56 - Janu Setengah Gila

2344 Kata
Entah berapa botol minuman keras yang dikonsumsi oleh Janu, lelaki itu seolah larut dalam kegusaran yang tidak mengizinkan siapapun untuk menenangkannya. Aruna yang duduk di seberang Janu sejak tadi tak bisa berbuat apa-apa, sebab ketika Aruna ingin menenangkan, lelaki itu akan berteriak seperti dan menyuruhnya menjauh. Tatapan tajam Aruna fokuskan pada Bella. Ketika awal berjumpa, Bella di matanya adalah gadis cantik yang benar-benar cerdas. Aruna tahu karier Bella dalam kancah internasional. Ia juga merupakan penulis handal dengan berbagai karya yang mendunia, bahkan menjadi New York best seller. Tapi, apa yang dilihatnya malam ini memutarbalikkan perspektif. Entah bagaimana jika Anyelir tahu kejadian yang disaksikan oleh Aruna secara langsung antara Janu dan Bella. Aruna sempat menilai bahwa Janu pada awalnya juga menolak berbagai macam permintaan Bella, tapi atas desakan Bella yang acap kali mengancam hubungan antara Janu dan Anyelir juga kaitannya dengan masa lalu, Janu menjadi penurut. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu? Itu masih menjadi misteri. Apa yang akan dilakukan Aruna saat ini adalah berusaha menyadarkan Janu, ia tidak mungkin juga menceritakan hal-hal yang mengganjal belakangan ini. Tentang Bella yang selalu ada di manapun Janu berada, tentang Janu yang mabuk parah saat bersama Bella, tentang mereka yang selalu mengungkit masa lalu. Aruna sudah menebak, bahwa kedekatan mereka berdua bukan hanya sekadar rekan kerja baru satu frekuensi. Juga bukan teman kampus yang lama tak bersua, pasti ada hubungan khusus yang berusaha disembunyikan dari siapapun. Ingin rasanya Aruna berkata jujur pada Anyelir tentang apa yang dilihatnya, sebab ia tahu Anyelir sebaik dan setulus apa terhadap Janu. Tapi ia juga tidak mungkin menghancurkan hubungan keduanya dengan kebohongan juga fakta yang terus-menerus Janu tutupi. Entah apa yang diinginkan Janu sekarang, memangnya hubungan itu akan baik-baik saja jika Janu bersikap seperti itu? seolah Anyelir bukanlah orang yang penting untuk tahu seluk-beluk Janu. Beruntung Pak Mahdi dan para crew lain sudah meninggalkan restauran, hanya menyisakan Bella yang setengah sadar, Janu yang entahlah wujudnya saja sudah tak berbentuk, ia benar-benar mabuk. Jika tidak ada Aruna, Bella pasti sudah habis-habisan melakukan hal yang sejak tadi ingin ia lakukan. Mencium Janu. "Run! tolong … satu botol lagi!" teriak Janu yang sudah menempelkan kepalanya pada meja nampak mabuk total. "Kamu mau lagi, Genta?" tanya Bella lembut. Gadis itu menopang kepalanya di atas meja, menghadap ke arah Janu yang sudah kehilangan akal kesadaran. "Minum denganku—membuatmu bertambah rindu, right?" "Cukup, Pak Janu!" Aruna berdiri, mendekat ke arah Janu bahkan duduk di sampingnya dan merangkul lengannya agar Janu sadar kembali. "Pak ingat … Bapak masih punya Berta Bee. Tolong berhenti minum bersama, memangnya kalian berdua ini punya hubungan apa?!" "SPESIALLL!" teriak Janu dengan mata tertutup. "Tapi itu dulu … Ara ninggalin saya—HAHHH!" tiba-tiba Janu memukul-mukul dadanya sendiri seperti orang kesakitan. "Sakit … sakit di sini! SAKIT ARA!!" "Tapi aku udah kembali buat kamu … Janu! I'am back, just for you! dan kamu juga masih mempunyai rasa yang sama—kita akan pergi ke Washington DC bersama juga!!! I miss you so—" Bella hendak memeluk Janu untuk kesekian kalinya di malam ini, tapi tangan Aruna sesegera mungkin menarik tubuh Janu. "Hentikan Bella!" Aruna sedikit membentak. "Janu sudah memiliki kekasih, bukankah kamu juga tahu tentang hal itu?!" "Kekasih, 'kan? Bukan isteri?" Pertanyaan Bella sukses membuat Aruna menggelengkan kepala, entah apa yang ada dalam otak gadis itu. Bella ternyata di luar dugaan Aruna, jujur saja ia mengira kalau Bella benar-benar orang yang cerdas dan sopan. Ibaratkan Aruna hanya mengenal Bella dari cangkang tanpa tahu sisi lain dari penulis terkenal itu, sebab Bella selalu menciptakan tokoh-tokoh baik hati, dan itu jauh berbanding terbalik dengan kepribadian yang ditunjukkan Bella sekarang. "Arun!" Janu bangkit, memegang kerah Aruna cukup kuat. "Saya udah bilang—ambilkan saya satu botol lagi!" mata Janu yang memerah bukan menandakan amarah, Aruna dapat menangkap dengan jelas ada kesedihan dan kecemasan yang nampak kentara di sana. Aruna lantas berdiri, keluar dari ruangan VIP itu untuk memesan beer yang diinginkan oleh Janu. Ia berjanji setelah sadar nanti, akan berterus-terang pada Janu bila perlu cacian dan makian yang biasa Janu lontarkan kini Aruna ambil alih. Jujur saja, Aruna bukan tipikal orang yang ingin ikut campur dengan kehidupan orang lain, dalam berbicara saja ia masih perlu perbaikan. Apalagi menasehati manusia. Tapi dengan Janu dan Anyelir, keduanya seolah memberikan aura positif dalam jiwa semangat Panca Pirmuranggeng—orang yang berjasa dalam hidup Aruna, orang yag berhasil mengajak Aruna terjun dalam dunia film seperti sekarang. Aruna sebisa mungkin akan berusaha menyadarkan Janu, jika memang Bella adalah masa lalu, biarlah. Karena terkadang apa yang terjadi di masa lalu menjadi perbaikan untuk masa sekarang. Yang terpenting sekarang, hubungan Janu dan Anyelir tidak boleh berakhir semudah membalikkan telapak tangan. Aruna akan berusaha membantu kelancaran mereka berdua, demi majikan kesayangan ayahnya—sutradara Panca. Satu botol beer sudah Aruna pesankan, namun, tiba-tiba satu keinginan melintas di benaknya. Aruna lantas membuka benda pipih miliknya, mencari kontak seseorang lantas melakukan panggilan. Beruntung, tak menunggu waktu lama langsung terhubung. "Hallo?" Aruna meloloskan satu tarikan napas, antara tegang dan tidak enak berbaur menjadi satu. "Saya butuh anda sekarang, datanglah." Dengan tangan yang terkepal, Aruna membawa satu botol beer pada dua insan di hadapannya. Dilihat dari tatapan Bella, gadis itu belum sepenuhnya mabuk, ia bahkan masih nyambung saat diajak berbicara dengan Aruna. Ini kesempatan Aruna, sebab Janu hanya fokus pada minumanya. "Bella," panggil Aruna. Gadis yang tengah mengelus-elus rambut Janu itu menoleh. "Apa?" "Kamu ingin merebut Janu dari Berta Bee?" tanya Aruna serius. Janu benar-benar mabuk sampai ia tidak terusik sama sekali dengan percakapan mengenai dirinya sendiri. "You wrong! Aku tidak merebutnya … dia milikku." Tatapannya beralih pada Janu, benar-benar tersiratkan nafsu yang terdalam. "Berta Bee yang merebutnya," "Kamu sadar siapa dirimu, Bella?! Kamu hanya rekan kerjanya!" Aruna sudah kehabisan akal, nadanya mulai naik pertanda kesal. "Kamu tidak tahu apa-apa, Aruna!" Bella menggebarak meja, membuat piring-piring kotor dan benda pecah belah lainnya di atas meja ikut berbunyi nyaring. Janu sempat terusik, tapi hanya sesaat setelah itu kembali fokus pada gelas yang digenggamnya. "Genta tidak per—" "Namanya Janu," sanggah Aruna dingin, juga sarat akan penekanan. "Dia tidak suka dipanggil Genta!" Bella nampak emosi, ia mendekatkan wajahnya ke arah Janu yang hanya bersedekap santai. Padahal dalam hatinya bergemuruh antara takut juga gugup, sebab Aruna belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ia mengerutkan dahi dengan tingkah laku Bella sekarang. "I don't care!" Bella menjeda ucapannya dengan satu tarikan napas berat. "Yang perlu kamu tahu … bahwa Genta atau Janu, masih mencintaiku!" Aruna terdiam sejenak, seperti ditampar oleh kenyataan padahal ini sama sekali tidak berhubungan dengannya. Ia juga bingung, sejak pertama kali tiba, makan bersama sampai mabuk seperti ini. Bella dan Janu memiliki percakapan sendiri yang tidak Aruna ketahui, sebab mereka berbicara sangat pelan. Lagipula keadaan benar-benar berisik tadi, tidak sempat rasanya Aruna mengguping pembicaran mereka. "Bagaimana cara kamu membuktikannya? Janu saja mengumumkan hubungannya di hadapan publik!" "Itu karena dia takut persaannya semakin bertambah besar." Bella malah tertawa, terdengar hambar juga terkesan menyeramkan. "Itu juga salah satu bukti bahwa ia takut … takut perasaannya diketahui oleh Berta Bee! Oh come on! Harusnya kamu menyadari itu!" Benarkah? Aruna hanya bisa mematung, jika benar tujuan Janu seperti itu, lantas kenapa ia memilih untuk mengumumkan pada publik alih-alih mengakhiri hubungannya? Apa benar Janu setakut itu dengan perasaan cintanya pada Bella? Sebetulnya hubungan apa yang mereka jalin sampai Janu begitu gusar dengan masa lalunya? Aruna merasa kalah telak atas perbincangan sangat serius ini. "Bi—bisa saja bu—kan itu maksudnya!" "Dia mabuk denganku saja … itu sudah menunjukkan bahwa dia ingin menghapus jejak perasaan di hatinya. Tapi sayang—ahhh Genta yang malang! Semakin perasaannya dihapus, malah semakin bertumbuh besar dan sepertinya itu membekas!" "Hentikan, Bella! Aku tidak percaya omong kosongmu!" Aruna muai gemetar takut, ia juga menjadi gusar jika memang yang dikatakan Bella adalah kenyataan. "Hubungan apapun itu yang terjadi di masa lalu, adalah cerita lama! yang perlahan akan Janu lupakan!" "Dia tidak akan melupakanku!" Bella berteriak kembali. "Kamu perlu bukti?" gadis itu berdiri, meski dengan keadaan yang tidak baik. Tubuhnya saja sempoyongan nampak benar-benar terlihat seperti manusia penggila minuman keras. Aruna mengikuti pergerakan Bella, gadis itu merangkul tubuh Janu membuat lelaki itu terusik lantas mengerutkan dahi. "Mau bermain denganku?" tanya Bella dengan suara lembut dan sexy. Janu memerhatikan setiap inci dari tubuh Bella, menatapnya dari atas hingga bawah sembari mengedip-ngedipkan mata. Sementara Aruna hanya bisa berdoa dalam hati, berharap Janu menolaknya mentah-mentah, atau paling tidak menjadi acuh tak acuh. Dilihatnya Janu hanya menghela napas. "Bermain?" "Ya! Ayo!" Bella mendelik tajam pada Aruna yang menggelengkan kepala. "Kamu ingin bermain apa? Aku akan memenuhi permintaanmu!" Ekspresi Janu yang nampak berpikir semakin membuat keduanya tegang. Yang satu berharap bahwa Janu mengiyakan dengan berakhir pada kisah cinta satu malam, ah mungkin tidak, itu akan menjadi kenangan buruk bagi Janu atas kesalahan terbesar selama hubungannya dengan Anyelir. Masa lalu memang membuatnya trauma, tapi juga menemukan pintalan kerinduan. Di lain sisi, Aruna terus menatap Janu seolah meminta pertolongan agar tidak melakukan hal yang berakhir penyesalan, satu kebencian Janu sepanjang hidup. "Bisa kita bermain capit boneka?" tanya Janu tiba-tiba. "Saya tidak pernah menang boneka seumur hidup saya," tutur Janu lemas lantas menaruh kepalanya kembali di atas meja. "Hm?" Aruna mengorek-ngorek kupingnya, ucapan Janu benar terlontar demikian. Ia juga tidak salah mendengarkan. "CA—CAPIT BONEKA?!" Bella terkejut bukan main, ia kira Janu akan mengerti maksud kata 'main' yang diajak Bella. "Tidak … tidak! kita tidak main itu, ayo ikutlah! Ikut aku!" "TIDAK MAU!" Janu malah terlihat seperti bocah merajuk, ditambah dengan pipinya yang memerah juga bibir yang mengerucut. "Ahhhh … saya mengantuk!" "Gen—GENTA! kita tid—" "Dia tidak mau, jangan kamu paksa." Aruna menyunggingkan senyumnya. Bella yang tidak mau kalah saing menarik lengan Janu paksa. "Bukankah kamu masih mempunyai rasa terhadapku? Ayo … ayo ik—" Brakk! Seseorang muncul dari balik pintu, wajah bare face masih mengenakan piyama tidur berwarna peach berbalut jaket jeans serta topi yang menutupi sebagian wajahnya datang seperti pahlawan dengan napas memburu. "JANGAN SENTUH DIA!" gadis itu berjalan mendekati Janu yang terkulai, melepaskan cengkraman Bella sembari mendelik tajam. Dengan kekesalan yang masih bermuara, Bella melepaskan cengkraman tangan itu. Terududuk menahan amarah, akan menjadi boomerang jika Bella malah balik melawan dan bersikukuh ingin membawa Janu. Maka ia terdiam sembari meredakan emosinya, Aruna menghampiri. "Tidak terbukti," bisiknya. "Jan … ini aku—ayo pulang," ucapannya gemetar menahan tangis. "Hm?" Janu melenguh, lantas mendongak sembari tersenyum. "Sekarang?" "Iya." Gadis itu mengangguk dengan lemas. "Sekarang," lirihnya. "Kamu sudah beli koinnya?" tanya Janu sedikit memelas. "Ah? Ko—" "Lebih baik kita bawa Pak Janu keluar dulu, Bee." Aruna memotong percakapan gadis yang merupakan kekasih Janu. Ia berjalan mendekat ke arahnya. "Nggak baik orang-orang kayak kalian ada di neraka!" sindir Aruna sembari tersenyum miring pada Bella. Anyelir mengangguk setuju, lantas mempersilahkan Aruna membantu Janu keluar menuju mobilnya. Ide Aruna untuk menghubungi Anyelir terbilang berisiko, entah badai apa yang akan segera tiba menghantam hubungan keduanya. Tapi Aruna tidak punya pilihan, beruntung Anyelir datang tepat waktu, meski ia harus bersusah payah mengajak Bella berbicara demi mengulur waktu. Kalau sampai Anyelir terlambat, ia tidak tahu mungkin bukan lagi badai, bisa saja tsunami atau kiamat bagi hubungan keduanya. Sebab Janu menolak keras saat Aruna mengajaknya pulang. Saat Aruna membopong tubuh Janu yang lemas dan berbau alkohol sangat menyengat. Anyelir terdiam, menoleh ke arah Bella sembari menghampirinya. Ia menajamkan pandangan. "Jangan paksa dia … karena itu hak saya, sebagai pacarnya." Anyelir menurunkan topinya sampai hampir menutupi wajah. "Permisi!" ketusnya. ** "Pak Januuuu! Masuk—arrghhhh! ayoo!" Aruna berusaha memasukan tubuh Janu pada mercy kuning milik Anyelir, tapi sungguh itu adalah hal tersulit yang pernah dilakukan sepanjang hidup Aruna, sebab Janu malah terduduk di lantai basement dengan setengah badannya masuk ke dalam mobil. Janu menolak keras. "Pak … nanti kalo ada wartawan kita bisa abis … Pak ayo donggg!" "JANU JIWAAA!" bentak Aruna benar-benar kesal. Janu seperti anak kecil yang merengek, sulit sekali membujuknya sampai Aruna mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "ISHHHH! Ya ampunnnnnn! AYOOOO MASUK!" "Mana koinnya? Ma—mana mana?" Janu tetap saja masih meracau soal koin. Anyelir yang berjalan menunduk hampir tiba di dekat mobilnya segera mendekat. "Kenapa belum masuk?" tanya Anyelir heran. Aruna menghela napas lelah, melepaskan cengkraman pada tubuh Janu yang terduduk di bawah lantas menghadap Anyelir. "Dia nggak mau masuk sebelum dapat koinnya!" "Koin apa, sih?" "Koin game capit boneka," ucap Aruna jujur, wah seharusnya ini direkam baik-baik agar manusia super gengsi seperti Janu sadar bahwa dia tidak se-cool yang terlihat. Apalagi saat mabuk. "Game capit boneka? Buat ap—" Tiba-tiba Janu bangkit, membelakangi keduanya membuat Anyelir dan Aruna mengerutkan dahi. Mereka terdiam melihat gelagat Janu yang berusaha berdiri tegak meski setengah sempoyongan. Hal yang terduga terjadi, membuat Anyelir melotot saat Janu tiba-tiba berlari sekencang mungkin menjauh dari mobil Anyelir. "Run … Arun … ARUN!!! di—dia mau ke mana?" Anyelir panik sembari memukul-mukul pundak Aruna yang setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Jan! kamu mau kemana … Run kejar … Run! Run! Aruna kejarrrrrr!!" "I—iya .. Iya tung—tunggu … aishhhh!" Aruna ikut berlari mengejar Janu, benar-benar kencang, Janu seperti diberi oli pelumas sampai kekuatannya bertambah dua kali lipat saat ia berlari. "PAK JANUUU! ASTAGA PAK JANUUUUUUUU! TUNGGU!" Aruna benar-benar kewalahan. Anyelir bingung harus berbuat apa sekarang, ia malah menggigiti jarinya. Janu seperti sapi yang terlepas dari kandang sementara Aruna adalah penggembala yang kewalahan atas kaburya si sapi. Anyelir tidak boleh tinggal diam, tapi jika ia ikut mengejar bagaimana kalau paparazi tiba-tiba muncul? Ah apakah itu penting? "SHITTT! Gue harus ngapain ini?!" Anyelir menepuk-nepuk dahinya bingung. Membiarkan Janu seperti itu? Tidak mungkin juga. "BODO AMAT PAPARAZI! PACAR GUE SETENGAH GILA LAGI KABURRRRR!" Anyelir menutup pintu mobilnya segera, lantas mengejar Janu yang berlarian di sekitar basement hampir menuju pintu keluar. Persetan dengan wartawan, paparazi, biang gosip, atau sejenisnya. Lagipula tengah malam menuju dini hari begini, jalanan pasti sepi dan untuk apa juga mereka mengorbankan waktu tidur hanya untuk berita konyol seperti ini. Ah tapi, sungguh ini tidak lucu kalau sampai muncul berita bahwa Janu berlarian tengah malam seperti orang gila dan Anyelir sebagai sang kekasih mengejarnya mati-matian. "JANUUUUUU! AWASSSSS, YAAA! KAMUUUU!!!!" Anyelir mulai ngos-ngosan, ia kembali berteriak. "JANUUUUUU STOPPPPPPP!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN