Bab 53 - Berakhir Pertengkaran

2182 Kata
Ada manik cokelat yang berbinar kala memasuki gedung tempat acara award se-Asia ini diselenggarakan. Lampu tembak yang menjuntai sepanjang panggung nampak menyorot sampai setiap sudut Singapore Indoor Stadium, pusat olaharga yang sering dialihfungsikan menjadi gedung serbaguna. Setahu Anyelir, pada tahun 2004 di tempat ini pernah dipakai acara yang paling ia sukai yaitu American Idols Live Tour. Terasa mimpi rasanya berpijak di acara besar yang tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh Anyelir. Dulu ia hanya menyaksikan acara itu di televisi, atau di internet, sekarang justru Anyelir sendiri yang datang kemari sebagai tamu undangan. Gedung ini benar-benar luas, kira-kira bisa menampung sekitar 7.300 - 7.900 penonton dengan bentuk panggung arena yang dapat disaksikan dari berbagai sudut pandang juga memudahkan interaksi. Dalam rundown acara yang dibaca oleh Anyelir, banyak sekali pengisi acara terkenal yang turut memeriahkan sampai pada kalangan artis internasional. Ada idolanya juga, Mariah Carey yang akan bernyanyi diiringi dengan full orchestra. Batari sempat bilang bahwa Anyelir benar-benar terlihat tua menyukai penyanyi yang booming di era 90-an. Tapi siapa yang tidak menggila dengan suara emas khas penyanyi berusia sekitar lima puluhan itu, sudah berbakat, cantik, awet muda pula. Usai berjalan dari red carpet lantas melakukan sesi wawancara, gadis itu terduduk di rentetan podium yang memiliki tanda pengenal, sudah disediakan khusus bahkan nama Anyelir juga terpampang di sana bersebelahan dengan Diego. Agak terpisah dengan Janu, padahal ia berharap bisa duduk di dekatnya. Meski pertemuan tadi cukup melekagakan, Anyelir masih marah hanya saja ingin sekali memeluk Janu seerat mungkin, tapi apa daya gengsi masih dalam mode on. Sementara Janu yang sudah rapi dengan setelan putih tulang berbalut silver dengan dasi kupu-kupu khas, juga turut berjalan menyusuri rentetan kursi untuk mencari namanya. Otaknya masih mendidih, pikirannya masih melayang-layang, napasnya masih sesak, tangannya turut terkepal. Jika satu pertanyaan muncul berupa kata 'kenapa', jawaban Janu adalah 'Bella' dan 'Diego'. Ucapan Bella beberapa jam yang lalu terus terngiang-ngiang, Janu sungguh ketakutan. Bagaimana jadinya jika publik mengetahui bahwa Anyelir malah dinyatakan menjalin hubungan dengan Diego, bukan Janu. Meski itu hanya rumor biasa, tetap saja, para penggemar Anyelir akan terus menjodohkan keduanya. Bagaimana kalau Diego ternyata menaruh hati? perhatiannya pada Anyelir akan memberikan kenyamanan tersendiri, lantas mungkin saja Anyelir juga akan luluh nantinya. "Pak Janu! Kursinya di sini!" ada teriakan yang membuyarkan pikirannya, ia menoleh ke arah belakang. Aruna yang meneriaki, di sampingnya adegan tidak mengenakan terlihat. Diego tengah tertawa dengan Anyelir, nampak bahagia. Apa mereka tidak sadar bahwa sebuah kamera tengah merekam moment keduanya? Janu yang nyaris kehabisan akal lantas setengah berlari ke arah mereka sembari mengepalkan tangan, tapi berusaha ditahan. Tidak mungkin juga Janu memukul Diego di tengah keramaian seperti ini hanya karena cemburu. "Jangan banyak bercanda! Ada kamera yang mengawasi kalian!" bentak Janu membuat keduanya paham lantas semua diam. Lelaki itu terduduk dengan damai, hanya terlihat dari luar, tidak dengan hatinya. Sebab posisi Anyelir terhalang oleh Aruna, juga Diego. Membuat Janu sulit untuk mengajaknya berinteraksi secara diam-diam. ... but i like you, dan kamu juga begitu. Suara Bella begitu melengking di telinga Janu, padahal checksound di sekitar area lebih tinggi volumenya, bahkan sampai menimbulkan gema. Lantas tadi? kenapa telinga Janu seolah difungsikan hanya untuk mendengar suara Bella. Janu semakin resah. Apa karena ucapan Bella benar? bahwa Janu sejujurnya masih menyimpan rasa, bukan hanya sedikit, mungkin saja memang belum hilang. Barangkali mengajak Anyelir berkencan tidak lain hanya bentuk pelampiasan atas rasa rindu pada Bella yang perlahan harus disingkirkan. Janu menggeleng lagi. Tidak ... tidak. Kenapa saya berpikiran begitu? sadar Janu ... dia hanya masa lalu! "Pak? Bapak kenapa?!" Aruna yang terheran dengan gelagat Janu sejak tadi mulai berani bertanya. Janu di mata Aruna seperti orang yang mendapat masalah berat, benar-benar terlihat banyak berpikir. "Ah tidak ... say—" lelaki itu tidak jadi melanjutkan ucapannya, sebab satu ide melintas membuat Janu mengerutkan dahi. Ide gila, ide yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi hanya dengan cara ini, siapa tahu ketakutan-ketakutan itu benar hilang. "Saya apa, Pak?" Aruna mendongak. "Bapak yakin nggak kenapa-kenapa?" Alih-alih menjawab, Janu malah menoleh ke arah Anyelir yang hanya menatap datar lurus ke depan. Wajah cantiknya benar-benar candu sekarang, gadis itu seperti bukan manusia, entah itu keturunan Dewi atau malaikat sebab cantiknya seperti tidak nyata. Aruna mengikuti arah pandang Janu. "Oh ... cinta terhalang kursi penonton ternyata," kekeh Aruna. Merasa ada yang menatapnya, Anyelir juga turut menoleh. Kini keduanya saling beradu pandang, mengunci tatapan masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Lantas Janu menyunggingkan senyum manisnya. Kamu harus jadi milik saya seutuhnya, Lir. Acara pun di mulai dengan beberapa sambutan dan ucapan terimakasih, kemudian dibuka oleh hiburan musik yang menjadi transisi dari satu nominasi ke nominasi lainnya. Baik Anyelir maupun Janu menikmati acara award seperti biasa, bedanya dengan di negara sendiri, di sini lebih mewah juga penampilannya bukan sembarang artis biasa. Mungkin karena diselenggarakan tingkat Asia. Sampai pada titik di mana, nominasi film terbaik se-Asia ditayangkan. Yang mana film Back and Kill It hadir turut bersaing dengan film-film terbaik dari negara lain. Janu hanya bisa menopang dagu, jantungnya berpacu lima kali lipat, ia tidak mengharapkan kemenangan, mendapat undangan saja sudah senang. Tapi entalah kenapa harus segugup ini. "The winner of the best Asian film nomination is ...." Pembaca nominasi itu mulai membuka amplop yang berisikan hasil voting trasnparan di sebuah website tertentu. "Are you ready Guys???!" " ... Back and kill it!" Riuh tepuk tangan mengiringi keterkejutan antara Janu, Aruna, Diego, juga Anyelir. Bahkan Aruna sedikit berteriak, mengguncang-guncang tubuh Janu tak percaya. Sementara Janu hanya bisa melongo. Benarkah ini? Rasanya seperti mimpi. Akhirnya diputuskanlah Janu, Diego dan juga Anyelir untuk berjalan menuju panggung menerima penghargaan sekaligus mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai ucap syukur dan terimakasih. Janu berjalan lebih dulu, diikuti oleh Diego dan terakhir Anyelir. Acara ini disiarkan secara langsung di berbagai televisi se-Asia. Termasuk Indonesia. Maka tidak heran jika penggemar Anyelir juga Diego di sana pasti berteriak kegirangan. Seperti biasa Diego hanya menerima penghargaan berupa trophy bentuknya seperti manusia berdiri dengan lapisan emas murni. Lelaki itu mempersilahkan Anyelir juga Janu yang berbicara, sebab begitulah Diego. Ia malas harus berbicara formal dan mengucap syukur seperti itu, bukan keahliannya. Lagi pula Diego tidak fasih berbahasa Inggris. "Emhh ...." Anyelir mulai mendekatkan mic kecil yang berdiri seukuran tubuhnya, ada logo awarding di bagian depan dihias ciamik seperti mimbar. "I thank God, my parents, and my most precious fans. My fans ... as I love you!" hampir semua penonton bertepuk tangan mendengarkan sambutan dari Anyelir. "It's not easy being an artist who dives into the world of action, there are many challenges, especially in terms of taking videos. But thanks to everyone's suppor, i can stand here, carrying the good name of my country. I love you all!" Kemudian gadis itu mengacungkan pialanya dan riuh tepuk tangan menggema kembali. Janu mengambil bagian mic, dan mulsi berbicara. "It's not that easy... Dive into the wild without touching the studio or CGI effects. The challenge is life, whether it's natural disasters, wild animals, or maybe starvation. I had given up on this film... I thought I was a loser who couldn't do anything about it." Lelaki itu terdiam sejenak, menoleh sekejap ke arah Anyelir lantas kembali berucap. "But I can get back up again, thanks to her support... My love ...." Janu memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Anyelir, tatapannya begitu lekat dan penuh cinta, "Mrs. Berta Bee ... i love you!" lanjutnya. Tepuk tangan tamu undangan juga penonton bukan lagi riuh, bahkan tak banyak diantaranya berteriak histeris. Sementara Diego dan Anyelir hanya bisa melongo, tidak percaya bahwa Janu akan mengumumkan hubungan mereka berdua. Bukan lagi di hadapan media Indonesia, tapi di Asia. Janu mengulurkan tangan kepada Anyelir yang masih mematung terkejut, satu hal yang melintas dalam otaknya saat ini adalah 'kenapa?' sebab Janu yang menolak keras untuk mengumumkan hubungan mereka, tapi sekarang ia sendiri yang berkoar di acara yang bahkan hubungan keduanya akan di publish di negara orang lain. Anyelir menggelengkan kepalanya pelan. Gadis itu menerima uluran tangan Janu dan berjalan sembari menggenggam tangannya, Janu nampak bahagia. Sementara Anyelir masih bingung harus berbuat apa, ini benar-benar di luar dugaannya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, wawancara sudah pasti, media akan heboh dengan berita, wartawan akan senantiasa mengerumuni kediaman keduanya. Ah, Anyelir sampai pening memikirkan hal itu. Dunia harus tahu bahwa kamu milik saya seorang, Anyelir. ** Sepanjang sisa acara, Anyelir hanya bisa terdiam, bergelut dengan pikirannya sendiri. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan, baik itu Diego maupun Aruna, sebab Janu selalu melotot dan menyuruhnya untuk diam. Tidak membahas tindakan yang Janu lakukan barusan. Sampai seluruh rangkaian acara berakhir, Janu menarik tangan Anyelir tanpa permisi. Tidak berucap sama sekali, ia tahu apa yang akan terjadi jika dirinya meninggalkan Anyelir sendiri. Kerumunan wartawan pasti akan membuat Anyelir kesulitan. "Jan ... mau ke mana?!" Anyelir bingung, Janu nampak tergesa-gesa. "Ikut saja." Janu berjalan keluar menuju pintu utama, kembali pada red carpet yang menghadirkan ratusan bahkan ribuan wartawan. Ia sudah menghubungi Van yang mengantarkannya tadi untuk segera datang tepat waktu agar bisa menghindari kerumunan wartawan. Benar saja, semuanya seolah menunggu kehadiran Anyelir dan Janu. Banyak sekali pertanyaan yang tersirat paksaan agar keduanya menjawab, Anyelir menunduk, sungguh ia sangat pusing berada dalam desakan seperti ini. Tindakan Janu untuk menyeretnya tepat, kalau tidak ia bisa kewalahan harus menjawab seperti apa. Janu menarik pinggang Anyelir, memeluknya erat, lantas berucap, "Ya, we are already dating... Therefore please support us. Thank you!" Janu merangkul pundak Anyelir untuk menutupinya dari kerumuman. Ada beberapa bodyguard khusus yang sudah siap siaga, sehingga keduanya bisa masuk ke dalam Van dengan selamat. Baik Janu dan Anyelir menghela napas usai masuk ke dalam Van dan menghindari kerumunan gila itu, wartawan yang haus berita terkadang membuat keduanya kewalahan sendiri. Janu masih terdiam mengatur napasnya sendiri, sementara Anyelir menatap lelaki itu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. "Kenapa, Lir? haus?" Janu bingung, malah mengerutkan dahi. "Gila, ya, kamu." Anyelir menghela napas berat lantas menyugar rambutnya. "Loh? kenapa?!" "Kenapa?! Ya ... kamu pikir aja, Jan! Satu Asia loh ... bahkan mungkin satu dunia! Kita bisa jadi buronan wartawan kalo begini caranya!" Nada bicara Anyelir terdengar benar-benar marah, tentu membuat Janu kebingungan sendiri. Janu sadar aoanysng dilakukannya pasti memiliki dampak yang akan tak terduga lainnya, tapi ia tak punya pilihan lain. Hubungannya tidak boleh berakhir bergitu saja hanya karena muncul pihak-pihak lain, Janu yakin dengan pengumumannya ini Diego akan menjaga jarak. Semoga Bella juga begitu. "Bukannya kamu dulu yang ngotot pengen go published, ya, Lir?" "Oh tentu ... bukannya kamu juga dulu ngotot pengen backstreet?! Kamu ini kenapa, sih, Jan?! aku nggak ngerti sama jalur otak kamu yang isinya selalu bikin orang lain kaget!" "Kamu nggak suka saya berniat memperkenalkan kepada dunia bahwa kamu milik saya?" "Bukan nggak suka, Jan. Tapi ... oh ayolah! Kamu mikir nggak sih dampaknya nanti kayak gimana?!" "Lir ...." Janu meraih tangan Anyelir dan menggenggamnya erat. "Saya berencana untuk kita pulang besok malam, kita batalin jadwal penerbangan pagi kita untuk menghindari kerumunan wartawan. Saya juga sudah siapkan mobil khusus untuk kamu dengan bodyguard dan penjagaan yang ketat ... dan saya pasti akan selalu ada buat kamu untuk menghadapi awak media. Kita nggak harus lagi berkencan secara sembunyi-sembunyi, Lir." "Seenggaknya kamu kasih tau aku dulu dari awal, Jan ... jangan bikin aku kaget kayak gini!" "Saya boleh menebus dosa?" tanya Janu pelan. "Bisa nggak, Jan? sekali aja! Kamu minta maaf sama aku? aku nggak butuh penebusan dosa kamu, aku juga bukan orang yang selalu menginginkan hadiah juga kejutan. Dari sekian banyak kesalahan yang aku perbuat, aku selalu minta maaf sama kamu! Tapi kamu nggak pernah, Jan!" "Kamu tahu sendiri, Lir. Bagi saya permintaan maaf itu ad—" "AKU TAHU AKU TAHU! Aku sangat tahu betul ... permintaan maaf itu adalah hal yang sakral dan harus benar-benar tulus. Kalau kamu tidak pernah melakukannya, itu artinya penebusan dosa yang kamu lakukan nggak pernah tulus!" Janu mengerutkan dahinya heran. "Kok kamu beranggapan seperti itu?" "Kamu nggak pernah minta maaf artinya kamu nggak pernah tulus, Jan. Karena kamu sendiri yang bilang minta maaf itu harus tulus ... tapi kamu nggak pernah melakukannya!" "Kamu nggak tahu, Lir. Untuk apa minta maaf kalau melakukan kesalahan lagi?! Kalau sudah meminta maaf artinya manusia itu sadar dengan sepenuh hati dan tidak akan melakukan kesalahan lagi!" Janu mulai tersulut emosi, kenapa Anyelir jadi mempermasalahkan soal permintaan maaf? Janu kita dengan kejutan pengumuman itu Anyelir akan senang, sebab ia menginginkan go published sejak lama. Tapi apa yang terjadi? Keduanya malah bertengkar hebat sekarang. "Namanya juga manusia, Jan! Minta maaf, ngelakuin salah lagi, minta maaf, ngelakuin salah lagi. Kita bukan dewa apalagi malaikat, Jan!" "Ya, terus sekarang mau kamu apa?! nyuruh saya minta maaf di acara award itu karena udah mengumumkan hubungan kita? Gitu?!" "Bukan git—" "I'm sorry, sir. Is this going to the basement or just in the lobby?" tanya supir yang menghantarkan mereka, terpaksa pengemudi berjas hitam itu memotong pembicaraan meski rasanya tidak enak. "Basement," jawab Janu. "Tunggu-tunggu ... ini bukan hotel kita, Jan!" "Iya ... kita pindah hotel, cuman kamu dan saya. Untuk menghindari wartawan karena mereka pasti menunggu di hotel yang sebelumnya," "Dan ini terjadi lagi!" Anyelir melemparkan tatapan tajam yang sarat akan kekesalan, amarah dan kekesalannya pada Janu memuncak sudah. "Bertindak sesuka kamu ... tanpa pernah bertanya aku mau atau enggak! Egois!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN