Bab 57 - Permintaan Maaf Pertama Janu

1644 Kata
Silau mentari menyorot mata yang terpejam padahal jam sudah menunjukkan hampir menuju siang, Janu mulai terusik lantas perlahan membuka setiap inci kelopaknya. Ruangan yang dikenali, kamar sendiri. Dahinya tiba-tiba berkerut kala menerima rasa pening serta pengar yang menghiasi acara bangun tidurnya. Janu sudah membuka matanya sempurna, perlahan terduduk sembari bersandar pada ujung king size miliknya. Masih terbingung memikirkan hal apa yang menimpa, tapi itu hanya abu-abu sebab Janu setengah lupa. Tiba-tiba, pintu di hadapannya terbuka tanpa ketukan. Janu sudah menebak itu bukan Ibu, sebab Ibu mempunyai kebiasaan mengetuk pintu sebelum masuk meskipun penghuni sedang tidak berada di dalam kamarnya. Itu Anyelir, Janu membelalakkan mata. Seketika ia melihat sekujur tubuh yang sudah terbalut piyama miliknya lengkap dengan celana dalam. Itu artinya? "Li—lir ... ka—kamu pag—" Anyelir yang tahu reaksi Janu akan seperti apa hanya terdiam, rasa kesalnya masih belum sirna. Beribu pertanyaan pun belum usai terjawab semua. Gadis itu meletakkan nampan berisikan pancake serta s**u cokelat di nakas samping tempat tidur Janu. Berdiri sembari bersedekap menatap tajam ke arah Janu. "Sarapan dulu!" "Ka—kamu pagi-pagi begini ... se—sedang apa?" tanya Janu ragu, tapi tetap saja ia penasaran. "Sarapan dulu, Janu!" bentak Anyelir sarat akan penekanan. "I—iya ... iya!" Janu mengambil nampan itu, melahap pancake seperti orang kesurupan dengan cepat agar bisa memulai pembicaraan dengan Anyelir. "Ini saya sarapan!" Janu menghabiskan sarapan secepat kilat yang ia bisa, sembari mengingat kejadian malam tadi. Pakaian Anyelir di pagi hari ini juga masih mengenakan piyama, apa Anyelir menginap di sini? tapi kenapa? Pikirannya benar-benar beradu saat mulut penuh makanan dan sibuk mengunyah. Bahkan dahi Janu berkerut. Ada beberapa potongan memori yang Janu ingat, ia keluar dari restauran bersama Aruna dan gadis yang mengenakan topi hampir menutupi sebagian wajahnya. Janu tidak melihat jelas itu siapa karena pandangannya mengabur. Tiba-tiba ia melotot, ah! Jangan-jangan itu? "Lir ... malam tad—" "Iya, aku yang bawa kamu pulang." Wajah Anyelir benar-benar datar menahan amarah. "Sa—saya ... saya bakalan jelasin sama kamu." Janu menenggak s**u cokelat sampai tandas, menyimpan nampan kembali pada nakas meski masih menyisakkan satu potongan pancake. "Oh tentu ... kalau kamu masih menghargai aku sebagai pacar kamu, ya kamu harus jelasin!" "Lir, tentu saja saya menghargai kam—" "Menghargai? caranya minum-minum sama cewek lain?!" Anyelir membentak. Seketika Janu menegang, itu artinya Anyelir sempat bertemu Bella di restauran itu. Apakah Bella mengatakan hal-hal rahasia kepada Anyelir? Bagaimana kalau Anyelir tahu yang sebenarnya tentang masa lalu Janu? Lantas setelah Anyelir tiba apa yang terjadi? Sial, Janu kesulitan mengingat kejadian tadi malam. Terlalu banyak pertanyaan juga kekhawatirannya yang bermuara di otaknya, saling bertabrakan, saling menuduh satu sama lain. "Bener kata Diego." Anyelir membuang muka malas melihat wajah Janu. "Orang yang banyak diam, artinya ia bertengkar dengan pikirannya sendiri. Tinggal jawab pertanyaan gampang dari aku aja ... kenapa mikir banget?" Janu yang semula terduduk sembari merunduk, lantas mendongak. Ia berdiri, menatap Anyelir dengan takut sembari mendekat ke arahnya. "Lir ...." Janu menegang tangan Anyelir tapi segera ditepisnya. "Itu acara ... yang diadakan Pak Mahdi," ucap Janu terdengar memelas. "I know!" Anyelir mengeringai. "Tapi Pak Mahdi nggak ngajak kamu buat minum-minum sampe tepar kayak gitu, Januuuu!" "Saya cuman ... saya cuman ...." Janu tergagap, bingung ia harus menjawab apa. Tidak mungkin Janu mengatakan sekarang bahwa ia minum sebab desakan dari Bella, ia yang selalu menyudutkan Janu tentang perasaannya, rasa takutnya. Tapi Janu tidak mungkin menceritakan itu semua pada Anyelir, ia takut. Sungguh takut bahwa Anyelir tidak akan menerima kenyataan yang terjadi di masa lalu Janu, ia takut Anyelir balik meninggalkannya karena masa kelam itu. "Kenapa nggak bisa jawab?!" "Lir ... saya cuman main challenge sama Ara tap—" "Jadi itu yang namanya Ara?! cewek yang kamu sebut pas pertama kali mabuk di hadapan aku sebelum kita berangkat ke Singapura?!" Anyelir menyugar rambutnya, benar-benar kehabisan akal. "Siapa, sih, dia? Pacar kamu? Orang yang lagi deket sama kamu?!" Janu mengerutkan dahi, jawaban Anyelir terlampau membingungkan. Tadinya ia salah sebut, terlalu biasa menyebut Bella dengan sebutan Ara. Janu ingin membenarkan hal itu, takut-takut Anyelir bertambah curiga. Tapi ia malah mempertanyakan Bella? bukannya Anyelir sudah bertemu di Singapura? bahkan Bella sendiri yang memperkenalkan diri, pastinya saat Anyelir datang untuk menjemput Janu ia langsung mengenali Bella, Anyelir seolah asing dengan Bella? "Kamu ... nggak kenal Ara?" tanya Janu ragu. "Ya, ngapain aku harus kenal sama cewek yang jadi selingkuhan kamu!" Janu menggeleng secepat mungkin. "Dia bukan selingkuhan, Lir! Itu Bella ... Renggis Arabella—Ara!" Kini giliran Anyelir yang mematung. Kenapa ia tidak menyadari hal itu? bahwa Bella dan Ara adalah orang yang sama. Artinya yang Anyelir temui di restauran itu ... adalah Bella? Oh kelainan sialan! Ini akan menjadi boomerang jika Anyelir terus-menerus memebahas persoalan Bella, Janu akan curiga. Karena dalam kenyataannya Anyelir tidak mengenali, bahkan ia tidak ingat wajah Bella seperti apa. "Tapi kenapa kamu nggak bilang sama aku kalau kamu mau minum-minum?" "Sa—saya kirim pesan kalau saya mau makan malam ke kamu, tapi nggak ada balasan. Saya pikir kamu udah tidur," "Tapi kamu nggak bilang kalau kamu mau minum-minum!" "Saya nggak berniat minum, Lir." Janu memasang tampang yang benar-benar memelas. "Tapi ujung-ujungnya minum, 'kan?" Syukurlah, Anyelir tidak membahas lagi soal Bella. Membuat Janu bernapas lega, setidaknya ia bisa beralasan jika berhubungan dengan kejadian lainnya. Bagi Janu, pembahasan Bella akan memicu pertengkaran hebat yang Janu sendiri belum siap menghadapi itu, ia berjanji setelah pulang dari Washington akan menceritakan semuanya pada Anyelir. Di lain sisi, Anyelir sendiri sengaja tidak menyinggung Bella padahal ia sangat penasaran tentang siapa Bella sebenarnya? Kenapa Janu terlihat dekat? lantas kenapa juga Janu mempunya nama panggilan berbeda, belum lagi setiap kali bersama Bella Janu selalu mabuk. Padahal Janu sendiri pernah bilang kalau ia terakhir minum-minum dua tahun yang lalu. "Saya stress, Lir. Pada saat itu kerjaan saya banyak banget, juga masalah datang silih berganti ... makanya saya cari pelampiasan," ucap Janu nampak terlihat tertekan. Padahal stress yang dimaksud Janu adalah rasa gusar serta ketakutan, bahwa kenyataannya Janu mempunya masa lalu dengan Bella serta masih menyimpan rasa meski sudah berpacaran dengan Anyelir. Janu sebetulnya merasa bersalah harus membohongi Anyelir sebab gadis itu benci dibohongi, tapi apa daya, ketakutannya terlalu dalam sampai ia bingung harus memulai dari mana. Anyelir menyeringai. Ia memakai topi yang sejak tadi digenggamnya. "Aku juga orang yang kuat minum. Nggak ada salahnya 'kan minum sama pacar sendiri daripada sama cewek lain?" Lantas Anyelir beranjak meninggalkan Janu. "Lir ... mau ke mana?!" Gadis itu menghentikan langkahnya teringat satu hal. Lantas berbalik, menatap Janu sembari tersenyum miring. "Boneka kamu tuh!" Anyelir menunjuk satu boneka panda kecil yang berada di tempat tidur Janu. "Hasil main capit boneka!" "Lir!" Janu sempat menoleh pada boneka panda itu, ingatannya tiba-tiba kembali berputar, lantas sesegera mungkin berlari mengejar Anyelir dan menghentikan langkahnya. "Lir! Saya belum selesai bicara." "Apa lagi?!" Anyelir menoleh, bukan sengaja Anyelir tidak menanyakan ribuan pertanyaan di benaknya. Tapi Janu yang berbohong membuat Anyelir malas, apapun yang dipertanyakan pasti jawabannya selalu dengan jawaban yang tidak jujur. Itu sebabnya Anyelir lebih memilih mencari tahu sendiri daripada harus bertanya pada Janu. Seperti alasan minum tadi, Anyelir semalam bertanya pada Aruna kalau Janu terlihat baik-baik saja di awal. Tiba-tiba cewek di sampingnya mengjak Janu berbincang cukup panjang sampai Janu terlihat emosi. Tapi apa yang dikatakan Janu barusan? Stress? Menurut Anyelir itu tidak masuk akal, jika Janu stress terhadap pekerjaan, kenapa saat syuting Back and kill it lelaki itu tidak terlihat minum-minum juga? padahal film garapan Berau itu benar-benar hampir membuat gila. "Saya mau bicara sama kamu," nada Janu terdengar tulus dan pelan. "Sejak tadi kita juga bicara." Anyelir meloloskan satu tarikan napas berat. Lelah rasanya berada dalam hubungan antara keduanya yang menutup rapat rahasia masing-masing. "Lir ...." Janu menatap lekat ke arah Anyelir, tatapan kasih sayang yang tulus itu membuat Anyelir sedikit luluh. Janu menarik kedua tangan Anyelir serta menggenggamnya erat. "Maafin saya." Sontak Anyelir melotot, jika Janu sudah berani mengalun maaf artinya apa yang terjadi sebetulnya benar-benar fatal. Tiba-tiba perasaan Anyelir dihantui rasa takut. "Atas apa?!" mata Anyelir tiba-tiba memanas, bahkan mulutnya sedikit gemetar. "Semuanya." Janu mengalun senyum, membuat Anyelir berkaca-kaca seolah kesalahan besar tengah Janu lakukan dan akan berakhir menyedihkan. "Banyak hal yang belum saya ceritakan sama kamu ... tapi saya butuh waktu, Lir " "Kamu nggak minta aku buat kita putus, 'kan?!" Satu tetes air mata mengalir dari kelopak Anyelir, entahlah mengapa ia bisa secengeng itu sekarang. "Hei ... don't cry." Janu menghapus jejak air mata Anyelir. "Kenapa kamu berpikiran kayak gitu ... enggak, Lir. Saya nggak ngajak kita putus." "Ta—tapi! Tapi ... kamu minta maaf, tulus banget ... kayak mau ninggalin aku! Di film-film aja kalau ... ngomongnya lembut ujung-ujungnya ... ditinggalin." Anyelir malah menangis, benar-benar menumpahkan segala ketakutannya pada Janu. Takut akan kelainan yang disembunyikan, takut Janu tidak menerima Anyelir apa adanya, juga entah sampai kapan ia akan saling menutup kunci masing-masing. Janu tersenyum gemas, lantas mendekap Anyelir sangat erat. "Saya nggak ninggalin kamu. Saya cuman ingin kita saling memaafkan atas banyak hal yang kita tutupi berakhir kesalahpahaman ... saya belum siap terbuka, Lir, sama kamu. Tapi saya janji ... saya akan ceritakan semua hal yang mengganggu pikiran saya, agar saya tidak melakukan salah satu hal yang paling kamu benci di dunia ini." Tapi kamu udah melakukannya, batin Anyelir. Setelah mendekap Anyelir, Janu menghapus setiap jejak air mata yang begitu menyakitkan baginya. Terasa sesak di d**a sampai ia rasanya ingin melukai diri karena sudah bertindak melampaui batas bersama Bella. Kebohongan yang tiada henti, sampai pada titik di mana Janu merasa malu dengan dirinya sendiri. "Makasih, Jan." Anyelir melekatkan pandangannya pada Janu. "Makasih karena sudah berjanji untuk mau membuka luka, walau kamu tahu akan sesakit apa rasanya. Aku tahu, Jan. Apa yang kamu tutupi bukanlah hal indah." Janu sempat merunduk, ada bongkahan batu yang menghantam dadanya saat Anyelir berkata demikian. Seolah-olah Anyelir paham bahwa yang ditutupi Janu juga sebagian besar adalah rasa sakit. "Saya bersyukur punya kamu, Lir."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN