Gerimis yang mengguyur ibukota di pagi hari entah mengapa menyiratkan kesedihan, seperti hujan di malam Minggu. Di dalam alphard bersama Batari tak ada perbincangan sama sekali, gadis itu hanya termenung menatap setiap rintik yang menghantam kaca mobil. Ada perasaan gusar yang sejak tadi bermuara semacam tanda tanya yang disembunyikan secara sengaja.
Anyelir masih belum mengerti, kenapa semalam Janu mabuk? kenapa Janu datang terlambat? kenapa Janu tidak menepati janji? kenapa Janu memeluknya tiba-tiba? dan paling membuatnya heran kenapa Janu berkata untuk tidak membencinya? lantas siapa Ara? Mengapa kedatangannya harus disambut oleh Pak Mahdi?
Ah, segala pertanyaan itu sejak semalam terus menari-nari di setiap selaput otaknya. Lihat saja kantung mata Anyelir, ia baru terlelap pukul lima pagi. Dan harus bangun dua jam setelahnya agar tidak terlambat dalam penerbangan.
Memori tentang pertemuan tadi malam terus saja lewat bahkan terasa nyata nampak bayang-bayang di jendela kendaraan, seperti film hitam-putih yang sengaja ditayangkan masal. Janu benar-benar membingungkan, sampai pagi ini ia juga tidak bisa dihubungi, entah digunakan apa ponsel yang seharusnya menjadi alat komunikasi itu. Siapa yang tidak kesal?
Anyelir mengingat gelagat Janu malam tadi.
"Lir ... jangan benci saya, ya?" Janu bertanya lirih di sela-sela tepukannya.
Anyelir yang kebingungan dengan maksud Janu ingin berucap, namun terasa sulit sebab Janu memeluknya erat sampai ia kesulitan bernapas. "Jan ... aaaa ... Jan ... aku nggak bisa napas, Janu!!"
Janu melepaskan pelukannya, tatapan yang tak seperti biasa membuat Anyelir sedikit heran. Matanya menyiratkan kegusaran juga perasaan bersalah yang mendalam, Anyelir masih terdiam membiarkan Janu melanjutkan apa yang ingin ia lakukan.
Lelaki itu meraih kedua tangan Anyelir. "Janji sama saya ... jangan benci saya, ya?"
Siapa yang tidak bingung dilemparkan pertanyaan demikian, Anyelir saja sampai mengerutkan dahi. "Kamu kenapa, sih?!"
"Kamu mau 'kan janji sama saya?"
"Kenapa juga aku harus benci kamu?! Kamu kenapa mabuk-mabukan kayak gini ... ada masalah apa? Cerita dong sama aku, aku nggak ngerti kamu kenapa?!" Anyelir panik, sebab ia juga kelimpungan dengan gelagat Janu yang nampak lebih kacau daripada biasanya.
"Janji dulu sama saya, Lir ... janji, ya? Jangan benci saya?"
"Ya ... ya, tapi kenapa?!"
Alih-alih menjawab, Janu malah kembali mendekap Anyelir. Kali ini lebih lembut, tapi tetap erat. Seolah benar-benar takut kehilangan Anyelir. "Saya ... saya takut, Lir."
Kali ini Anyelir terdiam, perkataan dan tingkah laku Janu di luar kebiasaannya. Apapun yang Janu lakukan biasanya atas seizin Anyelir, meskipun itu hanya sebatas meeting. Tapi pesta penyambutan tadi? Anyelir saja tidak tahu, Janu bahkan datang terlambat membawa koper. Sudahlah, tak ada gunanya Anyelir bertanya pada orang yang mabuk, hanya akan membuatnya gemas sendiri. Gadis itu akan bertanya besok di saat Janu sudah sadar seperti biasa.
"Udah ... jangan takut, ya? Aku nggak kemana-mana. Kamu pulang ... istirahat dan biar Pak Agi yang antar kamu."
"Lir ... Anyelir! woy! Maemunah!"
"Eh? Kenapa?! Apa?!" Anyelir baru tersadar bahwa Batari sejak tadi meneriakkan namanya, bahkan ruang ini hanya sebatas kursi mobil, tapi sudah lima kali Anyelir tak menggubris sama sekali. Larut dalam lamunan akan kejadian malam tadi.
"Lo mikirin apa, sih?! gue panggil daritadi nggak nyahut-nyahut?" Batari mendengus kesal, sudah panjang lebar mengajak Anyelir berbicara, gadis itu malah melamun layaknya orang mutung.
"Ah ... gue cuman ngantuk aja, kenapa?"
"Kita udah sampe! Janu mana?"
Anyelir mendongak, melihat sekeliling yang merupakan area bandar udara Soekarno-Hatta. Benar, sudah sampai. Tunggu, berapa lama Anyelir melamun tadi? Sejak ia berangkat sampai perjalanan tiba di tempat tujuan Anyelir melamun kan Janu? Oh sungguh kepalanya pening sekali.
Ponsel yang sejak tadi digenggam tanpa dimainkan, Anyelir nyalakan. Janu masih belum bisa dihubungi, bahkan pesannya saja belum di lihat sama sekali. "Kita duluan aja, ponsel Janu nggak aktif," ketus Anyelir.
"Terus koper lo gimana?"
"Bodo amat! Gue bisa beli baju di sana!" Anyelir sedikit emosi membahas Janu, nada bicara bersama Batari saja sedikit membentak.
Sebenarnya Anyelir sendiri heran, kenapa Janu ingin sekali membawa koper Anyelir. Padahal dengan hal itu bisa saja mengundang kecurigaan, Janu membawa koper dua. Atau seseorang mengenali koper milik Anyelir, sebab ia sering berpapasan dengan paparazi di bandara saat menggeret koper.
"Nggak gitu konsepnya, Lir." Batari menghela napas lelah, ia pasti menyadari bahwa Anyelir sedang berada dalam masalah dengan Janu. "Kita sampe sana aja, lo cuman punya waktu dua jam. Dan itu buat istirahat juga makan, emang lo mau puasa, ha?!"
Seolah menulikan pendengaran, Anyelir hanya memasang kacamata hitam lantas menekan tombol pintu mobil yang otomatis terbuka. "Iya, gue mau puasa, bye!"
"Sensi amat, dasar upil koala!" Batari juga mengikuti Anyelir untuk memakai kacamata hitam, berguna untuk memantulkan flash kamera agar tidak terasa silau. "Woy! Tungguin!"
**
Novena, Singapura.
Anyelir sudah tiba di basement sebuah hotel mewah bertempat di Balestier Road—sekitar 10 KM dari Bandara Seletar Singapura. Ia masih terdiam, tidak tahu harus melakukan apa, pun dengan Batari. Sebab Janu tidak ada, Janu tidak bisa dihubungi, bahkan asisten sutradaranya saja tidak tahu kabar keberadaan Janu. Lekaki itu seharusnya mengikuti penerbangan bersama Anyelir tadi, tapi kursi di sampingnya justru kosong.
"Lir ... daripada diem, kita check in aja dulu, yuk?" Batari berusaha membujuk.
Semua tiket pesawat, hotel, transportasi, restauran, bahkan seluruh kebutuhan Anyelir di Singapura sudah diatur oleh Janu dan agensi A3. Meski Janu belum menampakkan dirinya, Anyelir tetap bisa memakai segala fasilitas yang sudah disiapkan.
Tapi tetap saja, bagi Anyelir itu tidak penting. Sekalipun agensi tidak menyediakan, toh, Anyelir masih sanggup mengurusi segala kebutuhannya. Sekalipun juga koper Anyelir tertinggal, toh, ia masih mampu membeli pakaian serta perlengkapannya di sini. Yang ia butuhkan saat ini adalah Janu—pujaan hatinya. Bagaimana Anyelir tidak khawatir jika Janu menghilang tanpa jejak sejak semalam? Siapa yang tidak risau dengan hal itu?
"Tar ... apa Janu baik-baik aja?"
Batari tidak bisa berkata-kata, bukan hanya Anyelir kekasihnya, Batari pun sama risaunya. Pak Mahdi, Aruna, sudah menghubungi Janu tapi ponselnya benar-benar mati. Bahkan tadi Anyelir sempat memohon kepada pihak maskapai untuk menunda penerbangan lima mebit saja guna menunggu Janu, tetap saja lelaki itu tak kunjung datang.
"Kenapa lo nggak coba hubungi Ibunya Janu?" tanya Batari.
Anyelir menoleh pada Batari, wajahnya yang kacau mulai berkaca-kaca. "Hubungi buat nanya apa? nanya Janu dimana? udah berangkat apa belum, ha?!" Anyelir menyugar rambutnya sembari ditarik paksa, kepalanya benar-benar pening. "Ibu ... Ibu Ander udah hubungi gue tadi malam, dia tahu kalo Janu bakal berangkat sama gue ... masih mending kalau dia ada di rumah. Kalau enggak? gue harus jawab apa? jawab Janu nggak dateng? jawab Janu hilang gitu aja?!"
Napas Anyelir yang memburu juga wajahnya yang memerah membuat Batari mengerti, bahwa gadis itu mulai terbawa emosi. Antara rasa khawatir, kesal, sedih, juga kecewa bercampur menjadi satu. Anyelir hanya butuh satu, kabar. Tentang di mana keberadaan Janu, apakah dia baik-baik saja? hanya itu saja, tidak lebih.
Tiba-tiba ada panggilan masuk lagi, dari nomor yang tidak dikenal. Anyelir selalu menghindari hal itu, sebab ia seringkali mendapatkan panggilan iseng. Sebelum take off, ia juga mendapat panggilan dari nomor asing, Batari langsung memblokir tanpa basa-basi.
"Panggilan iseng lagi?" tanya Batari.
Anyelir mengganguk, hampir setiap hari ia mendapatkannya. Sesering itu juga Anyelir memblokir kontak-kontak yang tidak dikenal.
"Blokir aja!" nadanya sedikit kesal. Anyelir langsung menuruti dan kembali menatap nanar layar ponselnya, menunggu kabar dari Janu.
"Udah ... udah. Kita harus siap-siap, lo 'kan harus make up." Batari mengelus-elus pundak Anyelir yang nampak naik turun menahan emosi. "Kita check in dulu, gue pesenin makan buat lo, ya? lo tadi nggak nyentuh makanan sama sekali, nanti lo sakit, Lir."
"Nggak usah, gue nggak laper!"
"Lir ...."
"Seberapa penting, sih, acara itu?!" Anyelir malah balik membentak, Batari sangat mengerti gadis itu terbawa emosi.
"Lir ... gue tau lo emosional, tapi lo juga harus pedulikan diri lo ... lo belum makan sama sekali, istirahat lo juga kurang. Gue mohon lo nurut sama gue, ya? kita cari jalan keluarnya sama-sama, yaaa?" Batari membujuk Anyelir sekuat yang ia bisa.
"Yaudah, ayo." Akhirnya Anyelir mau turun dari mobil dan berjalan menuju lobby untuk check in.
Sesampainya di lobby, Aruna langsung menghampiri, berharap Anyelir dapat menemukan kabar lagi usai berpisah mobil dengan Aruna saat makan siang tadi. "Gimana? ada kabar?" tanya Anyelir to the point'. "Staff A3, mana?!"
Salah seorang lelaki mengenakan kemeja kotak-kotak menghampiri, Anyelir tidak tahu siapa. Nampak dari pakaian dan id card yang dipakai sepertinya ia adalah staff dari agensi A3 yang dikirim Pak Mahdi.
"Gimana? udah hubungi Janu? udah ada kabar?!"
Lelaki itu menggeleng pelan. "Kalau dari Pak Janu sendiri belum ada, tapi saya sudah hubungi pihak rumah. Dan beliau sudah berangkat dari tadi pagi katanya."
"Siapa yang antar? apa ada yang lihat mobil Janu?" tanya Batari tidak sabar.
"Tidak ada yang tahu, bahkan pihak agensi sudah mengitari bandara buat mencari keberadaan Pak Janu. Tapi benar-benar tidak ada jejak,"
"Sudah lapor polisi?!"
"Polisi akan menerima laporan kehilangan kalau dalam kurun waktu satu kali dua puluh empat jam, Pak Janu 'kan baru menghilang beberapa jam saja. Itu tidak mungkin,"
Anyelir lemas seketika, ia terduduk tepat di samping sofa ruang tunggu lobby. Kebiasaan yang selalu Anyelir lakukan, berjongkok dan menenggelamkan wajahnya saat situasi tak pernah berpihak kepadanya.
Kamu dimana, sih, Jan? Jangan kayak gini dong, aku takut.
Sejak tadi Anyelir menahan butir air matanya. Tapi kali ini pertahanannya runtuh juga, sungguh ia ketakutan setengah mati. Entah kali keberapa hal ini menimpanya, Ayah Mihir pernah tidak ada kabar, tahu-tahu dia mengamuk seperti orang gila dan melompat ke sungai, hampir saja saat itu Anyelir kehilangan Ayahnya. Kemudian sutradara Panca, tidak ada kabar sama sekali dan berakhir tragedi kecelakaan. Lalu apalagi? apakah Janu akan bernasib sama? kenapa hal ini selalu menimpanya? Anyelir mulai terisak.
Batari yang menyadari kebiasaan lama Anyelir lantas ikut terduduk, menepuk pundak Anyelir pelan. "Kita ke kamar, ya? Aruna udah ambil kuncinya. Lo boleh nangis sepuasnya di sana, nggak apa-apa kita nggak usah hadir di acara itu ... ayo, Lir."
Balasan Anyelir hanya menggeleng pelan, kalau sudah begini Batari pun bingung membujuk ia bagaimana. Sementara para staff lain hanya bisa duduk termenung, menjaga Anyelir di sekitarnya tanpa mau berucap apa-apa. Mereka khawatir ada wartawan yang mengikutinya sampai ke Singapura, sebab kabar undangan acara award itu sudah menghiasi penjuru negeri.
"Berta Bee?" tiba-tiba suara bariton terdengar, itu Diego yang baru saja tiba di lobby hotel. "Lo lagi ngapain di situ?!" Gaya bicaranya yang khas terdengar di telinga Anyelir, ia mengenalinya meski tak sedikitpun menoleh untuk melihat wajahnya.
Tanpa aba-aba Anyelir bangkit, menghapus jejak air mata dan memeluk Diego erat. "Kak Diego!!" teriaknya. Lantas terisak di dalam dekapan Diego.
Diego yang bingung hanya bisa mengerutkan dahi, menoleh satu persatu ke setiap orang yang berdiri di dekatnya. Tak lupa ia mengisyaratkan pertanyaan pada Batari yang hanya diberi tanda anggukan saja, agar Diego membiarkan Anyelir bertindak semaunya.
"Hey ... don't cry, adek gue jangan nangis, dong. Kenapa, sih?" Lelaki itu membalas pelukan Anyelir dan menepuk-nepuk pundaknya. "Lo udah makan belum, Bee?"
Batari memberi kode menggelengkan kepala, membuat Diego mengerti.
"Makan, yuk? gue traktir deh sepuasnya! asal jangan minta ketoprak aja, soalnya Singapura nggak punya salad mewah bumbu pecel khas Betawi!" nada jenakanya membuat Anyelir terkekeh, ia melepas pelukan Diego. Setidaknya rasa khawatir itu teralihkan oleh perlakuan Diego.
"Mau traktir, nih? pasta?" Anyelir sudah berhasil menghapus setiap jejak air matanya, membuat Batari beserta staff lainnya menghela napas lega, meski belum sepenuhnya.
"Ayo aja, deh! asal jangan Indomie pake telor terus di kasih cabe, soalnya di sini susah. Kalo pun ada pasti mahal, bisa miskin gue perkara traktir lo makan Indomie!"
"Iya-iya," kekeh Anyelir.
"Bentar." Diego melepaskan tas ransel yang ia bawa lantas diberikan kepada asistennya. "Simpan di kamar, ya? pokoknya duluan aja ke kamar. Gue makan dulu sama Adek sayang!"
Diego memberikan kedipan pada Batari sebagai kode, meski Batari awalnya bingung, namun, ia berusaha mengerti. Yang terpenting Anyelir sudah mau makan sekarang, meski dari raut wajahnya masih terlihat aura kesedihan. Dengan tak memudarkan senyumnya, Diego merangkul bahu Anyelir, mengunci leher gadis itu benar-benar seperti adik-kakak.
"Ini kita nggak bakalan ketemu paparazi? nanti ke gap akun-akun gosip lagi!" Anyelir sedikit protes, sebab ia malas kalau harus berurusan dengan rumor-rumor tidak jelas.
"Siapa peduli? kalau pun ada gue bakalan temuin, hapus semua fotonya dan ancam mereka. Kalo perlu dibunuh pun ... tinggal penggal aja kepalanya, gue bawa piso kok!"
"Heh?!" Anyelir sempat berhenti melangkah.
Diego melihatnya tertawa singkat, lantas menyeret tubuh Anyelir untuk kembali berjalan. "Bercanda." Lelaki itu menyentuh hidung Anyelir dan mencubitnya singkat. "Serius amat, sih!"
"Nggak lucu bercandanya!"
"Haha ... ngomong-ngomong udah lama banget, ya? kita nggak ketemu. Tau nggak? gue mau ke Riau loh, ikut acara survival gitu!" Diego bercerita sembari keduanya berjalan menuju tempat makan.
"Oh ya? Jadi anak rimba, dong?"
"Iyalah! Mau nyari singa, siapa tahu bisa dibawa pulang!"
"Emang bisa?"
"Kalau nggak bisa singa, gajah deh, yang lebih jinak!" racau Diego, lelaki itu tetap sama. Selalu menjadi penenang bagi Anyelir di segala keadaan. Sayang, Diego tidak tertarik dalam dunia percintaan. Ia masih ingin menikmati hidup katanya, malas membahas cinta yang katanya rumit.
"Emang muat?"
"Masukin kulkas aja, mu—"
Cerita Diego berhenti, bersamaan dengan ucapannya sebab seseorang menarik lengan Anyelir. "Nggak usah rangkul-rangkul pacar, saya!" nadanya tinggi, dingin, sarat akan penekanan.
Sontak keduanya menoleh, dengan ekspresi yang berbeda. Satu mengerutkan dahi, satu lagi melotot tak percaya. Ada manik hazel yang menyorot tajam seperti elang, wajah kesal yang memerah juga ekspresi siap membabi-buta.
"JA—JANU?!"