Ada pundak yang terasa berat untuk dikatakan baik-baik saja, rasanya baru kemarin Janu merasakan kebahagiaan yang teramat dalam saat bersama dengan Anyelir. Inilah yang dinamakan cobaan dalam hubungan? Janu enggan untuk mengatakan bahwa ini bagian dari rintangan sebuah cinta. Tapi pada kenyataannya, selama dua bulan terakhir hubungan dengan Anyelir berjalan biasa saja. Jarang sekali ada pertengkaran, Anyelir juga bahagia, bahkan tak pernah lagi Janu melihat air mata yang keluar dari gadisnya.
Jika benar ini adalah cobaan dalam hubungannya dengan Anyelir, ia hanya berharap untuk menghindari tiga hal yang dibenci Anyelir agar satu kebenciannya tak akan pernah terwujud. Sungguh Janu merasa takut sekarang, sebelum keduanya menjalin kasih, sudah terlalu sering Janu menyakiti Anyelir. Banyak sekali bahasa dan perkataan yang mengiris hati, sampai-sampai hampir tiap hari Anyelir tak absen menangis.
Janu memang tidak pernah meminta maaf, tapi perlakuan manisnya selama ini adalah bentuk penebusan dosa atas rasa bersalah juga penyesalan yang selalu mengembara. Kepalanya terasa pening sekarang, sebaiknya ia ceritakan masalah Bella pada Anyelir, sesuai dengan permintaan gadis itu beberapa hari silam.
Dari kejauhan, langit yang mulai menampilkan lembayung senja memberikan kesan ciamik kala Anyelir berlari terbirit-b***t dari arah gedung agensi BA. Gigi-gigi putihnya yang rapi terlihat cantik, menjadi penyejuk bagi Janu yang banyak memikirkan kejadian di hari ini.
Melihat senyum yang mengembang, nampak bahagia seolah tak ada beban hidup. Janu menjadi tidak enak sendiri, ia tak mau kembali membuat Anyelir sedih dengan membicarakan masa lalunya, atau mempertanyakan maksud dari permintaan Batari. Sepertinya Janu tidak akan membicarakan masalah yang terjadi hari ini pada Anyelir, ia akan mencari waktu yang tepat.
"Sore, Sayang!" Anyelir sedikit berteriak saat tubuhnya mulai masuk ke dalam mobil Janu. "Mau vitamin nggak?"
Janu malah mengangkat kedua alisnya. "Kalau dua kali lipat, boleh?"
Wajah Anyelir menunjukkan ekspresi seperti berpikir, matanya yang naik ke atas membuat Janu semakin gemas. Padahal bertemu Anyelir belum mencapai lima menit, tapi semua masalah seolah sirna, tersingkirkan oleh senyuman manis dan aura positif yang kentara.
"Ada balesan nya nggak?" goda Anyelir.
"Tuh! Ada orang terbang!" Janu menunjuk ke arah luar kaca mobil, tapi Anyelir malah tertawa sembari menatapnya.
"Tidak mempan! Aku udah tau trik itu!" Anyelir malah menjulurkan lidah dengan percobaan gombal Janu.
Hubungan sudah berjalan lama, tapi Janu tetap kalah dalam hal gombal menggombal. Ayolah, jangan hujat Janu. Sebab film action memang sedikit menghadirkan adegan romantis, wajar jika ia tidak ahli dalam hal manis seperti ini. Tahu trik itu saja gara-gara mengikuti Anyelir.
"Yaudah, deh." Janu menopang dagu. "Sini ... jangan basa-basi,"
Dahi Anyelir berkerut. "Apa?"
"Ck! Lama." Janu melepas seat belt yang dikenakan, tubuhnya bergerak setengah berdiri mendekat ke arah Anyelir.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Anyelir, membuat pipi keduanya memerah terhipnotis oleh manisnya cinta. Praduga Janu benar, Anyelir adalah obat baginya. Hanya bersama dia seluruh masalah rasanya mudah dihadapi, terlupakan oleh tingkah gemas yang selalu membuat Janu tersenyum.
"Kita berangkat, ya?"
"Ke mana?" tanya Anyelir bingung.
"Tempat yang kamu suka,"
"Padang pasir?!" Pekik Anyelir nampak antusias.
"Hah?!" Tentu saja Janu terkejut, wanita biasanya suka pergi shopping, nonton film, dinner romantis, menghabiskan waktu di pantai. Tapi Anyelir? ingin pergi ke padang pasir yang gersang juga panas tanpa ada hal unik dan istimewa seperti tempat-tempat lain.
"Iya ... tempat yang aku suka 'kan padang pasir!"
"Kenapa?! Apa bagusnya padang pasir?"
"Karena padang pasir banyak kaktus, aku suka kaktus ... dan aku lebih suka kaktus loh daripada kamu," goda Anyelir.
"Kita berangkat," Janu berujar datar. Yang benar saja, dia disamakan dengan kaktus berduri? Apa bagusnya? dipeluk saja tidak bisa sebab kaktus itu berduri.
"Bercanda, Sayang ... mukanya jangan cemberut gitu dong." Anyelir mengelus-elus wajah tampan Janu, tips membujuk ala Anyelir si gadis pandai menggombal. Janu pun pasrah bila sudah begitu.
"Saya nggak cemberut!"
"Kemanapun kita pergi, asal sama kamu aku pasti suka," bisik Anyelir membuat Janu tersenyum pulas. Tanpa aba-aba mobil melaju membelah jalanan metropolitan.
**
"Butik?!" Anyelir mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak salah lihat, gedung tiga lantai berlogo 'W' besar yang terpampang terang ada di bagian atas itu benar-benar nyata, sebab ia sering berkunjung ke sana.
"Hmm." Janu mengangguk sembari menoleh pada Anyelir. "Ini butik favorit kamu, 'kan?"
"Tapi ngapain ke sini? Aku lagi nggak mau beli baju." Anyelir kebingungan sendiri.
'With You Boutique' adalah salah satu butik terkenal di ibukota ini, tempat para artis memesan baju-baju mewah khusus untuk menghadiri acara tertentu. Harganya juga fantastis, bahkan ada yang seharga mobil atau apartemen. Anyelir saja jarang berkunjung kemari, meski ia mampu, menurutnya pergi ke sini hanya akan membuang-buang uang. Lagipula dalam jangka terdekat ini ia tidak ada acara khusus.
"Saya yang mau belikan buat kamu." Senyum Janu mengembang.
"Nggak usah, kita pulang aja. Sayang tau buang-buang uang!" tolak Anyelir. Janu sampai membelalakkan mata dengan penolakan yang terbilang mustahil bagi kaum hawa.
"Kamu nolak pemberian saya?"
"Bukan nolak, kita beli di mall aja deh. Jangan di sini ... aku nggak pernah ke sini kalo lagi nggak ada acara,"
"Justru saya ajak ke sini karena kamu harus menghadiri acara,"
"Hah? Acara apa?!"
Janu menunjuk ke arah dashboard mobil yang berada tepat di hadapan Anyelir, di bagian bawahnya terdapat tempat serbaguna yang biasa dipakai untuk menyimpan barang.
"Kamu buka di sana."
Menuruti perintah Janu, Anyelir membukanya. Ada amplop besar berlogo khas dengan hiasan golden yang nampak berkilau. Anyelir mengerutkan dahi, tapi hanya berlangsung sepuluh detik sebelum ia membuka setengah mulutnya terkejut.
Jantung Anyelir terasa berhenti berdetak, bahkan tangan mungilnya tak kuasa untuk menutupi mulutnya yang menganga. Anyelir sangat tahu acara penghargaan award se-Asia yang terkenal itu. Pasti bertempat di luar negeri, paling tidak Singapura, atau Korea. Bertandang sebagai tamu undangan saja sudah senang, apalagi masuk nominasi, lebih mengejutkan kalau menang. Mata Anyelir berbinar seketika.
"I—INI BENERAN?!"
"Nggak, itu rekayasa."
"Ih, seriusan, Jannnnuu!"
Janu mengambil amplop yang digenggam Anyelir, menyimpannya kembali pada tempat semula. Melepas seat belt Anyelir lantas tersenyum pulas. "Itulah kenapa saya ngotot ngajak kamu ke sini."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, sih?!" Nada Anyelir malah balik membentak Janu.
"Ha—hah? Ke—kenapa?" Bingung sendiri Janu, kenapa Anyelir menjadi balik marah.
"Kenapa nggak daritadi aja ngomongnya, tau gitu kita tadi langsung masuk ... bentar lagi tutup ini!"
"Kita lewat pintu belakang, ya? Naik tangga ke lantai atas." Janu memakai topi berwarna hitam polos, menutupi setengah wajahnya agar tidak terlihat kentara. "Saya sudah meminta ke pemilik butik ini untuk melarang orang-orang naik ke atas."
"Segitunya?"
"Demi keamanan dan kenyamanan. Saya harus menjamin keamanan kamu, kalau tidak Batari bisa penggal kepala saya."
Anyelir terkekeh mendengar aduan dari Janu, pastinya Janu meminta izin pada Batari. Sebab yang tahu soal butik ini adalah Batari.
Gadis itu keluar dari mobil mengenakan Hoodie hitam dan masker yang senada, bagian kupluk ia pakai untuk menutupi semua rambut. Berjalan pun menunduk. Bukan apa-apa, meski butik ini dipenuhi kalangan elite yang bahkan hartanya melebihi milik Anyelir. Tetap saja, Anyelir membenci keramaian yang menganggu privasinya. Kecuali dalam acara tertentu, bertegur sapa dengan penggemar menjadi hobinya.
Janu berjalan lebih dulu, agak berjarak. Baruntung mereka tiba pada malam hari, yang notabene butik lebih sepi juga kondisi sedikit gelap. Anyelir dan Janu benar-benar mirip seperti penjahat yang ingin merampok butik.
Sesampainya di dekat tangga, Anyelir terdiam sejenak guna melepas masker karena merasa pengap. "Di sini aman, 'kan? Orang-orang mana ada yang mau naik tangga!" keluh Anyelir.
"Iya, aman." Janu menoleh pada Anyelir, ditatapnya gadis itu lekat yang nampak kelelahan. Begini jadinya kalau hubungan berusaha ditutup-tutupi, akan kelimpungan sendiri. Tapi Janu tidak mau mengambil resiko, ia masih ingin menikmati kebersamaan berdua tanpa adanya media.
"Kamu capek?" tanya Janu merasa bersalah.
"Keliatannya?"
"Sini." Janu berdiri tegak menghadap ke arah tangga. "Naik ke punggung saya." Lelaki itu juga menepuk-nepuk punggungnya untuk menyalurkan semangat.
"Aku nggak apa-apa kok, kamu pasti juga capek, Jan,"
"Kamu tahu saya, 'kan?"
"Iyaaaa," Anyelir mengiyakan pasrah. Memang satu hal yang Anyelir malas dengan Janu. "Kamu nggak suka ditolak ... tapi ini beda konteks!"
"Apanya yang beda? cepat naik!" Lihatlah manik hazel yang menyorot tajam. Siapa yang tidak akan ketar-ketir bila ditatap begitu, belum lagi ekspresi datar mirip patung tak bergerak. Janu ini benar-benar pemaksa ulung.
"Ya, tapi aku masih bisa jal—" ucapan Anyelir terhenti sebab Janu menggendongnya secara tiba-tiba ala bridal style. Anyelir yang takut sebab hilang keseimbangan lantas mengalungkan lengannya di pundak Janu. Menatap lekat wajah simetris yang sangat tampan sampai tak ada bosannya.
"Saya tahu kamu capek ... saya nggak suka lihat Anyelir saya kecapean."
"Jan ... Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
"Saya nggak peduli."
Janu benar-benar menggendong Anyelir, berjalan dari tangga demi tangga yang entah berapa jumlanya. Bayangkan saja tiga lantai? Anyelir sendiri merasa deg-degan bercampur khawatir. Belum lagi ia lupa timbangan terakhir di minggu ini berapa, sepertinya naik.
Tepat di ujung tangga terakhir, Janu menurunkan Anyelir dengan perlahan. Dahinya yang berpeluh bercucuran sampai ke hidung, nampak kembang-kempis mengatur napas. Pasti rasanya lelah sekali.
"Lain kali jangan paksa aku lagi! Kalo tangan kamu patah gimana?!"
"Saya udah terbiasa, udah ... ayo masuk." Janu mendorong pintu masuk menuju salah satu ruangan stock khusus di lantai tiga, ada seorang pegawai yang menyambut mereka. Begitu kenal dekat dengan Anyelir. Sebab berkali-kali Anyelir berkunjung kemari.
Sebetulnya, butik ini lebih banyak memperjualkan desain yang kemudian nantinya dibuat mengikuti permintaan pelanggan. Seperti saat Anyelir menghadiri acara perayaan ulang tahun salah satu stasiun televisi beberapa bulan lalu. Tapi, karena acara ini begitu mepet dengan waktu pelaksanaannya, Anyelir harus segera memilih.
Tanpa basa-basi, gadis itu langsung berselancar mencari dress-dress mewah yang ditafsir harganya mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Butik di lantai atas ini biasanya khusus untuk tamu exclusive, isinya pun berupa dress dan tuxedo mewah khusus pesta-pesta tertentu.
Pakaiannya berjejer dari sudut kanan sampai sudut kiri, dari mulai warna paling netral sampai warna paling pekat. Anyelir sendiri, lebih tertarik mencari drees berwarna gelap. Bahkan ia sudah tertarik dengan satin tanpa lengan lantas ditunjukkan kepada Janu.
"Ini bagus, 'kan, Jan?!"
Ekspresi Janu malah melotot. "Nggak!"
"Loh kenapa? ini 'kan warnanya hitam, simple gitu, Jan ...."
"Nggak ada tangannya. Kamu mau pamer pundak ke laki-laki lain di depan aku, ha?!"
Dasar Janu posesif bin cemburuan, giliran menghadiri acara mewah yang lebih berkesan ajang pamer fashion. Janu banyak melarang ini itu, terlalu sexy, terlalu pendek, terlalu kelihatan ini itu, giliran pergi bersamanya memakai baju tidur juga sepertinya Janu santai saja.
"Ini bagus! 'kan?" Anyelir menunjukkan dress putih berenda dengan tangan panjang bahkan ukurannya pun sampai di bawah lutut. Janu memberikan senyum, membuat Anyelir tahu pasti kali ini akan mendapatkan persetujuan.
Tapi ternyata, hanya berlangsung beberapa menit saja. Setelah itu ia melotot kembali. "Astaga, Lir! Kamu mau pamer d**a kamu?! Nggak-nggak!!"
"Pamer apanya, sih?!" Anyelir terheran sendiri, menelisik setiap inci dress ini tak ada yang salah. "Bentar dulu, aku cobain. Nanti kamu bakalan tahu kalo ini bagus!"
Janu menggeleng kuat. "Sekali enggak, tetap enggak! jangan pakai baju dinas kayak calon-calon penghuni neraka!"
"Iya-iya!" Anyelir hanya bisa pasrah, Janu ternyata lebih heboh dari yang dikira. Sudah hampir enam model pakaian yang Anyelir perlihatkan bahkan tanpa perlu ia coba. Semuanya ditolak Janu mentah-mentah. "Yaudah deh kamu yang pilih! Pusing aku!"
"Beneran?"
"Iya! Serba salah!"
"Ya ... enggak serba salah, hanya aja pakai bajunya yang ... ya ... biar nggak jadi tontonan orang-orang. Tubuh kamu 'kan bukan pusat dahaga manusia haus nafsu,"
"Iya ... iya ... sini, kamu pilih!"
Lelaki itu melepas topi miliknya, semula ia terduduk di sofa, yang mana berada di bagian tengah ruangan. Warnanya golden bercorak naga yang melingkar menjadi tempat istirahat para customer. Janu berdiri, melihat satu-persatu pakaian yang menurutnya bagus, tapi minus akhlak. Setahu Janu Anyelir juga selalu memakai hal yang serupa dulu saat menghadiri acara-acara khusus, memamerkan paha, pundak, bahkan ... ah, sudah. Janu tidak ingin membahasnya sebab ia akan terbawa emosi.
Matanya teralihkan oleh dress berwarna putih, semacam trench coat dress yang berlapis gamma. Tangannya benar-benar panjang, bahkan gaun itu hampir menyentuh kata kaki Anyelir, sungguh tertutup. "Aku suka ini."
"Astaga, Jan ... kita mau menghadiri acara award. Bukan pengajian." Anyelir protes sebab rasanya pakaian itu terlampau tertutup, dasar Anyelir, di beri masukan yang lebih bagus malah menginginkan yang lebih terbuka.
"Ya, apa salahnya, sih?! Dikasih yang tertutup malah protes!"
Memang tidak salah, justru Janu melakukan itu demi kebaikan Anyelir juga. Hanya saja pikiran Anyelir yang berkelana ingin memakai pakaian-pakaian yang kata Janu khusus calon penghuni neraka.
"Yaudah, deh!" Anyelir kembali pasrah, lagipula ia sudah lelah seharian bekerja. Dan hari sudah menunjukkan malam hari, sebentar lagi butik ini akan segera tutup. "Sini aku cobain dulu!" Anyelir merenggut dress yang dipilih Janu dengan wajah datar, memasuki ruangan ganti yang rupanya terdapat banyak cermin hampir di setiap sisinya.
"Emh. Lir?" Janu memanggil Anyelir sebelum gadis itu benar-benar masuk ke dalam sana.
"Apa lagi?!" ketus Anyelir.
"Nggak usah bercermin, habis dipakai langsung perlihatkan pada saya, ya?"
Dahi Anyelir malah nampak berkerut. "Loh, kenapa?"
"Soalnya nanti kamu protes lagi! Yang lihat bagus apa enggaknya fashion kamu 'kan orang lain. Jadi nggak usah bercermin, langsung perlihatkan sama saya dan Mbak-mbak ini." Janu menoleh pada salah satu pegawai yang sejak tadi nampak ramah. "Iya, 'kan, Mbak?" Untungnya Janu diberi anggukan paham.
"Iya-iya!" Anyelir kali ini benar-benar masuk ke dalam ruang ganti, kesal sendiri dia. Sepertinya Anyelir akan kapok, tidak akan pernah lagi mengajak Janu untuk memilah dan memilih pakaian khusus acara award.
Tak butuh waktu lama, Anyelir keluar dengan aura kecantikan bak Dewi Yunani. Janu terpana, mulutnya setengah terbuka bahkan pupilnya membesar. Rugi rasanya untuk sekedar mengedipkan mata, Anyelir-nya benar-benar cantik.
"Cantik," ujar Janu tulus.
"Belt-nya ganti pakai yang lebih bagus, pakai sepatu pump juga jewelry," saran dari pegawai yang sepertinys sudah paham betul soal fashion.
"Oke deh. Sekarang giliran baju kamu, Jan!"
Anyelir yang giliran duduk di sofa, ia sengaja tidak mengganti pakaian untuk nantinya mencocokkan dengan milik Janu,. Sesuai permintaan lelaki itu yang ingin satu warna. Soal wartawan yang akan dibuat bingung, itu urusan belakangan.
Gadis itu menyenderkan punggungnya di sofa, rasa kantuk tiba-tiba muncul berkuasa. Membuat gadis itu hanya bisa terdiam, memang ia sudah lelah seharian bekerja, melakukan pemotretan ke sana kemari. Seluruh tubuhnya terasa remuk sekarang.
"Ini gimana, Lir?" Janu memaerkan tuxedo putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam. Simple tapi cukup elegan.
"Coba aja," jawab Anyelir.
Dengan semangat, Janu memasuki ruang ganti. Ia harus segera mempercepat aktivitasnya, kasihan Anyelir nampak begitu kelelahan.
Hanya berjarak lima menit, Janu sudah keluar dengan pakaian pilihannya. Niat hsti ingin pamer ketampanan, apa daya Anyelir justru tertidur di sofa sembari terududuk. Kasihan sekali.
"Butik ini tutup jam berapa, Mbak?"
"Sepuluh menit lagi, Pak. Jam delapan malam."
"Boleh saya minta dua jam? Untuk membiarkan dia beristirahat sebentar?"
"Manager saya ... nan—"
"Biar saya yang bicara, walaupun kena cas akan saya bayar. Itu urusan belakangan, ya? Dan tolong keep hubungan saya dengan Berta Bee, kamu tahu 'kan kalo publik sampai bocor, saya pasti cari kamu."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya menghubungi manager saya dulu." Pegawai itu lantas beranjak meninggalkan ruangan.
Janu benar-benar tak tega membangunkan Anyelir yang nampak lelah sudah seharian penuh bekerja dan memiliki jam istirahat yang sangat sedikit, ia menghela napas berat. Pikirannya mengudara, jika Anyelir adalah jodohnya dan suatu saat menikah. Janu akan memaksa Anyelir unutuk berhenti bekerja sebab ia masih mampu mengurus kebutuhan Anyelir.
Kakinya melangkah, ikut terduduk di samping Anyelir. Membetulkan posisi tidur yang semula duduk menjadi terlentang di pangkuan Janu.
"Nanti leher kamu pegal."
Si putri tidur itu nampak tidak terusik, wajahnya yang cantik benar-benar damai larut dalam alam bawah sadar. Janu menyibak helain rambut yang menutupi wajah cantik Anyelir. Rasanya candu sekali untuk menatap setiap lekuk wajah Anyelir.
"Maafin saya, ya? saya adalah kekasih terburuk yang pernah ada. Semoga kamu selalu bahagia bersama saya." Janu mendekatkan wajahnya ke arah kening Anyelir mengecupnya singkat lantas berbisik sangat pelan.
"I love you, Lir."