Bab 24 - Deep Talk

2059 Kata
Rasa haus yang menyerang turut menandaskan air mineral dalam botol kecil yang tengah Ricky genggam. Kebiasaan yang tak pernah luput dari kesehariannya selalu membuang sampah tepat pada tempatnya, lantas ia berjalan menuju pintu masuk. Tempat sampah berbentuk keranjang itu di simpan dengan rapi samping pintu masuk paling ujung di sudut kiri, sedikit membungkuk ia membuang botol bekasnya. Menghirup udara malam yang mulai menusuk lantas menjelajah pandang. Matanya seketika melotot. Ada sosok lelaki bertubuh atletis yang menjadi pasiennya tengah terduduk di kursi tua, ia memang mengenakan pakaian hangat tebal. Tapi, udara malam ini benar-benar dingin dan tidak cocok untuk seorang pasien. Ricky mendekat. "PAK JANU!" Si empunya nama mendongak, menatap Ricky dengan datar. Ia tak berucap apapun selain mengangkat sebelah alisnya. "Ayo masuk! Pak Janu sedang apa di sini? Di luar dingin!" Alih-alih menjawab pertanyaan Ricky yang nampak mengkhawatirkan, Janu justru mengerutkan dahi bingung. Kegundahan yang sejak tadi bersarang secara refleks mengantarkannya terduduk di kursi ini, mengingat kejadian tadi siang yang juga menciptakan kecanggungan sampai sekarang. Janu tidak paham kenapa Anyelir sampai-sampai menghindar darinya, apa yang salah? Apa dia berbuat hal menyakitkan lagi? Setahunya ucapan yang Janu lontarkan tidak terlalu kejam, pikirnya. "Dokter Ricky," panggilnya tiba-tiba. "Ayo masuk, Pak." Ricky mulai memegang pundak Janu untuk menggiringnya masuk, tapi lelaki itu malah menatap Ricky dengan sendu. "Ke—kenapa, Pak? Ada yang sakit?" "Kamu kenapa menghindar dari saya?" "H—hah?" Terkejut Ricky bukan main. Sorot mata Janu yang terpancar seolah memberikan penjelasan, tatapannya benar-benar kosong tersirat kesedihan. Ricky sendiri bingung harus menanggapi pasiennya seperti apa. "Jawab!" Tiba-tiba saja lelaki itu membentak Ricky. "I—iya, jawab gimana, Pak?" "KAMU KENAPA MENGHINDAR?" Dalam sekali entakan Janu berdiri, mondar-mandir dengan lengan menopang dagu. Dahinya berkerut, mendongak ke arah langit yang nampak terang oleh bintang. Pemukiman warga jaraknya agak renggang dengan lampu bohlam yang temaram, berbeda dengan perkotaan padat yang nyaris menghilangkan nuansa malam. "Pak Janu sebenarnya kenapa?" Sungguh Ricky masih kebingungan setengah mati, tingkah Janu benar-benar aneh. Lagi-lagi Janu berbalik secepat kilat, membuat Ricky tersentak. Kali pertama ia mendapati tingkah seorang sutradara yang terkenal akan tempramentalnya itu berubah seperti anak kecil kehilangan permen. "Kamu belum jawab pertanyaan saya!" "Pertanyaan?" "Kenapa kamu menghindar, ha?! Apa saya jahat sama kamu? Saya punya salah apa? Saya bikin sakit hati kamu? Kenapa kamu nggak mau ngomong! Coba kalo saya tanya itu jawab!" Keluar semua otot-otot yang melintang di dahi Janu, amarahnya seolah terlampiaskan dengan damai pada Ricky. "Sa—saya ... Tidak menghindar." Gelagapan Ricky, lantas berdiri di belakang Janu dengan penuh cemas. "Ah bener!" Janu berbalik menghadap Ricky penuh semangat. "Kalo dia jawab kayak kamu barusan, saya harus gimana?" "Di—dia siapa?" "Dia ... Dia ... Ah lupakan!" Tiba-tiba lelaki itu menggeleng dengan cepat lantas beranjak dari hadapan Ricky yang mematung semakin bertambah bingung. "Ayo masuk, katanya dingin!" Teriak Janu di ambang pintu. "I—iya, Pak!" Makin bingung Ricky. Tak ada pilihan lain selain menurut pada apa yang Janu inginkan. Sementara Janu terdiam tepat sebelum masuk ke dalam ruangannya, ada dua pintu yang berhadapan langsung dengan pintu ruangan Janu. Biasa dipakai oleh asisten Ricky di pusat kesehatan, tapi saat ini ruangan itu dipergunakan oleh Anyelir dan Batari yang ceritanya untuk menemani Janu. Janu merenung. Menemani? Definisi yang dapat menjelaskan kata tersebutlah bagaimana? Jangankan untuk menemani Janu sebagai seorang pasien yang terluka sampai dijahit, berbicara saja Anyelir enggan malah menghindar tak karuan. Seperti tadi. Usai makan bersama para warga, Janu mendekat ke arah gadis yang tengah membereskan perlengkapan makan. Menarik lengan Anyelir untuk diajaknya berbicara. Tapi gadis itu menghindar, malah menepis cekalan Janu. "Saya mau bicara." "Silahkan." Anyelir berucap tanpa menoleh ke arah Janu barang sedetik saja, ia terfokus pada piring-piring terbuat dari rotan teranyam ciamik. "Tidak di sini, ayo ikut saya!" "Raude!" Teriak Anyelir tak menghiraukan permintaan Janu. "Berta Bee ... Saya mau bicara!" Protes Janu. Seorang anak muda berusia tiga belas itu menghampiri Anyelir dengan penuh semangat, wajahnya yang gelap nampak tersenyum menampilkan gigi-gigi putih nan rapi. "Ada apa, Bu Artis?" "Ini ... Piringnya tolong kumpulkan dengan yang sebelah sana." Gadis itu menyodorkan piring rotan pada Raude, berbincang dengan bocah itu seolah Janu tak ada. "ANYELIR!" Bentakkan Janu sontak membuat aktivitas Anyelir dan Raude berhenti. Raude yang menelan lidahnya berat lantas buru-buru membereskan piring, membawanya pergi dari hadapan mereka. Ia takut terlibat dalam perang dunia perdebatan yang pastinya membuat telinga berdengung risih. "Kenapa?" tanya Anyelir datar. Puji Anyelir atas bakat aktingnya yang luar biasa, ia masih berekspresi datar padahal kedua tangannya sudah gemetar menahan takut. Sudah tahu alasannya apa? Jelas wajah Janu yang memerah membuat nyalinya menciut, dari sorot mata saja ia gentar, apalagi bentakan barusan. Bukan sengaja ia mendiamkan Janu, ia malu, sungguh. Sudah mencium Janu duluan tapi tak ada sepatah katapun yang Janu lontarkan untuk memperjelas hubungan mereka. Entah Janu yang polos, atau memang lelaki itu tidak merasakan hal yang serupa. Anyelir dilema. "Kamu ini kenapa?" "Nggak apa-apa." Anyelir masih merunduk, pura-pura mencari kesibukan. "Kalo saya bicara, tatap mata saya!" "Nggak mau," "Ayo bicara!" "Silahkan," "Nggak di sini, ayo cari tempat yang lebih sepi!" Geram Janu, sungguh. "Nggak!" Tanpa melanjutkan kalimat yang seharusnya masih berlanjut, Anyelir segera bangkit dan pergi menjauh dari Janu Dari situ mereka tidak berkomunikasi lagi, bahkan Janu benar-benar tidak melihat Anyelir setelah acara makan tadi. Beruntung ada informasi dari asisten Ricky atas pinjaman kamarnya untuk Anyelir juga Batari. Niat hati ingin masuk ke dalam sana, demi mencari secercah harapan dan tujuan. Apa daya Janu tetaplah Janu, manusia gengsi yang hidup dengan penuh tempramental. Lantas Janu hanya menelan Salivanya berat, mencoba menetralisir gundah gulana dengan tertidur nyenyak. Ia masuk ke ruangannya seraya menghela napas. Berta Bee ternyata sulit dimengerti. ** Sementara di dalam ruangan yang tak kalah usang, berisikan ranjang sempit serta tumpukan buku tebal Anyelir tengah terduduk kaku sebab Batari bersedekap menginterogasi gadis itu. Ada meja dari kayu yang sudah tua, alat stetoskop, tensi serta kotak P3K tersimpan rapi di sana. Menjadi tempat sandaran baru Batari agar fokus menatap lekat sahabatnya. "Jawab, Lir ...." Anyelir masih membisu, nada Batari yang sedikit tinggi membuatnya takut. Padahal Anyelir bukan preman pencuri uang pedagang, apalagi tikus berdasi pencuri uang negara. Gadis itu hanya tertangkap basah telah mengecup seorang lelaki tanpa diketahui Batari. Kenapa manusia ini berlebihan sekali? "Yang mana?" Anyelir mendongak, memasang ekspresi seperti korban kekerasan. "Lo beneran ciuman sama Pak Janu?" Ada mimik yang di rubah menjadi sedikit periang, bahkan gigi-gigi rapi yang diperlihatkan paksa terukir dengan manis di sana. "Tar, Lo ke sini bawa baju berapa? Gue mau ganti baju, itu skincare gue udah di bawa apa gu—" "JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN!" Lagi, Anyelir merunduk takut. "Iya, maaf." "Jawab, Lir! Banyak omong banget, sih!" Dengan wajah pura-pura pikun itu Anyelir masih bertanya. "Yang mana?" "ASTAGA KUPING SIMPANSE! Ketimbang jawab 'iya' apa 'enggak' aja ribet banget, sih!" "Kan gue itu ... anu ... Tar gu—" "Lo ciuman apa enggak!" Anyelir mengernyit. "Dikit," "Siapa yang cium duluan?" "Gue." Nyengir Anyelir, seperti kuda yang meraung saat menarik delman. "Lo suka sama Pak Janu?" Entah kali berapa, Anyelir merunduk lagi. Yang membedakannya adalah wajah Anyelir nampak ditekuk sedih, Batari pun terheran. Banyak insan yang dijumpai oleh Batari menggelinjang kala pertanyaan krusial ini mengalun, mereka berada pada euforia yang sulit didefinisikan, serasa terbang di atas awan katanya. Tapi Anyelir? Lihat wajah sendu yang nampak bingung, seperti terdapat satu hal yang mengganjal tapi tak dapat terlihat dengan benar. "Hei ... Gue nanya, Lir." Bibir Anyelir malah maju beberapa centimeter, tentu saja Batari bertambah bingung. Dengan munculnya rasa cemas yang selalu menari-nari di benak, Batari mendekat, ia mulai melunak. Tidak seperti tadi, menyeramkan bercampur tegang seperti diinterogasi detektif. Gadis itu ikut terduduk di ranjang besi berkarat yang sebetulnya hanya cukup untuk satu orang, terkecuali bila mereka tidur berpelukan sepertinya muat. Ada tangan yang menepuk-nepuk paha Anyelir, seolah kekuatan tersalurkan lewat sana. "Gue nanya, Lir. Lo suka sama Pak Janu apa enggak?" Kali ketiga Batari bertanya, barulah Anyelir bereaksi. "Sebenernya ... Gue belum ngerti definisi suka itu kayak gimana. Setahu gue kalo saling suka ya berarti tinggal jadian, 'kan?" "Lo pikir hidup Lo kayak film, Lir?!" "Kan ... gue ... nggak pernah punya pengalaman kayak gitu, Tar. Lo tau sendiri kisah percintaan gue sebatas di depan layar!" Batari tergelak seketika, membuat Anyelir heran. "Kenapa?" Di sela-sela tawanya, Batari menarik napas lantas berucap, "Inget pertama kali gue kenalin cowok ke Lo?" Saat itu juga Anyelir ikut tergelak, mengingat masa-masa di mana hidup adalah tentang bermain tanpa memikirkan beban yang kian berdatangan minta dipikul. Anyelir ingat, saat SMA ada seorang lelaki yang mendesak Batari untuk diperkenalkan pada Anyelir. Sudah melewati ribuan bujukan, atas dasar penasaran dengan lelaki yang dimaksud menyukai pencak silat demi kebugaran katanya. Akhirnya Anyelir kenyetujui Batari untuk masuk dalam kencan buta. Mereka dijanjikan untuk bertemu di cafe dekat sekolah, Anyelir terpaksa mengikuti Batari untuk mendatangi lelaki itu. Tapi yang terjadi adalah kejadian begitu memalukan, Anyelir duduk santai dengan lekaki berseragam serupa tanpa mengatakan sepatah kata. Ironisnya, ternyata Anyelir salah orang. Sejak saat itu ia malu dan menolak keras bila Batari menjodoh-jodohkan Anyelir, yang ia pikirkan pada saat itu adalah takut akan kesalahan mengenali orang dan menimbulkan pertanyaan tentang apa yang dirasakan. "Makanya, sejak saat itu gue nggak mau lagi pacaran!" Hening dalam beberapa detik sebelum Batari kembali bertanya. "Apa yang Lo rasain terhadap Janu?" "Kesel!" Anyelir sedikit berdecak. "Kesel kenapa?" "Mulutnya nggak punya rem, bikin nyelekit!" Ada tengkuk yang digaruk tak gatal oleh Batari, jangan lupakan juga senyum miring yang terukir amatir. "Itu kayaknya keluhan banyak orang, bukan Lo aja!" "Gue selalu khawatir sama dia," "Terus?" "Gue ... kadang ... pengen tahu segala tentang dia," "Terus?" "Gue suka tiba-tiba kena serangan jantung!" "Terus ... Terus?" Plakk! Anyelir memukul lengan Batari cukup kuat. "Terus ... terus ... mulu kayak tukang parkir aja, lo!" "Lo kenapa serangan jantung?!" "Nggak tahu gue ... Kalo deket sama dia tiba-tiba deg-degan! Mendadak sesek sampai gue kira kalo itu gejala serangan jantung!" Nampak dari bibir Batari terukir senyum pulas, tanpa menjawab, gadis itu merebahkan diri di atas ranjang kecil seraya merentangkan tangan kanan. "Sini." Panggilnya. "Apa?" "Tidur." Tangan kiri yang menganggur, menepuk-nepuk bagian ranjang yang kosong. "Di situ?!" "Emangnya Lo mau tidur di meja itu?!" Menatap meja yang dimaksud, Anyelir bergidik ngeri lantas beralih pada Batari seraya tersenyum manja. "Nggak." Dengan wajah tanpa ekspresi gadis itu merebahkan diri di atas lengan Batari. Batari mendekap Anyekir hangat, seolah-olah takut akan kehilangan sahabat menyebalkannya itu. "Lir," panggilnya pelan. "Hmm?" "Gue nggak masalah lo suka sama Pak Janu, asalkan dia menghormati lo dan tulus sayang sama lo. Mungkin dia pemarah ... Tapi gue yakin dia punya kebaikan sendiri yang terpatri di hati lo." Pembicaraan yang mulai serius ini menarik batas sendu Anyelir, sejak tadi menghindar dari Janu, selain malu ia juga takut. Ada ketakutan yang mengingatnya akan rahasia yang dimiliki. "Gue takut, Tar." "Takut kenapa?" "Gue ... Gue takut dia nggak mau nerima gue apa adanya." Paham akan satu hal yang merusak hampir seluruh kepercayaan diri Anyelir, menutup gadis itu dari sosok lain yang berusaha masuk ke dalam kehidupannya. Anyelir sulit membuka hati bukan karena pengalaman patah hati, ketakutan yang sejak lama bermuara dihatinya sulit untuk diajak pergi. Ia takut bila rahasia yang dijaga sejak lama diketahui banyak orang dengan menjadikannya boomerang terhadap karier juga pencapaian, ia juga takut bila hatinya sudah terlalu jatuh terhadap Janu, lelaki itu malah pergi jauh saat tahu kenyataan yang sebenarnya. Anyelir ketakutan, sungguh. Tahu bahwa rahasia itu akan terbongkar suatu saat nanti, tapi gadis itu belum siap bila harus berbagi kisahnya sekarang. Anyelir takut. "Jangan takut, ya? Ada gue." Batari merekatkan pelukannya semakin erat, menyalurkan semangat yang sudah seharusnya ia dapatkan sejak lama. "Gue nggak akan pernah cerita sama dia soal buta wajah ini," ucap Anyelir tiba-tiba "Tapi suatu saat dia bakalan tau, Lir." Tangannya menepuk-nepuk pundak Anyelir lembut. "Gue nggak mau mikir suatu saat, suatu hari, atau beberapa tahun nanti. Yang sekarang adalah sekarang, gue nggak mau berekpetasi lebih," "Oke ... apapun keputusan lo, gue dukung. Yang penting lo bahagia, ya?" "Emangnya gue boleh bahagia ya, Tar?" Nada Anyelir terdengar bergetar, Batari tahu gadis itu berusaha mempertahankan bentengnya yang akan runtuh dalam hitungan detik. Anyelir terlalu rapuh, hidup dalam ketakutan yang mengancam rahasia besar tentang apa yang di derita. Menyukai seseorang saja membuatnya tersiksa, apalagi harus menjalin hubungan. Gadis itu hanya memilih, menerima Janu hadir dalam kehidupannya tanpa memikir hal-hal negatif lain. Atau mencari aman dengan menjauh dan pergi sejauh mungkin dari Janu. Apa Anyelir bisa? "Semua orang berhak bahagia, Lir. Termasuk, lo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN