Bab 19 - Jas Hujan Janu

2019 Kata
Batari dengan Isak tangis yang sejak tadi tertahan kini melebarkan kedua lengan, menghamburkan pelukan ke arah Anyelir yang baru turun dari arah Utara dengan Diego di belakangnya. "Lo tau gue ketakutan setengah mati, ha?! Jangan kayak gitu lagi!" Ia menangis bahkan meraung histeris di dalam pelukan Anyelir. "Iya, maaf." "Gue nggak butuh maaf lo, gue butuh pembuktian!" "Kayak pacaran aja," padahal Batari memang jujur ketakutan setengah mati, Anyelir rupanya masih bisa bercanda. "Gue serius cacing Labuan Bajo!" Masih dalam pelukan Batari, Anyelir mendesis pelan. "Iya, kutu Canada!" Sesuai dengan perintah Janu yang sedikit berat memutuskan, Aruna mengumumkan bahwa syuting hari ini dibatalkan, melihat situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Bahkan cukup tegang, apalagi setelah mendengar cerita Anyelir yang bertemu dengan beruang madu. Batari mulai membereskan keperluan Anyelir, memberi gadis itu mantel karena pakaiannya setengah basah usai terjun ke dalam rawa, selain itu juga kotor dengan lumpur dan rumput kering yang menempel. Anyelir saat ini benar-benar terlihat seperti gembel, sudah rambut berantakan, wajahnya kusam sembab, bajunya kotor dan basah, ekspresinya benar-benar mengkhawatirkan. "Jari lo masih lima, 'kan? kaki lo nggak pincang? telinga lo aman? ginjal lo nggak di jual, 'kan?" Ini agak gila, tapi Batari benar meraba-raba tubuh Anyelir seperti memeriksa hal yang pasti. "Lo kenapa, sih, kutu?!" "Memastikan." Terakhir Batari menepuk-nepuk pucuk kepala Anyelir. "Bunda Lanjen tidak menerima produk gagal produksi. Jari harus lima, ginjal dua, telinga nggak budeg, kulit tidak ter—" Batari terdiam sejenak menimbang kejadian beberapa hari lalu. "Hah! gue lupa kalo lo jatuh tempo hari! kenapa nggak hati-hati, sih? bisa turun gaji, nih, gue!" "Lagian kenapa Lo nggak bangun?!" "Ya, 'kan gu—" ucapan Batari menggantung, tubuhnya juga ikut mematung. "HUJAN!" Ada seorang crew yang tengah membereskan kamera berteriak, membuat refleks orang-orang menengadah ke langit. "Kita harus tetap turun ke penginapan!" "Pak, ini hujannya mulai deres loh!" Aruna yang mulai protes. "Justru itu, saya takut ada longsor susulan. kita nggak boleh ada di sekitar hutan!" Janu mulai bertepuk tangan dengan tempo lambat untuk menarik atensi, semua fokus pada Janu. "Saya sudah perintahkan kalian untuk membawa jas hujan, silahkan dipakai! Apapun keadaannya kita harus tetap turun! Semuanya barengan, jangan ada yang berpisah!" Sosok pemimpin dalam tubuh Janu terlihat mendominasi, ia memperhatikan setiap detail perlengkapan, mengurusi sampai ke hal-hal kecil. Sementara Anyelir yang bajunya sudah setengah basah sebab terjun ke dalam rawa mulai terdiam, pasalnya Batari tidak membawa jas hujan yang diminta. Dipastikan ia akan basah kuyup saat turun ke penginapan. "Jas huj—" Mata Anyelir melotot saat memutar tubuh mendapati Batari lengkap dengan jas hujan. " ... Kok Lo ada jas hujan? Katanya nggak bawa?" "Dari Diana, bawa dua dia. lo nggak pake?!" Anyelir menggeleng. "Kan, lo nggak bawa! Kecoa Zimbabwe!" Hujan kian bertambah lebat kala mereka masih bersiap membereskan perlengkapan syuting sebelum benar-benar pergi meninggalkan hutan. Semua kalang kabut, berlari ke sana-sini melindungi alat yang tidak tahan air. Sementara Anyelir dan Batari masih termangu memikirkan jas hujan. "Nanti Lo sakit gimana?! Mana bajunya udah basah, mana habis simulasi mati! Jangan sampe selamat dari beruang, eh nggak selamat gara-gara pilek!" Batari mulai panik sendiri, karena itu murni kesalahan dia yang tidak membawa jas hujan untuk Anyelir. "Heh itu mulut! cari ide mati yang lebih estetik, dong! masa mati gara-gara ingusan!" "Aduh, bahas matinya nanti aja! gue masih pengen nikah sama Park Chanyeol, gimana dong jas hujan lo?" "Nggak apa-apa, gue emang ud—" "Pakai punya saya." Ada jas hujan berwarna hitam tersodorkan ke arah Anyelir, membuatnya sukses menoleh ke arah samping. Rambut cokelat sedikit merah yang sudah basah itu meneteskan bulir-bulir air hujan. Wajahnya terlihat bersinar tampan, walaupun datar, tanpa ekspresi, hanya sedikit terlihat marah. Memang begitu wajahnya. "Nggak usah!" Jelas, Anyelir masih marah atas perlakuan Janu tadi. Wajar jika ia malas berhadapan juga berhubungan dengan lelaki itu. "Saya nggak suka ditolak!" "Saya juga nggak suka dipaksa!" "Keras kepala!" Tanpa izin Janu menarik lengan Anyelir, menyiapkan jas hujan Ponco yang lebar untuk dikenakan pada tubuh ringkih gadis itu. "Saya udah bilang nggak mau!" Benar-benar teriakan Anyelir tidak didengar, malah Janu sudah berhasil mengemas apik tubuh Anyelir dengan jas hujan agar tidak basah kuyup. "Biar kamu nggak sakit." Tertegun Anyelir, lantas membeo seperti orang b**o. "Hah?" "Kalo sakit saya yang repot. Harus reschedule juga, nambah kerjaan!" Lantas dengan santai lelaki itu meninggalkan Anyelir yang tidak jadi terpukau oleh ucapan terakhir Janu, tapi memang masuk akal alasannya. Kukira perhatian, rupanya biar nggak jadi beban. ** Wangi cherry blossom menyengat di ruang kamar, tersenyum simpul Anyelir kali ini, sebab Batari menyiapkan air hangat untuk mandi setelah seluruh ototnya tegang oleh kejadian bertubi-tubi hari ini. Meskipun Anyelir kewalahan tadi, harus masak air terlebih dahulu, dibawa pakai ember, belum lagi airnya cepat dingin karena cuaca. Tidak ada bathub lagi, boro-boro berendam, tubuh merasakan sentuhan air hangat saja sudah untung. Hujan masih setia menemani sejak tadi siang, malah bertambah deras dengan kilatan halilintar yang mencekam. Gadis itu keluar kamar untuk mengisi daya dengan semangkuk karbohidrat, Batari sudah menyiapkan mie instan di ruang tamu beralaskan tikar. Banyak crew yang sedang menikmati, termasuk Janu, walaupun lelaki itu hanya diam tak memakan apapun. Ingat? mereka satu rumah. Anyelir bukan tipikal empat sehat lima sempurna garis keras. Makan dengan apa saja asal cocok di lidah ia terima, apalagi bukan dalam masa diet. Lagipula Anyelir jarang berdiet, sebanyak apapun ia makan tubuhnya tetap kurus. Kata orang ada cacing yang berkuasa di usus kecilnya, sehingga terus-menerus merasa lapar tapi tak berarti apa-apa untuk tubuh. Ia benar-benar menikmati hidangan malam ini. Hujan dengan mie instan kuah, telur setengah matang, ekstra pedas ditambah potongan cabai rawit, sudah. Nikmatinya luar biasa. Bisa tandas sampai ke kuah-kuahnya. "Lir." Batari yang berada di sampingnya menggeser tubuh, mendekatkan wajahnya dengan Anyelir untuk berbisik. "Habis ini, lo maskerin gue, ya?" Bukannya mengiyakan, Anyelir justru menyimpan mangkuknya yang sudah tandas di lantai. Lantas mengulurkan tangan kanan ke arah Batari, terbuka lebar seperti orang minta-minta. "Gocap!" "Asem! mending gue maskeran sendiri!" "Yaudah." Bahunya terangkat masa bodo. "Eh, cacing Labuan Bajo! Baik dikit ke sahabat sendiri, kenapa, sih?!" "Di dunia ini nggak ada yang gratis, Tar!" "Ada! bantuan desa buat orang kurang mampu gratis!" Bukannya menimpali, Anyelir malah tergelak sendiri sampai Batari mengerutkan dahi bingung. Sementara Janu yang tengah menghabiskan mie instan miliknya mengamati dalam diam, ada rasa bersalah yang sebetulnya sejak tadi menghantui. Ia berniat untuk bebricara dengan Anyelir, mengungkapkan keresahannya seraya mengalun maaf. Ralat sebenernya, Janu tidak akan minta maaf, lebih tepatnya mungkin akan memberikan Anyelir hadiah sebagai pengganti maaf. Sebegitu gengsi? jelas, ia membenci kata-kata bujukan. Menurutnya terlalu hipokrit. Melihat Anyelir tampak bahagia, tak memikirkan kejadian tadi memang membuatnya sedikit tenang. Tapi tetap saja, ia akan mencari cara sekarang. "Berta Bee?" Orang yang dipanggil tengah berbincang seru itu menoleh, ekspresinya berubah menjadi datar. " Saya nggak mau syuting!!" Padahal Janu belum mengungkapkan maksudnya, tapi Anyelir sudah bereaksi demikian membuat lelaki itu mengerutkan seluruh dahinya. "Syuting? nggak." Janu menggeleng. "Saya nggak ajak kamu syuting," "Terus, apa?!" Auranya masih terpancar penuh amarah, berbeda tadi saat bersama Batari yang terlihat lebih jinak juga riang. "Bisa ... kita ...." Janu malah bingung harus mulai dari mana, terlebih di ruangan ini ada Batari dan juga para crew. Lagi-lagi gengsi yang mendominasi. "Males!" Anyelir mendelik. Lantas berdiri dengan suasana hati yang mulai kacau, padahal ia menghabiskan mie instan tadi benar-benar tanpa menganggap keberadaan Janu. Tapi lain cerita jika Janu memulai pembicaraan terlebih dahulu. "Mau ke mana?" Batari yang bertanya, sepertinya mewakili Janu. "Kamar! di sini pengap!" "Perasaan di sini lebih luas, udah gitu banyak ventilasi?" terheran Batari, tingkah Anyelir terlihat beraksi memasang benteng pertahanan untuk Janu. Janu yang harus segera menyelesaikan hal mengganjal di benaknya lantas ikut bangkit, menyusul gadis itu yang nyaris masuk ke dalam kamar pribadinya. Janu menahan lengan Anyelir, tidak kencang, tapi cukup membuatnya meringis. "Lepasin!" "Ada hal yang harus saya bahas." Janu masih setia mencekal lengan Anyelir. "Iya, tapi lepasin dulu!" Terlepas, wajahnya tetap saja datar. "Kenapa nggak besok aja, sih?! menyalahi aturan jadwal kerja!" protes Anyelir usai Janu melepaskan cekalan tadi. "Ini penting," "Yaudah, langsung aja ke Batari. Dia 'kan manager saya!" "Lama!" Si manusia tidak sabaran Janu lantas kembali menarik lengan Anyelir, menyeretnya berjalan menuju pintu masuk utama. Coba ingat kembali bentuk rumah khas ini, benar-benar tanpa sekat dari ujung pintu utama menuju ujung pintu belakang. Secara otomatis, kegiatan tarik-menarik tubuh yang dilakukan Janu tertangkap basah oleh para insan yang masih setia terusik usai menyantap mie instan. Apakah mereka peduli? oh tentu saja iya, tapi tak ada yang berani berkutik, berniat banyak untuk sekadar bertanya maksud Janu. Bisa dipelototi satu abad jika melakukan hal demikian, sementara Batari tak mau ambil pusing. Toh, mereka tidak akan jauh-jauh sebba hujan begitu deras. "Lepasin! ih!" Kini amarah Anyelir justru semakin meningkat karena Janu bersikap memaksa, benar-benar semaunya. Mereka tengah berada di teras rumah, ada dua kursi kayu yang saling berhadapan. Bentuknya persegi panjang, cukup untuk empat orang. "Duduk." "Lepasin! saya bisa sendiri!" Akhirnya Janu melepaskan cekalan tangan untuk kedua kalinya, kini terduduk berdampingan memfokuskan pandang ke arah depan. Gelap, banyak butiran air hujan terjun bebas. Lampu bohlam dengan warna dan jenis yang sama di setiap rumah ya terlihat, cukup temaram. "Say—" "Lima menit!" Anyelir tiba-tiba menyanggah padahal Janu baru mulai mengucap satu patah kata, itupun belum rampung. "Li—lima menit? apanya?" "Ngomongnya, lima menit!" "Jangan membahayakan diri, saya nggak suka." Janu bersedekap lantas menyender di bahu kursi dengan santai, sementara gadis yang berada di sampingnya berpikir. "Terserah saya," "Pokoknya jangan!" Sejujurnya Anyelir heran, dugaan awal Janu mengajak bicara empat mata ini akan membahas soal permintaan maaf atas ucapan nyelekit yang Janu lontarkan sampai-sampai Anyelir lari ke dalam hutan. Tapi apa ini? kalimat Janu bahkan tidak jelas, Anyelir bingung maksudnya apa. "Ya, kenapa?!" "Karena saya nggak suka!" "Jadi ...." Anyelir mengembuskan napas kasar. "Bapak ngajak saya ke luar sini, dingin-dingin ... terus kecipratan air hujan cuman mau nyampein itu aja?!" "Enggak," "Ya, terus apa?!" Sumpah Anyelir dibuat gemas dengan gelagat Janu. Antara tengah menimbang-nimbang ingin berbicara apa, atau menyaring setiap ucapan yang ada. Janu ingin terlihat jual mahal, tapi ia juga tak ingin merendahkan Anyelir. Berpikir bagaimana caranya melontarkan maaf tanpa menyebutkan kata tersebut. Aneh, bukan? "Saya nggak suka kamu bikin orang lain khawatir," "Orang lain?" "I—iya, Batari ... ta—tadi 'kan khawatir!" gugup Janu, entah kenapa. Ia hampir keceplosan menyebutkan dirinya yang masuk ke dalam daftar orng turut mengkhawatirkan Anyelir. Tapi tentu saja tak akan pernah terlontar, balik lagi, gengsi. "Sumpah, Bapak, nggak jelas banget tau nggak!" "Ini." Ada tali tambang berwarna putih dengan panjang sekitar setengah meter tersodorkan di hadapan wajah Anyelir, coba bayangkan betapa herannya Anyelir saat ini? "APA INI?!" "Tali," "Emmmh! Asem!" Anyelir menyugar helaian rambutnya kasar, sedikit dijambak menahan kesal. "Kamu pernah cicipi tali? soalnya setahu saya tali itu nggak ada rasanya," Ini dia emang beneran b**o apa gimana, sih? "ANAK TK JUGA TAU!" "Tau kalo tali itu asem?" "Maksud saya—arghh! maksud saya ini tali buat apa?!" "Pelampiasan." Janu yang kini membetulkan posisi duduk menoleh ke arah Anyelir, sungguh masih datar. "Kamu pasti membutuhkannya." "Hah?!" "Setiap kali kamu kesal sama saya, kamu potong tali itu sedikit. Kalo sampai tali itu tinggal tersisa satu sentimeter saja, kamu kasih ke saya ... dan saya akan dapat hukuman dari kamu," "Saya nggak butuh ini." Tali itu kembali ke tangan Anyelir. Jujur, Anyelir bukan orang pendendam yang akan membalas segala perbuatan orang. Yang ia butuhkan hanya permintaan maaf tulus dari Janu, tak apa jika ia yang mau melakukan hal demikian duluan. Tapi, Janu seolah tak peduli dengan kata tersebut, padahal itu adalah hal yang penting dalam suatu hubungan. Entah itu keluarga, rekan kerja, atau yang lainnya. "Saya yang butuh. Kamu boleh memotong tali itu jika benar-benar sangat marah terhadap saya. Saya hanya ingin kamu mendapat balasan yang adil setelah apa yang telah saya perbuat," "Tapi kenapa, Pak?" "Kenapa? apanya?" "Kenapa nggak langsung minta maaf aja, sih? kan gampang! saya nggak perlu ngelakuin hal kayak.gini, ribet!" "Buat apa minta maaf jika hanya terucap sebatas kata, saya benci hal munafik." Janu memberikan tali itu pada Anyelir, lantas ia berdiri dari tempat duduk dan bersiap untuk pergi setelah membuat gadis itu sedikit tersentuh. "Kenapa Bapak sulit dimengerti, sih?" "Karena kamu nggak harus mengerti saya, tapi saya yang harus mengerti kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN