Bab 23 - Hampir Dijodohkan

2097 Kata
Lembayung senja, menyorot makhluk Tuhan paling sempurna yang tengah merenung di dekat bilik pembias cahaya, menciptakan siluet lekukan tubuh yang nampak indah dari arah belakang. Barangkali ada secercah kegundahan yang sejak tadi berteriak tanpa redup di dalam batinnya. Ia tidak gila, masih waras dan sadar kala kecupan singkat melayang langsung dari bibirnya. Entah apa maksud dari itu, ada daksa yang bergerak otomatis mengikuti kata hati padahal pikirannya berkata 'tidak'. Ah, Anyelir bisa terkena serangan jantung bila harus setiap detik berhadapan dengan Janu tanpa bisa menghindar. Lagipula ia akan kemana? Pusat kesehatan bagaikan sepetak sawah berisikan dua ruangan sudah pasti saling bersua tanpa diminta. Sampai-sampai tempurung kepalanya ia pukul sendiri, menyadarkan cerebral di dalamnya agar tidak dibodohi oleh kata hati. Anyelir menyesal, kali pertama ia memberikan kecupan pada lelaki terlebih dahulu. Apa ini? Rasa yang tidak bisa didefinisikan akankah terdeteksi oleh Janu? Apa kata Aruna tadi? Janu cemburu? Mungkinkah? Coba bayangkan jika perkataan Aruna hanyalah hiburan menarik bermakna hipokrit. Ia sampai menggelinjang membayangkan Janu memiliki perasaan yang sama, tapi belum tentu itu fakta. "Wah ... Menyedihkan sekali hidupmu, Anyelir," gadis itu bergumam sendiri, tanpa sadar ada seorang lelaki berdiri di belakangnya. "Apa saya mengganggu?" Pertanyaannya terdengar ragu. "Ah kaget!" Gadis yang memunggungi sosok lelaki itu tersentak, lantas berbalik dengan ekspresi terkejut tapi tetap anggun. "Dokter Ricky?" Bukan Anyelir mengenali Ricky padahal baru bertemu beberapa jam yang lalu. Tapi di desa ini hanya lelaki itu yang memakai jas dokter, pasti dengan mudah Anyelir mengenali Ricky tanpa tahu wajahnya seperti apa. "Maaf, Anda ... mencari saya?" Baru tersadar tujuan Anyelir merenung di dekat pintu masuk rupanya sudah ada dihadapan. Ia mencari sosok dokter yang menjadi relawan khusus di Berau untuk pengabdian dan penelitian, parasnya rupawan sawo matang, terdengar sopan dan lembut. Namanya Ricky—lelaki itu sudah tinggal di tanah Kalimantan selama hampir satu tahun. Dia adalah sosok berjasa yang sudah mengurus Janu semalaman tanpa kenal lelah. "Ah, iya ... Dok. Ada hal yang harus saya diskusikan," ucap Anyelir to the point'. "Kita bicara di kursi depan sana?" "Baik, Dok." Anyelir mengangguk. Dokter Ricky merentangkan tangan kanannya, mempersilahkan Anyelir berjalan terlebih dahulu. "Silahkan." Senyumnya terukir manis. Anyelir berjalan ke kursi tua yang menjadi saksi bisu kecupan singkat pertama mengukir sejarah panjang saat seorang Berta Bee mencium sosok Sutradara Janu. Mengingat hal itu, sontak Anyelir menggeleng-gelengkan kepala ngeri. Menetralisir pipi yang bersemu merah menahan malu dihadapan dokter Ricky, dengan alasan ini juga ia menghindar dari pandangan Janu walau saat ini bisa dipastikan Janu mengintip dari balik jendela lagi. "Ada apa?" Ricky memulai pembicaraan terlebih dahulu saat mereka duduk berdua saling berdampingan, juga berhadapan. "Berapa lama Pak Janu harus dirawat di sini?" "Jahitannya pasti butuh waktu lama ... Maksimal sepuluh hari," "HAH? SEPULUH HARI?!" Anyelir melotot terkejut. Bagaimana nasibnya harus menunggu Janu selama itu? belum lagi kejadian ini pasti sedikit-banyak merusak jadwal yang sudah disusun sedemikian rupa sebelumnya. Aruna harus reschedule, Anyelir harus tinggal bersama Janu di pusat medis selama itu, dan hal yang paling penting adalah kepulangannya ke Jakarta pasti terhambat. "Ya ... Masalahnya, obat yang kita pakai juga peralatan yang disediakan itu seadanya. Kemungkinan besar pemulihan Pak Janu akan memakan waktu," "Jadi dia harus di sini selama itu?!" Ada senyum yang terukir dari sudut bibir Ricky, terlihat tulus dan menenangkan. Anyelir sempat berpikir bagaimana jadinya jika Janu bersikap selembut Ricky, dari awal ia pasti sudah jatuh cinta. Janu dengan tempramental seperti ini saja berhasil menarik hatinya, apalagi seperti dokter dihadapannya, sudah pasti meluap-luap. "Tidak harus di sini, Pak Janu boleh kembali ke penginapan lusa," "Serius, Dok?! Tapi ... Kondisinya?" "Kondisi dia sudah sangat baik, tubuhnya juga sudah tidak demam. Asalkan diantara kalian berdua ada yang telaten mengganti kasanya tiap hari, saya izinkan," "Terus ... Jahitannya?" "Nanti saya kasih salep, bila perlu saya ajarkan cara mengganti perban?" "Iya, Dok. Tolong ajarkan saya!" Dokter Ricky mengangguk. "Ah, boleh saya minta ... Nomor telponnya?" Anyelir terdiam. Bukan berarti Ricky terlihat jahat atau memiliki maksud lain, tapi Anyelir memang tidak sembarang memberi orang nomor telpon, bahkan nomor Janu saja ia tidak punya. Gadis itu paham situasi yang tengah menimpanya, tapi untuk sekedar memberikan nomor telpon, tetap saja ia masih waspada. Lelah dengan terror panggilan fans fanatik yang setiap hari mengganggu. "Sa—saya ...." "Saya tahu, Anda bukan orang biasa. Pasti sulit memberi informasi pribadi apalagi hal krusial seperti ini. Tapi ... Tolong beri saya nomor yang bisa dihubungi, saya harus cek kondisi Pak Janu setiap hari jika kalian memutuskan kembali ke penginapan, setelah sepuluh hari juga saya harus melepas jahitan Pak Janu," "Ah iya, maaf ...." "Tidak apa-apa, itu hal yang wajar." Ricky memberikan setumpuk sticky note berwarna kuning dengan sebuah ballpoint hitam, lantas diserahkan kepada Anyelir. "Boleh tulis di sini." "Oh ... Iyah." Anyelir meraih benda itu lantas jarinya dengan lihai menggoreskan tinta. "Ini kontak pribadi Batari, manager saya." Tanpa sadar percakapan mereka tertangkap jelas oleh sosok lelaki terluka yang tengah mengintip di jendela, tangan kanannya terkepal kuat, mengalirkan desiran amarah yang terbakar api cemburu. Benar, Janu mengakui sekarang bahwa dirinya cemburu terhadap siapapun yang mendekati Anyelir. Terlebih, ada rasa yang mengganjal setelah kecupan singkat itu, Anyelir menghindar benar-benar tidak ingin berbicara dengannya. Tidak tahu beradalih apa. "Waduh ... Pak Dokter kayaknya menemukan cinta sejatinya!" "Semangat, Pak Dokter! Cepet-cepet nikah sama artis! Cantik banget!" "Kalian berdua cocok banget!" Bukan hanya atensi Dokter Ricky yang berubah, Anyelir pun ikut melotot kala segerombol masyarakat yang berjumlah kira-kira delapan orang datang berbondong-bondong. Membawa serta Merta tentengan yang Anyelir tafsir adalah makanan, wajahnya ceria saling bersahut-sahutan seolah memergoki bocah SMP yang diam-diam pacaran. "Ki—kita nggak—" "Sudah! Kita rayakan hari istimewa ini!" Teriak salah seorang lelaki berkacamata, rambutnya dicepak, kira-kira berusia tiga puluh. Semua ikut bersorak, membuat Anyelir kebingungan setengah mati. Sementara dengan santainya Dokter Ricky ikut tertawa, menerima rantang yang mereka bawa dengan sukarela. Salah seorang wanita berusia sekitar lima puluh, menggelar tikar di bawah pohon mangga samping kursi tua. Para warga yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga berpenampilan sederhana turut menata sajian yang sangat asing di mata Anyelir. Gadis itu mendekat ke arah Ricky, menarik atensi lelaki itu untuk berbicara empat mata. "Mereka ngapain?" "Makan sore. Kenapa?" Santai, benar-benar tidak ada keterkejutan yang mencuat dari diri Ricky. "Kenapa di sini?!" "Mereka selalu bawa makanan buat saya, kita juga sering makan bersama saat sore hsri menjelang malam. Suasananya benar-benar hangat, makanannya juga enak. Anda wajib coba, ini tidak akan pernah kita jumpai di perkotaan." "Tapi tadi mereka menuduh kita ...." Anyelir tidak jadi melanjutkan perkataannya, ia takut terlihat berharap padahal sejujurnya ketakutan. "Tenang aja, kita tidak usah takut jika tuduhan yang mereka duga bukanlah suatu fakta. Ayo makan." "Tunggu, mereka tahu saya?" Ricky yang hendak duduk menghentikan aktivitas, dia menoleh ke arah Anyelir lantas tersenyum manis. "Bukan hanya mereka, satu Kalimantan juga sepertinya tahu kalo di penginapan atas sana sedang berlangsung proses syuting." "Tapi mereka—" Anyelir benar-benar terheran. Pasalnya sepanjang syuting dengan berbagai genre yang berbeda, dari tempat ke tempat. Fansnya selalu saja mengikuti, menunggu di sekitar area syuting untuk sekadar menyapa. Atau bahkan sengaja menonton proses syuting yang Anyelir anggap benar-benar mengganggu. Tapi di sini? Mereka tahu keberadaan Anyelir, tapi tidak ada satupun yang berniat mengganggu. Apa mungkin Anyelir tidak terkenal di sini? "Mereka bukan berarti tidak mengenal, Anda?" Ricky seolah tahu pemikran apa yang sempat terbesit di benak Anyelir. "Hah?" "Mereka hanya tidak ingin mengganggu, mereka sangat mengenal, Anda. Bahkan tadi pagi saat saya menyempatkan diri untuk pulang, banyak warga yang berbondong-bondong menanyakan kabar anda juga Pak Janu. Dan hidangan ini ... Sejujurnya ini disiapkan khusus untuk, Anda," "U—untuk saya?" "Nona artis! Berta Bee!" Ada seorang wanita berusia sekitar seusianya memanggil, membuat Anyelir menoleh. "Y—ya?" "Duduklah! Ayo makan bersama!" Ricky paham betul gelagat Anyelir yang terasa begitu canggung, lantas ia memberikan kode agar gadis itu ikut duduk. Anyelir menurut. ** Suasana petang menjelang malam ini benar-benar hangat, kali pertama dalam hidup Anyelir terduduk diantara orang-orang jenaka. Tidak ada hipokrisi di sini, semua seolah tenggelam dalam lautan canda tawa. Tahu bahwa situasi seperti ini begitu pelik di perkotaan yang isinya soal harta, tahta, wanita, juga jabatan. Baik Anyelir, Janu, bahkan Batari yang baru saja tiba turut menikmati. Banyak sajian khas yang sengaja dibuat untuk diperkenalkan pada mereka. Mulai dari berbagai jenis sajian udang, yang Anyelir sukai adalah udang singgang—cita rasa sederhana dibuat tepat untuk lidah Indonesia. Sementara Janu, menyukai kue berwarna cokelat bentuknya seperti cincin—namanya Talinga sayagi. Sajian khas berbahan dasar beras. Janu yang terduduk di samping Ricky merasakan sosok yang berbeda dari Anyelir. Bukan karena ciuman tadi, tapi gadis itu terkesan menyamaratakan kasta, istilah terkenalnya adalah 'merakyat'. Tidak seperti rumor yang beredar tentang betapa sombongnya seorang Berta Bee, ternyata gosip itu memang tak mendasar. Anyelir bahkan asik bersenda gurau dengan anak kecil. "Weh ... Berta Bee rupanya cocok jadi ibu, ya? Langsung KUA saja Pak Dokter!" Suara itu melengking dari seorang wanita berambut hitam ikal, kira-kira usianya menginjak angka tiga lima. Memakai jaket loreng, serta celana polkadot. Ricky nampak tersenyum canggung, sementara manusia tempramental seperti Janu sudah mengepalkan tangan kanan. Beruntung jarum infuse dilepas beberapa menit yang lalu. Jika belum sudah pasti otot-ototnya menegang, bisa sampai lepas bahkan berdarah. Lihat saja buku-buku tangan Janu sekarang, cukup menyeramkan. "Ah ... Saya sama Berta Bee tidak ada hubungan apa-apa," "Nikah itu tidak perlu ada hubungan ... Nanti habis nikah 'kan ada hubungan pernikahan!" Seorang lelaki berkumis menimpali, sontak orang-orang yang berada di sekitar ikut tergelak. "Lagian, Pak Dokter. Memangnya tidak capek masak sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, tidur apalagi sendiri?!" "Iya bener, Pak Dokter! Tembak aja sekarang lah jangan lama-lama keburu diambil orang!" "Pacaran! Pacaran! Pacaran!" Gelak tawa tadi berganti menjadi riuh teriakan yang saling bersahutan, Ricky terlihat tenang sebab yang dimaksud hanyalah sebuah guyonan, mungkin. Sementara Anyelir merunduk malu, bukan apa-apa. Pasalnya ia tak sengaja menangkap sorot mata Janu yang langsung tertuju padanya, benar-benar tajam. Apa Janu tadi lihat pas ngobrol sama Dokter Ricky? "Sudah ... Sudah ... Saya sama Berta Bee itu baru pertama kali bertemu, tidak ada hubungan spesial," sela Ricky. Dokter itu berkata demikian usai mendapati ekspresi Anyelir seperti tidak nyaman. Padahal alasan utama artis itu adalah tatapan siap memangsa Janu seolah Anyelir habis berselingkuh. Lagipula kenapa Janu beranggap demikian? Hubungan mereka saja masih diambang ketidakpastian. "Tapi, Dok. Di film itu 'kan ada ... Jatuh cinta pada pandangan pertama!" Manusia bernama Batari malah ikut mengompori, membuat Anyelir semakin terpojokkan. Si artis cantik itu melotot pada Batari, tapi yang ditatap tajam malah tak gentar. Menjulurkan lidah tengil seperti sengaja menggoda Anyelir. "Jangan-jangan ... Pak Dokter jatuh cinta pada pandangan pertama!" Wanita tadi turut menyahuti "Woooohh!" Mereka kembali bersorak Sorai, membuat Batari ikut tergelak. Semetara Anyelir, jelas ia tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuk tak gatal. Terkadang ia juga merunduk, takut dengan atensi Janu yang sama sekali tidak beralih dari hadapannya. "Apalagi ... Tadi habis berdua-duaan di depan pusat kesehatan! Sudah saling kenal itu!" Mendengar hal itu, Ricky segera menggeleng-gelengkan kepala mencari pembelaan. Mulutnya yang penuh makanan dengan cepat dikunyah lalu ditelan paksa. "Kita hanya berdiskusi," sahut Ricky jujur. "Iya, ada hal yang saya diskusikan dengan Dokter Ricky." Anyelir menampilkan gigi-gigi rapinya canggung. "Diskusi apa? Diskusi mau punya anak berapa? Lalu bulan madu di mana? Nikah mewah apa sederhana? Atau ... Diskusi cara membuat anak?" "Woooo! Pak Dokter gerak cepat!" Anyelir semakin kalang-kabut, tidak tahu dia harus berbuat apa. Selain tersenyum canggung tentunya. Sementara Batari? Oh ayolah apa dia sedang menyaksikan acara Tv? Lihat betapa bahagianya gadis itu. "Tidak ... Tidak!" Dokter Ricky mengangkat kedua telapak tangannya berusaha menenangkan. "Dengarkan saya dulu." Ricky yang berada tepat bersebrangan dengan Anyelir mencari kode dari gadis itu, tapi sepertinya Anyelir tidak paham. "Saya sama Berta Bee ... Sedang mendiskusikan kepulanagn Pak Janu, jadwal melepas jahitan, serta cara mengobatinya. Saya tidak mendiskusikan hal-hal aneh," Janu yang berwajah dingin kini terkejut, menatap Anyelir seolah meminta penjelasan. Tetapi gadis itu justru lebih terkejut, sebab di sini ada Janu juga Batari yang dengan senang hati mendengarkan, artinya mereka sadar bahwa Anyelir begitu mempedulikan Janu. "Iya ... benar pasti!" Ada bocah remaja kira-kira berusia tiga belas, memakai kemeja yang dilipat menyahut. "Apanya yang benar pasti, Raude!" Anak muda yang bernama Raude itu tiba-tiba berdiri. Menatap Anyelir dan Janu secara bergantian. "Pak Dokter dengan Bu artis tidak diskusi aneh. Mereka benar-benar membahas Pak Sutradara!" "Darimana kamu tahu?" Ada lelaki berkumis yang menyahuti Raude. "Ya, Bu artis pasti diskusi soal Pak Sutradara karena dia pacarnya!" "HAH?!" Bila ada nominasi desa terkomoak, mereka pasti juara satu detik ini juga. "Benar, 'kan? Bu artis?" Raude bertanya meminta penjelasan. "Apa? E—enggak! Saya nggak pacaran!" "Percuma bohong Bu Artis," Raude seperti benar-benar bersikukuh. "Bohong apa?" "Kalo kalian tidak pacaran, kenapa kalian tadi ciuman?" Sial!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN