Anyelir berlari sekuat yang ia bisa, tentu dengan high heels yang menggema di seujung koridor. Janu masih mengikuti, sialnya lelaki itu seolah tidak peduli dengan kerumunan orang yang akan mengira mereka sedang kedapatan masalah. Padahal memang begitu kenyataannya, hanya saja Anyelir malas kalau sampai permasalahan pribadinya harus diumbar ke publik. Janu memang sulit diajak profesional.
Gadis yang masih membawa kotak bekal itu masuk ke dalam lift, tak mau kalah Janu juga menguntit Anyelir sebab pembicaraan belum selesai tapi Anyelir malah memilih untuk pergi. Ada dua orang karyawan lagi di dalam tabung berlapis baja ini, Janu tidak akan berani bertindak sebab Anyelir melototinya. Itu adalah keberuntungan bagi Anyelir tersendiri.
Sial, mereka hanya turun satu lantai artinya akan menyisakan Janu dan Anyelir. Perang kembali di mulai.
"Lir ... tolong lah," pinta Janu memelas, ia hanya butuh di dengar minimal sepuluh menit saja atau lima menit juga cukup untuk menjelaskan bahwa yang terjadi bukanlah berdasarkan pandangan Anyelir.
"Jangan ajak aku ngomong, jangan kejar aku ... KARENA KITA BAKAL JADI PUSAT PERHATIAN, JANU!" Anyelir berteriak dengan emosi yang belum sempat diredakan.
"Ya terus gimana? kenapa saya harus diam di saat hubungan saya kacau hanya karena kesalahpahaman?!"
"Kenapa juga kamu harus bertindak?! sedangkan kebohongan itu terlihat nyata!"
"Minum-minum itu adalah hal yang wajar di dunia entertainment, Lir!"
"Wajar karena kamu pernah punya hubungan dengan Bella di masa lalu!"
"Lir?" Janu terdiam seketika, rasanya seperti ada ombak yang menghantam seluruh tubuh Janu, menariknya langsung ke tengah lautan. Janu tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oekh Anyelir, sesuatu yang disembunyikan juga tak sedikitpun Janu berniat menjelaskan. Anyelir tahu.
Pintu lift terbuka, Anyelir langsung beranjak tanpa mau lagi berdebat dengan Janu. Sungguh raga dan hatinya sudah lelah dengan banyaknya kebohongan yang Janu tutupi.
"Pembohong!" umpat Anyelir sebelum benar-benar meninggalkan lift.
"Lir ... Anye—" Janu tidak berani berteriak, sebab area lobby ini benar-benar ramai sekali. Banyak kalangan artis dan agensi-agensi lain, sebab salah satu produser mengundang beberapa pihak untuk screening sebuah web series dari aplikasi yang baru diluncurkan.
Anyelir berjalan sedikit cepat, menuju pintu keluar, ia menanyai satpam untuk memohon dipesankan taksi. Karena tidak mungkin juga Anyelir berjalan ke pinggir jalan raya menunggu taksi lewat, bisa dikerumuni orang-orang.
Saat satpam beranjak, Janu mencekal tangan Anyelir cukup kuat. "Biar saya antar."
"Nggak usah!" Anyelir menghempaskan tangan Janu.
"Lir ... bahaya,"
"Bodo!"
"Kalau kamu diculik nanti gimana? terlalu bahaya kamu naik taksi tanpa masker tanpa topi." Janu kembali meraih tangan Anyelir.
"Bodo amat!"
"Anyelir!" bentak Janu sukses membuat beberapa satpam menoleh kepadanya.
Taksi yang dipesankan satpam tadi sudah tiba, membuat napas Anyelir melega. Berada di dekat Janu membuatnya semakin sesak, sebab Anyelir harus menahan tangis. Berusaha terlihat datar dan biasa saja seolah tak terjadi apa-apa diantara keduanya jauh lebih pedih daripada tergores duri kaktus.
Sebelum masuk menuju taksi, Anyelir menoleh pada Janu dengan melemparkan tatapan tajam. Api-api perang masih terlihat nyata di sana, Anyelir menyimpan amarahnya sebab takut timbul hal-hal tak terduga yang akan melibatkan wartawan nantinya. Bisa-bisa pertengkaran ini booming sampai ke penjuru negeri.
"Nggak usah bentak-bentak!" Bisiknya pelan, tepat di hadapan wajah Janu benar-benar sarat akan penekanan.
Janu terdiam sesaat, namun ia segera menyadari Anyelir tidak akan seaman itu naik taksi umum. Ia berlari menuju basement untuk mengambil mobilnya, mau bertengkar sehebat apapun Janu harus menyelesaikannya saat ini. Tak ada waktu sebab ia harus pergi ke Washington, Janu benci jika pertengkaran ini terbawa ke tempat kerjanya nanti.
***
Taksi yang dikendarai Anyelir berhenti di gedung agensinya—BA Entertainment. Keadaan di sana benar-benar ramai, usai membayar si supir taksi Anyelir sadar bahwa Janu mengikuti maka ia bergegas untuk berlari masuk ke dalam. Dengan kekuatan ekstra yang entah datang darimana seolah Anyelir mampu melangkahkan kaki seperti kelinci, benar-benar lincah.
Satpam yang mengenal baik Anyelir menyapanya dengan sopan, Anyelir punya satu ide. Lantas ia berhenti mendekati seorang lelaki paruh baya berseragam itu yang sudah berusia sekitar menginjak angka lima puluh.
"Pak!" Anyelir yang ngos-ngosan berhenti sembari celingak-celinguk memastikan bahwa Janu belum tiba.
"Kenapa Bu Berta? ada yang bisa saya bantu?" Anyelir di agensi benar-benar sangat dihormati, wajar sebutan itu melekat di tubuhnya.
"Tahu sutradara Janu Jiwa, 'kan?!" Anyelir bertanya nampak buru-buru.
"Pacarnya Bu—"
"Iya itu pokoknya!" Potong Anyelir cepat, malas ia mendengar kata pacar terlontar saat keadaan sedang rumit-rumitnya. "Jangan biarin dia masuk, pokoknya alasan apapun jangan biarin dia masuk!" tegas Anyelir.
"Tapi Bu—"
"Mau nurut sama saya, 'kan?!" Anyelir menoleh ke belakang, sebab mobil Janu sudah tiba.
"I—iya Bu Berta,"
Gadis itu menepuk pundak sang satpam seraya tersenyum singkat. "Thanks!"
Kembali berlari, memasuki lift untuk menuju lantai paling atas tempat seorang direktur singgah. Di lantai itu bukan hanya tempat Bane saja sebagai direktur utama, tapi bagian luarnya ada ruangan Batari juga Anyelir yang dibuat khusus tanda bahwa mereka bertiga yang benar-benar mendirikan agensi ini secara amatir.
Saat pintu lift terbuka, Anyelir segera bergegas menuju ruangan Batari. Gadis itu tengah bersantai sembari menikmati sekaleng minuman bersoda favoritnya. Anyelir yang datang dengan napas memburu juga jantung yang berdebar kencang, amarah yang memuncak lantas merenggut minuman kaleng milik Batari tanpa permisi, tentu saja membuat si empu berteriak.
"Heh! Heh! Punya gue!" Batari hendak mengambil minuman berkalang merah yang baru disentuh setengahnya, tapi Anyelir seperti kesetanan langsung menghabiskan sampai tandas. "Woy ... woy ... i—itu heh! pelan-pelan!"
Batari melotot sebab Anyelir benar-benar menghabiskan minuman soda miliknya. "Lo! Ih ... jangan diabis—" Batari tidak jadi protes sebab matanya melotot kembali, mulutnya yang setengah terbuka berusaha ditutupi dengan menggunakan tangannya.
Bagaimana tidak? kaleng yang digenggam Anyelir diremuk sampai benar-benar hancur lantas Anyelir lempar ke tong sampah. Seluruh emosinya tersalurkan ke sana, sampai tak sadar membuat Batari hampir kena jantungan atas tindakannya barusan.
"Lo kenapa, sih?!" Batari baru berani bertanya pada Anyelir, sebab gadis itu datang dengan buru-buru merenggut minuman Batari sampai meremuknya. Belum lagi kotak bekal yang dibawa seharusnya diberikan pada Janu malah masih utuh seperti tidak tersentuh.
"Gue mau libur hari ini! nggak mau syuting!"
"Eh ... eh! Gimana-gimana maksdunya, Bu?" Batari berbicara dengan nada lembut, seperti sales yang membujuk dengan menawarkan barang. "Ibu mau bikin saya mati muda atau gimana, ya?"
"Pokoknya gamau!"
"Eh, Lir! yang serius dong, terus gue harus kasih alasan apa ke Pak Cahyo?!" Hari ini memang seharusnya Anyelir menghadiri jadwal syuting dari sore sampai dini hari, sepanjang itu. Pak Cahyo sendiri yang menyutradarai series Anyelir, beliau salah satu sutradara kawakan yang terjun dalam dunia per-seriesan.
"Berta Bee nggak bisa syuting, soalnya lagi dikejar-kejar setan!" Anyelir mengarang cerita sembari duduk di sofa milik Batari, lelah rasanya ia habis berlarian ke sana ke mari seperti orang gila.
"Setan? setan apanya, sih?!"
Tiba-tiba ponsel Batari yang disimpan di atas meja kerjanya berbunyi, takut sutradara Cahyo menelpon dan memarahinya, Batari langsung menyambar ponsel itu. Rupanya nama Janu tertera di sana. "Janu ini nelpon, Lir?"
"Nah 'kan! tuh setannya lagi ngejar-ngejar!" teriak Batari.
"LO GIL—arghhhh Anyelir!" Batari segera menarik tombol hijau frustasi, menerima panggilan dari Janu. Seperti dalam keadaan terdesak Janu nampak marah-marah.
"TARI!" teriak Janu dari seberang sana. "Biarin saya masuk, Tar! Ini kenapa satpamnya larang-larang gini?!"
"Hah? Dilarang satpam?!" Batari berlari ke arah jendela yang berada tepat di belakang meja kerjanya, dari sana dapat terlihat pemandangan yang terjadi di bawah, tepatnya pintu masuk BA entertainment. Benar saja, Janu yang emosi sembari memegang telepon sedang memaksa untuk menerobos masuk.
"Kalo lo berani nyuruh dia masuk, gue nggak akan kerja selama sepuluh hari!" ancam Anyelir bernada sinis membuat Batari merinding.
Takut akan ancaman Anyelir yang tak pernah main-main, Batari lantas mematikan panggilan dari Janu, ngeri sendiri. Ia menghampiri Anyelir dan terduduk di sampingnya. Menatap gadis itu yang bersandar pada sofa sembari memejamkan mata seolah hari-hari yang berlalu terasa sungguh berat.
"Lir ... kenapa lagi?" tanya Batari hati-hati.
"Mereka mesra-mesraan di ruangan Janu." Anyelir berucap dengan mata yang masih terpejam, modenya saat ini adalah singa, tidak ingin menangis atau menjerit hanya ingin memangsa siapapun yang mengganggu.
"APA?!" teriak Batari. "Dasar p****t gorila ketua RT di New Zealand! upil monyet Zimbabwe! Ketek tringgiling! Janu sialan!!!"
Anyelir melongo mendengar Batari yang mengumpat benar-benar pandai, memang keahlian Batari adalah mengumpat. Tapi ia tak bisa menyaingi profesi itu, Anyelir terlalu polos soal memaki-maki orang.
"Terus-terus gimana?! perlu gue mutilasi atau gue masukin ke kandang harimau?!"
Satu helaan napas terdengar begiru berat, Anyelir malah merentangkan tangannya ingin mendapat dukungan yang hangat dari Batari, sahabatnya yang paham lantas mendekap Anyelir seperti bayi yang hendak menangis. Dari situ pertahan Anyelir pecah, rasanya sakit. Sungguh perih.
Entah mungkin Anyelir yang terlampau egois, enggan mendengar penjelasan dari Janu. Padahal Janu sendiri sudah bersikeras bahwa yang dilihat oleh Anyelir belum tentu benar adanya, tapi rasanya sakit untuk menerima bahwa Janu tidak seperti yang terlihat.
Dari cerita Aruna saja, Janu dengan Bella pernah menjalin hubungan di masa lalu yang sepertinya Janu masih menyimpan rasa. Tapi tak sedikitpun Janu mau bercerita, Anyelir sering kali menyinggung nama Bella untuk menarik perhatian Janu agar terbuka, tapi Janu memang seperti tak ingin membahasnya.
Makan malam yang tak masuk akal, sebab selalu berakhir dengan minum-minum tidak jelas seolah Janu terbawa emosi oleh perlakuan Bella. Tapi Janu tetap menutupi, ia seolah memutus pertanyaan itu menganggap bahwa semua yang terjadi tidaklah penting, juga tidak berkaitan dengan hubungan keduanya. Sebab Janu menganggap itu adalah privasi, tapi Aruna saja tahu kenapa Anyelir tidak boleh tahu? Sebenarnya masa lalu apa yang disembunyikan Janu?
Sampai kapan Janu akan menutupi kenyataan bahwa Bella bukan sekadar rekan kerja yang ditugaskan atas kerjasama? saat ini hubungannya sedang diambang bencana, jika Janu tetap menutupi akan bagaimana nantinya? sungguh Anyelir rasanya muak memikirkan betapa Janu sangat menutup akses dirinya seperti tidak menganggap Anyelir ada.
Sementara Janu yang sudah kewalahan memaksa ingin masuk ke dalam, menghubungi ponsel Batari yang rupanya dimatikan merasa frustasi sendiri. Ia melepas cengkraman tangan satpam yang berusaha menghalau, lantas mundur beberapa langkah dan berbalik menuju mobilnya.
"Minum-minum itu adalah hal yang wajar di dunia entertainment, Lir!"
"Wajar karena kamu pernah punya hubungan dengan Bella di masa lalu!"
Kalimat itu terngiang secara tiba-tiba, Janu mengingat satu hal. Bella tidak mungkin mengajak Anyelir bercerita soal masa lalu sebab gadis itu tidak mengenal Anyelir, hanya satu orang yang dapat secara mudah menceritakan tentang masa lalu Janu. Sebab ia sendiri tak pernah membahas soal Bella saat bersama Anyelir, lagipula untuk apa? pikirnya.
Satu nama terlintas di otak Janu, membuat tangannya terkepal seketika. "ARUNA!"