Untuk kesekian kalinya Janu terdiam, duduk termenung di ruang kerja sembari memandangi boneka panda berukuran kecil dengan semacam kail pengait di bagian kepalanya. Ingatan Janu masih samar-samar, belum sampai pada titik di mana ia bermain capit boneka. Tunggu, bukankah pada saat itu tengah malam? kenapa masih ada tempat yang buka? Janu tiba-tiba menggaruk kepalanya merasa malu, tingkat keren dan cool di hadapan Anyelir berkurang sudah.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Janu terbuka, Aruna masuk membawa beberapa berkas revisi script sembari menggelengkan kepala. Tangannya bergerak menaruh setumpukkan map di meja Janu, dahinya malah ikut berkerut.
"Boneka panda hasil mesin capit," sindirnya sembari menyeringai puas.
Merasa terusik dengan sindiran Aruna, Janu bangkit menghampirinya. Niat hati ingin marah tetapi masih berwajah cool, apa daya ia harus memohon untuk mendapat informasi terkait kejadian semalam. Sebab Anyelir enggan membuka mulutnya, ia beranggapan bahwa Janu nanti akan segera mengingat kejadian apa saja yang terjadi di malam itu.
"Gimana bisa saya dapet boneka ini?" Janu bertanya langsung pada intinya, membuat Aruna membuang wajah.
"Penasaran nih? mau bongkar aib?"
"Aib apa?! jangan melebih-lebihkan ya!"
"Nggak di lebih-lebihkan juga memang kelakuan Bapak tadi malam berlebihan!" Aruna terduduk di meja kerja Janu, bersedekap benar-benar seperti orang menantang.
"Apa saya menyakiti Anyelir?" tanya Janu takut, ia benar-benar khawatir sebab Anyelir masih terlihat biasa saja tadi pagi.
Aruna sempat merunduk, Anyelir menurutnya terlalu pandai menyimpan luka. Padahal jelas sekali ia melihat Bella di ruangan itu, bersama Janu juga mabuk bersama. Tapi, sedikitpun ia tidak marah-marah, menangis, atau bahkan menginterogasi Aruna dengan kecurigaan tentang banyak hal.
Gadis itu semalam mengurus Janu benar-benar tulus, mengganti baju sampai memebrsihkan sisa-sisa muntahan—ah Aruna jadi mual.
"Bapak muntah di baju saya!" ketus Aruna kesal.
"Saya nggak peduli, yang penting itu saya nyakitin Anyelir atau tidak?"
"Secara apa?" Aruna malah balik bertanya.
"Fisik,"
"Enggak, tapi Bapak KDRP sama saya!"
Janu menoleh, dengan tatapan malas juga merendahkan Aruna. "KDRT!"
"KDRP Pak—Kekerasan Dalam Rumah Produksi!"
Janu mendesis kesal. "Memangnya apa yang saya perbuat, ha?!"
"Oh banyak ... jadi mau saya ceritakan dari mana?"
"Terserah!" ketus Janu.
Aruna menyeringai, mulai mengingat kejadian malam tadi yang terbilang memalukan kalau Aruna sendiri berada dalam posisi Janu. Apalagi berada dihadapan kekasihnya sendiri. Karena terkadang, menjadi seorang lelaki itu selalu ingin pamer dalam segala hal. Termasuk kepribadian yang dianggap keren baginya.
***
Setelah berlari ke sana ke mari seperti orang gila atau lebih tepatnya kesurupan, Janu berhenti di sebuah gerai semacam kidzone koin yang letaknya tidak jauh dari kantor Janu. Bahkan ini merupakan salah satu tempat nongkrong Aruna, katanya untuk me-refresh otak saat kerjaan benar-benar membuatnya tertekan.
"Pak Januuuuu!" Teriak Aruna sembari menghentikan langkahnya, ia ngos-ngosan sampai merasa bahwa udaha hanya tersisa di ujung paru-parunya saja.
Karena jam menunjukkan hampir tengah malam, gerai itu sudah tutup juga lampu-lampu disekitarnya gelap. Anyelir yang baru tiba, bersender pada jendela yang menampilkan keadaan gelap di sana, mengatur napas sebisa mungkin lantas menoleh pada Janu.
"Jan ... ayo pulanggggggg." Sementara Aruna terdiam, Anyelir terus-menerus menarik tubuh Janu yang lengket menempel pada jendela arena bermain anak itu seperti gurita yang memiliki tentakel, benar-benar tidak mau lepas.
"Capit boneka ... itu capit boneka! saya kalah!"
"Dapet ide dari mana, sih?! tiba-tiba pengen main capit boneka! udah lari-lari kayak orang gila, apalagi yang ngejarnya kayak kesurupan tau nggak?!" gerutu Anyelir kesal.
Aruna menoleh pada Anyelir, ia teringat satu hal. "Saya pernah ajak Pak Janu main capit boneka."
"Aruna das—" Anyelir hendak melayangkan tamparan, cubitan, atau pukulan kecil layaknya cewek-cewek pada umumnya saat merasa kesal. Tapi hal itu tidak teejadi.
"Tapi itu dulu." Potong Aruna, ia menanam kedua tangannya sendiri di pinggang. "Kenapa dia masih inget ya?"
"Inget pernah main capit boneka?"
"Inget kalah, itu pasti dia pengen main sekarang supaya menang!"
Anyelir nampak hampir gila dengan tingkah Janu malam ini, sudah mabuk dengan perempuan, lari-lari nggak jelas, sekarang? main capit boneka? oh ayolah ia bahkan baru terpejam selama satu jam, belum lagi Anyelir ada syuting pagi sekitar pukul sembilan.
Gadis itu melepas topinya, lantas mengikat rambut yang semula tergerai sebab udara malah bertambah panas semacam habis olahraga. "Kamu punya ide nggak?"
"Saya kenal, sih, Bee sama pemiliknya,"
"ASTAGA BABON! kenapa nggak bilang dari tadi? telpon sekarang pemiliknya, suruh dateng juga, urgent!!!"
"Tapi, Bee ... apa kita nggak akan ganggu dia?"
"Kita bayar mahal, berapapun biayanya saya bayar asalkan kita bisa pulang dan istirahat ... NGGAK DIEM DI PINGGIR JALAN LIATIN KIDZONE DI JAM DUA PAGI!" Anyelir setengah berteriak karena ia juga emosi dengan keadaan ini, Janu benar-benar membuatnya ikut mabuk dalam dunia peremosian. "Mending gue mabuk aja daripada sadar kayak gini, keliatan sama gilanya!" lanjut Anyelir masih menggerutu meski suaranya tidak terlalu kencang, tapi Janu dapat menangkap hal itu.
"Nah ... Tersambung! Hallo?" Aruna yang sejak tadi mengutak-atik ponsel untuk mendapat jawaban dari si pemilik kidzone kini bersorak, ia mulai membujuk agar segera mendapatkan capit boneka dan pulang.
"Tolong dong, Rul ... berapapun yang Lo minta gue bayar deh!" Bujuk Aruna sebab orang di seberang sana menolak, lagipula dini hari begini siapa juga yang rela membuka toko hanya karena satu pelanggan tidak sadar bermain capit boneka.
Aruna hampir kehabisan akal karena Rully—yang diduga pemilik kidzone ini juga teman sekolah Aruna terus-menerus menolak berbagai bujukan yang Aruna lontarkan. Hingga ia melihat Anyelir bersandar lemas sudah kelelahan, otaknya berputar. Aruna ingat, Rully adalah fans berat Anyelir.
"Rull ... Lo bisa foto bareng, minta TTD, bahkan ngobr secara live sama Berta Bee ... Lo ngefans 'kan sama dia?!"
Anyelir melotot mendengar bujukan Aruna, ia menunjuk-nunjuk ponsel Aruna dan di balas anggukan. Sejak itulah Anyelir menghela napas berat, habis sudah harga dirinya memaksa orang meminta kidzone tengah malam hanya karena pacarnya mabuk.
Bukan lagi pada stress hampir gila, tapi Anyelir sudah kelewat gila. Ia lantas mendekat ke arah Aruna, mengambil ponselnya. "Ini saya Berta Bee ... bisa kamu datang ke sini dalam waktu lima menitan? saya mohon banget sama kamu, saya butuh kamu. Terimakasih."
Anyelir mematikan ponsel. Membuat Aruna ketakutan. "Eh! kenapa dimatiin?!"
"Dia bakal datang kok, walau diujung gunung Everest ... fans gue pasti bakal datang!" Ia berucap sembari menoleh pada Janu, geram sekali. Rasanya ingin mencabik-cabik wajah Janu detik ini juga.
***
"Setelah itu bagaimana?" Janu benar-benar tertarik dengan cerita Aruna, ia seperti pembaca dongeng anak-anak sebab begitu ekspresif.
"Si Rully datang dan kita main capit boneka! tapi Bapak tetap kalah!" Aruna sedikit menyeringai, baru pertamakali dalam hidupnya dapat mengalahkan seseorang seperti Janu.
"Walaupun kalah saya tetep mau pulang?"
"Oh tentu tidak hahahaha." Aruna tertawa hambar. "Cerita anda belum selesai!"
"Terus gimana lagi?"
"Karena Pak Janu gamau pulang sebelum menang, akhirnya saya terpaksa main ... sekali main saya langsung dapet! terus Berta Bee diam-diam masukin boneka itu ke jalur keluarnya boneka di mesin capit Bapak ... dan! Berhasil!" Aruna berdiri benar-benar seperti main drama. "Akhirnya Bapak mengira kalau Bapak menang!"
Janu menghela napas, tindakannya benar-benar tidak waras malam itu. Kenapa ia bisa semabuk itu? bahkan ingatan kejadian semalam saja masih abu-abu sampai sekarang. Pening pun belum hilang. "Sudah?"
"Oh belum! Masih ada cerita mengesalkan lainnya!"
"Apalagi?!"
"Di perjalanan, Pak Janu cium saya ... nggak lama Pak Janu muntah di celana saya!"
"Jangan bercanda!"
"Rekaman camera dashboard Berta Bee masih ada, loh!"
"Udah-udah! cukup! saya hampir gila dengar cerita berlebihan kamu!"
"Saya sama Berta Bee juga hampir gila menghadapi kelakuan Bapak semalem. Belum lagi sampe rumah masih ada drama lain ... Bapak malah pengen pakai baju punya Ibu! Terus pakai BH! ahhh saya sam—"
Janu membekap mulut Aruna, kesal dia. Masih mengira bahwa yang dikatakan Aruna hanyalah fiktif belaka, tapi sungguh tidak mungkin juga Aruna berbohong sampai sedetail itu. Janu perlahan melepaskan mulut Aruna yang berteriak-teriak tidak jelas.
"Udah ... saya nggak akan bahas itu lagi, Pak." Aruna memegangi mulutnya yang sedikit sakit sebab Janu membekapnya keras. "Bapak tadi pagi berantem?"
"Nggak," ucap Janu jujur.
"Bapak memang nggak nyerang fisik Berta Bee, tapi saya yakin Berta Bee terkena psikisnya. Dia pasti kecew—"
"Run ... kalau kamu jadi dia, pertanyaan apa yang terlintas di benak kamu saat saya ada bersama Bella?"
Wajah Janu yang nampak bingung membuat Aruna ikut terbawa, tapi memang sejak tadi Aruna tiba Janu tidak menunjukkan sisi galaunya. Ia tahu kebiasaan Janu saat bertengkar dengan Anyelir menjadi ganas seperti singa betina padalah Janu jantan, di sentuh dikit langsung diterkam. Tapi pagi ini Janu nampak biasa saja, hanya sedikit terlihat kebingungan.
"Emh ... apa, ya?" Aruna berekspresi seperti orang berpikir. "Saya bakal nanya, apa yang kalian lakukan? hubungan apa yang kalian jalin di masa lalu sampai kalian sedekat itu? apa yang kalian tutupi? dan kenapa saat bersama Bella Pak Janu selalu mabuk?!"
"Benar, 'kan! Orang-orang pasti bakal bertanya begitu!"
Aruna mengerutkan dahi, ia tidak mengerti maksud Janu berucap begitu apa. "Maksudnya gimana?" tanya Aruna.
"Anyelir tidak bertanya hal-hal itu, ia malah bertanya siapa Ara?"
"Renggis Arabella?"
"Bukan hanya itu ... dia bertanya kenapa saya selingkuh sama Ara? padahal saya tidak selingkuh!"
"Tunggu-tunggu!" Aruna merentangkan tangannya, ia berusaha berpikir keras. "Maksudnya Berta Bee bertanya Ara siapa sebab ia tidak kenal?"
"That's right!" Janu mengacungkan jempol, fakatnya memang begitu percakapan yang Janu tangkap tadi pagi.
"Artinya, Berta Bee tidak mempermasalahkan masa lalu dan hubungan Bapak dengan Bella. Tapi justru mempertanyakan kenapa Bapak tiba-tiba selingkuh dengan Ara?" Aruna mulai kebingungan untuk menarik kesimpulan yang ia buat.
"Pertanyaannya ... kenapa Anyelir tidak kenal Bella sedangkan mereka pernah berkenalan?" Janu tiba-tiba mengalun asumsi.
"Untuk kedua kali." Aruna menopang dagunya.
"Apa?"
"Berta Bee pernah melakukan hal itu serupa pada saya. Artinya ... kejadian ini terulang kedua kalinya."
Baik Janu maupun Aruna, kali ini keduanya hanya bisa bergeming. Kesimpulan yang diambil terlalu rumit, sulit dipecahkan kenapa Anyelir bisa sampai bersikap seperti itu.
Kamu sebenarnya kenapa, Lir?