Bab 50 - Jangan Benci Saya, Ya?

2062 Kata
"Yasudah, biar saya aja yang pesan tiketnya, ya?" tanya Janu ke seberang telepon. Janu terdiam mendengarkan perbincangan di dalam panggilan, berdiri tegak di ujung lantai tiga yang dibatasi besi pembatas menghadap ke arah bawah. Ia lupa kalau harus sesegera mungkin memesan tiket pesawat menuju Singapura untuk menghadiri acara award itu. Tiket itu sekalian dipesankan untuk Anyelir juga Batari, meski awalnya gadis itu menolak berangkat bersama sebab takut timbul masalah. Apa daya, Janu sudah berkehendak sulit untuk ditolak, daripada jatuhnya mereka yang bertengkar, lebih baik diikuti. "Nanti saya jemput kamu ke sana." Janu hampir menutup panggilan, tapi ia tak berani melakukannya sebelum kalimat penutup dari Anyelir. "Oke." Kebiasaan memang, Anyelir selalu lupa padahal Janu seringkali memperingati. "Vitaminnya mana?" tanya Janu polos. "Vitamin apa?" "Nggak usah, tutup aja teleponnya!" "Saya tutup teleponnya boleh? Semoga harimu, hariku menyenangkan. Sampai bertemu di hari yang sama menyenangkan ... i love you!" Anyelir tertawa sebelum ia benar-benar mematikan sambungan teleponnya. Tak jauh enam langkah dari Janu berpijak, Pak Mahdi dengan pakaian rapi sudah bersiap menghadiri meeting. Ada seorang wanita di belakangnya, semkain dekat semakin terlihat, dia Bella. Tengah tersenyum pulas ke arah Janu yang memasang tampang datar seperti biasa. "Ayo kita mulai meeting-nya." Janu yang diperingatkan lantas mengangguk paham, mempersilahkan Pak Mahdi masuk terlebih dahulu, tidak dengan Bella yang malah menghampirinya. "Hai ... ketemu lagi, kalo ketiga pasti jodoh," ujar Bella. Berniat ingin menyapa juga mempermainkan keadaan, ah, memang itu yang ia suka. Sudut bibir Janu terangkat. "Mimpi!" Ia hendak beranjak, namun ucapan Bella menghentikan langkahnya. "Kamu masih menyimpan rasa itu, 'kan? Genta?" Diungkit kembali. Hal yang membuat Janu hampir tidak tidur semalaman perkara takut sebab telah membohongi Anyelir secara tidak langsung. Pada awalnya Janu akan cerita soal Bella kemarin ketika mereka berdua menghabiskan waktu di butik hingga tengah malam. Tapi melihat situasi Anyelir yang tengah bahagia, juga sedikit kelelahan setelah beraktivitas seharian, Janu tidak ingin membuat Anyelir kepikiran. Ia akan mencari waktu yang pas untuk menceritakan semuanya. "Kamu terlalu percaya diri!" nada Janu datar, tanpa menoleh sedikit tapi sarat akan penekanan. "Biasanya orang-orang perlu pembuktian, you need it?" Akhirnya Janu yang semula akan masuk ke dalam ruangan meeting berbalik, menatap lekat wajah Bella yang memang pada dasarnya masih terngiang-ngiang di benak Janu. Sampai detik ini Janu belum bisa memahami apa motif Bella ikut projek ini juga kembali setelah puluhan tahun menghilang. "SAYA ... SUDAH ... PUNYA ... PACAR! jadi jangan ganggu saya lagi, Ra!" "OWWW! Ra? Aku nggak salah denger? you call me Ara? Nama panggilan sayang kamu dulu, 'kan?" Sialan. Janu benar-benar tidak biasa harus menyebut gadis dihadapannya dengan sebutan 'Bella', terlalu tabu di telinganya, Bella saja memanggil Janu dengan panggilan lama—Genta. Bayangkan sesulit apa Janu harus menghapus detail setiap jejak masa lalu bersama Bella. "Itu hanya refleks!" "Refleks kamu menandakan bahwa ada celah di antara kita ... We can still be together again, Genta! Forever!" Napas Janu yang memburu mempersatukan tatapan tajam kian menusuk setiap incinya, Janu mendekat seperti psikopat yang siap memenggal kepala orang. Benar-benar menyeramkan, jika yang ada di hadapannya adalah Anyelir, sudah pasti nyali gadis itu menciut bahkan sampai menangis di tatap Janu demikian. Tapi ini Bella, tak pernah ada kata gentar baginya. Tiba-tiba Janu memegangi kedua pundak Bella cukup kuat, masih menatap fokus tanpa sedikitpun berkedip. "Forever katamu? I said ... NEVER!" Janu berbalik. Masuk ke dalam ruangan meeting tempat di mana 'Back and Kill It' reading naskah dulu. Janu jadi teringat Anyelir yang selalu duduk berdekatan dengan Diego dan itu hampir membuatnya cemburu secara tidak langsung, padahal pada saat itu Anyelir terlihat sangat membenci Janu. Kursi di samping Janu kosong, benar-benar belum ada yang menduduki. Padahal ini di bagian paling krusial, jaraknya dekat sekali dengan posisi produser Mahdi. Sialnya, Bella menghampiri dan terduduk di sana. Tentu ini akan membuat Janu malas harus langsung berhadapan dengan Bella kembali. "I will show you, kalo kamu masih menyimpan rasa terhadapku," bisik Bella tepat di telinga Janu. "Terserah!" balas Janu sekenanya. Rapat dimulai dengan pembuka-pembuka dari produser Mahdi untuk film action yang kembali Janu garap berjudul 'Midnight construction', di mana film ini hanya bertempat di satu lokasi saja yaitu Washington DC. Ada studio yang sudah disiapkan khusus di sana berupa konstruksi-konstruksi bangunan lama, Janu juga mempersiapkan film ini jauh sebelum syuting 'Back and Kill It' tapi sayang harus tertunda, karena satu dan lain hal, terutama wasiat sutradara Panca. Yang membuat Janu geleng-geleng kepala adalah kedatangan Bella, script writer lama yang Janu tunjuk dari agensinya malah mengundurkan diri dan beralih ke film romance. Seperti ada yang tidak beres, belum lagi kontrak kerjasama antara agensi Janu dan Bella terlampau lama hampir tiga bulan lamanya. Mungkin setelah menghadiri acara award bersama Anyelir nanti, Janu akan mencari tahu motif dibalik seluruh hal yang dilakukan Bella. "Baik, kita akan mulai presentasi final draft dari script writer sebelum diadakan reading naskah bersama para talent ... silahkan Penulis Bella," Semua orang bertepuk tangan, kecuali Janu. Ia hanya menyimpan lengannya di d**a sembari menatap Bella di sampingnya dengan datar. Bella berdiri, membawa berkas-berkas yang sejak lama ia siapkan. Saat hampir melewati Janu, high heels yang ia kenakan sengaja di miringkan sampai Bella hilang keseimbangan. "Penulis Bella!" Hampir saja Bella terjatuh dalam posisi terlentang, tapi Janu refleks meraih pinggang Bella nyaris memeluknya. Semua orang bernapas lega, tidak dengan Bella yang malah tersenyum pulas. Janu menyadari satu hal, lantas melepaskan genggaman dan bersikap biasa saja. Semua orang yang berada di ruangan ini menghela napas lega, bahkan beberapa orang menangkap gelagat Janu dengan kegemasan. Baru pertama kali menyaksikan Janu menyelamatkan depan wanita yang mau terjatuh, dulu seorang menteri yang berjalan dan jatuh di hadapannya saja tidak pernah Janu tolong. "Kalian cocok sekali!" ucap salah seorang crew dan sukses membuat orang-orang bersorak. "I was right? That is proof! Kamu masih menyimpan rasa untukku!" Bella masih sempat-sempatnya berbisik di saat semua orang memojokkan Janu. Crew yang terlibat dalam syuting kali ini hampir semuanya berbeda dengan crew pada saat syuting 'Back and Kill It' wajar bila mereka tidak tahu-menahu soal hubungan Janu dengan Anyelir. Kecuali Aruna yang tahu, untungnya lelaki itu tengah menghadiri acara festival yang tidak bisa ditinggalkan sampai tidsk ikut meeting final draft. Kalau sampai Aruna tahu tentang kejadian hari ini, Janu pasti diteror dengan rentetan pertanyaan. Tanpa basa-basi lagi, Bella pun memulai presentasi. Dengan tatapan yang selalu mengarah pada Janu. Sementara yang ditatap acap kali membuang muka. ** "Kamu ikut, 'kan?" Pak Mahdi yang keluar dari lift bersama Janu bertanya. Janu terus berjalan, ia dilanda kebingungan. Usai meeting Pak Mahdi bersama para crew ingin mengadakan makan malam dalam bentuk sambutan kepada Bella yang sudah terlibat dalam syuting ini. Di lain sisi Janu juga ada janji bersama Anyelir untuk mengambil koper milik Anyelir disatukan bersama Janu, ia akan membawanya diam-diam agar wartawan tidak ada yang curiga kalau Janu dan Anyelir berangkat bersama. "Saya ... saya ada janji, Pak." Tidak enak sekali rasanya Janu menolak permintaan dari Pak Mahdi. "Tidak apa-apa, ikut saja sebentar ... yang terpenting kamu menampakkan diri sebegai sutradara di sini, bisa?" "Ba—baik, Pak ... bisa. Nanti saya menyusul," Baru saja Janu berbalik, Bella sudah ada di hadapannya sekarang. Tersenyum manis dengan aroma parfum yang sangat menyengat. Janu hendak menghindar, tapi setiap langkah Janu maju, Bella juga turut menghalangi. Benar-benar mengesalkan. "Aku ikut di mobil kamu, ya?" pinta Bella. Janu menghela napas berat. "Kamu 'kan punya mobil sendiri!" "No ... SIM punyaku adalah SIM US, itu tidak berlaku di sini," "Banyak taksi!" "Ini sudah malam, Janu ... Please ...." Bella menunjukkan wajah memelas, sebetulnya itu menurut Janu hal yang paling menjijikkan. Sebab ia selalu tidak tega. "Jangan macam-macam!" Janu beranjak tanpa menoleh lagi. "Artinya ... aku boleh ikut?" "Jangan macam-macam di dalam mobil nanti!" "Oke!" Menolak permintaan kamu saja saya tidak bisa, mungkinkah benar rasa itu masih ada? Bella berjalan sambil berjingkrak-jingkrak, kembali mengingatkan Janu pada masa lalu. Dulu saat keduanya sering jalan bersama, Janu selalu diajak berlari sampai kewalahan. Masuk ke toko ice cream, pernak-pernik, bahkan hampir setiap toko dimasuki oleh Bella dengan girang. Senyumnya yang mengembang juga menjadi candu. Tiba-tiba saja rindu itu datang tanpa diminta. Ah tidak, Janu! Kamu sudah punya Anyelir! "Ini mobil kamu, 'kan?" Bella berhenti tepat di dekat mobil milik Janu. Tanpa berucap, Janu membuka kunci sampai pintu dapat ditarik. Tapi Bella masih terdiam, belum menyentuh bagian pintu mobil membuat Janu bingung. "Kenapa?" Bella berbalik. Area basement yang mulai sepi sebab jam sudah menunjukkan malam hari nampak terdengar bergema saat keduanya berbicara, dengan nada kecil saja dapat terdengar kencang. "Apa yang kamu rasakan setelah menyelamatkan aku?" tanya Bella tiba-tiba. "Tidak ada," jawab Janu sekenanya. "Kenapa kamu mau menolong aku?" "Tanpa alasan," "Dan kenapa kamu mengizinkan aku ikut berangkat bersama di mobil kamu?" "Kasihan," "NO! Semua jawaban kamu salah!" Bella mengikis jarak di antara keduanya, wajah mereka saling berdekatan, bahkan napas Janu yang nampak tenang begitu terasa sampai ke pori-pori kulit wajah Bella. "Yang benar adalah ... kamu masih menyimpan rasa itu!" Janu menyeringai. "Impossible. Saya sudah punya pacar!" "Sembunyi-sembunyi? Buat apa? Supaya kamu mudah selingkuh?" Bella malah tertawa hambar mendengar pengakuan dari Janu. "Tutup mulut kamu! Saya tidak berniat untuk melakukan hal gila kayak gitu!" "You're human, Janu. Jangan so suci! I am here for you! Kamu nggak kangen sama aku?" Gelengan kepala Janu terlihat kencang. "Sama sekali tidak." "Bohong! Matamu menjelaskan iya," Sial! Kebersamaan yang terukir bersama Bella bukanlah waktu yang singkat, banyak kenangan yang sampai detik ini membekas di benak Janu. Hanya bersama Bella dulu Janu dapat tertawa bebas, disaat kenyataan pahit menghantamnya berkali-kali. Disaat ia tahu Ayahnya menderita penyakit keras, Bella selalu ada untuk menenangkan Janu. Siapa yang tidak rindu dengan masa itu? "Mengakulah Janu!" Bella sedikit berteriak. "Tidak, Ra ... saya sudah punya yang lain, tolong berhenti melakukan ini!" Janu berusaha menepis segala hal tentang Bella, sebab tangisan Anyelir tiba-tiba saja melintas di hadapannya. Bayang-bayang dimana Anyelir tertawa dan tersenyum bahagia membuat Janu frustasi. "Aku tanya sekali lagi. Do you miss me?!" "Ra ... stop! Saya mohon berhenti!" "DO YOU MISS ME?!" "Sa—saya ... Ra ... Say—" "Yes! I miss you so much!!!" Teriak Bella lantas mendekap Janu sekencang mungkin, membuat Janu melotot seketika. Tubuhnya kaku, bahkan untuk bernapas saja rasanya ada tali yang mengikat paru-paru Janu begitu kuat sampai ia kesulitan bernapas. Gerakan Bella benar-benar tanpa hitungan. "Ra ... Ra ... lepasin!" Janu berusaha mendorong Bella. "ARAA!!" bentak Janu. Sontak Bella melepas pelukannya. "Why?!" "Jangan gila, ya, kamu!" Tangan Janu yang gemetar terkepal kuat, ia lantas masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Bella begitu saja. Janu menahan diri sekuat tenaga, ia pergi untuk menetralisir seluruh emosi yang berkecamuk di dalam hatinya. Bohong jika Janu tidak merindukan Bella, terlalu naif rasanya Janu tersenyum di hadapan Anyelir seolah beban hidup baginya tak akan pernah berarti. Ia marah, sungguh sangat. Pada diri sendiri yang malah hanyut dalam kerinduan Bella, pada Bella yang tiba-tiba datang di saat Janu sudah bersama dengan Anyelir. Janu menepi. Ia memukul stir mobil cukup kencang. "Arghhh!!!" teriaknya melampiaskan amarah. ** Sudah hampir tengah malam, Anyelir hanya terduduk memegangi ponselnya. Ada koper yang terdiam damai di samping tempat ia mengadu kegelisahan. Ponsel Janu benar-benar tidak dapat dihubungi, padahal ia berjanji untuk datang pukul sembilan lalu. Sungguh Anyelir benar-benar khawatir. Sudah berdiri, duduk, mondar-mandir. Bahkan Mihir setiap saat membuka pintu untuk mengecek keadaan Anyelir yang masih sama sejak beberapa jam yang lalu. Mihir sudah mengingatkan agar Anyelir menunggu di dalam rumah, biar satpam yang memberikannya nanti. Tapi apa guna? Rasa khawatirnya melebihi apapun, takut-takut terjadi sesuatu sebab Janu tidak bisa dihubungi. Beruntung, sebuah klakson berbunyi. Pun dengan lampu yang menyorot begitu terang ke arah pintu masuk Anyelir. Mobil Janu baru saja tiba, membuat Anyelir bernapas lega. Tapi hanya sesaat. Sebab Janu muncul dari dalam mobilnya dengan keadaan kacau, matanya merah, rambutnya kusut, bahkan kemejanya juga terlihat basah. Dan ketika Janu mendekat, bau alkohol tercium menyengat. "Kopernya ... Sini." Janu tersenyum paksa. "Kamu mabuk?!" tanya Anyelir sedikit berteriak. "Nggak ... Eh." Ia menutup mulutnya sendiri sembari tertawa kecil. "Sedikit." "Kamu ngapain, sih, Jan?!" Anyelir menangkup wajah Janu, menghapus jejak keringat, merapikan rambutnya sampai mengelusnya pelan. "Kamu ngapain mabuk-mabukan, gitu?!" "Oh ... aku?" Mata Janu ke atas, nampak berpikir lama. "Pak Mahdi ... Pak Mahdi ... ngajak aku makan malam buat ... buat ... buat nyambut Ara!" Dahi Anyelir berkerut. "Ara? Ara siapa?!" "Alir ... saya kangen kamu!" Tiba-tiba Janu menarik tubuh Anyelir ke dalam dekapannya, menepuk-nepuk punggung gadis itu cukup kencang. "Eh? Jan ... Janu?" "Lir ... jangan benci saya, ya?" Janu bertanya lirih di sela-sela tepukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN