Bab 48 - Perasaan Lama?

2190 Kata
"Genta?" Satu kata yang mampu membuat jantung Janu terasa berhenti berdetak, tubuhnya yang kaku nampak terdiam mematung seperti kerupuk. Tapi bagaimana jadinya jika diberi air? Pasti lembek dan mudah hancur. Cara terbaik untuk menjaga kerupuk tetap kering adalah dengan menjauhkannya dari air. Tapi lain urusan jika yang turun adalah air hujan, artinya tidak ada waktu yang sempat untuk melindungi kerupuk. Membiarkannya menjadi lembek lantas hancur? Haruskah mental Janu menciut seperti itu? "Genta Janu?" Bella yang tengah berdiri di dekat Pak Mahdi bingung melambai-lambaikan tangan di hadapan wajah Janu yang terdiam nampak murung. "Hallo? Genta!! Are you okay?!" "PAK JANU!" akhirnya Pak Mahdi berteriak sukses membuyarkan lamunan Janu. "Ah kenapa? Apa? Ada apa, Pak?" coba lihatlah ekspresi Janu saat ini, seperti orang bodoh yang kebingungan. Atau lebih mirip maling tertangkap basah hanya karena sebungkus roti, sepapan kayu, sebutir jeruk, mendapatkan hukuman berat hanya karena kepepet oleh rasa lapar. Kalau dipikir-pikir mencuri memang salah, tapi menyalahkan tanpa menjadi pendengar lebih salah daripada kesalahan itu sendiri, sebab negara ini adalah negara hukum, bukan milik orang-orang aristokrat. "Kamu kenal dengan Bella?" tanya Pak Mahdi. "Ya ... dia tem—" "Kami satu kampus di Amerika!" potong Bella. "Oh baiklah ... ini pasti menarik, Bella benar-benar baru tiba dari Amerika. Kalau begitu ... kita meeting setelah makan siang, kalian boleh menikmati sisa waktu berdua setelah sekian lama ... tidak bertemu, 'kan?" "Tidak say—" Janu hendak menolak saran dari Pak Mahdi, sebab ia saat ini benar-benar tidak ingin berbicara apapun dengan Bella. Masa lalu tentang Bella bukanlah pengalaman yang baik, luka Janu masih terasa menganga, rasa sakit hatinya juga belum tentu pudar. Yang membuat Janu semakin ingin menghindar dari Bella adalah, ia takut perasaannya masih sama. Perasaan yang mengajarkan Janu arti sebuah ketulusan. "Tentu!" Bella justru yang memotong tolakan Janu, ia sangat ingin bertemu dan berbagi cerita dengan teman lama. Jujur saja Bella masih menyukai tatapan tajam Janu yang seringkali berubah saat bersamanya dulu, menjadi sangat lembut. "Kalau begitu, silahkan mengobrol ... saya tunggu setelah makan siang," "Baik, Pak. Ayo ... Genta!" Janu bahkan tidak sempat diberi waktu untuk menyanggah apa yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan, tetapi Bella sudah duluan menarik lengan Janu. "Tunjukkan di mana tempat yang asik untuk menyesap kopi!" "Bell ... say—" "Ayo! Ini Pak Mahdi yang menyuruh ... masa kamu nolak!" Bella mendorong tubuh Janu yang benar-benar tidak ingin bergerak, sangking tidak mau bersama Bella. Dengan terpaksa, Janu mengikuti keinginan Bella untuk berbincang dengannya. Ia beranjak menuju cafetari kembali. ** Espresso no sugar, adalah minuman favorit yang masih Janu ingat. Sebab dulu Bella tidak pernah memesan minuman lain, kadar gulanya terlalu tinggi dan ia tidak suka. Sial, bahkan alasan mengapa Bella selalu memesan kopi hitam pahit itu saja Janu masih ingat. Bella menyesap minumannya. Sementara Janu hanya terdiam kaku, tidak memesan apapun, juga tidak berbicara sepatah katapun. Hanya duduk termenung menatap datar ke arah Bella, berusaha sekuat tenaga menghapus jejak-jejak memori tentang dirinya dan juga Bella dulu. Sulit rasanya berpisah dengan Bella yang namanya sejak lama bermuara di hati, sampai pada titik di mana Janu tak ingin lagi berkenalan dengan wanita. Kecuali Anyelir. Jujur saja yang terlintas dalam pikiran Janu saat ini adalah rasa takut. Takut bahwa kenyataan masa lalu akan merubah segalanya, takut bahwa ia rupanya belum melupakan rasa yang pernah ada untuk masa lalu. Juga takut sampai Anyelir tidak mau menerima masa lalu Janu. "Kamu tampan sekali," ucap Bella memuji ketampanan Janu, ya, memang begitu kenyataannya. Janu sangat tampan dan terawat, sosok seperti Anyelir saja jatuh cinta. "Mau apa kamu ke sini?!" "Jangan salah paham. I'm here to work," "Dari sekian banyaknya perusahaan?!" Janu membuang muka, entahlah maksud kedatangannya Bella apa, yang jelas Janu tetap tidak suka. "Kenapa?" Bella bertanya, tanpa sedikitpun menoleh ke sembarang arah. Tatapannya yang teduh masih sama berusaha membuat Janu terpikat kembali, senyum manis nan menawan itu begitu candi dulu, apalagi helaian rambut hitam pekat yang selalu Janu mainkan. Kedatangan Bella hampir membuat Janu kembali tidak waras, bergelut dengan nafsu juga ketakutan yang mendalam. "Maksudnya?!" "Kenapa kamu begitu takut?" Bella menyunggingkan senyum. "Apa karena kamu masih menyimpan rasa yang sama?" Janu terdiam sekejap, lantas menggeleng pelan. "Itu mustahil!" "This is the world, Genta! Tidak ada yang tidak mungkin ... apalagi we will work together for almost three months. Bisakah kamu menyanggah itu?" "Saya tidak pernah menyimpan perasaan apapun dengan kamu ... jadi jangan memancing-mancing saya!" Semakin Bella berucap, semakin terasa bahwa apa yang dia katakan seolah menjadi kenyataan. Janu benar-benar takut setengah mati. Ia juga bingung bagaimana sekarang. "You remember? Pernah ada seorang nelayan, memancing ikan tanpa umpan ... Tapi dia mendapatkan ikan yang besar. I think, kamu tau maksudnya apa," "SAYA BUKAN IKAN!" Janu menggeplak meja, emosinya mulai meledak sekarang. Ia tahu maksud Bella seperti apa, tau juga tujuannya Bella bagaimana. Sebelum mengenal Anyelir, Janu memang masih terikat pada gadis itu, seringkali terlintas dalam benaknya untuk menjadi stalker kehidupan Bella. Gadis itu sukses, dengan agensi yang terbilang merupakan terbaik juga di ranah Hollywood. Yang jadi membingungkan adalah, Bella muncul di A3 untuk projek kecil bersama Janu. Bahkan Janu pikir projek ini memang lebih mudah daripada menyelesaikan 'Back and Kill It' yang notabene benar-benar menyatu dengan alam. Ini hanya film biasa, berlatar di daerah Washington DC. Jadi, kemungkinan besar Janu akan syuting di sana. Selama beberapa Minggu, dan terlibat sepenuhnya dengan Bella. Ia yakin setiap hari bekerjasama dengan Bella bukanlah perkara yang mudah, seolah berdiri di dekat bawang merah yang tengah di kupas. Membuat mata perih. "Oh tentu aku tahu ... Itu hanya perumpamaan dan aku menyukainya," Bella berbisik tepat di wajah Janu. Muak dengan keadaan sekitar yang semakin memanas, lantas Janu berdiri. Hendak untuk beranjak dari cafetaria yang sudah sepi sebab memasuki jam-jam kantor, terasa sesak bagi Janu bahkan udaranya cukup panas. "Sayangnya, saya tidak suka perumpamaan. Saya hanya suka kenyataan ... dan kenyataannya saya tidak menyimpan rasa untuk kamu karena saya sudah mempunyai rasa untuk orang lain." Janu memutar tubuhnya, tetapi ia teringat satu hal yang membuatnya kembali berhadapan dengan Bella. "Sepertinya kamu harus menyekolahkan kembali otakmu, supaya kamu tahu perbedaan antara menyimpan rasa dan membuang rasa! Thanks for coming!" Renggis Arabella—gadis berusia dua puluh enam itu adalah seorang script writer dari agensi ternama yang bertempat di Washington DC. Entah ada maksud apa ia menawarkan diri untuk film yang disutradarai Janu menjadi script writer, menjalin kerjasama antara agensi Janu dengan agensinya. "Thanks for the welcome! My boo." Bella sedikit mengangkat sudut bibirnya. ** Masih larut dalam kebingungan, Janu kembali temenung, tak bisa sedikitpun ia fokus pada pekerjaan. Entah apa maksud Bella ikut serta dalam projek ini. Apa hanya karena lokasi syutingnya dekat dengan kantor Bella? atau karena ini adalah projek Janu. Tapi untuk apa Bella mengikuti Janu? hubungan mereka sudah berakhir hampir 10 tahun yang lalu. Bella sendiri yang meninggalkan Janu tanpa alasan, menyebabkan lelaki itu kehilangan arah bahkan hampir gila hanya karena seorang wanita. Tak ada yang bisa Janu lakukan selain mengepalkan tangannya kuat-kuat, terduduk menatap nanar ke arah layar monitor yang menampilkan tumpukan pekerjaan. Dalam benaknya sudah pasti timbul tanya, kenapa Bella harus datang sekarang? Waktu di mana ia sudah bersama yang lain. Terlalu hipokrit rasanya untuk menjelaskan bahwa Janu sudah mengubur rasa terhadap Bella sedalam mungkin, ada celah, sedikit. Meski sedikit tetap saja itu adalah rasa yang salah. Sebab Janu sudah memiliki Anyelir sepenuhnya. Sial! Tiba-tiba saja pintu ruangan Janu terbuka tanpa adanya ketukan. "Pak Jan—" "Saya sudah tidak punya perasaan sama kamu!" teriak Janu tiba-tiba. Ia mengalun kalimat yang terlintas tanpa permisi di dalam otaknya, tak sedikitpun kepalanya Janu tolehkan pada seseorang yang baru saja masuk. Tentu saja gadis berambut sebahu yang paling cerewet, yang pernah Janu kenal mengerutkan dahi. Janu menghela napasnya berat, memijat pangkal hidung yang terasa ngilu di sana. Ia salah, mengira bahwa yang masuk adalah Bella, ternyata Batari. Hanya sedikit saja harapan di hati Janu sekarang, agar Batari tidak mencurigainya. "Perasaan apa?!" Alis Batari masih bertaut, walau berada dalam kebingungan Batari menutup pintu dan berjalan ke arah Janu lebih dekat. "Ah ... tidak." Janu segera berdiri menghampiri Batari. "Saya barusan lagi baca script, jadi agak sedikit terbawa suasana," elak Janu. "Duduk." Lelaki itu mendekat ke arah sofa, tempat di mana tamu yang bertandang ke kantornya dipersilahkan duduk. Batari menuruti. "Tapi kayaknya tadi dari hati, deh!" begitulah Batari, selalu mengalun hal yang memojokkan. "Bukannya mempelajari dan mendalami peran memang harus dari hati?" "Kalau tadi yang masuk Anyelir, gimana? Apa kamu nggak mikir dia bakal sakit hati?!" Batari sudah terduduk rapi, menghadap Janu sembari menopang dagu. Janu gemetar sendiri, ia amat teramat paham dengan karakter Batari. Sudah sering memojokkan, Batari juga gemar baku hantam. Tulang belulang Janu bisa saja patah jika Batari marah demi membela sahabatnya. "Saya akan jelaskan ke dia ... ini hanya script. Saya baru selesai meeting, jadi wajar kalau saya sedang memperdalam sudut pandang dari karakter si tokoh. Apa yang salah?" Batari malah semakin mengerutkan dahi. Ada yang salah dengan Janu. Instingnya memang kuat, entah mengapa Batari merasa kalau Janu sangat gelisah, ada ketakutan yang memang nampak jelas dari kedua manik hazelnya. Batari sendiri ikut ketakutan, takut kalau sahabatnya kembali diterpa badai demi memperjuangkan kisah cinta yang tak abadi. "Nggak ada. Sorry ... saya hanya memperjuangkan kebaikan sahabat saya. Agar dia tidak sakit hati sama kamu!" sindir Batari. "Saya janji nggak akan bikin teman kamu sakit hati," "Bukan teman ... sahabat!" "Iya-iya ... sahabat." Janu terdiam. Kata itu juga pernah dilontarkan oleh Bella. Genta! Kamu, aku, kita adalah sahabat! Mata Janu melotot, menelisik ke sekeliling ruangan demi mencari keberadaan suara itu. Suara Bella yang tiba-tiba saja mengalun tepat di telinganya, padahal itu adalah kalimat yang sering dilontarkan Bella 10 tahun yang lalu. Kalimat yang selalu membuat Janu tersenyum gemas. Keringat Janu mulai bercucuran, ia resah dengan bayang-bayang masa lalu juga kenangan yang diukir Bella terlalu dalam di hatinya. Batari yang menyadari raut wajah Janu semakin kebingungan. "Pak Janu kenapa? sakit?" "Ah?" Janu menggeleng lemah, peluh yang mengalir di dahinya ia lap sembari tersenyum hambar. "Tidak ... ah saya hanya kelelahan." Aneh, sikap Janu benar-benar aneh, batin Batari. "Yaudah ... kalau gitu, ini." Batari menyodorkan selembaran kertas di meja Janu, ada sebuah alamat butik tempat paling disukai Anyelir tertulis di sana. Sebelum jam makan siang, Batari mendapat telepon dari Janu mengenai acara penghargaan film tingkat Asia itu. Ia berencana memberi kejutan pada Anyelir untuk memakai pakaian yang senada, meminta rekomendasi tempat favorit Anyelir saat biasa memilih dress acara-acara besar. Batari yang memang akan berkunjung ke A3 untuk menyerahkan sisa berkas Anyelir pada produser, sekalian mendatangi Janu. Memberikan secarik kertas yang berisikan alamat juga beberapa amanat yang harus dipatuhi Janu saat mengajak Anyelir pergi ke butik. "Terimakasih, Tari." Janu tersenyum singkat. "Ngomong-ngomong jangan panggil saya 'Pak' lagi. Kita sudah tidak dalam ranah pekerjaan." "Oke." Batari mengacungkan jempol. "Saya ada pesan untuk kamu, Jan." "Apa?" "Jangan terlalu mengajak Anyelir bercermin, kalau dia butuh pendapat cukup kamu saja yang lihat," ucap Batari mengingatkan. Batari sadar dengan mengatakan hal ini Janu akan bertanya-tanya. Tapi tak ada pilihan lain, daripada nantinya Anyelir akan terdiam menatap nyalang ke arah cermin bahkan sampai menangis, itu akan membuat Janu semakin kebingungan. Batari takut, dan itu selalu terjadi setiap kali Anyelir berkunjung ke butik untuk fitting baju. Janu mengerutkan dahinya, benar-benar kebingungan. "Kenapa?" "Saya tidak bisa jelaskan sekarang, kalau kamu benar-benar tulus menyayangi dia. Akan ada saatnya Anyelir menjelaskan beragam pertanyaan untuk kamu," "Kenapa kamu mengatakan hal itu? Hal yang akan membuat saya kebingungan?" Janu memejamkan matanya sejenak. "Batari, semakin kamu mengingatkan demikian, semakin saya terpikirkan ada yang salah dengan kalian berdua," "Kamu menghargai privasi pasangan kamu, 'kan?" Kepala Janu rasanya pening sekali hari ini, tuntutan A, B, C, rasanya menghantam diri Janu sekaligus di hari ini. Tentang Bella yang mempertanyakan perasaannya, tentang Anyelir yang selalu menimbulkan tanya dengan sikap anehnya. Bisakah hari ini biarkan Janu bernafas tenang tanpa memikirkan dua hal yang sama beratnya? Janu kembali menghela napas. "Saya tahu ... tapi Batari, itu terlalu tabu bagi seorang artis menghindari cermin dan hanya kalian saja yang tahu. Kamu tahu dengan pernyataan kamu itu saya merasa mati kebingungan?!" "Saya udah bilang, Janu ... akan ada saatnya, tapi enggak sekarang!" "Kalo kamu tidak mau menceritakan sekarang, lebih baik kamu tidak usah membicarakannya barusan. Kamu pikir saya akan berusaha terlihat biasa saja? dari nada kamu memohon saja saya tahu pasti ada yang tidak beres," Janu benar-benar berujar kesal. Entahlah rasanya hari ini ia lelah, tanpa sadar juga silang sengkarut yang ada di dalam cerebral-nya dilimpah ruahkan pada Batari. "Pernah dengar kata sabar?" "Saya bisa sabar. Tapi sampai kapan?!" Batari mengerutkan dahi sebab Janu nampak sedikit emosi. "Kamu ini kenapa, sih?! saya cuman minta menjauhkan Anyelir dari cermin. Kenapa respon kamu berlebihan begini?" Akhirnya Janu kembali menghela napas, sejak tadi pikirannya selalu negatif. Padahal belum tentu juga yang dikatakan Batari buruk bagi Anyelir. "Oke ... oke ... saya punya sabar. Tapi sabar saya terbatas," "Pakailah kesabaran itu, demi menghargai perasaan kekasihmu. Permisi!" Batari beranjak tanpa menoleh lagi pada Janu, ia menyadari telah melakukan kesalahan. Tapi ia pun bingung harus melakukan apa dengan keadaan sekarang, yang jelas Batari berusaha memberikan yang terbaik untuk Anyelir. Soal Janu yang semakin kebingungan dan akan menerornya dengan pertanyaan adalah urusan belakangan, Anyelir-nya yang menjadi nomor satu sekarang. Semoga gue nggak salah langkah, sorry, Lir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN