Bab 18 - Beruang Madu Menyapa

2048 Kata
Tangan yang gemetar itu menampar kuat sampai si lelaki menyeringai tajam, lantas kembali menoleh. "Good Job! satu tamparan sudah membuktikan, bahwa kamu memang benar seorang jalang! seperti banyak berita yang beredar!" Tak ada kata yang mampu mendefinisikan keadaan hari Anyelir. Entah itu remuk, hancur, sakit, Janu sudah benar-benar kehilangan akal atas apa yang ia lontarkan. Bahkan tak ada penyesalan tersirat di sana, benar-benar diucapkan secara gamblang seolah puas. "Jadi ... ini yang terjadi saat seorang aktris bekerjasama dengan anda?" "Kenapa? kamu tidak suka, kalo gitu batalkan kontraknya! dan pergi dari sini kalo berani!" "Oke! lagipula siapa yang sanggup bertahan dengan manusia setengah setan seperti anda!" Anyelir segera beranjak, ia berlari sekuat tenaga ke arah Utara. Sekencang-kencangnya yang ia bisa, persetan dengan teriakan Batari dan beberapa crew lain, rasa sakit ini membawanya menuju hutan yang tidak semestinya. "Alir! tunggu!" Teriak Batari, ia hendak mengejar sahabatnya, tapi ada hasrat lain yang ingin segera dilayangkan. Batari mendekat ke arah Janu. "Ternyata ada, ya? setan berbentuk manusia seperti Anda!" Batari hendak menyusul Anyelir, namun teriakan Diego menghentikan langkahnya, ia menoleh sekejap. "Batari, bayaha! biar gue yang kejar!" tukas Diego. Matanya kini menoleh ke arah Janu dengan sinis dan penuh amarah. "Gue bersumpah! lo akan menyesal seumur hidup lo!" Lantas beranjak mendekat ke arah Batari. "Lo tenang, ya?" "Tapi Al—" "Gue janji bakalan bawa sahabat Lo dengan utuh. Hutan itu bukan masalah buat gue!" Diego segera beranjak, namun ia mengambil sebilah golok dengan tempat yang terbuat dari kulit kerbau. "Saya ambil buat jaga-jaga!" Crew tadi hanya melongo masih dalam kondisi tegang, membiarkan Diego mengikat golok sampai melingkar di pinggangnya. Si pemeran utama pria menyusul Anyelir ke arah Utara, hutan yang semakin lebat. Banyak pohon-pohon yang berusia ratusan tahun, akses jalan yang jarang dijamah manusia masih terlihat rimbun oleh dahan-dahan, sebagian patah oleh angin kencang tadi malam. Perasaan Diego semakin khawatir kala sebuah palang dari besi berwarna putih terpampang, ada gambar beruang madu yang mengisyaratkan segalanya. "Hutan lindung itu? banyak beruang madu?!" Tangannya terkepal kuat. "Sialan!" ** Semakin jauh, semakin ke dalam, semakin rimbun dan menyeramkan. Banyak pohon-pohon tinggi yang Anyelir tafsir usianya ratusan tahun, perdu juga turut menghiasi sekitarnya, benar-benar rapi seperti tidak pernah dijamah manusia. Anyelir menghela napas sembari merunduk, menetralkan desiran panas mengalir dari seluruh otot menuju jantungnya, amarah yang terpendam. Sepanjang hidup lika-liku yang sudah berlalu, tak pernah terbayang sedikitpun ia akan berlari ke hutan sejauh ini hanya karena melampiaskan amarah dan rasa sesak. Seolah ada tenaga ekstra dalam tubuhnya yang hampir tidak membuat Anyelir kelelahan. Gadis itu benar-benar berlari seperti seorang atlet tanpa menghiraukan sekitar, tanpa menghiraukan apa yang dipijak, juga palang besi tanda peringatan yang tadi terlewati. Daksanya sudah terpenuhi dengan rasa lelah, baru terasa sekarang kala ia berdiri termenung seperti orang mutung. Peluh pun kian bercucuran, bersatu-padu dengan air mata yang sejak tadi mengalir tanpa permisi. Ia marah, sedih, kecewa, sakit hati terhadap perkataan Janu sampai berani melakukan hal tak terduga ini. Tak masalah jika Janu menyinggung rumor yang acap kali menjerat Anyelir ke dalam tubir kebohongan. Toh, belum tentu semuanya benar sesui fakta, sebab media terlalu hiperbolis demi meraup keuntungan semata. Tapi beda permasalahan jika Janu menyangkut-pautkan orang tuanya, ada sebuah penyesalan yang begitu dalam karena terlahir menjadi sosok Anyelir. Bukan apa-apa, sejak kecil kehidupan Anyelir terlalu menyedihkan sampai ia berharap tak pernah terlahir di dunia ini. Tapi kedua orangtuanya? Justru malah menyayangi si anak kecil itu dengan setulus hati, mengorbankan apapun semua demi Anyelir, padahal sekarang ia tidak tumbuh menjadi sosok yang sempurna dengan apa yang diderita. Itulah mengapa Anyelir sedikit membenarkan ucapan Janu walaupun menyakitkan, dan itu juga alasan kedua yang membuat ia berlari sejauh ini. Perkataan Janu jelas membuatnya sakit hati, tapi ia justru lebih menyalahkan diri sendiri, marah terhadap apa yang sebenarnya terjadi. Benar, Anyelir terlahir sebagai gadis yang tidak berguna dengan banyak membebankan orang tua. Rasa sesak yang kian menyalahkan diri sendiri dibalik semua permasalahan lah yang menggerakkan tubuh untuk menyiksa diri, membuatnya semakin lelah, menderita, sampai ia menyerah ... menyerah untuk berpura-pura baik-baik saja meski itu dihadapan Tuhan sekalipun. Seandainya negara ini masih dalam masa berperang, sudah dipastikan Anyelir akan berdiri sebagai tameng. Bukan karena ingin melindungi, tapi ingin cepat segera mati tanpa meninggalkan jejak penyesalan dari Mihir dan Lanjen seperti orang bunuh diri. Gadis itu sangat paham, mengakhiri hidup sendiri akan semakin memperkeruh keadaan. Itulah mengapa ia tak mau, hanya berharap pada Tuhan untuk menyambarnya dengan petir, membuatnya tenggelam, tertabrak truk, jatuh dari ketinggian atau apapun yang berkaitan dengan kejadian tak terduga merenggut nyawa. "Wah ... Hidupku menyedihkan sekali." Bibirnya gemetar mengucapkan kalimat barusan, cairan bening pun terus mengalir seperti tak ada habisnya. Mata, hidung, warnanya merah seperti tomat cherry. Kaki yang lemas bersiap hendak terduduk di tanah sebelum suara dari semak-semak membuyarkan niatnya. Anyelir mulai was-was, seperti ada yang salah dengan hutan ini. Apa dia terlalu berisik dengan isak tangis sendu sampai-sampai hantu penunggu terganggu? Otaknya hanya sampai pada kuntilanak dan sahabat-sahabatnya, hingga ia mengitari sekeliling dengan tatapan takut. Suara-suara itu semakin mendekat, semakin terdengar kuat. Seperti bunyi langkah yang beraturan. "Apa i—itu? Siapa?" Anyelir tidak berteriak, nadanya seperti berbicara biasa, mengandung kalimat tanya entah ditujukan pada siapa. Tak ada sautan bunyi yang menandakan manusia, mungkinkah hantu? Anyelir menggeleng cepat, pasalnya kuntilanak tidak menampakkan kaki di tanah, tidak mungkin menimbulkan bunyi gesekan perdu serta ranting patah yang terinjak oleh bobot tubuh. Atau ... Benar saja, seperti dugaan kedua selain hantu. Hewan buas. Entah bentuknya apa yang jelas bulu-bulu hitam itu terlihat disela-sela rumput, semakin bergerak dan mendekat. Anyelir mundur Beberapa langkah dengan tubuh yang gemetar takut, bukankah ia berdoa pada Tuhan agar dimangsa hewan buas? Tapi ternyata baru bertemu saja sudah semenakutkan ini. Tangan ringkih yang sudah kotor dengan lumpur tak beraturan itu mulai menutup mulut, takut-takut ia menjerit. Padahal memang itu yang Anyelir inginkan, tapi seingatnya berteriak minta tolong dihadapan hewan buas akan bertambah bahaya. Gue harus ngapain sekarang? Langkah hewan itu terlihat santai, benar-benar menuju kemari. Sampai titik di mana seluruh ukuran tubuhnya terlihat, sekitar dua meter, menjulurkan lidah yang panjang lantas berdiri dengan kedua kaki seperti manusia. Beruang madu! Jeritnya dalam hati. Panik Anyelir, bukan main. Beruang itu nampak mengintimidasi, menatap lekat ke arah Anyelir entah menandakan apa. Apakah Anyelir ancaman untuknya? Apakah ia akan dimangsa? Atau beruang itu hanya penasaran? Sungguh Anyelir tidak bisa berpikir jernih, ia hanya berusaha mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur pohon, atensinya menoleh ke sana ke mari, berharap secercah harapan menyelamatkan nyawanya. Beruang itu semakin mendekat. Berjalan menatap tajam, kuku-kukunya terlihat panjang, sungguh wajahnya benar-benar menyeramkan. Otaknya mulai berpikir hal aneh. Benar juga, ia berharap mati, tapi memangnya Anyelir penyembah Tuhan yang baik sampai doanya dikabulkan secepat ini? "Oh Tuhan, kau terlalu baik kepadaku atau bagaimana?" Gadis itu tak mampu berbuat apa-apa, beruang itu terlalu aneh baginya. Seperti sedang mengamati Anyelir tanpa berniat mengusik, sampai-sampai tubuhnya bersiap memanjat pohon. Satu langkah ... Si penggemar madu itu mulai mendekati, Anyelir yang terkejut melotot siap untuk berteriak. "Kyaaa—mmmmp!" Ada lengan kekar yang membekap mulutnya, sebelahnya lagi melemparkan pisang yang dibawa. Tunggu? Beruang suka pisang? Bukannya yang suka pisang adalah monyet? Dan manusia setengah monyet, Batari? Anyelir masih menetralkan detak jantung karena takut. Oh, ini tidak bercanda. Ia bertambah takut walaupun beruang itu sepertinya tertarik dengan pisang yang dilempar, lantas membawanya dan memakan dengan satu kali suapan. Jika diperhitungkan, Anyelir akan masuk ke dalam suapannya sekitar dua puluh kali, terbayang tubuhnya harus dimutilasi sebanyak itu. Seram. Anyelir bertambah takut bukan karena memikirkan mutilasi tubuh, tapi lengan kekar yang masih setia membekap seperti penculik. Jangan-jangan dia pemburu liar yang jahat seperti di film-film? Menjadikan Anyelir umpan untuk menangkap beruang, singa, atau mungkin badak. Sial, bulu kuduknya kembali berdiri. "Mmppphh!" Anyelir masih berusaha melepaskan lengan itu dengan tangan super kecilnya, tapi tak bisa. Ada debas yang mulai terasa mendekat ke arah telinga, mulutnya hampir saja bertegur sapa, sangat dekat. "Tenang." Siapa yang bisa tenang di situasi seperti ini? Anyelir bahkan meronta-ronta, tapi matanya masih lekat menatap beruang itu. Padahal apa salahnya menoleh ke arah samping untuk melihat siapa yang membekap mulutnya, tapi ia payah, terlalu takut, otaknya berfantasi hal-hal negatif. "Berta Bee, gue bakalan lepasin tangan ini, tapi lo harus tenang. Bisa, 'kan?" Atas ucapan itulah Anyelir menoleh, sebetulnya ia tidak tahu lelaki disampingnya siapa. Sebab jelas Anyelir tidak mengenali wajah, tapi dengan tubuh tanpa busana memakai celana kebesaran selutut saja sudah mengartikan segalanya. Dia Diego. Anyelir mengangguk. Lantas dengan pelan Diego melepaskan bekapan itu. Di situasi selanjutnya, refleks Anyelir memeluk Diego cukup erat, meneggelamkan wajahnya di tubuh Diego. Catat, tanpa busana. Bahkan ia merasakan betapa hangatnya tubuh Diego, masa bodo. Ketakutannya lebih mendominasi daripada rasa malu. Diego yang terkejut melotot sempurna, detak jantungnya memacu cukup kencang sampai-sampai ia kehabisan napas. Entah rasa apa ini, yang jelas pelukan itu membawakan rasa lega usai mendapati kondisi Anyelir baik-baik saja. Oh, ralat. Mereka belum aman, beruang itu mulai mendekat sebab pisang yang dimakan sudah habis. "Berta Bee, dengerin ucapan gue. Jangan lari, jangan manjat pohon, jangan teriak, jangan mencoba melawan. Lo cukup tenang, percaya sama gue kalo beruang itu bakalan pergi menjauh dari kita." Lengan Diego mengelus sayang pucuk kepala gadis itu. Anyelir yang baru tersadar melepaskan pelukannya. "Ma—maaf!" "It's oke." Diego mengeluarkan ponsel dan sebuah audio bluetooth. Anyelir kira golok yang dibawa akan ia hunuskan ke arah beruang, ternyata ponsel. "Untuk apa?" "Suara. Beruang takut dengan suara-suara kuat. Tutup telingamu, ini akan berisik!" Anyelir menurut saja, meski gadis itu masih kebingungan. "Ingat, jangan lari!" Gadis itu mengangguk mantap. Saat beruang itu mulai bertambah penasaran, ia berjalan dengan langkah sedikit agresif. Diego menyalakan suara dengung yang cukup melengking, sangat memekikkan telinga, seperti kesalahan teknis sound system'. Dan benar saja, si penyuka madu itu seperti merasa tidak nyaman lantas bergerak takut memutar arah. Berlari kalang kabut entah kemana. Beruang madu yang berhadapan dengan mereka memang tidak terlalu besar, kurang dari 2 m dengan bobot tidak lebih dari 65 kg, yang lebih beruntungnya adalah beruang madu bersifat soliter, jadi tidak terlalu sulit jika hanya sekedar mengusir satu ekor saja. Anyelir menghela napas lega. Sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan dalam situasi tegang adalah berjongkok, dengan wajah kusam nyaris tak karuan ditenggelamkan diantara kedua lutut. Dan menangis lagi. Diego yang menyadari lantas ikut terduduk, mengusap-usap pelan punggung gadis itu. "Nggak ada yang luka, 'kan?" "Nggak," balas Anyelir parau. "Lo nangis lagi?" "Enggak, kok!" Wajah Anyelir terangkat, menoleh ke arah Diego dengan senyum paksa. Padahal air mata mengalir begitu deras, hidungnya pun ikut merah. "Terus itu?" Telunjuk Diego mengarah pada kedua manik Anyelir. "Ini ... Ini ... Nggak tauuuuu ... Keluar se—sendiri!" Masih tersenyum simpul, Janu mendekap Anyelir ke dalam pelukannya. Entahlah itu refleks, yang jelas lelaki itu pasti menyadari bahwa situasi yang dihadapi gadis ringkih di hadapannya pastilah sulit. Anyelir bahkan gemetar ketakutan saat Diego membekap mulutnya, sampai benar-benar terisak di dalam dekapan. "Nangis aja, Lo pasti ketakutan banget." Tepukan lembut lengan Diego di pundak Anyelir meredakan Isak tangisnya, nyaman. Seolah ada sihir yang membuat gadis itu aman berada di dekat Diego. "Kenapa gue nggak boleh lari, teriak, manjat pohon? Bukannya beruang benci suara? Kok gue nggak boleh teriak?" Kali pertama Anyelir, berbicara santai di hadapan Diego, tanpa sadar ada senyum yang tersungging kala lelaki itu melepaskan pelukannya. "Kalo Lo lari, beruang itu masih bisa ngejar Lo karena gue terbukti pas kita take shoot lari Lo itu lambat banget! Udah keburu diterkam itu pasti! Kalo Lo manjat, mereka itu jagonya panjat-memanjat. Dan Lo teriak? Dengan histeris, dengan rasa was-was juga takut, mereka bakal merasa terancam ... Bisa jadi menganggap Lo musuh," "Kenapa Lo nggak bunuh langsung? Kan bawa golok!" Diego berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri. Ada kurva manis yang tulus terus saja terpancar sejak tadi. "Beruang madu itu satwa liar yang dilindungi, kayak gue." Alis Diego terangkat sebelah kala mengutarakan kalimatnya. "Kayak Lo? Maksudnya?" "Kalo dibunuh nanti punah, kayak gue 'kan. Limited edition, cuman ada Cengkareng!" "Dih, sombong banget!" Akhirnya gelak tawa dari Anyelir muncul meski matanya sembab, agak sedikit hambar tapi tak apa, tetap menghibur. Gadis itu kembali teringat dengan harapannya mati diterkam hewan buas, ternyata ia tak sanggup. Padahal baru berjumpa beruang madu, yang notabene tidak sebuas jenis beruang lainnya. Apalagi kalo ketemu harimau, atau singa si raja hutan. Kayaknya bukan mati diterkam, tapi mati terkena serangan jantung sangking takutnya. Tuhan, do'anya ditarik lagi aja. Cari alternatif lain matinya, jangan diterkam hewan buas, serem!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN