Bab 20 - Kekhawatiran Anyelir

1637 Kata
Entah berapa kali Anyelir mondar-mandir seperti setrika baju, kuku-kuku ditangannya juga ia gigiti. Beruntung tidak ada cat warna-warni hasil pedicure yang biasa dilakukan saat syuting, lagipula di Kalimantan lebih tepatnya tempat penginapan ini mana ada salon kuku, salon potong rambut saja sepertinya tidak ada. Degup jantungnya sejak tadi tak tentu, sejujurnya ia khawatir. Tapi apa yang harus diperbuat dengan tubuh ringkih yang katanya tidak berguna ini? Usai berbicara empat mata dengan Janu, mengutarakan maksud lelaki itu yang mengharapkan Anyelir membalas sesuatu daripada mengalun maaf. Janu pergi disusul DOP sebab kamera yang dipasang di atas pohon kemungkinan besar akan rusak oleh dahan yang tumbang, hujan deras ini benar-benar ditemani angin kencang. Wajar bila pohon yang berusia ratusan tahun itu kelelahan. Batari yang ikut insomnia atau lebih tepatnya takut karena keadaan mencekam oleh petir, tiba-tiba masuk ke dalam kamar Anyelir. Langit menangis seperti tak kenal lelah, entah merintih kesakitan oleh keadaan hutan yang tak lagi asri. Atau meraung meratapi bumi yang sudah tak muda lagi. Anyelir hanya berharap hujan turun secukupnya, jangan sampai terus-menerus seolah ada rasa sakit yang sengaja semesta tumpahkan ke dasar daratan. Mata Batari berkedip-kedip memastikan keadaan di dalam, takut-takut yang dilihat adalah jelmaan dari kuntilanak. "Itu lo, 'kan, Lir?" Ikut terkejut, Anyelir menoleh dengan mulut setengah terbuka. Lagipula tengah malam begini Batari dengan rambutnya yang mulai seperti singa jantan itu tiba-tiba muncul di pintu masuk kamarnya, mana keadaan cukup gelap. "LO NGAPAIN, SIH? KAGET GUE!" "Numpang tidur." Dengan santainya gadis itu berjalan masuk lantas merebahkan diri di tempat tidur Anyelir. Hanya beberapa detik, selang berikutnya ia menatap Anyelir heran. "Lo kenapa, sih? mondar-mandir gitu? pusing gue liatnya!" "Pak Janu pergi ngurusin kamera di tengah hutan dari tadi pas habis ngobrol sama gue ... tapi sampe sekarang belum balik juga!" Terbangun Batari, melotot dia. Terkejut dengan apa yang tengah dipikirkan oleh manusia bernama Anyelir. "Lo ... khawatir?" "Hah? E—enggak ... maksudnya 'kan kalo kamera yang di atas pohon itu rusak, nanti hasil time lepase keadaan hutan bisa hilang!" Kini posisi Batari berubah menjadi duduk bersila di atas tempat peraduan, menatap lekat ke arah Anyelir demi mendapatkan secercah keohongan yang tidak bisa Anyelir sembunyikan. Memang benar, Anyelir tidak pandai dalam mneyembunyikan sesuatu, terlalu kentara saat dia merasa terpojokkan. "Lo bohong," "IYA! gue khawatir," "Setelah apa yang telah dia lakuin ke, lo?" "Kan tadi dia udah jelasin kenapa dia bisa sampai marah kayak gitu!" "Apa dia minta maaf?" "Eng—" "Nggak usah mengkhawatirkan orang yang nggak pernah mengkhawatirkan lo balik! Janu bagi gue adalah sutradara ter-b******k yang pernah ada, orang yang benar-benar nggak punya hati nurani!" Anyelir terdiam sejenak, mencerna setiap ucapan Batari yang memang mengandung kebenaran di dalamnya. Lantas ia berjalan mendudukkan b****g di samping sahabatnya itu, Anyelir memandang Batari sendu. "Janu nggak seburuk yang terlihat," "Gue curiga sama lo. Apanya yang nggak terlihat buruk? lo jatuh terluka sampai berdarah-darah bukannya diobati, malah dimasukin dalam scene. Terus itu ... setiap syuting isinya amarah dan amarah, belum lagi dia ngebiarin gitu aja lo masuk ke dalam hutan yang isinya da beruang. Apa dia bertanggung jawab? apa dia pernah minta maaf? enggak, Lir! kurang b******k apa coba dia?"" Ada benarnya, semua yang dikatan Batari bukan seenak jidat buah hasil kesimpulan pribadi seperti gosip Ibu-ibu arisan yang pastinya ditambah dengan bumbu-bumbu cinta. Perlakuan Janu, ucapan yang terlontar, bahkan sorot matanya saja pasti menimbulkan kebencian bagi siapapun yang baru mengenal Janu. Tapi, ada gelenyar yang mulai merebak tak bisa didefinisikan oleh Anyelir. Janu seperti menyimpan banyak beban yang menjadikannya sebagai tameng atas seluruh masalah. Setahu Anyelir, lelaki itu juga jarang tidur, selalu mementingkan para crew, juga sulit dimengerti. Janu mungkin tak pernah meminta maaf, tapi dia punya cara tersendiri sebagai balasan rasa bersalahnya pada Anyelir, ya, mungkin agak sedikit terkesan klise. Kamu nggak harus mengerti saya, tapi saya yang harus mengerti kamu. Kalimat itulah yang menjadi pamungkas sebelum Janu pergi ke tengah hutan tadi, dan kalimat itu juga yang membuat persepsi Anyelir terhadap Janu sedikit berubah. Tidak ada secercah hipokrisi dalam ucapannya tadi, benar-benar tulus keluar dari mata hazel yang terkesan teduh itu. "Lo salah, Tar ... lo hanya menilai luarnya, bukan dalemnya." Anyelir tersenyum canggung. Sama kayak lo, Lir. Batari hanya berucap dalam hati, perasaan yang sejak lama ia hindarkan dengan baik selalu tiba-tiba muncul, entah sampai kapan itu akan bertahan sampai suatu saat meledak dengan sendirinya. Semesta terlalu nyaman memberi derita. ** Di lain sisi, tengah malam di jenggala yang gelap. Hujan benar-benar mengguyur empat orang lelaki bertubuh tinggi, beberapa diantaranya memegang payung sebagai pelindung air. Namun, si lelaki berambut cokelat semu merah tak acuh. Ia mendongak, membiarkan matanya pedih terkena rinai guna menangkap sebuah kamera yang diikat kuat pada pohon mahoni. Ada dahan yang menggelayut dari kenari di sampingnya, seperti tangan yang terkilir, kemudian patah hampir menjuntai ke tanah. Tapi masih tertahan, tersapu-sapu oleh angin hampir mengenai bagian kamera. "Kita harus ambil kamera itu sekarang!" "Bagaimana cirinya, Pak?!" Aruna sedikit berteriak, berusaha memayungi tubuh atletis Janu tapi lelaki itu semakin menghindar frustasi. "CARA!" "I-Iya, PAK!" Si asisten sutradara yang kesal dengan mulut typo itu menggeplak cukup keras. "Ini mulut, nggak bisa diajak kompromi!" "Ini terlalu bahaya, Pak! kita balik aja ke penginapan!" Ada crew lain yang menyahuti, berniat untuk memperingatkan sebab keadaan semakin tak karuan. "Terus gimana dengan hasil timelapse-nya? Kamu mau biarin kamera itu ...." tangan Janu menunjuk ke arah pohon yang mengantungkan kamera di sana. Kemudian beralih ke sisi lain di mana dahan berukuran sedang siap menghujam awak kamera bila angin bertiup kembali. "Lihat dahannya ... kamera kita pasti hancur! memangnya kalian sanggup mengganti kamera itu, ha?!" "Tapi kita nggak bawa tangga lipat buat ambil kameranya, Pak." "Saya bisa manjat ke atas." Janu melepas kemeja kotak-kotak yang dikenakan, terlihat kaus navy polos yang melekat menimbulkan lekukan tubuh atletis sebab basah kuyup. Aruna mengambil kemeja Janu, dahinya berkerut khawatir. "Pak ... itu licin, Pak. Bahaya!" Mendengar itu Janu menoleh, hujan yang cukup deras tidak memadamkan api-api yang menyala dari manik Janu. Amarah benar terlihat kentara di sana, hari yang melelahkan untuk Janu ini tak sedikitpun memberikannya celah untuk sekadar bernapas. Bahkan mie instan yang dibuatkan Aruna terlihat sedap tadi terasa hambar, tidak sampai tandas ia habiskan, hanya empat lima suapan saja. Janu tidak selera. "Saya sudah bilang berkali-kali sama kamu, Aruna. SAYA ... NGGAK SUKA DI PROTES!" Menciut seketika nyali Aruna, ia tidak berniat memprotes, ia hanya khawatir dengan Janu. Aruna sangat mengenal si sutradara perkfeksionis itu sejak kecil, tempramental nya, keras kepalanya tak pernah berubah. Janu selalu mengorbankan apapun demi keselamatan orang dan kebaikan bersama, meski yang terlihat selalu menunjukkan sikap menyebalkan. Tapi jujur, hatinya sangat lembut dan rapuh, hanya saja Janu tak mengerti cara mengungkapkan apa yang dirasakan. Lelaki itu terlalu kaku, atau lebih tepatnya kurang pengalaman. Genta—adalah panggilan sayang yang sejak lama terlupakan, sebab suara bariton berhati lembut itu tak pernah kembali terdengar sejak usia Janu menginjak angka dua belas. Ia mulai tumbuh menjadi sosok yang dingin dan kaku, tahu orang disekitarnya begitu tulus menyayangi Janu, pun dengan sebaliknya.. Tapi tak tahu caranya membalas, Janu benar-benar tidak pernah mengungkapkan apapun yang ia rasakan. Entah itu bahagia, sakit, sedih, ataupun cinta. "Saya hanya khawatir, Pak." "Khawatirkan saja tubuhmu, jangan sampai basah. Nanti kamu terserang flu!" Kedua tangan kekar mulai mendeteksi keadaan pohon, melihat-lihat sembari perlahan memukulnya pelan untuk memastikan. Janu menulikan pendengaran. Ia tetap bersikukuh untuk memanjat pohon dalam keadaan hujan juga gelap gulita, hanya bermodalkan cahaya dari senter saja. Sementara Aruna dan beberapa crew lain tak bisa berbuat banyak selain merapalkan do'a, berharap tidak ada kejadian mengerikan yang menimpa. "Pak! Hati - hati ...." Ada golok yang Janu bawa untuk menakik, seperti hal yang lumrah ia mengerjakan jejak panjat itu dengan mudah. Memang kamera yang diikat di pohon tidak terlalu tinggi, tapi apabila kejadian yang tidak diinginkan itu terjadi tetap saja berbahaya. Aruna memfokuskan atensi, terlihat Janu tengah melepas beberapa alat untuk menempelkan kamera di batang pohon. Ia terpukau dengan keahlian si sutradara itu, selain pandai baku hantam, Janu pandai memanjat, pandai mendeteksi keadaan, pandai memimpin proses syuting, juga pandai memberikan kritik pedas nan nyelekit. Tapi tak apa, karena hal terpenting dari kesalahan adalah perbaikan. Tak butuh waktu lama, jantung yang berdegup kencang oleh rasa cemas perlahan mereda. Janu berhasil mencopot kamera dengan baik, tubuhnya kini tengah di bawa paksa untuk menuruni pohon yang menjulang hampir 4 meter itu. "Pak Janu keren, ya?" Salah satu crew memukul pundak Aruna cukup kencang, membuat si asisten sutradara itu meringis. Berniat membalas, Aruna mendorong tubuh Jordan—crew bagian DOP tadi tak kalah keras sampai lelaki berkumis tipis itu terhuyung ke belakang. "Keren banget kayak Jackie Chan!" "Lebih keren Diego Zoo!" Satu dorongan lain membuat Aruna menarik napas kasar. Janu yang sudah tiba, menginjakkan kaki di tanah sedikit berlumpur ini mengerutkan alis mendapati tingkah dua manusia berbeda profesi itu begitu aneh. "Kalian ini kenapa?!" Mulutnya Janu berucap, tapi matanya fokus melihat kamera. Memastikan keadaan kamera yang digenggam harus baik-baik saja. "Pak Janu hari ini keren, kayak Jackie Chan!" Pekik Aruna. "Siapa? Jackie Chan?" "Itu ... Yang main film Kuch Kuch Hota Hai, Pak." "Itu Shah Rukh Khan, Arun Karun!" Jordan membetulkan tebakan Aruna yang benar-benar salah. "Ah ... Iya, itu!" Mereka saling melempar tawa sinis bercampur adegan saling dorong mendorong lagi, sementara Janu fokus pada kamera. Sampai dorongan Jordan yang terakhir membuat Aruna benar-benar kehilangan keseimbangan, hujan yang kian mereda tetap menimbulkan genangan-genangan yang berlumpur di tanah sampai licin. Aruna terhuyung ke belakang, demi menyeimbangkan tubuhnya, lengan yang lemas itu menarik dahan pohon kenari patah. Tarikan cukup kuat yang diberikan Aruna berhasil mematahkan dahan yang menggelayut hampir mengenai kamera tadi, tapi justru ada bagian lain yang ikut tertarik Juga. Yang lebih bahayanya, saat ini sebagian dahan itu akan jatuh menimpa Aruna. Janu yang melihat kejadian tersebut melotot, memberikan kamera secepat mungkin kepada Jordan lantas segera beranjak menyambar tubuh Aruna yang hampir tertimpa dahan. Sayangnya, hanya tubuh Aruna yang terselamatkan. Bugg! "PAK JANU!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN