"Apa saya minta tolong sama kamu, ha?! Enggak, 'kan!"
Anyelir hanya bisa melongo, setelah pengorbanan semalam suntuk menemani juga mengurus Janu. Bukannya mendapat ucapan syukur yang hangat di dengar, Janu justru menajamkan mata mengucapkan kalimat-kalimat memojokkan, seolah-olah yang dilakukan Anyelir adalah sebuah kesalahan yang fatal.
Pada kenyataannya, Janu memang tidak memohon pada Anyelir untuk membantunya, membawa lelaki itu ke pusat kesehatan untuk diobati. Tapi apakah Anyelir tega membiarkan seseorang yang terluka diambang kematian hanya karena orang tersebut tak mau dibantu? Manusia mana yang melakukan tindakan bodoh seperti itu, kecuali jika ia berhati hewan.
Hingga pada akhirnya bagian yang sesak kian menjalar ke ulu hati, pusat pernafasan kembang kempis itu seolah diikat paksa sampai oksigen rasanya tak pernah ada. Mata yang lelah karena terjaga tanpa terpejam kian memanas, menimbulkan perisai yang dapat mengaburkan pandang. Anyelir merunduk sekejap.
"Terus saya harus apa?" Tetesan-tetesan air dari manik cokelat keluar bersamaan dengan kepala yang terangkat menatap Janu lekat. "Membiarkan Bapak mati di hadapan saya?!"
Baru kali ini d**a Janu ikut sesak saat air mata begitu damai mengalir dari pelupuk Anyelir, rasanya menyakitkan. Padahal entah berapa banyak Janu membuat gadis itu menangis, terlalu sering sampai tak mampu terhitung olehnya.
Janu seperti bawang bagi Anyelir, berada di dekatnya akan membuat mata perih dan menangis. Dengan perlakuan dinginnya, ucapan kasarnya, bentakan tak punya hatinya, bahkan sorot mata yang selalu menyalakan api-api kebenciannya turut menyiksa raga juga batin Anyelir.
Sungguh Anyelir lelah.
"Ganti baju kamu!"
"Saya nggak bawa baju ganti." Anyelir membuang wajah, menghapus jejak air matanya kasar.
"Pakai punya saya!"
Ada decakan sebal yang membuat mata Anyelir mendelik bertambah marah. Mereka benar-benar seperti musuh, saling melempar tatapan tajam dengan makna yang berbeda. Yang satu marah, yang satu khawatir tapi justru terlihat marah.
"Saya nggak habis pikir dengan apa yang Bapak inginkan, sebenarnya mau bapak itu apa, sih?" Nada Anyelir benar-benar tertahan, terdengar sendu bahkan menyedihkan. Ia semakin terisak usai berucap demikian.
"Kamu dari kemarin pakai baju itu, ganti!"
Memang benar, sejak semalam berbicara empat mata usai menyantap mie instan, sampai detik ini gadis itu tidak berganti pakaian. Persis sekali, setelan hoodie hitam dengan celana kebesaran berwarna peach. Jangan lupakan rambut cokelatnya yang berantakan digelung asal.
"Terserah saya, dong! Emangnya kenapa? Bau?!"
"IYA!" Tukas Janu seperti tak boleh dibantah.
"Nggak jelas!"
Benar-benar sulit dimengerti, Janu marah-marah tidak jelas ibaratkan Anyelir adalah b***k yang patut disalahkan hanya karena Anyelir tidak mandi, tidak berganti pakaian, dan tercium bau. Padahal menurut indera penciumannya, tubuh Anyelir tidak seburuk yang dibayangkan Janu.
Dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun, Anyelir berbalik hendak beranjak meninggalkan ruangan Janu. Masa bodo, ia pergi kemanapun tak peduli, tak tahu jalan juga tidak apa-apa yang penting menghilang dari wajah menyebalkan Janu.
Namun langkah itu tertahan, suara bariton Janu kembali menggema. Menciptakan alunan bunyi mengambang penuh tanya.
"Saya cuman nggak suka kalo kamu ikut campur dengan urusan saya!"
Bukan hanya bola mata yang diputar jengah, tubuh Anyelir pun ikut berbalik arah menghadap Janu.
"Siapa yang ikut campur?!" Bau-bau perang dunia kembali tercium.
"Dengan kamu menolong saya, artinya kamu ikut campur!"
"Tadinya ... Saya cuman berharap, Pak Janu minimal bilang makasih sama saya. Tapi sekarang—"
Napas Anyelir tersengal, ia sendiri pun heran, entah pertengkaran berjenis apa yang sedang terjadi kali ini. Hanya karena Anyelir menolong seorang yang terluka, permasalahan yang tercipta seperti Anyelir menolong musuh negara.
"Tapi sekarang apa?!" Janu menajamkan tatapannya.
"Bapak seper—"
"Untuk apa menolong orang lain kalo kamu mengorbankan diri sendiri. Pecundang!"
"APA?!" Anyelir tertawa hambar, antara ia yang tak mengerti dengan ucapan Janu. Atau lelaki itu terlalu lihai mengkritik tindakan salah yang dilakukan Anyelir.
"Kamu nolong saya, tapi kamu membiarkan tubuh kamu kehujanan. Sampai pagi ini kamu belum ganti pakaian, tadi malem nggak tidur, kamu juga nggak sarapan. Buat apa kayak gitu?! Biar terlihat keren?!"
"HAH?! Sumpah ... Gila, ya, Bapak?" Lagi-lagi Anyelir tertawa hambar seolah yang dikatakan Janu benar-benar lucu. Semesta terlalu membuat hidup Anyelir selucu guyonan Janu.
"Denger, ya ... Pak! SAYA ... MENOLONG BAPAK ITU IKHLAS!"
"Saya nggak butuh keikhlasan kamu!" Bukan Janu kalo ia tidak pandai berdebat, meski sekujur tubuhnya seolah remuk tak berbentuk. "Karena kamu sendiri nggak pernah ikhlas sama tubuh kamu!"
"OKE! OKE!" Anyelir frustasi, napasnya ia tarik kasar. "Saya nggak ikhlas nolong bapak, saya nggak ikhlas sama tubuh saya sendiri, saya ikut campur, saya pengen terlihat keren, dan saya pecundang! Puas?!"
"Saya nggak nuduh kamu, ya!" Pembelaan Janu, semakin membuat Anyelir geram.
"IYA! SAYA YANG NUDUH DIRI SAYA SENDIRI!"
"Jangan kayak gitu lagi!"
"BODO!" Anyelir keluar dengan hentakan kaki seperti prajurit perang.
Brakk!
Bahkan pintunya ditutup benar-benar kasar, sampai tembok-tembok usang di sekitar ikut bergetar. Juga bulu kuduk Janu yang tak kalah ketar-ketir dengan perilaku Anyelir.
"Memangnya saya salah, ya?"
Janu mengerutkan dahi bingung, pasalnya menurut Janu reaksi Anyelir terlalu berlebihan. Ia hanya tak suka Anyelir mengorbankan segalanya demi menolong Janu, orang normal biasa menyebut kata itu dengan 'khawatir'. Tapi karena kegengsian dan ketidaktahuan dalam memahami hati wanita, Janu kelimpungan sendiri.
"Nggak."
Pintu yang sepertinya rusak sampai tidak bisa benar-benar tertutup itu bergerak kembali. Sosok Aruna masuk dengan gelengan kepala yang acap kali diperlihatkan usai Janu mengadakan perang dunia perdebatan.
"Pak Janu itu nggak salah. Yang salah itu papa saya!"
"Loh? Kenapa?"
"Coba kalo saya dikasih nama Kim Taehyung ... Udah pasti sekarang saya di panggil Oppa! Udah ganteng, kaya, punya bakat, kulitnya ... Wow! Pori-pori tersamarkan!"
"Kim Tae ... Apa? Dia siapa?"
"Itu ... Yang jualan kue ape di pasar Senen beli tiga harganya goceng!"
Janu manggut-manggut percaya, benar-benar hati dan otaknya polos tanpa noda pergibahan juga gosip terkini artis-artis terkenal.
"Kirain artis luar negri, soalnya dia punya nama aneh,"
Aruna menggeplak jidatnya sendiri. "Ya, emang dia artis, Pak Janu yang Budiman!" Gemas Aruna.
"Nama saya Janu Sadajiwa, bukan Janu Budiman. Inget, ya, Aruna!"
"Astaga ... Udah ah, capek! Percuma ngomong sama manusia era sembilan puluhan! Bukannya ngurusin cewek yang ngambek malah diskusi perkara artis Korea! Dasar nggak peka!"
"Nggak peka apa?"
"Itu anak orang ngambek, kejar kek atau gimana gitu, bertindak!"
"Saya suruh ganti baju gamau, udah dipaksa juga tetep gamau."
Janu menatap nyalang ke arah tumpukan baju yang disediakan sejak kemarin. Di paling atas ada kaus polos berwarna putih dengan celana olahraga abu-abu, sengaja ia siapkan untuk Anyelir, tapi gadis itu malah merajuk.
"Ya, paksanya secara halus, dong! Itu mulut udah kayak ulekan rujak aja, pedes banget!" Aruna membentak Janu.
Apabila mode emosi kesal nan gemas dengan sikap Janu muncul. Terkadang bahasa yang terucap sesuai dengan yang diharapkan, padahal kalo lagi syuting pasti aja ada salah kata yang membuat orang emosi. Kadang-kadang tidak sesuai KBBI. Itulah Aruna Kawindra.
"Tetep ... Dia nggak mau." Janu lemas lantas merebahkan tubuhnya di peraduan, menarik selimut tipis menutupi setengah badan yang tidur miring ditekuk seperti orang galau.
"Hitung berapa menit ... Berta Bee bakalan pakai baju yang saya kasih!" Aruna mengambil pakaian yang disediakan Janu tadi, lantas tersenyum meyakinkan.
"Pasti gagal," gumam Janu malas.
"Liat aja sendiri! Pasti berhasil, kayaknya Berta Bee itu emang cocok sama saya,"
Melotot Janu bukan main, lantas ia kembali duduk menjadi lebih semangat lagi. "Ka—kata ... Kata siapa? Emangnya dia ... Dia mau sama kamu?"
"Kenapa? Cemburu?"
"E—enggak ... Biasa aja! Ngapain cemburu!"
"Yaudah, Berta Bee ... I'am coming!" Aruna berteriak kegirangan seraya berlari keluar ruangan.
Lihatlah ekspresi Janu sekarang, gelisah tak menentu. Bahkan ia sudah turun dari peraduan, berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan.
Gimana kalo Aruna berhasil?
**
Aruna berjalan menghampiri seorang gadis yang tengah terduduk di kursi kayu lapuk, wajahnya tertutupi oleh helaian rambut. Merunduk seperti anak kecil merajuk, Aruna gemas sendiri. Lantas mendudukkan b****g di samping Anyelir, dengan punggung yang sengaja bersandar supsya terlihat berduaan dari kejauhan. Terutama dari sudut pandang Janu yang mengamati dalam-dalam dari balik jendela.
Memang jelas, kursi tua yang tengah mereka duduki di bawah pohon mangga rimbun ini akan terlihat dari sudut jendela. Bila Aruna menoleh ke arah kiri, wajah Janu yang sedikit menyembul terlihat sekali, bahkan ekspresi cemburu itu benar-benar mencuat.
"Ganti baju dulu, Berta Bee." Seperangkat pakaian tadi tersodorkan ke arah Anyelir.
"Itu bukan baju saya." Kepala Anyelir terangkat, dengan kasar ia menghapus setiap jejak air mata yang tiada henti mengalir.
"Iya, saya tahu. Tapi baju kamu itu kemarin basah, kamu bisa masuk ingin nanti ... Ganti, ya? Sore ini Batari bawain baju kamu kok,"
"Masuk ingin?"
"Ih ... Typo mulut! Masuk angin maksdunya,"
"Oh,"
"Ayo, ganti. Nanti kamu sakit, Berta Bee ...."
"Iya." Anyelir membawa baju milik Janu, mengelusnya pelan. Ada perasaan yang tak dapat didefinisikan, membayangkan yang membujuknya barusan adalah Janu bukan Aruna.
"Pak Janu itu khawatir sama kamu,"
Seketika Anyelir menoleh ke arah Aruna, wajah tak berdosa yang nampak tenang itu tidak menyiratkan kebohongan sama sekali.
"Khawatir darimana?!"
"Saya punya tiga bukti konkret." Tubuh yang ia sandarkan di kursi kayu itu bersedekap, memancarkan aura tebar pesona yang nampak kentara.
"Sebenernya saya nggak peduli. Tapi daripada saya mati penasaran, coba kasih tahu!"
"Pertama ... Baju yang kamu pegang adalah bukti bahwa Pak Janu pengen kamu ganti baju supaya kamu nggak sakit."
"Itu paling ide dari kamu!" Tebak Anyelir asal.
"Kedua ... Coba puter kepalanya ke arah jarum jam angka sembilan." Kali ini Anyelir menurut, sementara Aruna hanya fokus ke arah depan sembari masih asik bersedekap.
Mata Anyelir dengan manik hazel yang nampak terang tersinari matahari itu saling beradu, meski Anyelir buta wajah, ia tidak minus. Dapat dengan Jelas Janu mengintip di balik jendela memastikan keadaan di sini.
"Kenapa Pak Janu ngintip?"
"Pantesan nggak ada kemajuan ... Kalian berdua emang sama-sama nggak peka!"
"Maksudnya?"
"Ya, buat apa dia ngintip kalo dia nggak cemburu!"
Deg.
Memori malam itu kembali teringat, masa dimana Janu menyatakan bahwa ia cemburu entah pada siapa. Tapi sekarang semua terlihat jelas, Janu adalah sosok yang mudah cemburu bahkan pada asistennya sekalipun, Aruna. Apalagi dengan Diego, aura kemarahannya terlihat berkuasa. Itu artinya perasaan Janu?
Anyelir menggeleng. "Yang ketiga yang ketiga?!"
"Pasti Berta Bee nggak percaya kalo Pak Janu beneran cemburu, ya, 'kan?"
"Kok ta—"
"Ayo kita buktikan!"
"Hah?" Anyelir membeo, ia kebingungan dengan maksud tindakan Aruna selanjutnya.
"Ini bukti konkret yang ketiga ... Pak Janu beneran cemburu!" Aruna menggeser tubuhnya, sampai-sampai kedua kaki mereka saling bersentuhan.
"Kamu ngapain?!"
"Kita lihat harimau jinak, sini!" Jari telunjuk dan tengah Aruna mengayun-ayunkan, tanda agar Anyelir harus mendekat ke arahnya. "Saya akan berbisik, sini lebih Deket!"
Anyelir dengan rasa penasaran menuruti yang dimaksud Aruna, wajahnya semakin ia dekatkan dengan wajah Aruna. Lelaki itu melipir sampai memiringkan wajah mendekat ke arah telinga kanan Anyelir. Dia berbisik di sana.
"Posisi ini ... Kalo dilihat dari sudut pandang Janu bakal mirip orang ciuman!"
"Bertahanlah sebentar lagi." Tubuh Aruna sedikit gemetar menahan agar tidak terlalu bersentuhan dengan Anyelir.
"Tapi Aruna ...."
"Ya?"
"Pak Janu kok nggak ada!"
"Dia nggak ngintip di jendela?"
Anyelir menggeleng secepat kilat. "Nggak."
Akhirnya mereka berdua kembali pada posisi semula, duduk dengan saling berhadapan memandang satu sama lain bingung. Janu pergi? Dia tak peduli? Oh ayolah, tidak mungkin rencana Aruna yang sudah berjalan 85% gagal.
"Dia per—"
"ARUNAAAAA!" Suara bariton yang berteriak semakin terdengar kuat, ada sosok lelaki menggusur infuse stand berjalan lemas ke arah mereka.
Alih-alih membantu Janu, mengkhawatirkan lelaki itu yang memaksa tubuh untuk menghampiri Anyelir. Aruna justru tersenyum penuh kemenangan.
"Tiga bukti konkret!" Mata Aruna berkedip sebelah, lantas dengan damainya bangkit dan berjalan melewati Janu.
Tak lupa lelaki itu menepuk pundak Janu pelan. "Semoga sukses, Pak!"
"Heh! Saya mau bicara!" Tubuh Janu berputar sedikit, menyaksikan punggung bidang Aruna yang hanya melemparkan lambaian tangan saja.
"ARUNA ... ARUNAAAA!"
Percuma. Lelaki itu lari terbirit-b***t seolah teriakan Janu merupakan panggilan seram dair makhluk halus. Janu yang baru paham dengan maksud Aruna bertindak sejauh ini lantas mendekat ke arah Anyelir.
"Say—"
"Masuk!" Belum sempat Janu mulai percakapan, Anyelir sudah terlihat galak.
Janu menghela napas. "Ada yang ingin kamu omongin sama saya?"
"Ada!" Ketus Anyelir.
Dengan susah payah lelaki itu ikut terduduk di samping Anyelir, menatap lekat ke arah gadis itu dengan serius. Seolah yang ditatap akan paham dengan apa yang dimaksud Janu, katakanlah ia menang tak pandai berucap manis. Tapi Omelannya itu yang menunjukkan betapa lembutnya hati Janu.
"Ngomong aja." Janu memejamkan mata sejenak, sudah siap menerima segala u*****n.
"Bapak jangan kaget!"
"Apapun omongan kamu saya terima, yang terpenting kamu mau ganti baju kamu habis ini."
Cup.
Anyelir memberikan kecupan singkat di bibir Janu, membuat lelaki itu membeku seketika. Matanya melotot, ada desiran-desiran yang mengalir sampai jantungnya seolah ingin copot. Bibirnya tanpa diminta langsung tersungging seolah kupu-kupu di perutnya menggelitik manja.
"Sa—saya ganti baju dulu!"
"Ah? ... Oh ... Ohhh."
Benar-benar Janu melongo tapi bisa mendefinisikan apa yang dirasa, tubuhnya kaku seperti mummy. Tapi kedua kaki yang awalnya lemas, seolah ingin beranjak dan melompat-lompat tak karuan. Perasaan apa ini? Ia bahkan memegangi bibirnya, merasakan sentuhan lembut bibir Anyelir.
"Kayaknya saya udah sehat," gumam Janu.