Bab 17 - Saya Bukan Jalang

2012 Kata
“Saya cuman minta jadwal syuting hari ini ditunda! Kenapa nggak bisa? Bapak nggak lihat kondisi sekarang kayak gimana, ha?!” Janu masih tak acuh, meregangkan kedua tangannya ke arah depan, menghangatkan setiap sela-sela jari dipagi buta yang terasa sangat sejuk hingga menusuk sampai ke pori-pori. Ada gundakan api unggun yang hampir habis sisa semalam, beruntung hujan berhenti sebelum tengah malam, mereka berhasil membakar ikan hasil tangkapan warga di pagi harinya. Meskipun kurang segar, tapi daripada disuruh mencari ikan sendiri dengan kondisi hujan, hutan gelap, belum arus sungai yang cukup kencang. Bisa mati kedinginan karena tak mendapatkan apa-apa. Lagipula, ikan akan terbawa arus jika dari hulu terjadi aliran yang cukup keras. “Baru tahu saya, ternyata … Pak Janu itu budeg!” Anyelir menggerutu sebab protesannya tak ditanggapi apa-apa, bahkan untuk sekadar menoleh saja tidak. “Udah galak, ketus, mulutnya kayak cabe, kerjaannya marah-marah mulu, budeg lagi! Kasian banget jodohnya, Pak Janu!” “Satu lagi ….”Anyelir setengah berjongkok, mulutnya mendekat hampir mengenai daun telinga Janu. “Pak Janu nggak punya hati, pantesan nggak punya pacar!” Sepertinya usaha kali ini berhasil, Janu menoleh masih berwajah datar. Kadang Anyelir pun ikut terheran, Janu selalu menekankan ekspresi, ekspresi dan ekspresi saat berakting. Sebab katanya feel akan lebih masuk ke benak penonton dengan ekspresi yang penuh menjiwai, tapi Janu? Lihatlah, sepanjang Anyelir mengenal lelaki itu, wajahnya tak pernah berekspresi. Selalu datar, penuh dengan kemarahan. “Saya punya pacar!” giliran bahas pacar langsung nyaut seperti ikan memakan umpannya. “Masa, sih? Emang ada yang mau sama cowok galak modelan, Pak Janu?" Sontak Janu melempar tatapan siap mangsa seperti harimau kelaparan, ada kilatan api tak suka yang membuat nyali Anyelir memudar, kabur, kalang-kabut entah ke mana. "Becanda, Pak." Anyelir mengulum senyum sembari menggaruk tengkuk. "Tidak ada percakapan pribadi! Siap-siap! Kita ke lokasi rawa-rawa sekarang!" Janu lantas bangkit tanpa menoleh ke arah si cantik yang kebingungan bercampur terkejut. "Rawa-rawa?!" teriak Anyelir histeris. Kaki yang terhentak-hentak segera menyusul langkah jenjang Janu. "Kalo ada buaya gimana, Pak?!" Bukan Janu kalo tidak menulikan pendengaran saat ada yang menggugat rencana yang dirancang sejak lama, Janu benci konsepnya diprotes padahal sudah terpikirkan dengan baik. "Pak Janu!" Kali ini Anyelir berhasil mendahului langkah itu, meski harus setengah berlari di pagi buta. Lumayan, olahraga dadakan walau napas mulai ngos-ngosan timbul kepulan dari mulut sangking dinginnya hutan Kalimantan. Alis Janu sebelah terangkat, tetap berwajah datar. "Apa?" "Bapak ... Astaga!" Gelengan kepala dari Anyelir menandakan rasa tak percaya. "Semalem hujan badai angin kencang petir halilintar! itu pasti buaya sembunyi di rawa-rawa, sekarang kita mau syuting di sana? kenapa nggak sekalian aja serahin diri ke penangkaran harimau!" "Kamu mau? kalo mau saya antar, lumayan berkurang beban," ucap Janu enteng. Astaga! ngomong sama anak Krakatau emang harus banyak sabar, Anyelir membatin. "Bukan gitu, Pak, maksudnya. Ih! pokoknya nanti kalo ada buaya gimana?!" "Bukannya udah biasa, ya?" "Emang saya pawangnya?!" "Iya, pawang buaya berwujud manusia!" Janu mendelik tajam sebelum pergi begitu saja dari hadapan Anyelir, antara otak gadis itu yang terlalu udang atau emang ucapan Janu terlalu tersirat. Anyelir berpikir sejenak, memangnya di abad ini masih ada buaya jadi-jadian seperti di mitologi dongeng yang suka Anyelir baca? Buaya emas? buaya putih? buaya silver? atau apa itu yang bisa berubah jadi manusia secara tiba-tiba terus mengabulkan beberapa permintaan. Anyelir jadi penasaran dengan maksud ucapan Janu, siapa tahu benar makhluk seperti itu masih ada. Lumayan bisa dijual ke museum jadi pajangan dapat cuan, pikirnya. ** Benar saja ekspektasi Anyelir, suasana dekat rawa-rawa begitu silang-sengkarut. Sepertinya hujan lebat serta angin kencang tadi malam menimbulkan beberapa pohon tumbang, ranting-ranting yang patah bahkan daun yang berguguran. Di tepi rawa ada sebuah dahan berukuran sebesar kaki orang dewasa, namun cukup panjang. Menghalangi jalur masuk Anyelir menuju tempat yang sudah disediakan sebelumnya. Dua hari yang lalu, Janu berhasil menemukan rawa-rawa yang nampak bersih dan jernih. Banyak ikan hias berukuran kecil yang menarik perhatian lelaki itu, air yang tertimbun banyak tanaman aquatis seperti menyimpan lusinan jenis ikan hias termasuk cupang, ikan favorit Janu. Ada sebuah pohon dengan ukuran sama, terpajang dari sisi timur dan barat. Bila membentangkan tali, itu akan terlihat garis lurus secara vertikal, memudahkan camera person menangkap gambar. Janu sudah menyiapkan itu, bahkan ia membersihkan sebagian titik untuk menjadi tempat Anyelir berenang, tapi semuanya kacau. Pohon yang ia ikat dengan tali membentang ternyata tumbang, airnya juga tak sejernih dua hari yang lalu. Mungkin karena rawa-rawa berada di bawah bukit, hujan yang menyiram area pepohonan mengalirkan serta-merta lumpur yang mendarat langsung ke arah rawa-rawa. Sehingga airnya terlihat agak kecokelatan. Aruna menghampiri Janu yang mematung dilanda bingung. "Bagaimana, Pak?" Janu menoleh alisnya berkerut terlihat muram, ia sudah lelah dihadapkan dengan masalah konsumsi dan kebutuhan pangan lainnya tadi malam. Mencari rebung di tengah hutan saat hujan deras, bergiliran ke rumah warga demi beberapa ekor ikan tak segar. Dan sekarang? harus dihadapkan oleh situasi lokasi syuting yang benar-benar kacau. "Kita harus ambil shoot itu hari ini, waktu kita tidak banyak, Aruna!" Bukan Janu memberi kesan tergesa-gesa, pasalnya memang syuting yang dijadwalkan terlalu melebar tidak sesuai dengan schedule awal. Banyak hambatan yang hampir membuat lelaki itu kewalahan, mulai dari pencarian lokasi syuting yang memakan waktu, pemasangan kamera di pohon agar suasana hutannya tertangkap dengan ciamik, belum lagi kesalahan-kesalahan fatal para pemain yang membutuhkan pengulangan scene hampir setiap harinya. Janu sudah melakukan reschedule berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Jika terus begini, ia bisa memakan waktu satu tahun untuk pembuatan film dengan biaya produksi yang semakin melebar. Dan terakhir, amanat sang Paman yang tidak terlaksana dengan baik membuat pecutan-pecutan ditubuhnya semakin terasa pedih. Janu tertekan, sungguh ia lelah. "Tapi gimana caranya, Pak? eksis masuk ke rawa—" "Akses," sergah Janu membtulkan ucapan Aruna. "Iya, itu. Akses masuk ke rawa-rawa ada pohon. Susah, Pak!" "Kita 'kan punya golok! pokoknya saya tidak mau tahu, syuting hari ini harus tetap berjalan!" tegas Janu. "Jadi kita tebas pohonnya?!" "Emangnya kamu sanggup angkat pohon itu?" Aruna bergidik ngeri. "Eng—nggak, sih, Pak. Soalnya saya bukan atlet angkat busa," "Angkat besi," "Iya, Pak. Sama aja!" Kali ini wajah Janu sedikit berkespresi, ucapan Aruna yang melenceng dari konteks sebelumnya terlalu aneh. "Sama kamu bilang? sama dari mananya?! Busa sama Besi, bahannya aja beda!" "Iya, Pak ... iya! saya suruh crew buat TEBAS!" ucapan Aruna terlihat penuh penekanan dalam kata 'tebas' bahkan wajahnya menghadap penuh ke arah Janu, tersirat makna pemberontakan sepertinya. "Apa?!" "Pohonnya, Pak." Cengir Aruna. Dua orang crew yang membawa golok berusaha membelah pohon yang menghadap jalur masuk, bagian tengah yang mereka pilih agar setidaknya tubuh mungil Anyelir bisa masuk. Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk membuat pohon itu terbelah dua, kini Janu mulai memerintahkan seorang camera person untuk bersiap mengambil gambar. Pun dengan Anyelir, meski sebetulnya ia merasa was-was, tak ada pilihan lain. Profesional adalah kunci segalanya, bukan? "Oke, semuanya siap?!" Sorot mata Janu mengarah pada camera person, lighting, pemegang clapper, Anyelir, juga Diego yang hari ini terlihat tenang dan pendiam. Mungkin masih mengantuk. Semuanya mengangguk sebagai tanda siap. Janu mengangkat tangan kanan sebelah. "Camera ... rolling ... ACTION!" teriak Janu kencang. Diego mulai terjun ke dalam rawa-rawa dengan ekspresi was-was, pinggangnya mulai basah disusul dengan Anyelir. Namun saat kedua kaki putih mulus milik gadis itu menyentuh permukaan air, rasa dingin mulai berselimut membuat tubuh Anyelir sedikit menggigil. Ini benar-benar dingin, seperti danau berada di gunung es, bahkan kedua kaki Anyelir kaku. Dalam script yang dibaca Anyelir, adegan ini dilakukan sebagai bentuk persembunyian saat kawanan perampok musuh mengepung dengan jumlah yang bertambah banyak. Mereka harus meneggelamkan tubuh ke dalam air, menahan napas, sampai benar-benar tidak terlihat. Sekarang bayangkan? bagaimana caranya Anyelir meneggelamkan tubuh sementara baru kaki saja yang menyentuh air sudah menggigil tak karuan. Janu yang mendapati kesalahan ekspresi Anyelir mulai mengepalkan tangan, amarah perlahan berkuasa di tubuh lelaki itu. Anyelir benar-benar manja dan merepotkan, pikir Janu. Diego sudah mulai merendam seluruh tubuh, tinggal sisa kepala. Sementara Anyelir semakin bertambah kedinginan, padahal baru sekitar pinggang. Ia ragu, sungguh ini membuat tubuhnya semakin kaku bercampur takut. Ada rasa yang menjalar hampir merenggut sekujur otot, semacam keram. Selain itu, kepalanya hampir terasa pusing sebab dingin itu bertambah menjalar. Tak sanggup, Anyelir bangkit. "CUT! Ini dingin banget!" lantas ia berlari menghampiri Janu dan beberapa crew yang melotot tak percaya. "APA YANG KAMU LAKUKAN, BERTA BEE!" "Tolong beri saya waktu, ini dingin!" Anyelir bersusah payah menuju daratan, sementara Janu semakin menghujani Anyelir dengan cacian dan makian seperti kesetanan Ada sebuah lighting yang dipegang lelaki berambut pirang di bibir rawa. Karena langkah kaki Anyelir kaku dengan sedikit gemetaran, matanya terfokus menatap lekat wajah kemerahan Janu yang penuh amarah, pikirannya melayang ke sana kemari mencerna u*****n menyakitkan dari Janu. Tanpa sadar, apa yang Anyelir injak terasa licin, sampai tubuhnya tidak seimbang. Kedua lengan Anyelir mencari pegangan, mendapati sebuah batang baja sekitar satu meter berwarna hitam, Ia berusaha meraihnya. Namun sayang, bukannya berhasil justru batang baja itu ikut roboh kian menarik perhatian. Brakk! Semua melotot, Janu sudah kehabisan rasa sabar sampai kedua tangannya terkepal. Bagaimana tidak? batang baja yang menjulang tadi memiliki ujung yang paling berharga, berupa lightning penerangan satu-satunya yang di bawa ke tempat syuting. Kini hancur, yang lebih parahnya terjun tenggelam menuju rawa, tak bisa diselamatkan. "CEWEK SIALAN!" Teriak Janu murka, benar-benar amarahnya merenggut paksa seluruh kesadaran lelaki itu. Anyelir yang paham amarah Janu kembali meluap membuat gadis itu hanya memejamkan mata, setengah tubuhnya gemetar karena dingin oleh pakaian yang basah, setengahnya lagi gemetar karena benar-benar takut dengan sorot mata tajam Janu penuh kilatan api-api yang membara. "Nggak berguna! orang buta aja, bisa merasakan keberadaan benda disekelilingnya!" Janu mendekat ke arah Anyelir, situasi memanas ini menimbulkan berbagai ketegangan. Lagi, baik Aruna, Batari atau crew lain tak ada yang berani membela pihak manapun. Amarah Janu benar-benar ditakuti banyak orang, sepertinya jika Anyelir bukan seorang wanita sudah dipastikan kepalan tangan yang sejak tadi berusaha ditahan melayang ke arah gadis yang kini tengah merunduk. "Bisa nggak satu hari kamu nggak repotin saya?! Bisa nggak?!" Janu memegang erat kedua bahu Anyelir, seolah-olah rasa lelah dan amarahnya akan ia luapkan secara keseluruhan pada Anyelir. "JAWAB!" Janu kembali teriak membuat Diego hendak beranjak dari rawa-rawa untuk membela Anyelir, lagi. Tapi Aruna menahannya, ia tahu dengan Diego ikut campur akan memperkeruh keadaan seperti saat itu. "JAWAB, JALANG!" Sebutan itu ... sebutan tak mendasar yang selalu hinggap di benaknya terasa lebih menyakitkan sekarang. Anyelir menggigit bawah bibirnya, menahan Isak tangis yang hampir membuatnya histeris. "Sa—saya nggak ... sengaja," lirih Anyelir. Hidungnya sudah memerah berair, entah berapa tetes air mata yang sejak tadi keluar tapi berusaha ia tutupi dengan merunduk. Membiarkan helai demi helai menghalangi kondisi wajah yang ketakutan setengah mati. "Klo t***l tuh dijaga! udah tahu t***l nggak hati-hati! dasar manja! kasih tahu orang tua kamu kalo didik anak tuh yang lebih mandiri, bukan lebay dan lemah kayak kamu!" Batari melotot tak percaya, sementara wajah Anyelir kini terangkat sempurna. Ada genangan-genangan air mata yang hampir memenuhi wajah, matanya memerah sungguh saat ini ia memperihatinkan. "Apa? kasih tahu?" Anyelir melepaskan genggaman kuat Janu dipundaknya dengan kasar, ia tak apa dicaci maki karena benar melakukan kesalahan. Tapi orangtuanya? apa Janu sebenci itu sampai menyangkut-pautkan kesalahan ini atas didikan orang tua. "Kenapa anda bawa-bawa orang tua saya?" "Karena mereka melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya ... telah melahirkan manusia tidak berguna seperti kamu!" Anyelir menyeringai pilu, dadanya semakin sesak menerima setiap ucapan dari Janu. Jujur, sejak pemberian cokelat tak sengaja kemarin malam gadis itu mulai menghangat oleh perlakuan Janu, merasakan aliran-aliran yang tidak dapat didefinisikan timbul diantara keduanya. Entah itu rasa suka, atau perasaan lebih. Sehingga, cacian Janu di detik ini terasa lebih menyakitkan dibanding sebelumnya, ada rasa sakit yang membuat ia tak bisa berkata-kata. Padahal yang diucapkannya barusan hanyalah rumor berita tidak penting, dulu Anyelir apatis terhadap hal itu. Tapi sekarang? "Ba ... bapak ... ke ... keterlaluan!" ucapannya sangat terbata-bata, ia tak sanggup melanjutkan kalimat yang ingin terlontar sebab terlalu sakit. "Iya! saya memang keterlaluan, mempercayai orang yang banyak melakukan kesalahan sebagai artis utama! orang yang tidak berguna, dan jalang seperti kamu!" "SAYA BUKAN JALANG!" sahut Anyelir histeris. "Lalu apa, hm? one night stand? p*****r? wanita murahahn? matre? atau simpanan hidung belang? all artis ... a f*****g b***h! just go to damn hell!" Plakk!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN