Berkali-kali Janu berpikir tentang alasan apa yang memungkinkan untuk Anyelir tidak bisa mengenali Bella? hanya bercanda atau pura-pura? tidak mungkin juga, lagipula kondisi malam tadi menurut Aruna terlampau mencengkam, bahkan Aruna sendiri takut kalau sampai terjadi perang dunia antara Anyelir dan Bella. Biasanya urusan wanita antar wanita lebih rumit daripada apapun.
Janu tidak bisa membiarkan kebingungannya ini, bisa-bisa ia mati muda penasaran. Kalau sudah begitu siapa yang mau bertanggungjawab?
Lelaki berambut ikal itu mencari keberadaan benda pipih yang diingat rupanya masih berada di dalam saku celana, nama 'Pacar' di cari lantas panggilan dilakukan.
Terhubung.
"Hallo?" Janu memastikan yang mengangkat telepon adalah Anyelir, sebab biasanya Batari atau tidak Abra, Cadabra, serta staff-staff yang terlibat. Anyelir sedang melakukan syuting untuk series terbarunya, maka dari itu jadwal yang dibuat benar-benar padat.
"Kenapa, Jan?" Itu suara Anyelir yang menyahut dari seberang sana.
"Makan siang nanti kamu bisa ketemu saya nggak? saya ingin sushi, juga ada beberapa hal yang mau saya bahas," pinta Janu.
"Maaf sayang ... aku skip makan siang hari ini, karena jadwalnya padet dan baru bisa break sekitar jam dua siang nanti. Itupun kalo beneran sempet," suara Anyelir dari seberang sana nampak lemas tak berdaya, Janu tafsir detik itu Anyelir memajukan bibirnya kesal.
"Sebentar aja, Lir … paling setengah jam," bujuk Janu. Tak ada waktu lagi untuk menunda kebingungannya. Ia tidak mungkin pergi ke luar negeri dengan membawa tanda tanya besar, fokus Janu akan terganggu.
"Jan … maaf banget," nada Anyelir terdengar memelas. "Bukan aku nggak bisa luangin waktu buat pacar sendiri … tapi kamu tahu sendiri 'kan? Nggak mungkin buat aku ninggalin set saat semua crew siap? You know what I mean, Jan?"
Anyelir benar, Janu juga tahu betul hal itu. Dan itu juga berlaku bagi Janu, ibaratkan satu makan semua makan, satu tidur semua tidur, begitulah orang-orang yang terjun dalam dunia perfilman. Anyelir tidak mungkin pergi dari lokasi syuting saat keputusan sutradara meminta syuting berlanjut, itu terlalu melanggar aturan jika pergi begitu saja. Terkecuali, scene Anyelir sudah rampung. Selesai ataupun belum proses syuting, Anyelir bisa pulang duluan.
"Yasudah, kamu harus tetap makan, ya? jaga kesehatan." Janu menghela napas berat, sulit sekali mengatur pertemuan dengan pacar sendiri sebab keduanya terjuan dalam dunia hiburan yang tidak kenal waktu kerja, semua jam sama-sama berharga.
"Tapi aku kangen kamu, Jan." Suara lembut nan merajuk ini yang menjadi candu bagi Janu, ia bahkan rasanya ingin sekali berlari ke arah Anyelir sembari memeluknya erat.
"Saya juga." Janu terkekeh.
Anyelir mulai mengoceh tentang kegiatan-kegiatannya belakang ini, dan Janu hanya bertugas menjadi pendengar yang baik. Ia akan terus begitu, mendengarkan apa yang dirasakan Anyelir tanpa bosan. Malah suaranya menjadi candu. Saat ini memang Anyelir sedang istirahat beberapa menit, sebab set berganti dan beberapa properti harus disiapkan ulang.
Tiba-tiba pintu ruangan Janu terbuka tanpa ada ketukan, Janu belum menyadari bahwa seseorang masuk sebab ia duduk di atas kursi putar meja kerjanya sembari membelakangi pintu.
"Genta?" panggil seorang wanita di belakang Janu.
Janu yang terkejut lantas membelalak. Suara dari gadis itu terdengar cukup kencang sampai menggema di seisi ruangan, termasuk Anyelir pun dengan jelas mendengarnya. Karena penasaran, tak ada salahnya Anyelir bertanya.
"Itu siapa, Jan?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Anyelir di seberang saja, Janu malah memutar kursi menghadap gadis itu. Napasnya menghela kasar, ada perasaan malas yang bermuara bercampur kesal. Satu orang yang hampir saja memunculkan pertempuran sengit dalam hubungannya dengan Anyelir.
"Jan? Janu? hal—" ucapan Anyelir terputus.
Tahu bahwa dengan kemunculan Bella di ruangan Janu akan timbul kesalahpahaman, Janu lantas mematikan ponsel tanpa membiarkan Anyelir bertanya, baik itu dalam segi interogasi atau apapun asal Janu berkata jujur.
"Ada urusan apa?" tanya Janu terdengar ketus.
Rupanya Bella berkunjung sembari menenteng beberapa kotak bekal yang ia tadi sembunyikan di belakang punggung, sekarang kotak itu di simpan di atas meja kerja Janu.
"Sushi—aku tahu makanan apa yang kamu cari setelah mabuk. Terdengar aneh, tapi ini kebiasaan kamu." Senyum Bella tercetus pulas.
Janu terperangah, bahkan kebiasaan sekecil itu saja Bella masih mengingat. Ia sendiri tidak tahu kenapa setelah minum banyak sehabisnya selalu ingin makan sushi.
"Itu dulu, sekarang saya tidak tertarik, Ara." Janu bersedekap memandang gelagat Bella yang terbilang lebih santai sekarang, tidak terlalu agresif dan pemaksa.
Ponsel Janu kembali berdering, membuat atensi terfokus pada benda pipih itu. Panggilan dari Anyelir, Janu memejamkan matanya berusaha memikirkan hal yang positif. Akan jadi masalah jika Anyelir tahu Bella mengunjungi ruangannya, perlu waktu juga untuk mengusir gadis dihadapannya. Maka Janu memutuskan untuk mematikan ponsel, menoleh pada Bella yang mengerutkan dahi.
"Pacarmu, 'kan? Kenapa malah dimatikan ponselnya?" tanya Bella diselingi seringaian yang bermakna sindiran.
Janu memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. "Bukan urusan kamu!"
"Ini." Bella yang kini berdiri menghadap Janu sembari melempar pandang memberikan kotak bekal yang dimaksud. "Aku tahu kamu belum makan," tambahnya.
"Apa maksudnya?" semula Janu menatap kotak bekal itu dengan datar, meski sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul terngiang-ngiang di kepalanya.
Kini pandangan itu terlihat tajam ke arah Bella, seolah baginya Bella adalah ancaman. Seperti rusa samar-samar melihat harimau bersembunyi dalam semak-semak.
"Jangan terlalu naif, aku tahu kapan kamu merasa lapar dan ingin sesuatu,"
"Bukan itu." Janu membuang wajahnya jengah, Bella yang dulu dengan sekarang sungguh jauh berbeda. Meski rasa itu masih ada, tapi perlakuan Bella yang terlampau agresif membuat Janu tidak nyaman. "Punya maksud apa kamu ingin sekali bergabung dengan projek saya?!"
"I'am just miss you,"
"Bohong sekali." Janu tertawa hambar, mustahil rasanya bagi Bella meninggalkan Janu dan menghilang selama sepuluh tahun, tapi tiba-tiba kembali dan mengatakan rindu. "Ke mana aja selama ini?! kalau pun rindu, kamu bisa sampaikan itu ... paling tidak tujuh tahun lalu. But now?! Ini sudah sepuluh tahun Bella! nggak make sense rasanya kamu datang ke kantor ini dengan alasan seperti itu!"
"Jadi kamu mengharapkan aku kembali sejak lama?"
"IYA! saya tidak munafik, tapi Ara ...." Janu maju dua langkah agar ia dapat melihat dengan jelas ekspresi Bella. "Itu dulu ... sebelum saya mengenal belahan jiwa saya— Anyelir."
"Tapi kamu masih menyimpan rasa sama aku, Genta! Buat apa kamu mengakui pacar kam—"
"RASA ITU HANYA RINDU SEBATAS TEMAN!" Janu setengah berteriak, ia berharap dengan hal ini Bella akan jujur dan mengungkapkan tujuannya kembali juga terjun ke dalam projeknya. "Lagipula Ara ... hubungan kita sudah berakhir sejak lama, apalagi yang saya harapkan dari kamu?" Janu menggeleng kencang. "Perasaan itu memudar saat saya tahu kamu yang sekarang sangat berbeda!"
Dulu Bella adalah sosok yang ceria juga penyayang, ia polos dan sangat menaati aturan. Meski Bella dan Janu seorang mahasiswa, di atas usia delapan belas, Bella sama sekali tidak pernah menyentuh dunia per-alkoholan. Sebab Bella selalu menolak hal itu. Ia bertekad untuk meneruskan perusahaan sang Ayah, sehingga menjadi seorang yang dijuluki kutu buku sangking rajinnya.
Berbeda dengan Janu, sejak remaja ia memang sudah mengenal dunia gelap itu, mungkin karena pergaulan di US yang terlampau bebas juga jarang sekali ibunya berkunjung ke sana.
Tapi lihatlah Bella sekarang? Dari cara ia minum saja sudah melampaui batas Janu, Bella sangat kuat. Belum lagi tindakan nekat dan perkataan yang selalu menyinggung Janu, itu membuatnya kebingungan. Bella seolah disihir menjadi wanita yang berbeda dalam sepuluh tahun terakhir, kepribadian yang berbanding terbalik dari sebelumnya. Semula seekor kelinci putih yang bersih dan lucu, berubah menjadi harimau kejam yang haus mangsa.
Bella malah tertawa hambar. Menyimpan kotak bekal itu lantas terududuk di sofa milik ruangan Janu sembari fokusnya tak beralih dari sorot tajam Janu.
"Bumi ini berputar, Genta." Bella bersedekap. "Aku bukan lagi kutu buku, yang akan terdiam walau orang-orang merundung dan menjambak rambutku!"
"Ya ... kamu benar, bumi ini berputar terlalu kejam. Sampai saya sendiri bingung ... di mana letak tuas pemutarnya?"
"Genta Janu ... sekeras apapun kamu menolak, sehebat apapun kamu mempertahankan kekasihmu ... You are mine!"
Janu mendesis, wajahnya yang datar benar-benar menyeramkan. Jika yang duduk manis dihadapannya Anyelir, sudah pasti gadis itu gemetar ketakutan. But this is Bella, benar-benar seperti macan berbalut tubuh manusia.
"Jangan terlalu percaya diri, Tuhan tidak suka tersaingi," sahut Janu penuh penekanan.
"Tiga Minggu cukup rasanya membuatmu kembali padaku, tunggu waktu itu tiba!" Bella beranjak hendak keluar dari ruangan Janu, tapi Janu menghampiri dan memegangi pundaknya. Bergerak perlahan sampai sudut bibir Janu hampir mendekat telinga Bella.
Janu berbisik di sana. "Ya, tiga Minggu cukup sepertinya membuat rasa ini sepenuhnya hilang—kamu benar Renggis Arabella ... bumi ini berputar, dunia ini berubah. Seperti kura-kura yang berhasil mengalahkan kelinci dalam lomba lari, seperti itulah keadaan berubah di luar ekspektasi!"
Bella tidak menanggapi lagi, ia memilih mengepalkan tangan lantas benar-benar pergi dari hadapan Janu. Bukan Janu rasanya kalau kalah dalam berdebat, beberapa hari yang lalu ketakutan terlalu membuat Janu kehilangan kepercayaan diri. Ia menjadi hidup dalam tekanan, apapun yang Bella ancam selalu berhasil membuatnya bertindak tanpa berpikir.
Tapi sekarang tidak, meski Janu masih belum mengerti kenapa Bella ngotot bergabung di projeknya. Apa karena hanya rindu dan ingin kembali memiliki Janu? itu alasan yang kuno, memang kata orang cinta itu buta. Tapi bagaimana caranya Janu percaya bahwa Bella masih memiliki rasa? dari tatapannya saja belum tentu terlihat tulus.
Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah kembali seperti semula, tidak boleh diperbudak oleh rasa takut karena Bella mengancam banyak hal. Satu-satunya kunci rencana misterius Bella, atau mungkin hasrat Bella yang ingin merenggut dirinya dari Anyelir berhasil dibatalkan hanya satu—Janu terbuka akan masa lalunya pada Anyelir.
Semoga ia sanggup.
***
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, Janu yang tengah menyeduh secangkir kopi di dapur sederhana baru teringat satu hal. Ia belum mengabari Anyelir sebab ponselnya dimatikan sejak tadi siang. Sebetulnya Janu lapar, ia membutuhkan beberapa makanan manis untuk meningkatkan stamina. Tapi malas sekali rasanya harus menuju lantai bawah.
Janu tengah menyusun call sheet untuk syuting nanti, seharusnya Aruna yang mengerjakan, tapi lelaki itu tengah memimpin departemen artistik untuk menyelesaikan segala properti, wardrobe, bahkan sampai make up artist. Merekrut Astrada lain? ah, Janu sulit sekali menyatukan kepala orang baru. Ia tidak suka campur tangan orang lain. Tapi kalau sudah begini ia kewalahan juga, terpaksa lembur sampai urusannya selesai.
Karena merasa lelah, juga membutuhkan Anyelir untuk sedikit menghibur dirinya selagi bersantai dengan kopi dan cookies. Janu memutuskan turun ke lantai bawah menuju cafetaria. Bahkan kopi instan yang baru saja dibuat ditinggalkan begitu saja, walau malas, tapi Janu harus tetap terlihat waras.
Sembari menunggu lift, lelaki itu mengeluarkan ponsel dan menyalakannya. Seharian ini Janu berada di kantor, kalaupun ada urusan, panggilan pasti terhubung ke telepon ruangan Janu. Otomatis ponselnya kurang berfungsi sebab Janu mengandalkan telepon genggam.
Hampir tengah malam begini, lobby A3 benar-benar sunyi. Tapi cafetaria buka sampai sekitar pukul satu malam, sebab agensi hiburan bekerja hampir 24 jam, benar-benar fleksibel sesuai dengan shift masing-masing.
Lelaki itu memesan coffe latte kesukaan Anyelir, juga dua buah cookies cokelat. Terduduk manis di ujung cafetaria yang hanya menyisakan dua orang pekerja saja, matanya melotot saat ada puluhan pesan beruntun dan belasan panggilan tak terjawab, dari Anyelir semua.
Janu membuka satu-satu pesan dan membacanya dengan perlahan, jantung Janu seolah berhenti berdetak rasanya saat tahu isi apa saja pesan yang dikirim Anyelir.
"s**t!" Dengan cepat ia menekan panggilan. Ia mengira Anyelir akan mengerti saat panggilan tiba-tiba dimatikan tadi, tapi? oh ternyata Anyelir memasang pagar-pagar persiapan perang melalui chat yang dikirimnya.
Dua kali panggilan dilakukan, tidak ada jawaban tapi ponsel Anyelir masih aktif. Dan di panggilan keempat, terhubung.
"Hallo, Lir ... say—"
"Masih berani nelpon?!" Anyelir sudah menyambar, padahal Janu baru saja menyapa.
"Lir ... kamu marah?"
"Enggak!"
"Enggak kamu itu pertanda iya, Lir." Janu menghela napas, berusaha mengatur sirkulasi udara sebab membujuk Anyelir membutuhkan tenaga ekstra.
"Kalau udah tahu ngapain nanya!"
"Lir ... say—"
"Ayo ketemu!" Janu padahal belum selesai berbicara tapi Anyelir sepertinya sudah kesal di atas rata-rata.
"Nggak bisa, Lir. Ini sudah malam, saya juga masih di kantor karena kerjaan saya masih numpuk,"
"Hebat banget kamu, Jan ... ngaku-ngaku masih di kantor, cewek mana lagi yang mau kamu ajak minum hari ini?!"
Janu mengerutkan dahi, tidak percaya dengan ucapan Anyelir yang tiba-tiba menuduhnya. "Kamu kenapa ngomong kayak gitu, Lir?"
"Ya emang itu kenyataannya! Kenapa kamu? Amnesia kalau kemarin habis minum-minum sama cewek lain, dan pacar sendiri yang jemput?!"
Kepala Janu mulai terasa berdenyut sekarang, ia memijat pangkal hidungnya karena merasa pening. "Lir! tujuan saya mau nelepon kamu tuh saya butuh istirahat, refresh otak karena kerjaan saya banyak hari ini ... bukan ngajak berantem!"
"Kamu pikir aku mau berantem? Siapa yang nggak kesel ada cewek masuk ke ruangan kamu tiba-tiba dimatiin, setelah itu ponsel kamu nggak aktif dan jam segini baru ngasih kabar. Kenapa? mau aku nyuruh kamu jemput lagi pas lagi minum sama cewek?!"
"Lir ... jaga ya kalau mau nuduh, cari bukti dulu yang bener!" Janu mulai terpancing emosi sekarang, Anyelir menuduhnya benar-benar seperti Janu peselingkuh ulung. "Saya berani bersumpah kalau saya sedang di kantor dan lembur untuk menyelesaikan call sheet!"
"Kenapa aku harus percaya?"
"ANYELIR!" Janu membentak cukup kencang, ia menyadari kemarin apa yang dilakukan benar-benar fatal dan salah. Tapi kenapa Anyelir malah mengaitkan hal itu dengan kejadian sekarang yang pada dasarnya Janu memang sedang bekerja.
"KAMU AJA KEMARIN BILANGNYA MAKAN MALAM, TAPI AKHIRNYA?!"
"Lir, itu kemarin! Bukan sekarang!"
"Apa bedanya?! permainan kamu selalu di mulai malam hari!"
"Permainan apa, sih?! permainan ciuman sama Kevin Chuclos padahal sutradara udah bilang 'cut'?!"
Janu yang terpancing emosi malah balik menuduh, lagipula kenapa harus selalu dirinya yang di salahkan? padahal Anyelir sendiri juga melakukan banyak hal yang seharusnya Janu cemburu dan marah akan hal itu.
"Kevin itu hanya lawan main aku di series sekarang, ya! Kamu tahu sendiri itu adalah hal yang wajar di tempat syuting!"
"Oh ... kalau begitu saya makan malam dengan rekan kerja wanita juga wajar, 'kan?! apalagi saya nggak peluk-pelukan ... nggak cium-ciuman juga!"
"Janu it's different!"
"Terserah kamu mau bilang apa! Saya nggak suka dituduh-tuduh, ya!" bentak Janu cukup kencang, ia sudah mengira Anyelir pasti mulai menangis sekarang.
Tapi peduli apa? ia juga lelah dengan pekerjaan yang menumpuk, masalah Bella, belum lagi hambatan-hambatan syuting lainnya.
"Jahat banget kamu, Jan." Anyelir mulai terisak, meski berusaha di tahan tapi Janu dapat menanggapnya dengan jelas.
"Kali-kali coba ngertiin saya dong, Lir ... jangan selalu saya yang harus ngertiin kamu!"
"Nggak kebalik, ya, Jan?!"
"Kamu sendiri yang bil—"
Tut ... Tut ... Tut
Panggilan dimatikan padahal Janu belum selesai berbicara, ia mengumpat sembari memegangi ponselnya kuat-kuat. Niat hati ingin menikmati latte panas, tapi itu sudah dingin sekarang, dan Janu sudah tidak selera. Apalagi ponsel Anyelir malah tidak aktif sekarang.
Brakk!
Janu mengebrak meja cafetaria penuh emosi. "Adegan kiss sialan!"