Bab 47 - Masa Lalu Telah Tiba

1740 Kata
Sebuah amplop besar berwarna hitam yang dihiasi dengan sentuhan golden tiba-tiba tersimpan rapi di meja Janu. Lelaki berusia sekitar angka dua itu mengerutkan dahi kala tiba di ruangannya masih di pagi buta, sebab hari ini ada jadwal meeting untuk film terbaru yang akan digarap oleh Janu. Dengan penuh rasa penasaran, secepat mungkin Janu tak ingin menunda lagi rasa ingin tahunya. Lantas membuka amplop itu dan mulutnya tiba-tiba setengah terbuka. "Penghargaan film terbaik?!" Padahal film yang dibuat bukanlah berisi green screen yang membuat editan benar-benar terasa terpukau, hanya film biasa yang mempunyai alur menarik juga syuting asli yang bertempat di hutan belantara. Janu yang masih setengah bingung lantas membuka benda pipih miliknya, nama Aruna terlintas untuk saat ini. Dalam hitungan detik, panggilan terhubung. "Temui saya di cafetaria sekarang." Setelah mendapat balasan dari sana, Janu segera beranjak untuk menemui Aruna. Sekalian ia mengisi perut sebab belum sempat sarapan, semalam Ander demam, jadi Janu tidak tega jika harus membangunkan Ibunya hanya untuk dibuatkan sarapan. Langkah Janu yang terbilang santai mulai berpijak meninggalkan sebuah tapak di lantai marmer yang terlihat, bunyi khas dari sebuah elevator menyadarkan keheningan yang sempat berkuasa di koridor lantai ini. Tiba-tiba Janu tersenyum malu saat tubuhnya memasuki lift menuju cafetaria, bayang-bayang pertemuan yang terbilang abnormal dengan Anyelir melintas begitu saja. Saat itu, baik Janu dan Anyelir tidak ada yang sepaham. Bahkan bisa ditafsir keduanya saling membenci, tapi entah alasan apa Janu berani meminta pertolongan Anyelir untuk Sijaz-nya yang paling ia sayangi. Seolah ada dorongan yang memberikan kepercayaan bahwa Anyelir pasti akan tulus menyayangi kucingnya, padahal kenal saja tidak waktu itu. Entah karena mempunyai dasar benci, atau memang kedatangan Anyelir yang berlagak sombong membuat Janu kesal sendiri. Sampai rasanya, ingin terus memojokkan gadis itu yang rupanya tidak tahu apa-apa. Rumor yang menyelimuti Anyelir terkadang membuat orang lain mempunya perspektif buruk terhadapnya, kesan pertama saat berjumpa juga berkata demikian. Tapi, setelah tahu siapa Anyelir beserta seluk-beluknya, Janu merasa bersalah sendiri sudah berlaku kasar terhadapnya. Baru saja orangnya terpikirkan sampai membuat Janu senyam-senyum sendiri, ternyata sebuah pesan singkat di ponselnya muncul dari Anyelir. Janu tak sabar ingin segera membukanya, nama 'Pacar' terpampang di sana, membuat Janu semakin bersemangat. Rupanya Anyelir mengirimkan video dirinya, rekaman berdurasi tujuh detik yang menampilkan wajah cantiknya memakai filter aplikasi semacam tangkai bunga yang melingkar di bagian dahinya, membuat Anyelir semakin nampak cantik. "Enjoy your work, i love you," ucapnya terdengar manis di dalam video itu. Janu yang baru keluar dari dalam lift hanya bisa bersandar pada dinding, memukul-mukul dinding dekat meja resepsionis karena salah tingkah. Dalam video itu Anyelir nampak gemas, hanya satu kalimat sukses membuatnya salah tingkah. Seolah ada bunga yang mekar di bagian jantung, tersambar oleh ribuan kupu-kupu yang terbang dari arah perut. Janu sungguh dimabuk cinta. "Pak Janu? Bapak kenapa?" tiba-tiba ada suara seorang wanita terdengar di telinganya, seorang resepsionis melihat Janu tengah berjingkrak-jingkrak kesenangan tentu saja akan beranggapan bahwa ada yang tidak beres dengan Janu. Sebab memang tak pernah ia melakukan hal demikian. Janu yang tersadar dengan suara itu lantas berdiri tegak, memasang wajah datar seperti biasa. Rambutnya yang ikal ia rapikan ke arah tengah guna menutupi wajah memerah menahan malu, walau tak ada gunanya. "Tidak apa-apa. Permisi!" Detik itu juga Janu lari terbirit-b***t menuju cafetaria, sembari merutuki diri yang terlampau tidak menyadari bahwa area lantai satu—lobby adalah tempat lalu-lalang orang-orang. Semua benar-benar terlihat ramai, beruntung meja tempat Aruna yang tengah menyesap kopi sudah terlihat di depan mata. Janu segera menyambar kursi, terduduk menetralkan rasa bahagia bercampur malu. Aruna yang melihatnya hanya bisa mengerutkan dahi, ia lantas menyodorkan kopi tubruk yang biasa Janu pesan. Membuat lelaki itu tanpa pikir panjang menyeruputnya. "Ada apa manggil saya kemari, Pak? Kenapa tidak bicara di ruangan Bapak saja?" tanya Aruna tidak sabar. Janu menyodorkan amplop yang sejak tadi ia genggam, membuat dahi Aruna berkerut. Tanpa menunggu lama, Aruna membuka amplop itu, seketika ia berteriak, "Woahhhh! SERIUS, PAK?!" "Suttttt!" Janu mengacungkan jari telunjuk di mulut untuk memberi tanda bahwa Aruna tidak boleh terlalu berlebihan. "Demi apa ... I—ini mimpi?! Coba tampar saya ... Tampar saya, Pak?" "Serius? Nanti sakit," "Tampar saya, Pak ... Ini pasti mimpi tam—" Plakk! "Awwwww!" Janu benar-benar menampar Aruna tanpa basa-basi, seperti ada dendam terselubung yang membuat Aruna meringis. Pipinya terasa panas oleh tamparan Janu. "Tidak sekeras itu juga maksud saya, Pak!" "Kamu yang minta," "Iya-iya ... saya yang salah!" Dengan setengah mengelus-elus pipinya yang masih terasa ngilu, Arun kembalo tersenyum. "Asian internasional award loh, Pak! Film kita ramai di Asia, Pak ... Wahhh ini mimpi ... ini mimpi!" "Mau saya tampar lagi?" "Nggak perlu!" Aruna nyengir kuda bercampur takut. "Ngomong-ngomong undangan ini 'kan untuk pemain dan staff 'Back and Kill It' siapa saja yang ikut?" "Dua pemain utama, saya, kamu, script writer, Pak Mahdi, dan pimpinan DOP," "Berta Bee ikut?!" "Tentu," "Apa dia sudah diberi tahu?" Janu menggeleng. "Saya baru memberi informasi ini sama kamu," "Cepet-cepet! Telepon dia dan bahas tentang ini, ajak Berta Bee ke bintik buat cari baju yang serasi!" "Bi—bintik?" Tentu Janu mengerutkan dahi, bintik yang dimaksudkan oleh Aruna adalah apa?" "Itu, Pak ... yang toko baju-baju mahal bikin sendiri!" "BUTIK!" Aruna menggeplak meja, wajahnya yang ceria penuh semangat membuat Janu justru ngeri. Orang-orang di sekitar menaruh atensi untuk keduanya oleh tingkah Aruna, Janu sedikit risih, memang Aruna adalah sosok yang memancarkan energi positif dengan karakter energiknya. Tapi sayang, menurut Janu itu berlebihan. "Iya ... itu maksud saya ... ayo cepetan, Pak!" "Apa?!" "Ih ... si Bapak nggak peka-peka!" "Peka apa?!" Janu masih bingung, sungguh. "Telepon Berta Bee, ajak dia ke bu—bu ... apa tadi?" "Butik!" "Iya itu! Terus cari pakaian yang serasi, Pak!" Hening sejenak, Janu tampak berpikir untuk menimbang-nimbang ucapan Aruna. Sebetulnya ia tidak ingin memakai pakaian yang serasi, sebab itu akan menimbulkan pertanyaan, lebih bahaya lagi jika orang-orang berspekulasi bahwa Anyelir memang mempunyai hubungan dengannya. "Saya nggak mau, ribet!" Janu beranjak usai menyesap sisa kopi tubruknya, menyisakan Aruna yang menggelengkan kepala oleh tingkah super gengsi seoarang Genta Janu. Kala Janu tengah melangkahkan kaki sekitar empat sampai lima, ucapan Aruna terngiang-ngiang di kepala. Jujur saja ia akan sangat terpukau saat Anyelir mengenakan gaun cantik yang rupanya akan senada dengan milk Janu. Wajar orang-orang menyebut Janu sebagai manusia setengah gengsi, sebab separuh dirinya hanyalah berisi kegengsian. Mulutnya berkata tidak pada Aruna, tidak ingin mengajak Anyelir berkunjung ke butik, tapi tindakan berkata lain. Kini ia malah menyambungkan panggilan seraya berjalan menyusuri lobby menuju lift. Panggilan terhubung. "Kamu di mana?" "Aku lagi sarapan sama Batari, kenapa?" "Hari ini pulang jam berapa?" Padahal hubungan mereka sudah menginjak di angka dua bulan, tetap saja Janu masih terasa gemetar saat ingin mengajak Anyelir pergi ke luar rumah. "Kayaknya malem." "Yasudah, tolong kirim lokasinya. Nanti saya jemput." "Oke." "Cuman oke aja?" Rasanya ada hal yang hilang, Janu selalu mengingat setiap detail dari hubungan mereka. Bahkan sampai kalimat yang sering Anyelir ucapkan sebelum menutup telepon pun Janu ingat, maka dari itu ia kesal jika Anyelir hanya mengatakan sesingkat itu. "Terus? Aku harus bilang apa?" "Nggak usah!" "Yaudah." Goda Anyelir, di seberang sana Anyelir terkekeh, merasa kalau yang dihadapi bukanlah seorang lelaki yang hampir menginjak kepala tiga. Melainkan bocah kecil yang kerap kali cemberut hanya karena tidak dapat permen. "Saya nggak jadi jemput." "Eh?" "Kamu marah sama saya? Sejak tadi telpon selalu di jawab singkat?!" "Nggak, Sayang." "Saya cuman mau jem—" "Saya tutup teleponnya boleh? Semoga harimu, hariku, menyenangkan. Sampai bertemu di hari yang sama menyenangkan, i love you!" Anyelir nampak tertawa sebentar. "Udah, 'kan? Itu yang kamu mau?" "Saya jadi jemput nan—" Brukkk Seseorang menabrak Janu sampai ponselnya terlempar ke lantai, Anyelir yang menyadari suara benturan keras itu berteriak di dalam panggilan. Sementara Janu masih meringis saat sikutnya membentur marmer di lobby. Tak lama ia mulai berdiri, samar-samar rupanya seorang wanita yang terjatuh. Janu masih ingat ponsel, maka dari itu ia segera mungkin mengambil benda pipih miliknya sebelum membantu wanita yang terduduk di lantai itu. Memang Anyelir-nya selalu menjadi nomor satu. "Maaf, tadi say—" untuk kali ketiga ucapan Janu terpotong. Sebelum melanjutkan permintaan maaf kepada seseorang di seberang telepon, Janu malah mematung. Amat terkejut saat tahu siapa orang yang menabraknya barusan. Pun dengan wanita itu, berdiri susah payah memancarkan mata yang berbinar menatap Janu. "Hallo?! Janu? Are you okay? Janu!" Bising dari telepon Janu seolah tak terdengar, dunia terasa tuli baginya sekarang. "Genta?" tanya wanita itu memastikan. Janu yang menyadari ponsel masih terhubung pada panggilan Anyelir, lantas mematikannya. Menaruh rapi di saku celana, sementara matanya masih sama menatap lekat ke arah wanita di hadapannya. "Ka—kamu?" "Apa kabar?" Wanita berambut hitam legam sebahu itu menyodorkan lengannya, meminta Janu untuk berjabat tangan. Sementara lelaki yang dituju malah menatapnya datar. "Kamu ngapain di sini?!" Nada Janu yang semula datar naik menjadi beberapa oktaf, ada amarah yang sejak lama tertahan kini muncul kembali. Luka lama yang sebetulnya belum rampung pulih dari apa yang seharusnya kini kembali terbuka, padahal Anyelir sudah menjadi obat untuk Janu. Tapi beda cerita jika orang yang dimaksud justru memunculkan dirinya tepat dihadapan Janu. "Why? You do not want?" Wanita itu masih setia mengulurkan tangan, sementara Janu sama sekali tak berminat untuk menyentuhkan lengannya barang sedikit saja. "Pergi, saya sibuk!" Janu hendak beranjak, tapi wanita itu justru malah menarik lengan Janu sampai langkahnya tertahan. Janu hanya bisa menghela napas malas. "Lepas!" "Tunggu dulu ... kita baru saja bertemu, do you miss me?" Sudut bibir Janu sedikit terangkat, matanya yang tajam menyorot dari ujung kepala sampai menuju tangan. Tak ada lagi wajah yang acap kali menunjukkan ketertarikan, selain kesal saat ini. "Saya tidak berminat!" "Tapi aku yang berminat, aku ing—" "PENULIS BELLA!" teriak seorang lelaki yang Janu kenal suara khasnya—Pak Mahdi. Hal itu sontak membuat Janu melotot, seolah dunianya yang baru saja ia bangun dengan hati-hati hancur hanya kedatangan tamu tak diundang dari masa lalu. Pak Mahdi menghampiri keduanya yang masih terdiam dengan ekspresi beda-beda. Janu yang bingung dengan keadaan, sementara wanita dihadapannya nampak menikmati segala hal, bibirnya yang merah nampak seperti orang sinis. "Bagiaman penerbangannya?" Wanita yang diketahui bernama Bella itu berjabat tangan dengan Pak Mahdi. Siapa yang tidak membuka setengah mulutnya, seseorang datang dari masa lalu yang cukup kelam tiba-tiba tepat berdiri di hadapannya. "Pak Mahdi ... kenal dia?" tanya Janu. "Ah ... Saya lupa mau memperkenalkan pada kamu juga," ucap Pak Mahdi tiba-tiba. "Saya?" Pikiran Janu mulai menjelajah liar, jangan sampai perkirakannyan benar-benar terjadi. "Iya." Pak Mahdi tersneyum pulas. "Ini Penulis Bella, script writer untuk projek terbaru kita." Deg Saya harus bagaimana sekarang, Lir?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN