Baru beberapa menit terlelap, rasanya dahaga seperti berada di padang pasir yang tandus, benar-benar haus. Anyelir mendudukkan tubuh dengan lemas, mengumpulkan jiwa yang hampir tenggelam ke alam bawah sadar. Kedua telapak tangan ia gosok ke arah lengan, dingin begitu menusuk pori-pori di tengah malam yang panjang ini.
Atensinya ia torehkan ke arah samping, Batari yang tertidur memeluk guling terlihat damai dengan kelopak mata yang tertutup rapat. Anyelir menyibakkan selimut, kaki jenjangnya turun menyentuh lantai berbahan ulin yang terasa begitu dingin. Berjalan menuju ruang tamu, mencari sebuah tabung berisi air yang di simpan di sudut ruangan.
Saat tangan yang menggenggam air putih siap bergerak melakukan aktivitas minum, samar-samar terdengar erangan seorang lelaki di tengah gelapnya ruang tamu beralaskan tikar. Fantasinya mulai kembali menjelajah, memang otak Anyelir selalu beranggapan tentang makhluk halus di situasi saat ini.
Lagipula siapa yang tidak berpikiran demikian? Sudah gelap, selepas hujan, semua crew tidur termasuk Batari, ada bunyi erangan di tengah-tengah kesunyian. Orang mana yang tidak mengira bahwa itu ulah sahabat kuntilanak. Tapi tunggu, memangnya kuntilanak ada yang berjenis laki-laki? Anyelir menggeleng dengan tubuh yang gemetar mulai takut, bahkan bulu kuduknya pun ikut berdiri.
Meski takut, tetap saja ia penasaran. Sebab bunyi tersebut kian terdengar kuat bila ia berjalan kembali menuju ruang tidurnya. Atau mungkin? Hantu itu ada di kamarnya?
Ah, Batari!
Anyelir segera beranjak kembali, namun langkahnya terhenti saat erangan itu terdengar jelas kala berjalan melewati ruangan Janu dengan pintu yang setengah terbuka. Kamarnya gelap, tapi Anyelir tidak budeg, benar-benar terdengar bunyi yang jelas dari dalam sana.
Demi menghilangkan rasa penasarannya, Anyelir berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar Janu. Ia buka pintu secara perlahan, menyipitkan pandang demi meneliti ke adaan di dalam. Benar saja, erangan itu bersumber dari dalam sini. Anyelir menoleh ke arah samping.
Klak.
Lampu yang dinyalan membiaskan sosok manusia bertubuh tinggi tengah terduduk menyenderkan seluruh raga ke arah dinding, Anyelir melotot sempurna. Bagaimana tidak? Kondisi Janu terlihat mengkhawatirkan, tangan kirinya terbalut kemeja kotak-kotak berlumur darah, wajahnya pucat pasi dengan rambut dan tubuh yang basah. Bahkan ada jejak darah bercucuran dari arah pintu masuk sampai di sekitar tempat peraduan.
"PAK JANU!" Anyelir yang kaget lantas mendekat, membuat lelaki yang terlihat lemas itu membuka mata.
"BA—BAPAK! BAPAK! KE—KENAPA? I—INI KENAPA? DARAH! ADA DA—DARAH!"
Panik Anyelir bukan main, tubuh Janu benar-benar basah kuyup. Bukan karena keringat, tapi lelaki itu habis membiarkan diri di tengah guyuran hujan tadi, belum sempat mengganti pakaian rupanya.
"Saya nggak apa-apa," gumamnya lemas, matanya menyipit, seolah berat untuk terbuka sempurna.
"NGGAK APA-APA GIMANA, SIH?! I—INI BAJUNYA INI ... INI KENAPA BASAH?!"
Anyelir yang panik bingung harus berbuat apa, masalahnya ia tak pernah berhadapan dengan situasi seperti ini. Janu benar-benar mengkhawatirkan, bahkan ketika telapak Anyelir menyentuh dahi yang berkeringat.
"Ah, panas! Pak ... Pak Janu demam!"
Tak karuan perasaan Anyelir, sekujur tubuhnya gemetar panik dengan degup jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia memutar otak harus melakukan tindakan apa, walaupun pikirannya benar-benar buntu entah harus bagaimana.
Tenang Anyelir, tenang ... Lo harus tenang!
Sekali tarikan napas panjang, Anyelir memejamkan mata sekilas lantas menatap Janu penuh dengan rasa khawatir. Ia berjalan ke arah kiri. Dengan saliva yang sulit ditelan, mata yang mulai berkaca-kaca, Anyelir memegang lengan Janu yang terluka sangat hati-hati.
Janu kembali meringis, namun terlihat lemas.
"Biar saya lihat lukanya, Pak."
"Nggak usah," pelan sekali, terlihat Janu benar-benar lemas seolah tak ada tenaga. Bahkan ia berucap dengan kedua mata yang hampir tertutup rapat.
"Ja—jangan keras kepala!"
Kekhawatirannya sejak Janu beranjak usai berbicara empat mata benar-benar terjadi, seolah ada firasat yang mengatakan bahwa kepergian Janu menjadi pertanda hal buruk yang akan menimpa. Anyelir sudah tak kuasa membendung bulir-bulir di kelopak mata yang membuat pandangannya mengabur kala membuka kemeja yang diikat asal dengan perlahan.
Darah yang mengalir rupanya bersumber dari luka goresan yang cukup dalam juga menganga, kira-kira panjangnya mencapai 7cm, dengan bentuk tak rapi. Pundak Janu juga terlihat memar, Anyelir yakin ini bukan ulah benda tajam atau semacam pukulan. Tapi ia tak berani bertanya lebih, bukan tak ingin, mengingat konsidi Janu yang lemah harus membiarkan ia menyimpan energi.
Tanpa pikir panjang, usai melihat luka Janu yang tidak berhenti mengeluarkan darah, Anyelir mengikat kuat dengan harapan aliran merah itu berhenti. Bukan tak ingin ia mengobati, tapi Janu membutuhkan pertolongan medis. Apapun yang terjadi ia harus membawa Janu ke rumah sakit detik ini juga, Anyelir segera keluar kamar, tapi Janu bergumam sangat pelan menghentikan langkahnya.
"Anyelir ...."
Gadis itu menoleh, sepanjang Janu mengenalnya. Ia tak pernah memanggil Anyelir dengan nama asli, terdengar tabu Janu berucap demikian.
"Anyelir ...."
"Iya, Pak? Kenapa? A—apa ada yang sakit?"
Orang akan mengira Anyelir benar-benar bodoh, coba bayangkan bagian mana yang tidak sakit? Luka yang menganga, memar di sekitar pundak, juga demam. Entahlah gadis itu kehilangan kata-kata.
Anyelir melangkah kembali mendekat Janu, rasanya begitu sesak sampai ia kembali menteskan air mata. Ada rasa ngilu yang menjalar, seolah kesakitan Janu juga memberinya rasa sakit yang sama.
"Ma—maaf," pelan. Sangat pelan, bahkan Anyelir tidak sepenuhnya mendengar kata itu, tapi ia samar-samar mendengar dua huruf terakhir yang menjelaskan segalanya.
Gadis itu mendudukkan tubuhnya di samping Janu, mengusap pelan keringat yang mulai bercucuran oleh dahi panasnya. Janu yang lemas tiba-tiba ambruk tepat di pundak Anyelir, tubuhnya menggigil hebat.
"Maaf Anyelir ... Maafkan saya."
Entah sudah berapa tetes air mata yang keluar dari manik cokelat Anyelir.
"I—iya, Pak ... Sa—saya ... Saya ...." Sudah tak sanggup ia melanjutkan kalimat, dengan sekuat tenaga yang kian gemetar takut Anyelir berteriak.
"TOLONG! SIAPAPAUN TOLONG ... BATARI! BATARI ... TO—TOLONG! SIAPAPUN ... DATANGLAH KE KAMAR PAK JANU!"
Isak tangisnya benar-benar tak tertahan, ia membiarkan lelaki tempramental itu tertidur di dalam dekapannya. Janu mengeratkan pelukan pada pinggang Anyelir, begitupun sebaliknya, seolah takut benar-benar akan kehilangan Janu.
Anyelir semakin panik saat tiba-tiba Janu tak ingin membuka mata.
"TOLONG! TOLONG!"
"Pak Janu, buka matanya! Jangan tidur, Pak!" Sangat pelan ia menepuk-nepuk pipi Janu, tapi lelaki itu tiba-tiba tersenyum singkat dengan mata yang masih terpejam.
"Maaf ... saya ... cemburu,"
Kalimat yang terucap sangat pelan juga tersendat itu tetap jelas terdengar oleh Anyelir, meski ingin rasanya bertanya mengenai ucapan yang dimaksud. Tapi bukan waktu yang tepat, lantas Anyelir kembali mendongak.
"TOLONGGGGGGGGG!"
**
Ada cahaya putih yang menyilaukan pandang saat kedua manik perlahan terbuka, iris hazel keturunan Spanyol itu terlihat cerah oleh sinar dari jendela ruangan. Sebelah tangan kirinya terasa kebas, tapi sudah rapi berbalut kassa perban. Pening dikepalanya juga masih terasa, seluruh tubuhnya benar-benar seperti remuk.
Saat seluruh cahaya mengisi penuh situasi mata, lelaki itu mengitari sekeliling. Bangunan usang, terlihat sempit hanya terdapat satu tempat tidur. Ada sofa yang sudah sobek bagian tengahnya tersimpan di sudut ruangan, Janu melihat selang infuse yang terpasang di punggung tangan kanan.
"Rumah sakit?"
Ruangan kecil ini benar-benar sepi, ia hanya melihat sebuah kursi yang tersimpan mengarah pada jendela. Di atasnya kaos navy serta celana khaki Janu yang kotor berlumuran darah tersimpan di sana.
Tunggu, lelaki itu tiba-tiba terkejut. Lantas melihat ke arah bawah memastikan bahwa memang benar pakaiannya sudah berganti. Apakah Aruna seberani itu? Oh, Janu menggertak kesal. Sebab ia tak ingat apa saja yang terjadi tadi malam sampai ia terbangun di ruangan kecil dengan luka yang sudah diobati, pakaian yang sudah diganti, juga jarum infuse yang tertancap rapi.
Seingatnya, ia menyeret tubuh Aruna yang hampir terkena runtuhan dahan dari pohon tumbang. Tapi justru sebelah tubuh bagian kirinya yang terkena sampai menimbulkan luka.
Dahan yang tumbang itu memiliki ujung yang tajam, terjatuh dari ketinggian menggores lengan Janu dalam. Belum lagi bagian lainnya sukses menghantam pundak Janu hingga lelaki itu terjatuh tak kuasa menahan bobot tubuhnya.
Lalu setelah itu ia berjalan dengan lemas, sembari membiarkan tubuh diguyur hujan. Sampai penginapan, dengan tegas dan penuh amarah Janu menyuruh Aruna, Jordan serta crew lain membiarkannya pergi untuk istirahat. Padahal yang terjadi ia menahan sakit, berusaha menyembunyikan apa yang dirasa agar tidak merepotkan orang lain. Tapi Janu akhirnya kewalahan, sampai seorang gadis tiba dihadapannya.
"Anyelir!" Pekiknya baru tersadar.
Mata Janu melotot sempurna, memori malam sebelum ia kehilangan kesadaran terlintas dengan damai. Janu lantas menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Kenapa? Ada yang sakit? Bapak udah bangun?" Ada suara melengking yang membuat keterkejutannya bertambah dua kali lipat.
"ASTAGA KAGET!"
Ekspresi Janu yang terkejut berubah kembali menjadi datar, melihat wajah gadis itu saja sudah membuatnya tersiksa menahan rasa malu. Membayangkan malam di mana Janu mengutarakan rasa cemburunya terhadap Diego, sial.
"Bentar saya panggilkan dokter."
Anyelir segera beranjak, tapi Janu meneriakkan namanya seolah ketakutan, membuat gadis itu berbalik. "Kenapa?"
"Ka—kamu ngapain di sini? Ki—kita kenapa ada di sini?"
Anyelir memutar bola matanya malas, tangannya bersedekap. Menatap Janu dengan api-api yang siap menyala. Bukannya berterimakasih atau mengalun kata-kata manis, Janu justru bertanya seperti mengintrogasi dengan nada-nada tinggi penuh penekanan.
"Tadi malem ada yang pingsan sambil meluk saya, tangganya sobek, bahunya memar, tubuhnya demam. Kira-kira ... Kalau saya biarkan dia bakala kayak gimana, ya?" Nada Anyelir terdengar sinis, bahkan alisnya sedikit terangkat.
"Ta—tapi ... Tapi bagaimana bisa? Bukannya akses jalan longsor?!"
"Emm, bagaimana, ya, caranya? Terbang? mungkin,"
"Saya serius bertanya! Tunggu, Di mana Aruna?!"
"Yang serius itu pertanyaan yang mana?"
"Jangan bercanda—arggh!" Janu tak lagi bersiap mengumpat dan memaki Anyelir dengan nada tinggi sebab ada bagian tertentu yang menjalarkan sakit saat berteriak, sehingga ia berakhir memegangi bagian lengannya.
"Tangannya ngasih peringatan tuh, jangan marah-marah mulu!"
"Ya, kamu jangan bikin saya marah!"
"Iya, Pak ... Iya, orang sakit emang selalu bener."
Anyelir kembali berbalik, jika Janu sudah pandai mengomel artinya dia sudah membaik. Sifat aslinya kembali muncul membuat Anyelir merasa sedih, meski Janu semalam terluka parah ditambah demam tinggi, tapi ucapannya begitu terdengar lembut dan mengharapkan belah kasihan sampai Anyelir terisak.
Tapi sekarang? Oh, lihatlah. Harimau memang sulit dijinakkan.
"Saya panggilkan dokter!" Anyelir berteriak di ambang pintu.
"Tolong panggilkan Aruna ke sini!"
Kepala Anyelir menyembul di balik tembok, alisnya berkerut.
"Aruna tidak ada di sini."
"Dia pergi setelah mengganti pakaian saya?" Mulut Janu maju beberapa centimeter, wajahnya bahkan merah seperti menahan amarah.
"Yang mengganti pakaian Bapak itu ... bukan Aruna."
Deg
Mulut Janu yang menganga tak bisa digerakkan, ia menoleh ke arah pakaian tadi, beralih ke tubuhnya, lalu pada Anyelir yang hanya memperlihatkan kepala saja.
"Si—siapa?! Siapa yang mengganti pakaian saya?!"
Tengkuk Anyelir digaruk tak gatal, gelagapan dia.
"Kira-kira yang ada di sekitar sini siapa aja?" Lantas gadis itu pergi, benar-benar menghilang dari arah pandang Janu.
Janu melotot.
Apa mungkin? Secepat kilat lelaki itu menggeleng frustasi, menepis dugaan-dugaan yang sepertinya hampir benar. Tapi bagaimana bisa? Apakah Anyelir juga? Ah, Janu tidak bisa membayangkan hal tersebut, sangat memalukan, sungguh.
Sial! Sial! Sial!
Rambutnya ia remas frustasi, sudah menaruh benteng tertinggi di hadapan Anyelir demi kehormatan dan harga diri. Lalu tiba-tiba runtuh hanya karena Anyelir mengganti pakaiannya. Tapi ini benar-benar pakaian milik Janu, kaos telur asin dengan celana sayur cream, bahkan ada tas yang berisi tumpukan pakaian gantinya juga.
Hingga ia berujung menepuk-nepuk jidatnya kasar, sungguh memalukan.
"Pak Janu? Sedang apa?"
Ada dokter muda kira-kira seusia dengannya masuk, ia tampan, terlihat berwibawa juga ramah. "Apa kepalanya sakit sampai dipukul-pukul seperti itu?"
"Ah, tidak ... Saya—" ucapnya tertahan saat seorang gadis kembali masuk, berwajah santai seolah memang tidak terjadi apa-apa diantara keduanya.
"Biar saya lihat lukanya." Dokter tadi menghampiri bagian luka yang berbalut perban. Memeriksanya secara perlahan.
"Dokter, saya boleh bertanya?"
"Ya, tanyakan saja."
"Kenapa saya bisa sampai di sini? Ini tempat apa?"
Dokter yang semula membungkuk untuk memeriksa luka Janu kini berdiri tegak, mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa Janu.
"Semalam Bapak pingsan, luka parah. Bapak di bawa ke sini pakai gerobak oleh Berta Bee dan beberapa warga. Ini bukan rumah sakit, hanya pusat kesehatan biasa ... Dan saya dokter yang menjadi relawan di sini, asal saya dari Bandung."
"Te—terus?!"
"Ya, saya obati."
"Cuman dia yang nolongin saya?" Janu tidak menyebutkan yang dimaksud 'dia', lelaki itu juga tidak menunjuk Anyelir dengan tangannya. Tapi jelas itu ditujukan kepada Anyelir.
"Berta Bee dibantu tiga crew lain, tapi mereka sepertinya sudah kembali ke penginapan. Hanya Berta Bee yang berjaga sepanjang malam,"
"Kamu kenal dia?"
"Saya juga kenal dengan Pak Janu ... Juga film-film keren karya Bapak."
Janu mengangguk-angguk paham, sementara Anyelir hanya menatap Janu dengan datar.
"Kalo begitu saya permisi, saya buat laporan kesehatan dulu. Nanti saya ke sini lagi, tapi kalo ada apa-apa bisa langsung panggil saya di bagian depan." Dokter itu beranjak.
"Makasih, Dok," ucap Anyelir tulus.
"Sama-sama."
Janu menatap lekat ke arah Anyelir, benar-benar tatapan dingin dan menusuk. Wajahnya sangat datar dan mencekam, sungguh Anyelir merasa was-was dengan tatapan itu.
"Kenapa melakukan semua itu?" Demi apapun pertanyaan dingin dengan tatapan mengintimidasi itu membuat Anyelir takut.
"Sa—saya takut ... saya takut Pak Janu kenapa-kenapa,"
"Kamu nggak punya hak melakukan semua itu! Memangnya kamu siapa, ha?!"
"Hah?" Sungguh Anyelir tak percaya dengan apa yang dilontarkan Janu barusan.
Janu menyalahkannya?