Bab 6 - Kecelakaan Beruntun

2828 Kata
Langkah tergesa-gesa itu mulai bertambah kian cepat ketika menuruni anak tangga. Bising kendaraan mulai meredup, langit malam kini tenggelam, disambut manja dengan deretan lampu yang berjejer sepanjang jalan. Terang-benderang, namun, sangatlah sunyi dan sepi. Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, pertanda sebuah aktivitas akan segera di mulai. Ya, syuting perdana Anyelir berlokasi di stasiun kereta bawah tanah. Semua orang tahu alasan mengambil shoot di malam hari, tidak lain dan tidak bukan adalah minimnya lalu lalang manusia, lagipula stasiun kereta bawah tanah tutup pukul 20.00 WIB. Seorang make up artis menghampiri Anyelir, menyuruhnya untuk duduk di kursi besi yang berbentuk persegi panjang agar memudahkan lelaki berambut merah terang itu merias kembali Anyelir. "Papi belum datang, Bee," Ucapnya tiba-tiba. Anyelir masih menunduk, mencari-cari sebuah benda di dalam tasnya tanpa menoleh ke arah sumber suara. "Masa sih? Biasanya paling tepat waktu." Kini ia mendongak, membiarkan sang make up artist melakukan tugasnya. Namun, seketika Anyelir mematung. Pria bertubuh tinggi besar mengenakan kaos berwarna orange polos, dua buah hiasan berbentuk kerang ungu menempel di dadanya, hidung mancung terpoles body painting sewarna, mengingatkan Anyelir pada salah satu karakter bernama 'mermaid man' dalam serial kartun sponge kuning. Ia tergelak ketika pria itu memoles bibir Anyelir dengan lip tint berwarna merah muda alami. "Lo kok pake baju begituan sih, Bra?" Pria bernama Cadabra—yang selalu dipanggil 'Bra' oleh Anyelir itu sedikit mendengus. "Ish! Belum kelar ekeu liptongin kamu, jangan bicara dulu!" Carabra menghentakkan sepasang kakinya. Dirasa lucu Anyelir lagi-lagi terkekeh, tingkah Cadabra—make up artis yang terkenal ngondek itu memang menyebalkan, lebay dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh siapapun. Tapi bagi Anyelir, semua itu sangatlah menggemaskan, dan tentunya menghibur. "Ini lagi." Anyelir mencolek-colek riasan kerang ungu yang bertengger tepat di d**a Cadabra. "Kok BH-nya di luar, sih! Hahahaha ..." "Aw ... Aw ekeu dilecehkan!" Jeritnya gemas seraya menutup kedua dadanya dengan posisi lengan menyilang, seperti seorang wanita yang hampir diintip laki-laki saat mandi. "Dih, Mas Cadabra kok genit!" "Heyyyy!" Cadabra menyentil kening Anyelir hingga membuatnya meringis. "Kalo malem jangan panggil Cadabra!" Suaranya melengking seperti wanita. Ralat, lebih tepatnya seperti bunyi sirine. "Terus apa?" "Nyi Gendit Kemuning Larasati Indah Jaya Makmur Sentosa Diningrat!" "Emang keturunan Ningrat?" Cadabra menghentikan aktivitasnya. "Emang pake Diningrat harus keturunan Ningrat?" "Ya Iyah!" Ia memelankan suaranya, "Katanya." Sedikit cemberut Cadabra merapikan bulu mata Anyelir, lalu menyemprotkan setting spray agar make up tipis Anyelir tahan lama."Yaudah nggak usah pake Diningrat! Misi!" "Ngambek, nih?!" Anyelir menoleh, mengamati punggung atletis Cadabra yang semakin menjauh. "Nggak jadi nonton konser Blackpink bareng dong? Bra!" Rupanya ia sengaja menulikan pendengaran, masih setia memunggungi Anyelir sambil berbincang dengan staff lain. "Cadabra! Eh salah ... Nyi Muning! Woy!" "Beneran ngambek dia," gumam Anyelir pasrah. "Cewek kalo ngambek aja ribet. Gimana kalo b*****g, ya, Lir?" pertanyaan Batari yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuat ia tergelak, sedikit cubitan pedas membuat Batari meringis. "Jangan ngaco! Nanti orangnya denger," "Nggak akan ... Lagian udah beres kok make up-nya," Semua make up Anyelir harus terlihat natural, karena ia berperan sebagai gadis miskin. Bahkan setelan pakaian yang dikenakannya saat ini hanya jeans robek di bagian lutut, kaos polos berwarna ungu dengan balutan zipper hitam. Kini giliran bagian rambut yang harus di rapikan. Awalnya gadis itu datang kemari dengan menggerai rambut coklat yang sedikit ikal menggelayut di bagian bawahnya. Namun, seorang lelaki berambut kuning menghampirinya. Batari memberi isyarat untuk berbincang dengan staff dan membiarkan hair stylist bekerja untuk Anyelir. "Kita cepol aja, ya?" Tanya Abra—lelaki ngondek berwajah mirip dengan kembarannya. Ya, mereka kembar seiras—Abra dan Cadabra, diambil dari sebuah trik sulap karena kedua orangtuanya menyukai Charlie Chaplin, katanya. Padahal kalo dipikir-pikir, Charlie Chaplin bukanlah seorang pesulap. Lagi-lagi Anyelir tergelak. Malam sunyi nan dinginnya terasa hangat hanya karena sepasang saudara kembar berpakaian absurd. Lihat saja Abra sekarang, kaos polos berwarna merah berbalut syal biru di bagian leher, celana hitam yang terlalu pendek hingga di atas betis tak membuatnya kedinginan sama sekali. Belum lagi topi putih yang membungkus surai kuning terangnya. Anyelir tak bisa berhenti tertawa. "Kalian ini habis darimana, sih? Nonton konser Spongebob, ha? Kok bajunya kayak begitu semua ... Hahahaha!" "Kita habis ikut acara festival fashion unik, Bee. Emang kenapa kostumnya? Jelek?" Masih dengan semburat tawa dengan mata terpejam membuat lengkungan manis. "Nggak kok. Lucu aja ... Menghibur!" Satu hal yang membuat Anyelir sangat mengenal mereka, meski kembar Anyelir tidak pernah tertukar. Karena rambut keduanya yang berbeda, tak pernah berganti warna seiring berjalannya waktu. Abra dengan warna kuning, dan Cadabra dengan warna merah. Hingga mereka berdua tak pernah merasa kecewa dengan Anyelir yang terkadang melupakan rekan kerja, meski itu sebenarnya hanyalah rumor tak mendasar. "Ab, Papi belum dateng juga?" tanya Anyelir masih penasaran. Sebab sejak pertama ia datang, tak sedikitpun Panca menunjukkan batang hidungnya untuk sekedar menyapa Anyelir. "Belum," ucapnya santai. Ia cukup berbeda dengan Cadabra. Abra lebih terkesan kalem dan cool. Namun, tetap saja bahasa aneh selalu terlontar membuat kedua alis Anyelir sering kali bertaut. "Astrada kita kali ini siapa?" "Arun Karun," ucapnya datar. "A—arun? Apa? Siapa, sih?" Abra mendesis pelan, sedangkan kedua tangannya masih sibuk merapikan anak rambut Anyelir. "Arun Karun, Bee. Itu loh yang kalo ngomong tidak sesuai KBBI." "AHHH ...." Anyelir mengangguk-angguk tanda paham. "Aruna Kawindra itu!" Melihat Anyelir yang mengangguk sukses membuat helaian rambut yang sejak tadi berusaha dirapikan berantakan kembali, hal itu tentu saja membuat Cadabra kesal. "Bisa nggak diem? Jangan bikin ekeu darah rendong, ya?" Ia sedikit menarik rambut Anyelir kencang. "Re—rendong? Rendang kali." Semburat tawa membuat tubuh Anyelir gemetar, karena berusaha ia tahan. "Iya rendong! Yang kalo jalan suka muter-muter puyeng." "Itu darah rendah! Bisa aja bilang kalo Aruna berbicara tidak sesuai KBBI, lah Lo juga kalo ngomong jauh dari KBBI." Tugasnya merapikan rambut Anyelir sudah selesai, semula tubuhnya berada di belakang Anyelir, kini mulai mendekat dan saling berhadapan. "Ekeu itu kalo ngomong sesuai KBBBI lah!" "Alien kali!" "Yeee ... Bener KBBBI!" "KBBBI? KBBI kali!" "Bee Bee tau nggak singkatan KBBBI apa?" Alis Anyelir kian berkerut. "Kamus Besar Bahasa Indonesia?" "Ohh, bukan! Itu mah KBBI. Ini KBBBI!" "KBBBI? Apa, sih?" "Kamus Besar Bahasa b*****g Indonesia!" Setelah itu Abra pergi meninggalkan Anyelir yang melongo, bisa-bisanya mereka menciptakan kamus sendiri. Hingga gelengan kepala pun tercipta bersamaan dengan senyum manisnya. Selang beberapa detik, Batari menghampiri Anyelir yang masih cengengesan sendiri. Menepuk pelan pundak sahabatnya seraya berucap tegas, "Kata Aruna mulai aja." "Tapi, Papi?" Batari yang menghela napas membuat Anyelir bingung, pasalnya sutradara Panca tidak pernah telat hingga selama ini. Ia adalah orang yang tegas, disiplin dan tepat waktu. Tiba-tiba saja, perasaan tidak enak muncul mendominasi benak Anyelir. "Adegannya cuman lari doang kok. Pihak stasiun bakalan tutup jam sebelas, kita nggak mungkin ganggu waktu istirahat mereka, 'kan?" Meski berat, Anyelir tetap harus menyelesaikan scene tanpa Papi-nya. Bagaimanapun juga, kepentingan bersama adalah yang utama. Ia harus menyampingkan perasaan pribadinya. "Ayo." Kemudian beranjak dari tempat duduk menghampiri kerumunan staff yang memakai stelan serba hitam. Seorang lelaki muda sekitar usia dua puluh tahunan menghampiri Anyelir, sembari membawa portofon dan lembaran naskah lelaki itu menjabat tangan Anyelir. "Senang bertamu kembali, Berta bee." Anyelir tersenyum singkat. "Bertemu." Lalu melenggang pergi ke titik yang sudah di tentukan sebelumnya. Berdiri di samping rel kereta bawah tanah. "Ah iyah itu!" Astrada Aruna membuntuti Anyelir. "Kita mulai sekurang, ya?" Kini gadis itu menoleh sekilas. "Sekarang!" Ucapnya sedikit berteriak, sukses membuat beberapa cameraman, lighting, dan staff lain menoleh. Aruna Kawindra—pria paling tinggi sekitar 190cm itu adalah astrada kesayangan Panca. Meski terbilang muda, prestasinya melejit bak roket luar angkasa, walaupun tata bicaranya memang tidak sesuai dengan KBBI. Anyelir menghampiri salah satu staff yang memegangi gimbal—kamera yang digunakan khusus saat objek bergerak—seperti dirinya yang saat ini bersiap untuk berlari. Adegan lari pun dimulai dengan penuh dramatis. Anyelir berlari dari pintu masuk pertama, melewati tangga, lorong, kemudian berakhir di tempat semula. Peluh mulai membasahi pelipis gadis itu, meski begitu reka ulang adegan dari berbagai sisi mesti harus dilakukan lagi. Aruna memberi kode dengan mengacungkan tangan, salah seorang pemegang clapper board mendekati Anyelir, kemudian."ACTION!" Anyelir mulai berlari, kali ini jaraknya hanya berkisar dua meter saja. Namun, sudah melebihi batas yang ditentukan, tak ada kata 'cut' yang terlontar. Membuatnya kesal kian menoleh, ditatapnya sang astrada yang tengah berbincang sembari memegangi ponselnya dengan ekspresi gelisah. "Dasar nggak profesional!" Anyelir mengumpat seraya mendekati astrada itu. "Aruna! Gimana sih? Saya—" ucapannya menggantung, seketika raut wajahnya berubah drastis. Dengan cepat ia merebut ponsel yang menampilkan berita menggegerkan. Berita tentang tabrakan beruntun yang terjadi di dekat tol Jagorawi. Bukan hanya itu, sebuah mobil yang sangat Anyelir kenali terlibat dalam kecelakaan di dalamnya, membuat hatinya berdebar kian takut. Mobil sedan seri Vios berwarna hitam ... mobil Papi-nya, Panca Pirmuranggeng. Gelengan kepala menandakan rasa tidak percaya yang semestinya hal ini tak pernah terjadi, terlebih proses syuting baru saja berlangsung. "Nggak! Ini nggak mungkin ... Papi!" Tanpa aba-aba gadis itu berlari ke arah Batari yang tengah merapikan perlengkapannya. "Kunci mobil di mana?" Sang empu merasa terkejut, namun tetap bertanya agar semua terlihat pasti. "Apa? Ada apa? Kenapa?" "KUNCI MOBIL, BATARI!" Karena merasa gugup, ia dengan cepat merogoh kunci mobil di dalam saku kemudian melemparkannya ke arah Anyelir. "Lo emang bisa nyetir, Lir?" "Gue buta wajah, bukan buta mata!" Kemudian ia berlari begitu saja meninggalkan Batari masih dalam circle terkejut tingkat dewa. "Lo mau-" ia baru menyadari satu hal, "WOY! GUE PULANG GIMANA? BERTADINE ANYELIR!" Namun, semua itu sia-sia, karena Anyelir sudah lenyap di telan tembok yang membatasi antara pintu masuk dengan jalur menuju kereta bawah tanah. "Sialan! Mana barang Lo banyak banget lagi, Lir!" Protes Batari. Sementara Anyelir, berlari secepat yang ia mampu. Tak peduli dengan keringat dan rasa lelah yang diterima. Orang yang mengerti dirinya tengah diambang nyawa, orang yang seharusnya detik ini bersama dia entah bagaimana kondisinya. Aktivitas secepat kilat yang baru pertama kali dilakukan Anyelir, menutup pintu mobil cukup kencang, memakai seatbelt kemudian menancapkan gas hingga semua tenaga tersalurkan dengan baik. Mobilnya melaju cukup kencang, membelah hiruk-pikuk metropolitan yang terbilang sepi karena raja kegelapan tengah mendominasi. Jarak antara stasiun kereta bawah tanah dengan tempat kecelakaan itu tidak terlalu jauh, bahkan ia berhasil menempuh waktu sekitar sepuluh menit. *** Kemacetan kecil terjadi ketika mobilnya mulai memasuki area TKP. Tak ada ide lain yang terpikirkan sedikitpun olehnya, selain menyimpan mercy kuning itu di samping jalan. Meski jaraknya agak sedikit jauh, ia terpaksa berlari ke arah sana. Dengan sneakers dan pakaian santainya saat ini, membuat tubuh itu leluasa untuk melakukan aktivitas bak atlet maraton. Atensi kerumunan orang kini terfokus pada Anyelir, bagaimana tidak? Seorang aktris terkenal berlari ke arah TKP dengan pakaian sederhana seperti orang bodoh. Saat Anyelir hendak melewati garis polisi, pria berseragam rapi mencegahnya. "Maaf, Anda tidak boleh masuk." "Saya harus masuk ke sana, Pak! Saya harus ngecek Papi saya!" "Di sana sangat berbahaya, mohon Anda untuk tenang dan tidak menghalangi tugas kami!" "SAYA CUMAN MAU LIAT, PAK! SAYA CUMAN MAU MEMASTIKAN! PERMISI!" Anyelir menepis lengan itu dengan sekuat tenaga. Ia berlari ke arah rentetan mobil yang saling bertabrakan, pertahanannya hancur seketika. Wajah lelah itu kini berganti dengan rasa sakit kehilangan, bagaimana tidak? Semua ini sudah tidak bisa terelakkan lagi, mobil Papi-nya terpampang nyata di depan mata kepalanya sendiri. Tiga langkah terdengar kian mendekat, petugas medis berpakaian khas menepuk pundaknya lembut. "Berta Bee?" Anyelir yang baru tersadar kini menghapus air matanya. "I—itu mobil sutradara Panca, kamu tahu,'kan?" Lelaki berpakaian serba putih itu hanya bisa mengangguk pasrah. "Ba—bagimana kondisinya? Di mana dia? Di bawa ke rumah sakit? Di mana rumah sakitnya?" Dengan berat hati, lelaki dihadapannya berkata, "Mobil yang terhimpit di sebelah sana, hampir semuanya tidak ada yang selamat." Deg Anyelir menggeleng seraya menitikkan air mata yang perlahan-lahan semakin deras. Hantaman begitu besar, melubangi setiap hati yang sempat menghangat. Tak ada satu orangpun yang mengerti tanpa Anyelir bercerita selain Panca—ia adalah sutrada sekaligus tempat Anyelir berkeluh-kesah. "Nggak mungkin!" "Maaf, Berta Bee. Tapi harus Saya katakan bahwa ini semua adalah takdir, Anda harus ikhlas," Tubuhnya lemas. Anyelir terduduk di aspal yang dingin, meratapi rasa sakit yang kian bertambah setiap detiknya. "PAAAAPPPIIIII!" jeritnya. Beberapa detik hening. Petugas medis itu membiarkan Anyelir terisak-isak histeris, tak peduli dengan kilatan cahaya yang tengah berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan ini, membuahkan pundi-pundi di tengah kepedihan yang dirasakan Anyelir. Tiba-tiba, aroma mint begitu mendominasi sekitar, tubuh Anyelir menghangat. Ia tersadar kala hawa nyaman itu bersumber dari jaket jeans berwarna hitam yang menyelimuti tubuh ringkihnya. Anyelir menoleh, iris hazel yang nampak terang oleh kilatan flash kamera saling beradu dengan manik cokelat miliknya. Ada kesedihan tersemat di dalamnya, namun berusaha ia tahan. "Nggak mau bilang makasih?" ucap lelaki itu masih dengan posisi yang sama. Terduduk di jalanan menutupi tubuh Anyelir dari kerumunan wartawan yang terhalang garis polisi. "Ka—kamu?" "Ah, saya lupa. Kamu 'kan orang sombong!" "Janu," lirih Anyelir. Pandangannya memang mengabur, sebab air mata membentuk perisai kerapuhan. Namun Anyelir tahu, wangi Janu yang begitu khas mencetak ingatan di memorinya. "Jangan sok ramah! Saya bukan nolong kamu, tapi melindungi kamu. Karena mulai sekarang kamu adalah rekan kerja saya!" Janu membantu Anyelir bangkit, menutupi hampir seluruh wajah gadis cantik itu dengan jaket dan menggiringnya memasuki mobil pribadi. "Re—rekan kerja?" Lelaki itu memutar bola matanya malas. "Tahu caranya berterimakasih, 'kan?" "I—iya ... Ma—makasih! Makasih, Jan—" belum sempat Anyelir melanjutkan kalimat yang diminta lelaki di hadapannya, Janu sudah menutup pintu Mercedes Benz C-Class hitam dengan kasar, membuat Anyelir mengatupkan mulutnya. Lelaki itu berjalan menuju kursi kemudi, masih dengan kilatan cahaya yang dapat membuat matanya silau. Membiarkan wartawan melakukan apa yang mereka mau, entah nantinya timbul gosip murahan yang menggiring opini publik antara Janu dan Berta Bee, itu tidak penting. Toh sekarang mereka sudah jelas adalah rekan kerja. Tanpa berucap sepatah katapun, dengan ekspresi datar Janu melajukan mobil. Membelah deretan kerumunan orang menuju jalan raya pada umunya, sementara Anyelir hanya bisa membisu. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, yang jelas hujan dan badai terlalu ribut di dalam batinnya. Akan tetapi, rasa yang mengganjal usai Janu mengucapkan beberapa kata tadi membuat otaknya kembali bekerja. Menoleh ke arah lelaki di sampingnya sebelum alunan tanya terlebih dahulu bukan bersumber dari mulutnya. "Kenapa? Kamu pikir saya mau culik kamu?" Suudzon. Anyelir menautkan kedua alisnya. "Rekan kerja maksudnya apa, ya?" Langsung pada intinya. Anyelir malas berdebat dengan Janu yang notabene bermulut pedas, hingga kembali membuat gadis itu naik darah dan merasa paling bodoh juga jahat di hadapan Janu. Padahal dalam kenyataannya tidak semua benar, hanya saja Janu terlalu cepat menyimpulkan, menilai seseorang hanya dari cover dan gosip semata. Alih-alih menjawab pertanyaan, Janu justru mengarahkan sen dan memberhentikan laju mobilnya di samping jalan. Sangat sepi dan gelap, karena waktu sudah hampir melewati tengah malam. Kini Anyelir hanya bisa menggigit bawah bibirnya, menahan cemas sekaligus takut. "Ma—mau apa?" Tanya Anyelir gugup. "Nggak usah mikir yang aneh-aneh! Kamu pikir saya tertarik sama kamu? Sorry to say, you're not my type!" Lagian siapa juga yang mau sama mulut cabe kayak Lo! Gadis bersurai cokelat itu menggeleng cepat. "Ck! Ya, terus apa?!" Nadanya mulai meninggi. Janu mengambil napas, sebisa mungkin ia mempertahankan air mata yang sangat ingin lolos dari pelupuk. Mengenyampingkan rasa pedih akan kehilangan dengan bersikap tempramental, agar Anyelir tidak mencurigainya. "Saya akan menyutradarai film back and kill it," "APA?!" Mata Anyelir melotot sempurna, mulutnya setengah terbuka. "Nggak usah pura-pura kaget!" "Sa—saya beneran kaget! Nggak liat mata saya hampir copot?" sahut Anyelir sedikit mendramatisir. Janu memalingkan wajah. Lagi, ia menahan matanya yang mulai memanas, menjelaskan panjang kali lebar terkait maksud dari ucapannya sama saja membuka luka yang baru saja berusaha ia obati. Ia takut terlihat sedih di hadapan Anyelir. "Siang tadi ... Tepatnya sekitar sepuluh jam sebelum kecelakaan. Sutradara Panca mengirim pesan aneh kepada saya. Saya pikir itu hanya guyonan semata, tapi ternyata itu adalah pesan yang sudah menjadi firasat beliau," nada bicara datar. Raut wajah penuh keseriusan, namun, aura kesedihan yang tersirat dapat tertangkap dengan jelas oleh Anyelir. "Pesan seperti apa?" Janu mengeluarkan benda pipih milik pribadi dari balik saku celana jeans yang ia kenakan, mengotak-atik sebentar, lalu diberikan kepada Anyelir. To my dear nephew. Kamu tahu seberapa sulitnya menjadi seorang sutradara? Sepertinya kamu sudah tahu, karena kamu sudah merasakannya. Tapi apa kamu tahu seberapa sulitnya melepaskan diri dari dunia sutradara? Aku berharap kamu tidak pernah merasakannya. Genta Janu, jika aku terpaksa melepas dunia sutradaraku yang paling berharga, maka kamu yang harus menggantikanku. Aku tak mau orang lain merenggutnya dariku, tapi jika itu kamu orangnya, aku tak apa. Semoga kau menyukai karyaku, back and kill it. Anyelir terisak usai membaca setiap kata yang tertera di layar ponsel itu. Terlalu khas untuk sekedar menyangkal bahwa yang menulis pesan bukanlah sutradara Panca. "Apa ini adalah wasiat?" Bahu Janu terangkat, pertanda ia juga tidak mengerti. "Entah itu wasiat atau apa, yang jelas aku akan menyutradarai film itu. Suka atau tidak suka, sekarang kita adalah rekan kerja!" Tak ada pilihan lagi, selain pasrah menerima entah apa yang akan terjadi kedepannya. Anyelir enggan untuk menyangkal atau sekedar merespon ucapan Janu, ia hanya bisa memalingkan wajah. Melampiaskan segala tangisan dan rasa sesak di d**a melalui sebuah kaca mobil. Jadi ini yang Papi maksud projek terakhir?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN