Bab 63 - Anyelir Mulai Dicurigai

2193 Kata
Brakk! Pintu ruangan Aruna tiba-tiba terbuka lebar dengan seorang lelaki berdiri di ambang nya sembari mengepalkan tangan. Napas yang memburu seperti baru saja berlari mengejar pencuri di tengah jalannya hiruk-pikuk ibukota menaik turunkan bahu. Wajah Janu merah, benar-benar terlihat marah. Usai menutup pintu rapat tanpa basa-basi Janu langsung menghampiri Aruna, menarik kerahnya penuh amarah. "Jangan mengarang cerita!" bentak Janu tepat di wajah Aruna. Dari sorot mata yang saling terlempar tajam membuat Aruna gemetar takut. Janu dalam mode harimau kelaparan, peluh yang berkeringat sudah menandakan bahwa apa yang dirasa benar sedang tidak baik-baik saja. "Me—mengarang cerita apa?" "Apa yang kamu ceritakan pada Anyelir?!" Aruna yang merasa tercekik juga ketakutan setengah mati, mendorong tangan Janu yang melekat kuat di kemejanya dengan kedua tangan tapi tak ada pergerakan sama sekali, tenaga Janu benar-benar kuat. "Bi—bisa le—lepasin … dulu nggak, Pak? Ki—kita ngomong baik-baik aja, ya?" "Sial!" Janu melapaskan cengkraman pada Aruna dengan kasar, persetan dengan hubungan kerja dan pelanggaran kontrak segala macam. Emosinya sudah tak lagi terbendung, bahkan dari setiap lekuk otot-ototnya saja Janu benar-benar seperti gunung merapi yang akan meletus. Lantas menyugar rambutnya kasar, Janu menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan Aruna. Semua ruangan pekerja A3 memiliki sofa dan meja kerja, biasanya sofa berguna untuk menerima tamu atau berdiskusi dengan pekerja lain. Kini Janu yang mengisi, sebagai tempat untuk sedikitnya meredakan emosi, walau tak berpengaruh sedikit pun. Aruna dengan penuh gematar bahkan saliva pun rasanya berat untuk ditelan, terduduk dengan limbung memegangi setiap jengkal sofa seolah bergoyang akan roboh. Menatap wajah Janu saja tak berani apalagi melempar tatapan dengan tingkat ketajaman seperti burung elang. Belum lagi Aruna takut sekali untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu, ia membiarkan Janu bertanya kepadanya daripada harus mulai menjelaskan. "JAWAB ARUNA!" Janu berteriak. Benar saja akan semenyeeamkan ini. "Da—darimana, Pak?" gugup Aruna. "Kamu siapa Aruna? berani menceritakan masa lalu saya pada Anyelir! buat apa? agar saya bertengkar dengan dia?!" Janu tak menurunkan nada tingginya sedikitpun, geram sekali rasanya. "Nggak gitu, Pak maksud saya. Berta Bee nanya sama saya jadi saya jawab," "Itu 'kan masalah saya! Kamu tinggal bilang pada Anyelir 'tanya langsung pada orangnya'. Saya nggak suka kamu ikut campur urusan saya!" "Tapi apa Bapak bakal menjawab jujur?" entah datang darimana keberanian Aruna berkata demikian, dalam kenyataannya Janu juga harus sadar bahwa ia tidak boleh terus-menerus menyembuyikan kenyataan tentang masa lalunya. Seolah Anyelir tidak penting dan tidak boleh tahu tentang hal yang menimpanya dulu, Janu selalu berbohong pada Anyelir dengan alasan bukanlah hal yang perlu di bahas. "Peduli apa kamu dengan kejujuran saya, ha?!" kali ini Janu malah melotot, siapa yang tidak menciut mentalnya dengan keganasan Janu saat marah. Aruna berusaha mengatur napasnya untuk tenang. "Pak … maaf, tapi ini yang terjadi kalau Bapak nggak terbuka sama Berta Bee, Pak … dia berhak tahu masa lalu Bapak!" "ITU URUSAN SAYA ARUNA!" Janu berteriak membuat Aruna mengerjapkan mata terkejut. "Saya mau terbuka atau enggak itu urusan saya! memangnya kamu tahu apa tentang saya dan masa lalu saya? semuanya?! siapa yang menceritakan? Bella, ha?! kamu pikir apa yang Bella ceritakan sesuai dengan cerita saya?!" "Ma—maaf, Pak … tapi … tapi kapan, Pak?" "Saya butuh waktu, Aruna! Bukan perkara mudah mengingat kejadian masa lalu!" Masih merunduk dengan tangan yang sesekali di tekan-tekan sampai berbunyi seperti sendi yang bergeser, Aruna seperti diinterogasi kedapatan mencuri. "Saya cuman kasihan aja sama Berta Bee, Pak … dia kelihatan putus asa karena Bapak … Bapak seolah menutup diri." "Kalau kamu terluka, untuk menyembuhkan bagian yang terlapisi plaster apa kamu langsung obati tanpa membuka plasternya terlebih dahulu?!"Janu menatap lekat ke arah Aruna, menginterupsikan pada Aruna untuk balik menatapnya. Aruna menurut meski takut. "Dibuka dulu plasternya, Pak," jawab Aruna ragu. "Sakit nggak?! gimana kalo plasternya menempel pada luka? kamu pikir itu nggak sakit? pakai otakmu, ARUNA!" "Maaf, Pak … saya cuman bilang ke Berta Bee kalau Bella dan Bapak punya hubungan di masa lalu." "CUMAN NYA KAMU ITU BERDAMPAK SAMA HUBUNGAN SAYA, ARUNA!" "Ma—maaf… maafkan saya, Pak." Kepala yang tertunduk menandakan bahwa Aruna merasa bersalah atas tindakan gegabahnya. Janu benar, hanya karena Anyelir memohon bukanlah satu alasan untuk membeberkan masa lalu Janu. Sebab ada masa tertentu yang sudah disiapkan Janu namun belum saatnya tiba. "Saya jadi bingung," nada Janu melembut, terkesan lirih juga tersirat rasa sakit. Kali ini Aruna berani mendongak lagi, Janu sudah bukan terlihat seperti harimau sekarang. Malah kacau, benar-benar berantakan seperti anjing jalanan yang kehilangan pemiliknya. Lelaki itu bersandar pada sofa menatap nanar ke arah langit-langit ruangan Aruna. "Kenapa, Pak?" "Yang egois itu di sini saya … Bella, kamu atau Anyelir?" "Ma—maksudnya, Pak?" Janu bangkit, berdiri tegak sembari menoleh pada Aruna dengan tatapan yang kental akan kepedihan namun berusaha disembunyikan. "Kalian hanya tahu saya terluka, tanpa peduli bagaimana saya menyembuhkannya!! PERSETAN DENGAN KEJUJURAN!!!" Janu langsung beranjak dari hadapan Aruna tanpa pikir panjang, bahkan tangannya masih terkepal kesal membuat Aruna semakin merasa bersalah. Baru kali ini Aruna melihat Janu benar-benar dikuasai oleh amarah sampai hampir melayangkan satu pukulan. Janu pasti frustasi dengan marahnya Anyelir, pikir Aruna. *** Di satu siang yang panas, Anyelir harus mengadakan pertemuan dengan seorang CEO dari salah satu produk shampo ternama di kota ini. Batari memintanya untuk berkunjung di café dekat lokasi syuting Anyelir sebab mereka baru selesai mengambil puluhan scene dengan durasi syuting hampir dua puluh jam non-stop. Anyelir sudah tak karuan dengan perasaannya, antara mengantuk, lelah, lapar, gerah, juga stress oleh Janu. Terhitung sudah tiga hari setelah pertengkaran itu Anyelir menjauh dari Janu, panggilan ditolak, kedatangan Janu ke agensi diusir satpam, bahkan tidak ada satupun yang berani memberitahu lokasi tempat Anyelir syuting agar Janu tidak mengganggu. Anyelir belum memikirkan itu, bukan tak ingin tapi rasanya seluruh raga Anyelir saja terasa remuk sampai ekspresi pun tak berbentuk. Tapi Janu justru diam, seolah tidak mencari kabar dan keberadaan Anyelir akhir-akhir ini. Anyelir terduduk di lantai dua sebuah café vintage bernuansa musim panas yang banyak dihiasi dengan tumbuhan hijau, terduduk paling ujung dekat hamparan jendela menghadap jalan raya sembari bersandar meregangkan tubuhnya yang kaku juga kantuk yang berkuasa. Sementara Batari masih berada di lantai bawah untuk memesan dan melakukan transaksi makanan, perut Anyelir sudah kontraksi minta diisi dari beberapa jam yang lalu. Sengaja Batari meminta janjian satu jam lebih lambat agar mereka berdua setidaknya diberi waktu untuk bernapas, ya, menghabiskan makan sambil istirahat sejenak. Sebetulnya yang membutuhkan itu adalah Anyelir sebab Batari baru saja bangun dari mimpinya. Tertidur lelap di ruang make up bersama manusia kembar Abra dan Cadabra. Padahal Anyelir benar-benar kerja keras sampai rasanya ingin mati. Disela-sela bersantainya menunggu Batari, juga saat dunianya akan ditarik dalam alam bawah sadar tiba-tiba dua orang berjenis kelamin berbeda muncul dan menyapa Anyelir. "Berta Bee?" suara laki-laki yang terdengar lebih dahulu. Padahal Anyelir sudah paket komplit memakai topi juga masker sebab wajahnya sedang tidak terlihat cantik menurutnya, tapi tetap saja ada yang mengenali. Tidak ingin mengecewakan fans, Anyelir membuka maskernya seraya mendongak dan tersenyum ramah. "Hai …." sapa Anyelir ramah. Lelaki itu malah mengerutkan dahi membuat Anyelir bingung. "Sedang apa?" "Hmm?" Anyelir heran, alih-alih fans itu mengajaknya berfoto atau meminta tanda tangan malah menanyakan keberadaan Anyelir. "Saya? di sini?" "Iya … sibuk atau enggak?" "Saya mau ada meeting di sini, kenapa kamu bertanya?" Anyelir berbicara formal membuat lelaki juga wanita itu mengerutkan dahi bingung. "Ada yang mau saya sampein, Bee ... soal Pak Janu … tapi nanti aja saya telepon." Lelaki itu menyunggingkan senyum, tentu Anyelir malah semakin bertambah bingung. "Janu?! tunggu … soal apa? dan telpon? Ka—kamu punya nomor saya?! kok bisa??" Anyelir bertanya bernada takut juga was-was, bagaimana tidak? seorag penggemar memiliki kontak pribadinya? bagaimana kalau itu disebarkan secara mudah? atau dijual ilegal? Anyelir bisa kembali diteror oleh nomor tak dikenal. "Emang kamu ganti nomor lagi?!" sungguh situasi yang benar-benar aneh. "Aruna!" teriak Batari yang baru tiba usai menaiki anak tangga memecah suasana aneh yang terbilang benar-benar membingungkan, Anyelir yang baru menyadari bahwa lelaki dihadapannya ini adalah Aruna mengumpat dalam diam. Mengepalkan tangan sembari kembali menurunkan topinya karena merasa malu. Apa Aruna bakal curiga? Pantas saja meski Anyelir memaki masker juga topi tetap saja dapat dikenali sebab itu Aruna, tapi sungguh Anyelir tidak bisa mengetahui betul bagaimana ciri-ciri khusus Aruna apalagi bertemu di luar kerjaan seperti ini. Beruntung ada Batari, jika tidak Anyelir sudah tamat dengan berbagai pertanyaan memojokkan. Batari yang sudah tiba tersenyum dan baru menyadari bahwa yang berdiri di samping Aruna adalah Bella. "Eh … penulis Bella, hallo." Batari menyapa Bella dengan tulus. Anyelir kembali melotot, apa mereka berdua akan curiga? Apalagi Aruna datang kemari bersama Bella, bisa semakin rumit nantinya kalau mereka bercerita pada Janu. Anyelir belum siap untuk semuanya. "Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Batari kembali memecah kecanggungan. "Ah … enggak, saya cuman nyapa aja … kebetulan kita mampir buat makan di sini karena ada projek di sekitar daerah sini juga," jelas Aruna. "Ja—nu? I …kut?" Batari bertanya terdengar ragu-ragu, itupun setelahnya mendapat pelototan tajam dari Anyelir. Anyelir sendiri tidak munafik, jujur saja ia ingin tahu keberadaan Janu sekarang sebab rasanya beberapa hari tidak berjumpa rindu itu berkuasa sampai menuju titik di mana ingin mengabari tapi gengsi, ingin bertemu tapi masih punya rasa malu. Rasanya Anyelir benar-benar frustasi kalau Janu menghilang seperti itu, seolah membiarkan Anyelir bertanya-tanya terhadapnya. "Tidak. Dia sedang ada pertemuan di Malang," sahut Bella menjawab, terlihat Aruna menyikut pinggang Bella seperti pertanda bahwa hal itu tidak peru diceritakan pada Anyelir. Anyelir dan Batari saling melempar tatapan. Malang? Oh ayolah apakah sulit rasanya mengirim pesan kepada Anyelir bahwa Janu akan pergi ke Malang? Kenapa tidak ada sedikitpun pembahasan dan informasi, meski Anyelir sedang dalam mode marah dan ingin menjauh tapi komunikasi itu penting bukan? Janu keterlaluan, semakin membuat Anyelir bertambaha geram. "Emh .. Berta Bee kalau begitu saya permisi … maaf menggangu, silahkan dilanjut." Aruna tersenyum kikuk nampak merasa bersalah setelah menyaksikan ekspresi Anyelir yang berubah drastis. Menarik lengan Bella dengan paksa sembari menjauh dari tempat duduk Anyelir. "Malang, Tar! Malang!" Anyelir memutar bola matanya malas, bahkan ia bersedekap dengan napas yang memburu kembali emosi. Anyelir yang menjauh, Anyelir yang marah, Anyelir juga yang rindu, tapi Janu? Oh biasa saja seperti tidak ada masalah apa-apa malah pergi ke Malang tanpa sepengetahuan Anyelir sedikitpun. Coba pikirkan hal apalagi yang akan Janu sembunyikan nantinya. "Lebih tahu asistennya daripada pacarnya!" "Sabar, Lir. Siapa tahu dia canggung mau ngasih kabar ke lo … lo 'kan lagi dalam mode ngambek," Batari berusaha melerai dan menenangkan Anyelir agar tetap waras. Jangan sampai Anyelir menjerit-jerit dan menghancurkan setiap soda kaleng seperti yang dilakukannya beberapa hari lalu di kantor. "Apa salahnya ngetik?! nggak bikin dia mati juga 'kan, Tar?!" Skakmat kalau sudah begini, lagipula Janu keterlaluan benar-benar sulit untuk dimengerti juga terlampau tidak peka. Entah karena kurang berpengalaman atau bagaimana, Janu sungguh cuek bin bodoamat dengan semua ini. Di suruh menjauh benar-benar menjauh tak ada niatan memaksa dan minta maaf, memberikan penjelasan atau apapun itu. Di mata dua sahabat ini Janu benar-benar menyebalkan. . Sementara di meja sebelah, lebih tepatnya Aruna dan Bella tengah menyusun beragam macam pertanyaan yang muncul. Gelagat Anyelir juga pertanyaan yang terlontar tadi terlampau di luar nalar. Anyelir seolah tidak mengenal Aruna, bahkan saat Aruna membicarakan telepon gadis itu ketakutan seperti rahasia yang mau terbongkar. "Kamu juga pasti merasa aneh, 'kan?" Bella bertanya dengan nada yag cukup kencang membuat Aruna panik takut-takut terdengar oleh Anyelir. "Pelan-pelan ngomogngnya!" "Why? Nggak akan kedengeran lah, jauh dari ujung ke ujung!" Aruna terdiam kembali, Anyelir bersikap biasa benar-benar mengenal Aruna saat Batari muncul dan memanggil namanya. Tiba-tiba perkataan Janu melintas dibenaknya. Anyelir seperti tidak mengenal Bella. Pada saat itu Aruna beranggapan bahwa Anyelir lupa, mungkin karena baru bertemu Bella beberapa kali saja. Tapi Aruna? mustahil Anyelir lupa dengan Aruna yang notabene begitu kenal dekat dengannya. "Sudah berapa lama kamu kenal dia? I mean … dia kenal kamu?" "Mungkin satu tahun … saya udah sering satu projek dengannya." Aruna mengerutkan dahi benar-benar ini membingungkan. "WHAT?! SATU TAHUN?" Bella sendiri terkejut dengan yang diucapkan oelh Aruna, mustahil orang melupakan seseorang yang sudah dikenal hampir satu tahun lebih. Ribuan pertanyaan saat ini langsung menyerbunya satu-persatu. "Iya … ini aneh," Bella menatap meja Anyelir yang jaraknya memang agak jauh dari ujung ke ujung, belum lagi terhalang dengan beberapa meja yang terisi oleh pelanggan lain menyantap pesanannya. "Apa dia memang sering seperti itu?" tanya Bella berusaha memecahkan berbagai macam teka-teki di otaknya. Aruna mengerutkan dahi berusaha berpikir, namun kemudian ia mengangkat bahunya. "Entahlah saya tidak terlalu memperhatikan, tapi memang di media itu banyak rumor tentang dia yang dicap sebagai artis sombong." "Maksudnya ... sombong dalam artian malas untuk menyapa orang lain?" "Sepertinya gitu, padahal saya sama Berta Bee terbilang dekat." Aruna yang menekuk wajahnya justru memikirkan hal lain, bukan Anyelir yang aneh. Tapi bisa jadi gadis itu sama seperti Janu, marah padanya karena mencampuri urusan hubungan orang lain. Makanya, Anyelir terlihat aneh dan malas untuk menyapa. Janu juga seperti itu, ia banyak menghindar dari Aruna, bahkan untuk perkara pergi ke Malang saja Aruna tidak tahu Janu menyelesaikan urusan apa. "Something wrong, Aruna ... dia sebetulnya tidak sombong." Bella menyeringai, sebab satu keanehan menimbulkan kesempatan lain untuk dirinya sendiri. Jika benar dugaannya, maka ini bisa menjadi satu kelemahan Anyelir yang dapat Bella lumpuhkan untuk membuat hubungan keduanya semakin renggang. I like it!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN