Anyelir tak bisa berkata-kata, kedatangan Janu yang tiba-tiba membuatnya lega, tapi juga kecewa. Lelaki itu bahkan sudah menarik tubuh Anyelir untuk menjauh dari Diego. Seperti biasa, cemburu. Sementara gadis yang rasanya seperti diperebutkan masih membisu, membiarkan kesadarannya untuk pulih bahwa Janu sudah kembali, raganya utuh berada tepat di sini.
"Sorry ... gue nggak bermaksud apa-apa, kok. Gue cuman ngajak dia makan, kasian, abis nangis ... pasti gara-gara lo!" Diego menjelaskan, juga sedikit menyindir.
Janu kini menoleh pada Anyelir, menatap lekat hidung yang masih memerah, sekitar mata yang masih berair, juga ekspresinya yang tak bisa diartikan. "Kamu nangis? Lir ... saya tadi ... mobil say—"
Malas rasanya untuk menatap wajah Janu, lelaki itu datang seolah tidak ada apa-apa. Bisakah ia menyadari bahwa Anyelir begitu mengkhawatirkannya? Anyelir benar-benar merasa kecewa terhadap apa yang dilakukan Janu. Lantas ia melepas genggaman tangan Janu yang sedikit mencekal bagian lengan Anyelir, menyorot Janu dengan tatapan sinis lantas beranjak tanpa berucap apapun.
"Lir!" Janu mengejar Anyelir. "Dengerin penjelasan saya dulu!" Lelaki itu menghalangi langkah Anyelir, berdiri tepat di depannya. "Tolong ... dengerin penjelasan saya supaya kamu nggak salah paham."
"Penjelasan yang mana?! soal kamu mabuk semalam? soal ponsel kamu yang mati? soal permintaan kamu buat aku nggak benci sama kamu? soal kedatangan kamu yang telat? soal yang mana lagi?!"
Anyelir meloloskan satu tarikan napas. "Banyak banget, ya, persoalan yang kamu sembunyikan. Sebenarnya aku ini dianggap apa, sih, sama kamu?! teman kesepian, ha?! atau sebatas penghilang rasa bosan?!" nada Anyelir benar-benar membentak. Bahkan kini keduanya, ralat, bertiga dengan Diego yang hanya bisa menggaruk tengkuk tak gatal menjadi pusat perhatian.
"Loh? Kenapa ngomongnya kayak gitu?" Janu memejamkan mata, ia tak mungkin balas membentak seperti yang biasa dilakukan. Dalam posisi saat ini, sebagus apapun alasan Janu, ia tetap bersalah. "Lir ... saya nggak pernah menganggap seperti yang kamu kira, kamu pacar saya, Lir. Bukan teman kesepian apalagi pelampiasan rasa bosan!"
"Oh ... pacar ... oke. Sekarang, pacar mana yang menyembunyikan segalanya dari mulai kejadian tadi malam sampai hari ini?! kayaknya aku khawatir sama kamu tuh nggak ada gunanya!" sungguh rasanya Anyelir ingin menjambak wajah Janu lantas mencakar-cakar seperti kucing kesurupan. Tapi, tidak mungkin juga ia sekejam itu.
"Saya bakal jelasin semuanya sama kamu ... tapi nggak di sini, Lir ... banyak orang yang lihat. Saya nggak mau kita jadi pusat perhatian," pinta Janu memelas.
"Nanti aja, aku laper ... mau makan!" Anyelir mengandeng lengan Diego dan kembali berjalan, sementara lelaki yang semula menjadi lawan mainnya hanya pasrah mengikuti alur. Lagipula ia takut menyinggung Anyelir yang mulai tersulut emosi.
"Lir ... Anyelir tung—"
"GENTA!" ada teriakan seorang wanita yang membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.
Gadis cantik berkacamata hitam, dengan rambut sebahu dan setelan jas serba putih beserta high heels tinggi menggeret koper. Anyelir melotot, bahkan matanya berkedip berkali-kali, sebab ia mengenali. Koper berwarna abu-abu yang ditempeli ratusan stiker kaktus adalah miliknya, yang dititipkan kepada Janu semalam.
"Wait!" Gadis yang nampak kerepotan itu setengah berlari menghampiri Janu. "Koper kamu ketinggalan." Ia menyodorkan koper itu kepada Janu tepat di hadapan Anyelir. "Nih."
Satu pukulan lain mendarat di d**a Anyelir, sudah gusar mencari keberadaan Janu. Saat bertemu, rupanya lelaki itu datang bersama seorang lawan jenis, siapa yang tidak kecewa? Oh ayolah, ini terlalu dini untuk dikatakan bahwa Janu selingkuh hanya karena sudah tidak cinta.
"Wah ... bagus sekali pertunjukannya," sindir Anyelir datar.
Janu lantas menoleh, ekspresinya benar-benar khawatir setengah takut. "Lir ... kamu salah paham." Sedari tadi ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Eh Jan ... bisa main cantik nggak, sih, lo?!" Diego ikut menimpali, geram ia dengan tingkah Janu. Meski ia tidak tahu menahu akar permasalahannya di mana, tetap saja menyaksikan hal barusan begitu mengesalkan.
"Nggak usah ikut campur! Kamu nggak tahu apa-apa!" Janu membentak Diego, lantas mendekat ke arah Anyelir. "Dia bukan siapa-siapa, dia rekan kerja saya, Lir."
"Sorry!" Ucapan gadis yang tak lain adalah Bella memecah keadaan tegang, ia membuka kacamata hitamnya lantas mendekat ke arah Anyelir juga menjulurkan tangan. "Perkenalan ... penulis Bella, script writer projek terbaru sutradara Janu."
Anyelir masih diam, menimbang-nimbang antara percaya atau tidak. Tapi kemudian muncul Aruna dan Batari yang membuat semuanya beralih atensi. Batari dengan setangah kesal, Aruna yang langsung menghampiri.
"Hei ... Are you Berta Bee?" Bella kembali menarik perhatian Anyelir untuk membalas jabat tangannya. "Anda tidak mau berkenalan dengan saya?"
"Ah." Anyelir membalas jabatan tangan itu. "Maaf, perkenalan say—"
"Berta Bee," Bella memotong ucapan Anyelir. "I know who you are," lanjutnya.
"Penulis Bella!" Pekik Aruna memberhentikan adegan kenal-mengenal, ia lantas mendekat ke arah Bella dan menjulurkan tangan, tanpa basa-basi Bella membalas secara langsung. "Berta Bee ... ini penulis Bella, yang menulis novel best seller berjudul 'London With Secret Love' itu loh ... yang pernah kita bahas!"
"Ahh ...." Anyelir langsung mengangguk paham. "Iya-iya ... maaf saya tidak mengenali. Saya suka karya anda," puji Anyelir tersenyum singkat.
"Terimakasih." Bella membalas senyum Anyelir dengan sedikit sinis. "Tolong dengarkan penjelasan dari kekasih Anda ... dia bukan orang jahat seperti yang anda kira,"
Dia orang baik, karena itu saya suka dan ingin merebutnya darimu, lanjut Bella dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi." Bella menganggukkan kepala pada Janu sekejap lantas beranjak.
Batari yang paham dengan maksud Bella mulai mendekat ke arah Anyelir, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Diego juga Janu. "Lo ngomong dulu, gih, sama Janu. Gue siapin keperluan lo dulu, habis itu kita berangkat ke tempat persiapan,"
Anyelir membalasnya dengan anggukan paham. "Thanks, Tar."
**
Dalam keramaian restauran, usai menyantap pasta aglio olio juga menyeruput jus jeruk, Anyelir mulai bersedekap. Berniat menginterogasi Janu dengan segudang pertanyaan. Jangan mengira ia sudah memberi lampu hijau dan berbaikan dengan Janu, itu salah. Anyelir hanya lapar, tidak mungkin menolak tawaran untuk makan pasta, sebelum kepadatan schedule merusak segalanya.
Restauran hotel ini berada tepat di pinggir private pool, Janu juga sengaja memilih yang paling pojok terhalang pagar besi menghadap langsung ke arah kolang renang. Suasananya tidak terlalu ramai, mungkin karena hotel ini berharga fantastis, berisi orang-orang elite saja atau bertandang hanya sekadar menghadiri acara.
Tangan Janu menjadi tumpuan dagunya, menempelkan sikut pada meja kotak berlapis kain serba putih. Ia sedikit menyingkirkan piring bekas makannya tadi, lantas menoleh pada Anyelir.
"Kamu yang tanya dulu, nanti saya jelaskan."
Anyelir sudah paham Janu, lelaki itu entah mengapa sangat sulit untuk sekedar mengalun 'maaf' terlebih dahulu. Lebih baik menjelaskan panjang lebar daripada berserah seperti orang-orang yang melakukan kesalahan, bagi Janu kata 'maaf' bukanlah sembarang kata yang diucap atas dasar mengurangi gengsi. Itu sakral, perlu ketulusan dalam hati. Sehingga kata itu sangatlah tabu terlontar dari mulut Janu.
"Kenapa harus mabuk?" tanya Anyelir memulai interogasi.
"Saya diajak Pak Mahdi, Lir. Masa saya tolak,"
Sejujurnya malam itu Janu tidak berniat mabuk, hanya saja perkataan Bella benar-benar membuatnya frustasi. Belum lagi pelukan di basement, yang membuat Janu hampir saja khilaf dan malah jatuh terhadap pesona Bella atas dasar rasa rindu. Tak habis sampai di situ saja, Bella menantang Janu untuk minum. Jika Janu tidak sanggup, artinya Janu masih menyimpan rasa terhadap Bella. Siapa yang tidak tertantang dengan hal itu?
Janu sadar, perasaannya terhadap Bella belum sepenuhnya sirna. Tapi di lain sisi ia juga mengerti, ada gelenyar yang mulai tumbuh saat bersama Anyelir. Tak bisa tergantikan oleh Bella meski Janu mengenal Bella sudah bertahun-tahun lamanya. Anyelir-nya tetap nomor satu, gadis yang berhasil merenggut hati Janu hanya dalam hitungan bulan adalah pintalan takdir yang membuat Janu mengerti bahwa benci itu benar-benar menimbulkan cinta. Tapi cinta, juga bisa menjadi boomerang yang memutarbalikkan keadaan menjadi benci.
Sejak tadi Anyelir banyak membiarkan Janu melakukan apa yang ia mau. Tapi justru Janu lebih banyak diam, membuat Anyelir semakin bertambah curiga.
"Karena itu ... kamu takut aku benci sama kamu?"
"Soal apa?" tanya Janu kebingungan.
"Mabuk." Anyelir menghela napas. "Baru pertama kali aku liat kamu mabuk, aku juga baru tahu kalau kamu ser—"
"Saya nggak suka mabuk, Lir. Hanya sesekali,"
"Sesekali juga namanya tetap mabuk, 'kan?!"
"Kamu tahu 'kan industri hiburan sekelam apa?" Janu berusaha meluruskan kesalahan penafsiran Anyelir.
Tapi di lain sisi Janu bersyukur. Bukan apa-apa, penafsiran Anyelir mengira bahwa Janu berucap tentang kebencian sebab ia takut Anyelir benar-benar membencinya usai mengetahui pergaulan minuman keras di industri hiburan yang kerap kali menggaet Janu.
Padahal, Janu berkata dalam ketidaksadaran merupakan kejujuran dari dalam relung hatinya. Ia takut ... takut Anyelir membencinya usai tahu bahwa Janu hampir khilaf setelah dipeluk paksa oleh Bella.
"Oke nggak usah di bahas. Kamu kenapa datang bareng penulis Bella? udah gitu nggak ada kabar sama sekali!"
"Saya telepon kamu berkali-kali, Lir. Tapi kamu malah memblokir saya,"
"Blokir?" Dahi Anyelir berkerut.
Refleks Janu mengeluarkan ponselnya, menampilkan layar hitam sebab mati total. Anyelir melihatnya dengan jelas. "Ponsel saya mati sejak semalam, saya lupa buat nge-charge karena saya semalam nggak sadar, saya mabuk, Lir. Saya saja bangun terlmbat tadi pagi,"
"Seterlambat itu?!"
"Saya nabrak gerobak bakso, saya nggak sengaja karena saya buru-buru." Janu malah nyengir, membuat Anyelir heran.
"Gerobak baksonya nggak apa-apa?"
"Nggak. Tapi abangnya yang luka, jadi saya harus antar dia ke rumah sakit. Terus saya sempat pinjem ponselnya Abang bakso buat kabarin kamu, tapi kamu malah blokir!"
"Kamu tahu sendiri, aku pasti blokir kontak yang nggak kenal,"
"Ya ... tapi 'kan pada saat itu keadaannya urgent, Lir!" Janu tetap mengelak, ia tahu Anyelir selalu memblokir kontak yang tidak dikenal. Tapi, oh ayolah Janu pada saat itu tidak ada pilihan lain.
"Dan ... penulis Bella?" Anyelir agak ragu bertanya soal Janu yang datang tiba-tiba dengan penulis itu. Hal ini juga yang membuat Anyelir heran, Janu sama sekali tidak menceritakan bahwa penulis Bella menjadi script writer-nya. Kenapa Janu menyembunyikan semuanya?
"Ah ... saya." Janu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Saya ketemu dia di bandara, kebetulan dia juga hadir di acara ini ... jadi ... di—dia ajak saya karena saya tidak ada kendaraan untuk datang ke sini. Saya juga tidak tahu harus naik apa karena sekali lagi ponsel saya mati,"
Kenapa kamu kayak gugup gitu, Jan?
"Nggak ada niatan buat minta maaf?" tanya Anyelir, seolah meminta permohonan.
"Kamu 'kan tahu minta maaf itu buk—"
"Bukan perkara menyebut kata, aku tahu, Jan. Aku hafal omongan kamu ... maksud aku, penebus dosa?" Anyelir menaikkan alisnya sebelah.
"Apa?"
"Jalan-jalan," ucap Anyelir sarat akan permohonan, bahkan tak tanggung-tanggung gadis itu memasang puppy eyes yang menggemaskan. Janu tidak bisa menolak kalau begini.
"Memangnya kamu udah nggak marah sama saya?"
"Masih marah!" Anyelir sedikir membentak.
"Terus kenapa kamu ma—"
"Ya, kalau diajak jalan-jalan aku udah nggak marah lagi!" Potong Anyelir sesegea mungkin menjelaskan, perkara hal peka terhadap pasangan memang Janu jauh dari taraf normalnya seorang laki-laki buaya. Meski sudah dipancing, tetap saja Janu masih tidak mengerti.
"Saya nggak janji ... tapi saya akan mengusahakan,"
"Tapi inget ya, Jan ... aku nggak suka kalau kamu nggak terbuka, aku juga nggak suka kalau kamu bohong sama aku,"
Janu bingung dengan ucapan Anyelir, apa Anyelir menyadari sesuatu? Ia lantas mengerutkan dahi, memasang tampang kebingungan. "Ta—tapi ... saya terbuka tadi sama kamu ... saya juga udah jelasin semua sama kamu, Lir."
"Iyaaa ... aku tahu, aku cuman mau ngomong aja,"
Siapa tahu kamu sadar, kalau yang kamu ceritakan hanyalah kalimat pembuka saja, Jan.
Janu tersenyum penuh arti, menarik tangan Anyelir dan menggenggamnya erat. "Lir?" Panggil Janu lembut.
"Hm?"
"Jangan nangis lagi, ya? jangan nangisin saya lagi, saya nggak suka," pinta Janu sedikit khawatir.
"Seperti kata kamu. Aku juga nggak janji, tapi aku akan mengusahakan," jawab Anyelir dengan rasa sesak yang masih menggumpal di dadanya, Janu terlalu mencurigakan sebab feeling Anyelir selalu kuat bahwasanya sesuatu yang besar tengah Janu sembunyikan.
Tapi ia tak akan memaksa, jika waktunya tiba Janu juga akan terbuka, seperti Anyelir yang berusaha menguatkan diri untuk terbuka pada Janu tentang kelainan, masa lalu, dan kisah hidupnya.
Untuk kali ini, dalam benaknya hanya terlintas suatu kepercayaan, bahwa setiap orang mempunyai rahasia yang tak mudah untuk diungkapkan.
**
Janu mulai menyalakan ponselnya usai diisi daya selama hampir tiga puluh menit. Dengan menenteng pakaian yang akan dikenakan di acara award nanti, Janu berjalan menyusuri koridor, mencari ruang make-up yang disediakan khusus oleh pihak agensi. Setiap ruangan diberi label nama artis, Janu mencari nama Anyelir. Belum ketemu, entah berada di mana.
Gadis itu berangkat lebih dulu, sebab persiapan seorang wanita pastilah lebih rumit darinya. Sementara Janu berusaha menyalakan ponsel sebelum benar-benar berangkat, takut-takut ada panggilan penting.
Tanpa sadar, seseorang dari arah berlawanan menyunggingkan senyum sebelum tepat berpapasan. Janu tidak melihat, ia begitu fokus pada layar ponsel yang terus memunculkan notifikasi sebab mati total hampir seharian.
"Genta!" panggilan itu menghentikan langkah Janu.
Ada seorang gadis, mengenakan gaun hitam mengembang seperti payung, tanpa lengan dengan belahan d**a yang nyaris terbuka. Rambutnya tergerai ditambah kerlipan anting yang memantulkan cahaya lampu, Janu sempat terpukau sesaat.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya refleks.
Bella—gadis itu menyeringai tajam. Ada sindiran yang siap ia lontarkan. "Pacar kamu cantik juga ... Tapi kalian masih backstreet, 'kan?"
"Maksudnya?!" Janu masih bingung dengan kalimat yang Bella lontarkan.
"Backstreet itu memudahkan celah orang lain masuk dalam hubungan kalian,"
Janu terdiam. Nampak memikirkan ucapan Bella yang kalau dipertimbangkan memang benar juga. Tapi baginya itu tak penting, asalkan Janu mengerti Anyelir begitupun sebaliknya. Hubungan mereka tetap berjalan seperti beberapa bulan lalu.
"Itu tidak akan terjadi." Janu tersenyum dengan percaya diri.
"Siapa yang tahu? kejadian tadi saja sudah terlihat jelas, your girlfriend merangkul lelaki lain? tidak mungkin keduanya hanya sebatas teman!" Bella mengompori Janu, membuat lelaki itu mengepalkan tangannya.
"Memang kenyataannya begitu! Mereka cuman teman!" Janu berusaha mengelak, menyingkirkan berbagai macam pikiran negatif yang terus berhamburan di otaknya.
"Lantas kita?" ada nada sinis yang terus melintas enteng seperti penjahat congkak pandai memanipulasi. "Kita hanya teman, 'kan? but I like you, dan kamu juga begitu."
Terbungkam sudah mulut Janu. Semua perkataan Bella seolah benar, hubungan mereka bukan lagi dalam situasi bahagia, saling menghibur, menikmati hal manis. Kini mulai timbul celah-celah yang kian mengikis hampir memisahkan jarak. Kedekatan Diego dengan Anyelir, munculnya Bella yang menjadi masa lalu Janu yang belum tuntas. Akankah kedua hal besar itu menggoyahkan hubungannya? Janu menggeleng secepat mungkin.
"Rasa yang ada bisa dihapus, kedekatan bisa dijauhkan. Saya yakin hubungan saya dengan Anyelir akan berjalan seperti biasa lagi,"
Bella mendekat ke arah Janu, memegang pipi Janu dengan kedua tangannya lembut lantas tersenyum miring. "Genta ...." panggilannya terjeda.
"Jangan lupakan satu hal ... bahwa orang yang sedang jatuh cinta ... itu buta."