tidak ada mak—" "CARI ALTERNATIF LAIN!" Anyelir bangkit dengan sorot mata memancarkan pertempuran. Benar kata orang, bila manusia sedang lapar bisa berubah menjadi monyet, gorila, harimau, atau singa. "Kalo orang-orang di sini mati kelaparan, emangnya Bapak mau tanggung jawab, ha?!" "Orang melewatkan makan malam nggak akan mati. Paling asam lambung, nanti tinggal saya kasih obat sakit magh," sahut Janu enteng. "Emangnya kita anak kost? Yang kalo makan pagi enak, siang minuman penunda lapar, malamnya minum obat sakit magh?! Hei! Kita sudah bekerja keras seharian dan malamnya tidak makan? Oh ayolah jangan bercanda!" "Bukannya kamu hanya diam seharian karena marah? Nggak kerja, 'kan?" "Marah juga butuh energi. Batin yang tertekan butuh banyak tenaga lebih!" Janu menghela napasnya berat, ini yang ia takutkan berada di pulau orang. Hal yang tidak bisa terkontrol sulit untuk mencari jalan keluar, baru satu rumah yang mendapatkan informasi tak terduga, sudah gaduh seperti ini. Apalagi rumah-rumah lainnya. "Yasudah, nanti saya pikirkan jalan keluarnya." Lelaki itu hendak beranjak, keluar. Tapi suara Batari menahan langkahnya. "Nanti?" Nadanya sedikit terjeda guna melihat ekspresi Janu. "Bukan mati kelaparan kayaknya, tapi mati menunggu kelamaan. Sekarang dong, Pak!" Kepala Janu menoleh. "Ini saya mau pergi, cari alternatif lain. Tolong bersabar!" Lagi. Baru saja ia hendak beranjak, ada satu ganjalan yang sejak tadi tertahan di hatinya. Ingin segera mengatakan, tapi gengsi lebih mendominasi. Tapi dan tapi lagi, ia tak tega membiarkan Anyelir terlihat benar-benar kelaparan. Janu tahu Anyelir tadi melewatkan makan siang, ia bahkan sudah menyuruh Aruna untuk menghantarkan makan, tapi ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. "Berta Bee ...." "APA?! CEPETAN SANA!" bentakan itu sukses membuat nyali Janu menciut. "Ah? Ti—tidak nanti saja." Dengan tergesa-gesa lelaki itu berjalan menuju pintu masuk. Pengecut! Tapi untuk kesekian kalinya. Entah suara hati darimana itu, membuat tubuhnya tergerak masuk menuju kamar, membuka ransel miliknya dan membawa sesuatu dari dalam sana. Tentu saja semua orang terkejut dengan tingkah aneh Janu, Anyelir bahkan kembali berdiri untuk melihat maksud dari lelaki itu. Malah ia mengira kalau Janu enggan mencari solusi dan memilih untuk istirahat di dalam kamar. "Bapak tahu tanggungjawab nggak, sih? Kok malah masuk ke dalam kamar?!" Satu menit, Janu belum keluar. "Pak Janu!" Dengan teriakan Anyelir yang meninggi, Janu juga masih tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Tok ... Tok ... Tok. "Pak!" Teriakan dan juga ketukan pintu kencang juga tak membuat lelaki itu keluar. "Bapak bilang, apa yang Bapak lakukan selalu diperdebatkan? Orang kelakuan Bapak aja kayak gini, lari dari tanggungjawab! pantas or—" ucapan Anyelir menggantung, sebab Janu muncul dengan penuh keringat. Entah karena apa, yang jelas jantung lelaki itu berpacu puluhan kali lipat. Gelagatnya nampak kaku dan gugup. "Saya nggak bermaksud bicara barusan, tap—" "Ini!" Janu menyodorkan sebuah kotak berbentuk love berwarna ungu. Tentu saja membuat Anyelir juga yang lain ikut terkejut, sebab ada sebuah kalimat bertuliskan 'with love' dibawah label khas perusahaan cokelat itu. "Bu—buat ganjal." "Lo—love?" "Jangan salah paham. Ini cokelat." Oh ayolah, adegan ini terlihat romantis sejujurnya, apalagi ada rasa cenat-cenut yang perlahan timbul dari keduanya. Tapi, ketulusan Janu terlihat sangat kaku menbuat Anyelir malah ingin tergelak mandapati ekspresinya. "Iya, saya tahu," "Ambil, nih." Bahkan cokelat semakin di dekatkan ke wajah Anyelir. Tapi yang diberi cokelat malah menatap lekat ke arah Janu, membuat lelaki itu semakin gugup serta gelagapan tidak jelas. Jantungnya terasa semakin memburu, rasanya ingin copot dari tempat menggantung. Di sekitar sini juga terasa sangat sesak, oksigen seolah hilang direnggut paksa oleh kegugupan. "Nggak mau?" Tanya Janu lagi. "Yaudah kalo nggak mau." Janu siap untuk beranjak, tapi Anyelir memegang lengannya. "Mau," ucapnya lembut. "I—ini." Cokelat itu kini beralih kepemilikan, Anyelir tersenyum. Catat, baru kali ini ia menyunggingkan senyum tulus di hadapan Janu, membuat lelaki itu ikut melakukan hal serupa. "Makasih, Janu." "Dimakan, ya? Biar nggak kelaperan," "Pak Janu?" Sembari menggaruk tengkuk, Janu perlahan menetralkan degup jantungnya. "Saya berencana mencari rebung, kita ada persediaan beras. Kemungkinan kita makan dengan rebung dan ikan bakar," "Nyari rebung sama ikan? Malam-malam begini?!" "Nggak ada pilihan lain, daripada kita semua kelaperan." "Tapi 'kan kalo malam nan—" "Saya nggak sendirian, hampir semua crew lelaki ikut," Sungguh situasi antara Anyelir dan Janu sangat aneh. Baru pertama kali mereka mengkhawatirkan satu sama lain, tak ada ucapan pelan dan lembut selain caci maki yang biasa terlontarkan. Tapi barusan? Benar-benar canggung. "O—oke," "Kalo gitu, saya pergi." Masih gugup, Janu beranjak dengan senyum kikuk. "Emhh, Pak Janu ...." Baru dua langkah Janu menoleh. "Ya?" "Jangan sampai terluka." Balasan Janu hanya mengangguk dengan tersenyum mantap, lantas beranjak seraya mengatur napas. Saya nggak akan terluka dihadapan kamu, Anyelir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN