Hidangan yang dibuat oleh keluarga Janu terlampau unik menurut Anyelir. Pasalnya, antara masakan Jawa dengan Eropa dipadukan menjadi perbedaan jenis yang sengaja menyatu, benar-benar menarik. Anyelir sempat melihat gudeg, juga sajian salad, banitza sampai black pudding.
Saat Anyelir hendak mencicipi salad sayur yang dibuat khas sebagai menu biasa, bukan diet yang kerap kali dilakukan oleh Anyelir. Janu tiba-tiba menarik mangkok kecil yang siap Anyelir isi dengan salad tadi, sontak Ander melirik Janu sembari melempar sorot tajam mematikan.
"Jaaaaanu! Makan yang benar!" Perintah Ander.
"Jan, jangan bercanda ...."
Alih-alih mendengarkan, Janu malah memakan salad yang sudah Anyelir ambil untuk dirinya sendiri. Lantas menyodorkan banitza—makanan khas Eropa timur yang terbuat dari tambahan yoghurt serta s**u seperti pai bentuknya, atau lebih mirip disebut roti.
"Janu kamu tidak sopan! Jangan beg—"
Janu menoleh, pertama pada Ander dengan raut wajah santai, kemudian beralih pada Anyelir sembari tersenyum singkat. "Kamu alergi wijen," ujarnya.
Mendengar perkataan tersebut, Anyelir menjadi bingung sendiri sebab tidak pernah sedikitpun Anyelir menceritakan apa yang dia suka atau tidak suka termasuk alergi dan penyakit pada Janu. Tapi lelaki itu mengetahuinya? Bagaimana bisa? Apakah mungkin Janu juga tahu kelainan Anyelir? Gadis itu menjadi was-was kembali.
"Kok kamu tahu?" Anyelir bertanya penasaran.
"Apa, sih, yang nggak aku tahu!" seru Janu.
Anyelir terdiam sesaat, mencerna ucapan Janu barusan. Ingin disebut bercanda tapi raut wajah lelaki itu tak menyiratkan demikian. "Tahu darimana?"
"Ada pokoknya,"
"Dari mana?!" Anyelir sedikit membentak, bukan perkara Janu yang tidak sopan mengambil makanan dari tangannya. Tapi soal privasi yang tidak Anyelir tunjukkan sedikitpun pada Janu.
“Hanya tahu, kamu ‘kan artis. Wajar saya tahu sesuatu yang tidak kamu ceritakan sedikitpun pada saya,”
“Memangnya harus seperti itu?”
Ander yang merasa bahwa Anyelir tidak nyaman mulai mencairkan suasana, mencari topik lain yang dibahas agar keduanya tidak bertambah panas. Ander sendiri juga menyadari bahwa hal privasi yang tidak Anyelir ceritakan seharusnya tidak Janu cari tahu, bukan apa-apa, segalanya tentang Anyelir perlu ada izin terlebih dahulu meski Janu berperan sebagai kekasihnya.
Bahkan dulu, saat Ayah Janu masih ada. Ander kerap kali mengingat momen-momen dimana keduanya saling terbuka. Juga momen dimana keduanya saling menjaga privasi masing-masing. Memang sesama pasangan harus saling terbuka, terlebih saat menghadapi masalah. Tapi tidak semuanya harus serba tahu, ada beberapa privasi yang harus dihargai.
Dengan pembahasan baru Ander mengenai topik film terbaru mereka yang sudah tayang dua hari lalu, suasana berubah menjadi biasa lagi. Ander memberikan komentar baik tentang ‘Back and Kill It’ yang kebetulan ia juga menghadiri acara gala premiere secara diam-diam. Anyelir kembali tersenyum manis.
**
Usai makan malam, banyak hal yang ditunjukkan Ander pada Anyelir. Tentang kebiasaan Janu yang selalu termenung di depan ruang kerja, kebetulan ada sebuah tempat semacam coffe shop khusus yang menghadap pada balkon terhubung pada hamparan kebun kelapa yang luas. Anyelir juga diajak untuk membuat kopi, seperti hobi Janu. Rasanya nikmat, sebab Janu meracik sendiri kopi itu dengan penuh hati-hati.
Anyelir juga berkeliling dan bersantai di lantas tiga rumah ini dengan sebuah balkon yang sangat luas, ada sofa memanjang di sana tertata rapi di hiasi lampu-lampu vintage yang menguning. Kata Janu, tempat ini selalu digunakan keluarga untuk menghabiskan waktu Bersama. Tapi itu dulu, saat Ayahnya masih ada, seringkali mengadakan BBQ party dan bercerita Panjang lebar sampai menjelang pagi. Hal itu sudah lama tidak dilakukan, sampai Janu sendiri bersyukur kedatangan ANyelir mengingatkannya pada momen-momen di mana keluarganya sering kali menghabiskan waktu Bersama di balkon itu.
Saat jam hampir menunjukkan tengah malam, Janu meminta izin untuk membersihkan badan terlebih dahulu. Meminta Anyelir menunggu sebelum dirinya mengantarkan Anyelir pulang.
Anyelir ditemani Ander duduk tepat di ruang keluarga, ada televisi berukuran besar dengan sebuah foto keluarga yang tak kalah besarnya terpatri di dinding tepat di atas televisi. Anyelir tersenyum melihat foto itu, Janu yang masih kecil Nampak Bahagia dengan keluarga kecilnya. Seperti Anyelir, tinggal sebagai anak tunggal yang mendapatkan kasih sayang penuh dari keuda orangtuanya.
“Ibu … itu … Ayahnya Janu?” tanya Anyelir ragu-ragu. Gadis itu menunjuk salah seorang lelaki yang sudah berumur mengenakkan jas rapi tersenyum lebar. Hanya saja, entah Anyelir salah lihat tau itu efek dari kamera, wajah Ayah Janu nampak pucat dengan kantung mata yang amat menghitam menandakan lelah.
Ander tersenyum pulas. “Janu pernah cerita ‘kan? Kalau Ayahnya sudah tidak ada?”
Anyelir mengangguk. Merasa tidak enak sebab ekspresi Ander sedikit berubah. “Maaf, Ibu. Alir tidak bermaksud,"
“Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong panggilan nama kamu Alir?”
“Bertadine Anyelir … Ayah dan Bunda memanggilnya Alir, begitupun dengan Papi,”
“Papi?”
“Papi … sutradara Panca Pirmuranggeng,”
“Ah … Panca. Kamu juga pasti sudah tahu siapa Panca, ‘kan?”
Anyelir mengangguk. Janu menceritakan semuanya sampai detail, Anyelir jadi mengenal sosok Papi yang tidak diketahui banyak orang. Sosok penyayang yang tidak pernah mahal untuk memberikan perhatiannya pada orang terkasih, sekalipun tidak ada kaitan darah diantaranya.
“Dulu Janu sering dipanggil dengan sebutan ‘Genta’, itu adalah panggilan khusus dari Ayahnya. Begitu pun juga Panca, sampai akhir hayatnya dia selalu memanggil Janu dengan sebutan itu untuk sesekali mengingat kasih saying Ayahnya,”
“Maaf, Ibu … kalau boleh tahu Ayah Ja-janu …"
“Kanker paru-paru.” Ander menghela napas berat. ANyelir merutuki mulutnya yang selalu bertindak tanpa bertanya pada otak, ia takut menyinggung Ander, tapi dilain sisi juga ingin tahu tentang keluarga Janu yang sepertinya lebih baik dari keluarganya, baik secara materi maupun tidak.
“Maat, Ibu …”
“Saya minta tolong sama kamu, Lir.” Ander menarik lengan ANyelir dengan lembut, mengelusnya pelan.”Kamu harus mau jadi pengingat Janu, ya? Bimbing dia untuk tidak terlalu memaksakan diri dan menjadi pekerja keras, jangan terlalu bekerja berlebihan dan mengorbankan segalanya untuk pekerjaan,”
Anyelir terdiam, berat rasanya menelan saliva. Apa yang dikatakan Ander memang sesuai kenyataan. Hampir enam bulan Anyelir bersama Janu, menghabiskan hari-hari bekerja dengannya. Janu bagi Anyelir seperti robot, benar-benar bekerja tanpa henti, sebab karakternya yang perfeksionis selalu menginginkan kepuasan lebih atas apa yang ia kerjakan. Sampai lupa tidur, makan, dan istirahat lainnya.
“Tapi Janu memang seperti itu, Bu.”
“Darah Ayahnya mengalir kuat di tubuh Janu, menjadi seorang pekerja keras dan perfeksionis. Kita mendapatkan penghasilan dari capaian itu, tapia pa gunanya bila kesehatan dan diri sendiri yang harus dikorbankan,” Ander terdiam sejenak, nampak dari raut wajahnya wanita itu berat untuk melanjutkan apa yang ingin disampaikan.
Tapi rasanya perlu untuk mengingatkan Anyelir tentang masa lalu yang tidak boleh terulang kembali. “Ayah Janu mengidap kanker paru-paru sejak lama, tapi ia tak pernah menyadari, enggan untuk pergi ke dokter sampai terus bekerja sampai titik dimana penyakitnya semakin parah karena tidak pernah diobati.”
Anyelir turut menggenggam tangan Ander, mengelus-elusnya pelan seolah menyalurkan sedikit dorongan semangat guna meyakinkan Ander bahwa masa lalu itu tidak boleh terulang kembali. “Alir bakal berusaha untuk selalu mengingatkan Janu, Bu … Ibu jangan khawatir lagi, ya? Ada Alir.”
“Saya sangat bersyukur Janu mendapatkan kamu,”
Anyelir mengerutkan dahinya. “Kenapa?”
“Hati Janu itu keras, sulit terbuka untuk orang lain. Bukan pada wanita saja, tapi juga dengan rekan-rekan kerja kantornya, ia terlalu penyendiri dan malas bergaul. Tapi Bersama kamu … saya melihat sisi lain dari Janu yang begitu hangat.” Ander mengelus-elus kepala Anyelir, tersenyum begitu pulas.
Dari manik matanya terpancar jelas bahwa wanita itu tidak menyembunyikan sedikitpun keraguan pada Anyelir, benar-benar tulus menyayangi gadis itu.
“Kalau kamu berhasil membuka pintu hati Janu, berarti kamulah pemenangnya,” lanjut Ander.
“Pemenang apanya?” Janu yang baru muncul dengan rambut basahnya mengerutkan dahi bingung. “Ngomongin apa, sih? Serius banget!”
“Rahasia, dong! Urusan para wanita,” ledek Ander sembari berdiri menghampiri Janu, merapikan kemeja putranya agar semakin terlihat tampan di depan sang kekasih. “Udah … sana anterin Alir pulang, nanti Bunda sama Ayahnya marah loh sam kamu!”
“Alir? Sejak kapan Ibu panggil Berta Bee dengan sebutan itu?”
“Berta Bee itu … buat panggilan fansnya dia. Ibu bukan fans Alir, Ibu mulai sekarang jadi Ibunya Alir, jadi itu panggilan sayang Ibu,”
Anyelir tersenyum lebar melihat dukungan yang begitu tulus dari Ander, ia merasa bersalah telah overthinking semalaman hanya karena takut tidak diterima di keluarga Janu.
Pasalnya saat Ander menghadiri acara gala premiere sifatnya mirip seperti Janu, memasang tampang datar meski berpapasan dan menyapa orang yang dikenal. Juga terlihat banyak diam dan enggan bersosialisasi, kebiasaan Janu menurun dari Ander rupanya.
“Yasudah, kalua begitu saya antar … ALIR pulang dulu, ya, Bu?” Janu menyalami Ander dan mengecup pelan punggung tangannya.
“Eh?” Anyelir terkejut.
“Boleh, ‘kan? Saya panggil kamu Alir? ‘kan saya sayang sama kamu, saya pacarnya … pemenangnya!” kekeh Janu sambal berjalan terlebih dahulu. Anyelir hanya bias tertawa mendengar celotehan gemas dari Janu.
“Alir pulang dulu ya, Bu.” Anyelir menyalami Ander dan dibalas dengan pelukan hangat. “Makasih atas jamuan dan perhatiannya,” lanjut Anyelir lembut
.
“Hati-hati, ya?” Ander mengelus pelan pucuk kepala Anyelir. “Ingat pesan ibu juga, ibu percaya sama kamu.”
“Pasti,” ucap Anyelir yakin.
“Berasa saya anak tiri di sini!” celetuk Janu yang tengah berdiri memasang wajah kesal di ujung tangga.
**
Mobil Janu sudah berhenti dengan cantik tepat di depan pintu Anyelir, memang kebiasannya seperti itu. Meski satpam Anyelir seringkali datang dan menegurnya, Janu tetap ngeyel untuk mengantar Anyelir sampai depan pintu agar lebih dekat katanya. Lelaki itu melepas sabuk pengaman, kendati menoleh ka arah Anyelir seolah ingin mendiskusikan satu hal.
“Lir … boleh saya tanya sesuatu?”
“Kamu jadi suka manggil aku dengan sebutan itu, ya?” goda Anyelir.
“Kan saya sayang sama kamu,” ucap Janu dengan wajah datar.
“Udah … udah, kamu mau tanya apa?”
Janu menarik lengan Anyelir, menggenggamnya erat dengan mata menatap lekat ke arah Anyelir tanpa berkedip yang Nampak semakin berbinar juga cantik. Iris hazel Janu sangat indah saat terkena sinar cahaya itulah yang membuat Anyelir candu dengan tatapannya.
“Hal apa yang paling kamu benci di dunia ini?”
“Kebohongan,” ucap Anyelir cepat.
“Kenapa?”
“Karena dengan berbohong, artinya kamu sudah tidak lagi menghargai ketulusan dan rasa percaya pasanganmu sendiri,”
Janu nampak mengangguk paham. “Selain itu?”
“Tidak terbuka, aku paling nggak suka saat kamu menyelesaikan segalanya, mengorbankan diri kamu sendiri tanpa terbuka pada orang lain. Setidaknya jika mereka tidak membantu, mereka punya telinga untuk mendengar,”
“Jadi … apapun itu harus aku ceritakan sama kamu?”
Anyelir menggeleng kencang, soal urusan seperti ini Janu nampak kurang mengerti. Ia teringat saat Aruna bercerita bahwa sikap Janu yang aneh seperti itu karena kurangnya sosialisasi dan mau dimengerti. Janu menolak hal itu, menolak orang-orang yang silih berganti untuk memberikan kasih sayang dan pengertiannya pada diri sendiri. Mungkin, dengan adanya Anyelir lelaki itu mau merubah hal tersebut, hal di mana secara lambat laun akan menghantarkan Janu pada jurang rasa sakit.
“Bukan apapun. Tapi hal yang menyangkut aku … kamu … orangtua … dan hubungan kita, tak ada salahnya kamu membagi beban itu sama aku,”
Janu kembali mengangguk. “Ada lagi?”
“Tidak percaya,”
“Saya percaya pada Tuhan, Lir.”
“Bukan itu maksud aku.” Anyelir menggeplak lengan Janu, padahal ia sudah serius sekali mengenai pembahasan kali ini. “Aku bakalan sangat sakit hati kalau kamu tidak mau percaya sama aku,”
“Contohnya?” Janu masih sedikit kebingungan dengan semua itu.
“Nanti juga ada masanya kita melewati hal-hal itu,”
Janu mengerutkan dahi. “Kenapa harus ada? Saya tidak setuju sama kamu, memangnya kamu pengen banget berantem sama saya?”
“Astaga Janu … bukan itu maksud aku,” gemas sendiri Anyelir dengan Janu yang lamban soal strategi dunia percintaan.
“Hidup kita iitu seperti roda yang berputar, dan nafsu sebagai pengendalinya. Saat kamu sedang berada di atas, ucapkan terimakasih pada nafsu yang berhasil kamu kendalikan sampai kamu menjadi paham. Saat kamu berada di fase tertindas, jangan salahkan orang lain … bisa jadi kamu tidak mampu mengendalikan nafsu,”
“Tolong ingatkan saya, karena saya tidak ingin menjadi orang yang kamu benci. Itu adalah ketakutan terbesar saya dalam hidup,”
Anyelir mengangguk paham. Kini ia tersenyum menatap Janu, ia juga ingin tahu tentang perasaan Janu dengan pertanyaan-pertanyaan yang serupa. “Kalau kamu? Apa yang kamu benci di dunia ini?”
“Penyesalan.”
“Kenapa?”
“Karena penyesalan adalah hukuman terberat yang membuat dunia seolah menertawakan kebodohan saya."